
Mata bulat wanita itu langsung melebar menatap kearah pintu ruangan yang sudah terbuka memperlihatkan wajah-wajah murka penuh kekecewaan dan tak percaya atas apa yang baru mereka dengar.
"A..Ayah!" gumam Chiyo tercekat mencengkram selimut miliknya gugup dengan wajah pucat pasih dan keringat dingin keluar.
"Apa yang kau katakan barusan?!" geram Tuan Pein menatap tajam Chiyo seraya melangkah mendekat membawa rasa tak percaya sekaligus terkejut.
Begitu juga Nyonya Qian yang terlihat sendu menatapnya berkaca-kaca membuat Zuan yang datang bersama Daychi tadi langsung menjadikan bahunya sebagai sandaran wanita itu.
"A..Aku..."
"KENAPA KAU LAKUKAN INI HA??? KENAPA CHIYO??!!!" bentak Tuan Pein merasa sesak. Ia sudah bertahun-tahun merasa sangat khawatir jika Chiyo yang sudah ia anggap sebagai putrinya. sendiri sakit tak kunjung sembuh tapi nyatanya..
"A..Ayah!"
"Kau mempermainkan perasaan Ibumu dan semua orang yang ikut memikirkan tentangmu. kau tak menyayangi mereka. ha???"
Whuang memperhatikan raut wajah marah Tuan Pein yang terlihat sangat menyayangi Chiyo. Tatapan mata kekecewaan dan tak ingin terjadi sesuatu pada putrinya.
Apa itu yang dinamakan Ayah?
Pertanyaan yang terlintas dengan tatapan nanar Whuang tak lekang. hatinya tiba-tiba sakit dan begitu nyeri terbayang perbandingan Tuan Pein dan Ayahnya.
Apa Ayah tak menyayangiku? tapi kenapa?! aku sudah berusaha yang terbaik dan kenapa Ayah tak pernah mengatakan jika dia menyayangiku, apa aku memang tak layak diberi kasih sayang yang tulus?
"Whuang!"
Batin Daychi menatap lama Whuang yang tampak membuang muka menyembunyikan semuanya. Hati wanita itu pasti iba melihat pemandangan seperti ini didepan matanya.
"Jawab aku. Chiyo!!!"
"KARNA AYAH TAK PERNAH MENGERTI KEINGINANKU!!!" suara keras Chiyo menggelegar sampai membuat Nyonya Qian tersentak menatap nanar wajah Chiyo yang berubah mengeras.
"C..Chiyo!" lirihnya lemas.
"Ayah selalu mengatakan akan memberi segalanya tapi kenapa??? Kenapa saat aku memintanya kau tak bisa memberikannya???" jerit Chiyo dengan mata berkaca-kaca dengan bongkeman mentah di hati Tuan Pein yang tercekat.
"K..kau..."
"Kalian selalu bilang jika aku yang utama lalu kenapa saat aku inginkan dia tapi kalian melarang-ku??!!!"
Zuan mengepal dengan sorot mata berubah kelam. Jeritan egois dan tak pernah memikirkan orang lain itu sangat tak bisa diterima.
"Kenapa?? apa hanya karna aku anak angkat dan..."
Plakkk....
Mereka terkejut dengan mata melebar saat tamparan keras itu dilayangkan oleh sesosok wanita yang tadi melangkah lebar kearah Chiyo yang tercekik nafasnya sendiri.
"I...Ibu?" lirih Chiyo memeggangi pipinya yang panas menatap mata keabuan Nyonya Qian yang sudah berlinang air mata dan nafas memburu.
"Jaga bicaramu!"
"Q..Qian. kau..." Tuan Pein memeggang pundak istrinya tapi Nyonya Qian menepisnya dengan mata penuh kekecewaan.
__ADS_1
"Cukup!! ini sudah cukup!!!"
"Istriku! kau..."
"Lihat Pein! dia tak pernah mengerti tentang apa yang kita berikan padanya, dia...dia hanya selalu merasa kurang dan kurang!!!" ujar Nyonya Qian dengan suara bergetar. Tak pernah ia berucap sekasar itu membuat Chiyo membelalak sesak.
"I..Ibu!"
"Ibu?" lirih Nyonya Qian mengepal dengan sorot mata marah.
"Sebenarnya kau tak tahu arti kata itu!!! kau tak mengerti Chiyo!! aku tak pernah sekalipun membeda-bedakan kau dan anak-anakku yang lain. tak pernah sedikitpun aku ingin membuangmu tapi kau...."
Nyonya Qian lemas hingga Tuan Pein langsung merangkuhnya. Tubuh wanita itu mendingin karna memang Nyonya Qian tak-lah sehat seperti dulu.
"K..kau tak pernah menganggap-ku I..Ibu, hiks! kau tak pernah, Chiyo." sambungnya bergetar terisak merasa sakit akan apa yang Chiyo lakukan pada kertas putih yang mereka harap akan dihiasi cerita konyol dan kelucuan anak-anaknya.
"Qian! kau tak sehat benar, jangan memaksakan diri!" ujar Tuan Pein menatap kilas Chiyo yang mengepal lalu menggendong ringan istrinya.
