
Mereka semua terlihat bergurat khawatir berdiri didepan pintu kamar luas itu menatap kearah ranjang dimana Dokter Lizel tengah memeriksa luka-luka disekujur tubuh Whuang yang muncul secara tiba-tiba.
"Seharian Nona tak sadarkan diri dan ini sudah mau malam lagi, apa yang terjadi padanya?" tanya Seung berkaca-kaca dipelukan Eva yang siaga di belakang Dokter Lizel.
Pandangan wanita paruh baya itu tampak berat menatap kulit leher putih Whuang yang lepuh dan merah seperti iritasi. Sedari tadi tubuh Whuang panas dingin dengan keringat yang membajiri kulitnya.
"Ini aneh! aku tak bisa menemukan kejanggalan apapun, semuanya sehat."
"Lalu bagaimana?" sambar Fang sedari pagi tak pulang. Ia menjaga Whuang yang tampak masih sekarat tanpa sebab.
"Suhu tubuhnya berubah-ubah, dari sempel darahnya kami tak menemukan apapun dan semuanya normal."
"Ingat musuh yang menyerang dari racun itu?"
Fang mencoba memikirkan soal racun yang digunakan untuk menyerang mereka dengan ketelitian yang diacungi jempol. Pembuat cairan itu sangat pandai dan berbakat.
"Mungkin ini salah satu serangan musuh, karna Whuang membantu kita menyelesaikan masalahnya." jawabnya lagi membuat para anggota dibelakang sana saling pandang juga ikut berfikir.
"Saat ini, aku belum bisa memastikan tipe penyakit dan cara mengobatinya. kita tunggu Dokter Dige yang ku suruh mengambil hasil uji keringat, Nona!" jelas Dokter Lizel memeriksa detak jantung Whuang dengan Stetoskop miliknya.
"Detakannya masih normal. ini belum terlalu parah."
Batinnya segera memeriksa suhu tubuh Whuang yang malah jadi dingin. Ia seakan di permainkan dan baru kali ini Dokter Lizel yang begitu berpengalaman merasa ditantang.
"Dokter Lizel!
Tampak Dokter Dige sudah datang menerobos masuk membuat Fang segera mengikutinya. Di tangan pria paruh baya itu membawa lembaran kertas dengan wajah serius.
"Bagaimana?"
"Dari pemeriksaan-ku di Lab, keringat Nona mengandung banyak sekali unsur garam sampai mengikis pori kulitnya, ini diluar batas normal dan jaringan kulit Nona berusaha memperbaiki luka tapi gara-gara kandungan garam dari keringatnya-lah yang membuat luka seperti itu."
Dokter Lizel terdiam sejenak. Pantas jika ruam-ruam merah itu terlihat begitu perih dan darah yang keluar dari mulut dan hidung Whuang karna peningkatan suhu tubuh yang naik-turun secara drastis.
"Sekarang. yang kita bisa lakukan hanya menunggu Nona sadar. tapi sebelum itu, kita harus .."
"J..Jangan!"
Mereka tersentak saat gumaman itu terdengar di bibir pucat Whuang yang kering. Keringat itu semakin deras keluar membuat Dokter Lizel kembali mengompresnya dengan air dingin.
"J..jangan.."
"Nona! anda mendengar kami?" tanya Dokter Dige berbisik didekat telinga Whuang yang tampak ketakutan. Dahi wanita itu berkerut seperti bermimpi nyata dengan tubuh gemetar.
"Bantu aku mengompres tubuh. Nona!"
"Tapi, tubuhnya dingin. kenapa kau menggunakan air dingin juga untuk.."
"Ini hanya bagian luar! didalam sana pasti sangat panas itu karnanya keringat Nona keluar." sambarnya lagi membuat Seung dan Eva mengerti langsung mengambil alih tugas. Mereka sangat khawatir dengan racauan Whuang yang beralih mencengkram selimut.
"K..Kalian.. kalian tak bisa..."
__ADS_1
"Nona! anda hanya bermimpi, bukalah mata anda." ujar Dokter Lizel memberikan beberapa minyak ke hidung Whuang agar bisa tenang.
"A..a..."
Mereka mulai cemas saat nafas Whuang naik turun tak beraturan seperti disengkang sesuatu sampai Dokter Lizel segera menarik tengkuk jenjang Whuang agar duduk ditopang lututnya.
"Nona! anda sadarlah!!" Dokter Lizel menepuk menepuk dada dan punggung Whuang yang memakai kimono yang sudah diganti beberapa kali karna disimbahi keringat.
"A.k...ku..
"Nona! Nona sadarlah!!"
"Daychi!!!"
Whuang langsung membuka matanya dengan wajah memucat bertambah dingin. Matanya kosong melihat ke sekeliling lalu tersenyak saat melihat Dokter Lizel.
"K..kau .."
"Anda tenang saja. kami..."
"K..Kalian... itu...mereka..."
