Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Perjanjian Kematian


__ADS_3

2 orang berpakaian khas NINJA jepang bertopeng itu tampak berlari menapaki tangga didepannya menuju ruangan Pimpinan besar. Masing-masing mereka membawa samurai yang terbungkus dibelakang punggung kekarnya.


Mereka terlihat gesit menapaki lantai hingga sampai ke sebuah pintu utama bercorak mahal yang pasti sudah bersemayam sosok tua itu.


"Tuan!!"


"Masuk!"


Pintu itu terbuka. Mata merkea dibalik topeng seperti Joker itu langsung menatap sesosok manusia yang duduk diatas kursi roda dengan ruangan yang remang. Hanya ada satu lilin yang menyala diantara tumpukan buku diatas meja.


"Tuan!" mendekat masuk.


"Hm. apa yang terjadi?" suara berat bariton dengan setengah wajah datar terlihat dari bayang-bayang lilin.


"Serangan kali ini gagal!"


Jawaban itu membuat wajahnya tertarik sempurna menatap tajam dua anggota mata-mata yang menunduk takut. Gigi pria paruh baya itu bertaut rapat dengan cengkraman kuat ke lengan kursi rodanya.


"Bagaimana bisa??"


"Tuan besar! sepertinya ada yang membantu mereka."


Pria paruh baya itu seketika diam dengan raut wajah keras. Tai lalat di dagunya kembali turun dikala wajah bersikap normal.


"Membantu?"


"Kami mengamati para Koloni dari kejahuan. dan ada seorang wanita yang membantu mereka dan wanita itu masih belum diketahui identitasnya."


Jelas salah satunya masih menunduk membuat Pria paruh baya itu mulai berfikir. Apa wanita itu adalah wanita yang sama di malam penyergapan Pasar gelap?


"Dia di pihak siapa?"


"Sepertinya Sersan Naga itu."


Helaan nafasnya muncul. kali ini mereka gagal tapi setidaknya rencana kedepannya harus lebih sempurna dari ini.


"Cari tahu apa dia sama dengan wanita yang di pantau malam itu. Kalau sama, ada kemungkinan untuk bekerja-sama dengan Klan kita."


"Tuan! sepertinya Sersan satu itu menjaganya ketat sampai tak bisa menembus markasnya. kami hanya bisa mengawasi dari kejahuan."


Pria paruh baya itu seketika memejamkan matanya mencoba mencari jalan tenang. Ia harus mendapatkan satu orang terdekat pria itu agar bisa menusuknya dari arah manapun.


"Hm. kalian harus mencari waktu dia sendiri dan segera jalankan rencana."


"Baik!"


Mereka kembali pergi dari hadapan pria paruh baya itu. Seringaian di sudut bibirnya muncul dikala membayangkan kehancuran yang sebenarnya.


"Tak apa. kau dibantu malaikat maut-mu." gumamnya mengetuk-ngetuk lengan kursi roda. Ia tak akan melepas orang yang sudah mematahkan kakinya hingga sampai seperti ini.


......


Sementara didalam kamar remangan bulan itu terlihat samar. kibaran rambut panjang yang tengah berdiri tepat didekat jendela yang berhadapan langsung dengan hamparan hutan bambu yang berguncang karna hembusan angin malam ini.


Matanya terpejam dengan selimut membungkus tubuh jenjang indahnya. Bibir merah itu terkatup rapat dengan bentuk yang sempurna.


"Kau bisa masuk angin."


Matanya langsung terbuka saat dua lengan kekar itu sudah melingkar di perut datarnya dengan pipi mulus tegas Pria tampan menyentuh pipinya yang seraya mengeratkan pelukan.


"Kau bangun?"


"Hm. kau juga!" jawab Daychi bertopang dagu ke bahu mulus Whuang bahkan sesekali mengecup kelembutan kulit wanita ini. Ia tak memakai atasan sama sekali melainkan hanya Boxser karna habis bercinta dengan Whuang.


"Aku tak tidur? biasanya kau tidur lebih dulu."


"Kenapa kau berdiri disini?"


Whuang diam sejenak merasakan hembusan nafas Daychi ke leher jenjangnya. Kedua tangan pria itu juga semakin berbelit erat.


"Tidak ada. hanya ingin melihat keluar."

__ADS_1


"Ouh. tak ada yang lain?"


Tanya Daychi menatap wajah cantik Whuang yang semakin bersinar dikilauan sang bulan. Pantas jika auranya bak Dewi Bulan yang mempesona.


"Ichi!"


"Hm."


"Kau masih benci padaku?"


Tak ada respon langsung dari Daychi yang tampak menyeringai mengeratkan pelukan sampai Whuang tercekik mencengkram lengannya.


"Ichii!!"


"Kita bertemu karna benci, tentu aku masih membencimu bahkan aku begitu ingin kau mati di ranjangku." mengendurkan pelukan.


"Benarkah?"


Daychi mengangguk tanpa beban. Ia tak akan tahu jika semua perlakuannya ini tak lah baik untuk masa depan.


"Impian terbesarku!"


"Membunuhku?"


"Hm. aku suka membunuh spesies seperti kalian."


Ditelinga Whuang itu terdengar tak asing dan santai. Memang bualan mereka selalu tentang bunuh-membunuh karna watak dan karakter itu sudah ditempa oleh kematian sejak lama.