"Aku harus menemani istriku!" sambungnya lalu melangkah pergi membuat Zuan bergurat cemas akan keadaan wanita paruh baya itu.
"Kenapa?"
Mereka kembali memandang Chiyo yang tampak mengeraskan wajahnya dengan raut putus asa dan begitu merasa tersakiti diatas dunia ini.
"KENAPA HIDUPKU SELALU BEGINI???"
"Karna kau itu na'if!"
"Whuang!"
"Kau tahu apa tentangku??? kau hanya seorang pelayan!!!" geram Chiyo merendahkan tapi Whuang segera terkekeh membuka maskernya dengan santai.
"Apa yang-ku tahu. hm?!" gumam Whuang berpose elegan dan begitu mempesona membuat Chiyo terpaku kagum. Kenapa wajahnya secantik ini dan..dan tubuhnya...
"K..Kau..."
"Buka matamu lebar-lebar, Nenek! kau itu hanya anak angkat dan seharusnya kau tahu berbalas budi." ujar Whuang dengan suara yang pedih tapi memang itu-lah khasnya.
"Jaga bicaramu!!!!" bentak Chiyo mulai merasa muak dengan makian Whuang.
"Untuk apa?" tanya Whuang mendekat kearah ranjang dengan Kay yang langsung meloncat keatas ranjang membuat Chiyo terkejut.
"K..Kau....."
"Aku tak akan pernah tunduk pada orang yang tak ada harganya bagiku!"
Ucapan Whuang membuat Daychi dan Zuan terdiam menatap intens wajah cantik serius dan penuh penghakiman itu.
"Kau begitu terpedaya akan sanjungan semua orang! tapi kau lupa kewajibanmu sebenarnya, kau belagak seperti seorang manusia paling penting dan harus selalu di utamakan. Tapi, Cihh..."
Whuang menggeleng jijik membawa Kay dalam pelukannya menatap remeh Chiyo yang terdiam kosong.
"Tak ada yang bisa kau berikan pada siapapun. jika ingin mendapatkan sesuatu, jangan hanya merengek seperti anjing yang di rantai. Berusahalah tanpa merugikan orang lain. dan jika kau ingin selalu di layani maka kau juga harus.."
__ADS_1
Ucapan itu terjeda dengan Whuang yang menatap penuh keseriusan dan arti dari kalimatnya.
"MELAYANI!" tekan Whuang menarik kesadaran Daychi yang mulai membayang akan apa yang Whuang lakukan selama ini.
"Kau benar dan kau membuktikannya! jika aku bersikap lembut maka kau akan lebih dari itu, jika aku memberimu kepuasan maka kau akan memberiku hal yang di luar batas normal. kau selalu membalas sesuai apa yang kau terima. dan yang paling penting KAU SELALU PENUH KEJUTAN."
Batin Daychi kagum dan merasa hangat. Walau prinsip itu terkesan seperti menghakimi tapi itulah adanya. Whuang memiliki prinsip hidup sendiri dan tak pernah keluar dari jalur itu.
"Baiklah! aku pergi dulu! rasanya aku sangat prihatin melihat nasib Anak angkat yang tak tahu diri sepertimu."
"Itu sangat pedih!"
Batin Daychi merasa agak nyeri dengan ucapan Whuang yang melangkah gontai melewati mereka untuk keluar diiuti Zuan dan Daychi tanpa menoleh kearah Chiyo yang ditelan kekosongan.
Diluar sana Seung dan Eva sudah menunggu karna mereka mendengar suara perdebatan yang hebat tadi.
"Bagaimana? apa yang terjadi?" tanya Eva khawatir pada Whuang yang menyeringai angkuh mengelus bulu abu Kay di lengannya.
"A..Apa kita ketahuan?" polos Seung memucat melihat pandangan tajam Zuan dan Daychi pada mereka.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! aku sudah menyelesaikannya."
"Benarkah???"
Eva dan Seung terpekik tak percaya menatap kagum Whuang yang mendongakan wajahnya angkuh melepas gulungan rambut panjangnya yang kembali berkibar cantik.
"Hm. Yah! kalian sangat beruntung menjadi rekanku."
"Omong kosong!"
Daychi menarik rambut panjang Whuang hingga tubuh wanita itu terseret mengikuti langkahnya ke arah tangga.
"Ichi!!! sakit!!!" teriak Whuang tapi Daychi semakin menariknya menapaki satu persatu tangga hingga Whuang naik pitam segera menghadang langkah Daychi yang langsung terhenti dengan Kay meloncat turun.
"Berhenti!!!!"
"Kenapa?" tanya Daychi santai tak melepas cengkramannya ke rambut lurus Whuang yang harum.
"Aku masih marah padamu!"
Dahi Daychi menyeringit melepas cengkramannya memandang Whuang heran.
"Kenapa?"
"Karna kau berani menggoda wanita lain di hadapanku dan kau dengan lantang tatap-tatapan menjijikan dengannya!!!!" geram Whuang berkacak pinggang dihadapannya.
"Kau cemburu rupanya!"
degg...
"A..Aku.."
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang ..
Untuk pertemuan sama keluarga Bilions ada saatnya ya say🥰