Whuang linglung. Nafasnya memburu menatap semuanya rumit, ia terlihat mencari sesuatu disemua sudut dengan mata penuh kepanikan.
"S..Sersan-mu... d..dia..."
"Tenanglah. tarik nafas anda perlahan dan hembuskan, semuanya baik-baik saja."
"Apa..apa dia menikah?"
"D..dia... tadi ..tadi dia.."
Aku melihatnya menikahi wanita lain di hadapanku. Daychi tersenyum bahagia dia...dia bahkan mengatakan cinta pada wanita itu dengan merenggut kalung di leherku. dia...
"Dalam segi fisik dan fisikis, Nona sangat tertekan."
Batin Dokter Lizel lalu mengisyaratkan agar mereka keluar dulu. Tentu Fang memboyong mereka keluar ruangan dengan Eva dan Seung tampak masih cemas melihat tatapan kosong Whuang.
"Aku harap anda cepat sehat. Nona!" gumam keduanya lalu menutup pintu meninggalkan Dokter Lizel dan Whuang yang masih diam menatap kearah ruam-ruam di lengannya yang terasa panas.
"Apa yang anda..."
"Dimana Daychi?" tanya Whuang cemas dengan mata terlihat takut. Rasa takut jika pria itu mencintai wanita lain dan hidup bahagia dihadapannya membuat Whuang terlihat seperti kurang waras.
"Sersan..."
"Dia..dia tak menikah lagi-kan? dia...dia sudah pulang-kan?" Whuang tampak berharap tapi Dokter Lizel merasa perih sendiri. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu. Nona? Sersan masih belum memberi kabar apapun.
"Jawab aku! dia sudah pulang-kan?"
"S..Sersan..."
__ADS_1
"I..Ichi!! kau...kau diluar-kan?"
Dokter Lizel diam langsung merengkuh Whuang dalam pelukannya. Matanya berkaca-kaca begitu juga Whuang yang merasa sangat sakit.
"A..Ada apa? aku...aku benarkan?"
"S..Sersan..."
"Jawab aku!"
"Belum kembali!"
Degg...
Seketika wajah Whuang berubah nanar menatap kearah pintu kamar yang masih tertutup rapat dan dingin. mata keabuannya menggenang dengan tatapan hampa yang nyata.
"B..Belum?" tanya-nya lagi meyakinkan.Dokter Lizel segera mengusap punggung Whuang.
"Nona! kami masih disini, Sersan akan pulang sebentar lagi."
"Apa dia yang mengatakannya?" Whuang tampak menanti membuat Dokter Lizel berat. Jika mengatakan tidak maka ia khawatir jika Whuang akan semakin parah tapi...
"Apa dia menelfon tadi? apa dia dalam perjalanan kesini?"
"A.. I..Iya, Sersan dalam perjalanan kesini! dia sangat mencemaskan anda."
"Benarkah?" tanya Whuang kembali terlihat berbinar. Rasa sesak tadi perlahan menghilang membayangkan sosok yang ia butuhkan itu akan kembali setelah pergi kemaren malam.
"Iya, bahkan. Sersan bilang anda sangat penting baginya."
Senyuman Whuang langsung mekar. Di dalam mimpi yang terasa nyata itu membuat ia sadar kalau ia memang sudah jatuh cinta. Cinta yang selama ini ia anggap tabu dan hanya sebuah mitologi yang tak akan pernah terjadi.
"Pikirannya sudah mulai berubah-ubah. setelah kehidupan yang keras sekarang kau juga jatuh dalam genggaman Sersan kami yang tak akan bisa beralih hati, saya harap kau sadar secepatnya. Nona! dan pergilah darinya, dia bukan manusia."
Sebagai seorang wanita Dokter Lizel paham apalagi ia juga sangat mencintai suaminya. Saat pria yang ia cintai melukainya maka akan terasa begitu sakit.
"Sekarang. kita obati dulu luka ruam dan..."
"Iya, cepatlah!"
Whuang tampak kembali bersemangat. dirinya berharap nanti saat Daychi pulang ia bisa mengatakan segalanya. tak perduli tentang benci dan misi itu karna dia takut mimpinya jadi kenyataan.
"Wajahku masih cantik-kan?"
"Anda memang selalu mempesona! sangat cantik luar dalam." puji Dokter Lizel seraya memeriksa tas dokter yang ia bawa tapi masih memandang Whuang yang terlihat tak sabaran.
Ia seakan tak sakit seperti tadi dan itu semua pasti terjadi karna sesuatu atau ada dampak lain dari penyakit ini.
"Apa tubuh anda masih panas dingin?"
"Tidak! ini sudah lebih baik." jawab Whuang apa adanya. Rasa panas tadi juga sudah mereda dengan perih yang memudar seakan ia kembali sehat. Ntah apa yang terjadi padanya Whuang-pun tak tahu.
__ADS_1
......
Vote and Like Sayang...