"Ichi!"


"Hm? aku tak akan membunuhmu sekarang. aku masih membutuhkanmu." ujar Daychi ringan membenamkan wajahnya ke ceruk leher Whuang menikmati aroma Fronom sehabis bercinta ini.


"Ichi!"


"Hm."


"Aku juga ingin membunuhmu."


"Ichi!"


"Hm."


"Kita buat perjanjian."


Dahi Daychi mengkerut dengan ucapan Whuang barusan. Ia hanya diam tak bergerak sama sekali.


"Perjanjian kematian!"


"Maksudmu?"


Whuang membuka matanya. Ayahnya tadi menelfon menyuruhnya agar cepat mengakhiri pernikahan paksa ini segera, karna rencana lain akan menunggu tapi jika ia yang mati bagaimana?


"Kalau aku membunuhmu dan kau mati, maka jangan ada yang membalas dendam atau mengungkit soal kematianmu."


"Kalau kau yang.."


"Kalau aku yang terbunuh. Maka, ikatan kita putus dan semua hak berbau kehidupanku harus di musnahkan tapi kau tak berhak lagi untuk mengusik orang-orang yang bersangkutan denganku. dan lagi.."


"Apa?" Daychi mulai dingin dengan wajah menunggu.


"TAK ADA YANG NAMANYA TANGISAN ATAU KENANGAN."


Ucap Whuang serius membuat Daychi terkekeh kecil kembali berdiri tegap disamping Whuang yang menatap lurus kedepan.


"Kau sangat percaya diri. hm?"


"Aku serius! aku ingin bebas dari semua itu."


Jawaban Whuang menarik kegelian di jiwa iblis Daychi. Ia memang tak punya hati nurani untuk wanita lain sampai sangat santai membicarakan itu.


"Baiklah! aku terima perjanjianmu."

__ADS_1


"Hm. untuk sekarang aku tak ada rencana, jadi aku belum ingin membunuhmu."


Daychi manggut-manggut mengerti. Ia juga bingung kenapa ia tak bisa bersikap baik pada Whuang, padahal wanita ini punya segalanya.


"Asal kau membantuku maka aku akan membantumu."


"Baik. sudahi sandiwaramu itu."


Daychi tersentak mendengar ucapan geram Whuang yang menatapnya membunuh.


"Maksudmu?"


"Kau tak cocok jadi pria lembut. aku tahu kau hanya ingin mencari semua tentangku dan menggunakan kemampuan yang ku punya."


"Sangat pintar."


Jawab Daychi kagum dengan cara pikir Whuang tapi juga ketangguhan wanita ini. Ia kembali menarik rambut Whuang agar masuk dalam pelukan kasarnya.


"Kau bersikap seperti biasa saja. dengan itu semuanya akan lebih mudah."


"Dan aku juga menjaga diri."


Batin Whuang menyambung ucapannya. Ia akan menjalani segalanya demi Ayahnya agar tak lagi bekerja kotor seperti itu. Ia akan berusaha mendapatkan harta yang banyak sampai Ayahnya puas.


"Baiklah. aku juga bosan berpura-pura. Sayangku!"


"Mulutmu beracun sekali." jawab Whuang geli menatap Daychi yang suka dengan senyuman di bibir itu. Ia terbiasa dengan tingkah menjengkelkan Whuang yang mengisi waktu kosongnya.


"Hm. mulai sekarang kau harus membantuku melawan musuhku dan aku akan berikan apa yang kau mau."


"Deal?" menyodorkan tangannya yang dengan ringan Daychi jabat mencengkramnya kuat sampai Whuang terperanjat.


"Kau mau mematahkan tanganku. ha???"


"Itu anggap saja salam perkenalan."


"Dasar. Naga jantan tak berguna!"


"Kau bicara apa. ha???"


Geram Daychi naik pitam tapi Whuang masa bodoh mendorong tubuhnya kasar untuk menjauh.


"Kau itu Rival ke-2 ku."


"Yang pertama siapa?" tanya Whuang berdiri sengaja melepas selimutnya dan melangkah gontai keatas ranjang mempertontonkan tubuh seksinya yang penuh lebam habis di gulat Naga Jantan itu.


"Aku .."


"Jawab atau kau tak akan menginjak Ranjang!" ancam Whuang sudah membuka kaki lebar-lebar diatas sana hingga mata Daychi seketika menatap penuh hasrat bagian merekah itu.


"Sam Austin Bilions!" sambil meloncat kearah ranjang membuat Whuang berfikir.


"Apa dia lebih kaya darimu?"


"Cih, setara!"


Whuang menyeringai hingga akhirnya Daychi membekuknya untuk tak bermain-main dengan Singa satu itu.


"Sebelum kematianmu aku akan memberikan pengalaman bercinta terbaik."


"Hm. Aku harap kau tak menagisiku, Ichi." ketus Whuang sudah tengkurap membiarkan Daychi mengungkungnya.


"Tidak akan. kalau itu terjadi maka semua hartaku milikmu."


"Peggang ucapanmu!!!"


"Hm. cepatlah, kali ini aku minta 3!" ucap Daychi sudah menghentak kasar membuat wajah Whuang memerah.


"Ntah apa yang terjadi kedepannya aku hanya pasrah."


......

__ADS_1


Vote and Like..


__ADS_2