Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Hanya Whuang!


__ADS_3

Anggota Team medis tampak bergerak cepat sedari siang menangani Pasean khusus mereka. Daychi mengkerahkan semua Dokter Spesialis untuk menangani istrinya. Tak perduli akan biaya atau apapun yang jelas di pikirannya wanita itu harus bisa kembali sadar dan hidup bersamanya.


Seperti sekarang. Daychi terus duduk di luar ruangan berjam-jam menunggu Team dokter keluar dari ruangan rawat khusus Whuang. Ia sesekali berdiri melihat kearah kaca pintu tapi tak bisa melihat istrinya.


"Kau akan baik-baik saja." gumam Daychi terus meyakinkan dirinya. Ini sudah jam 7 malam dan Daychi masih enggan pulang atau makan.


"Sersan!" .


Fang baru datang membawa pakaian ganti dan makanan. Ia tadi sibuk mengurus Markas dengan Zuan yang tak sempat kesini karna ada masalah kecil disana.


"Ada apa?"


"Ini. makanan dan pakaian, anda!"


Daychi hanya menatapnya kilas lalu berdiri kembali melihat kaca pintu dimana Dokter Andra memimpin kerja kali ini.


"Sersan! anda makanlah dulu, sedari pagi anda belum makan!" ucap Fang meletakan barang-barangnya di kursi dekat Daychi yang tak perduli.


"Dimana Zuan?"


"Dia di markas. sebaiknya Sersan.."


Drettt...


Ponsel Daychi langsung berbunyi. ia kenal dengan nomor ini hingga mau tak mau Daychi mengangkatnya.


"Hm."


"Tuan besar ingin bertemu anda di taman dekat rumah sakit!"


Daychi terdiam sejenak. Perasaanya tiba-tiba tak enak dengan pertemuan kali ini. tubuhnya enggan bergerak dan sangat tak perduli.


"Anda harus datang. Tuan! ini menyangkut istri anda."


"Hm. aku kesana!"


Daychi mematikan sambungan lalu menatap Fang yang diam memperhatikan wajah suram Sersannya.


"Kau jaga disini. jangan sampai hal buruk terjadi."


"Baik!"


Daychi kembali melihat ke kaca. Tercantum begitu banyak angan di matanya melihat ruangan itu telah disisi sosok berharga yang sangat penting baginya.


"Aku yakin, kau akan selalu bersama-ku. kau berjanji padaku!"


Batinnya lalu melangkah pergi meninggalkan koridor ruangan. Ia melewati beberapa anggota yang berjaga menunduk melihatnya. Mereka tak berani menegur karna raut wajah Daychi sangat tak stabil.


"Sersan kemana?"


"Diam saja. nanti Sersan kembali marah."


Mereka akhirnya diam memandangi Daychi yang sudah lenyap memasuki Lift. didalam sana Daychi menyandarkan tubuhnya ke dinding Lift menenagkan pikiran.


"Whuang!"


Batin Daychi terus memikirkan wanita itu. ia terasa sangat merindukannya dan biasa Whuang selalu menganggu waktunya dengan tingkah menyebalkan wanita itu.


Pikiran Daychi berkelana sampai akhirnya pintu lift terbuka di lantai dasar Rumah Sakit. Ia keluar membelah keramaian beberapa orang yang memang sibuk mengurus urusan mereka.


Tak sedikit yang mengaggumi ke tampanan Daychi termasuk para suster disana. tapi, mereka enggan mendekat karna aura pria itu sangat tak bersahabat.


"Sersan!"


Gamaru yang berdiri di pintu keluar Rumah Sakit. Daychi hanya diam mendekat tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya.


"Ada apa?"


"Tuan besar ada di samping Rumah Sakit. apa.."


"Aku tahu!" jawab Daychi melewati Gamaru yang bingung tapi ia segera masuk karna ada urusan dengan Fang.


Sementara Daychi. Dilingkungan rumah sakit yang dipenuhi lampu Neon sebagai penerang ia melangkah menuju taman yang sunyi.


"Tuan!" Saito memanggil Tuan Khang yang tengah berdiri membelakangi Daychi yang sudah datang. Wajah tampannya semakin terlihat dingin menyatu dengan malam tanpa bintang ini.


"Ada apa?" tanya Daychi seperti tak nyaman.


"Aku ingin bicara denganmu!"


"Katakan!"


Tuan Khang berbalik menatap Daychi yang terlihat begitu suram. Aura yang dihadirkan tak bisa di sentuh siapapun seakan ia membentengi dirinya sendiri.


"Kau sadar akan apa yang terjadi?"


"Maksudmu?"

__ADS_1


Daychi masih belum paham kemana arah pembicaraan ini. Tapi yang jelas ia yakin ini tak baik baginya.


"Mereka membohongimu!"


"Omong kosong!" decah Daychi ingin berbalik tapi Tuan Khang segera angkat pembicaraan inti.


"Istrimu sudah tak bisa di selamatkan!"


Langkah Daychi langsung terhenti. Seketika bulu kuduk Saito meremang merapatkan jaketnya dikala angin terasa berhembus lebih kencang. Ia melihat kedua tangan Daychi terkepal dengan urat kemurkaan yang nyata.


"Mereka sudah tahu kalau istrimu sudah tiada!"


"Berhenti!" gumam Daychi memejamkan matanya mengontrol emosi yang sudah kembali ke ubun. Darahnya mendidih tak terima dan sampai kapan-pun tak akan ia terima.


"Istrimu tak ada lagi di dunia ini dan mereka hanya bisa menyelamatkan janin yang.."


"KH BUNUH KAU!!!" Geram Daychi lalu berbalik menghadang Tuan Khang yang hanya diam di tempat menanti langkah lebar Daychi yang membawa kekelaman.


"Tuan!"


Saito menghalang cepat saat Daychi sudah menghantamkan tinju panasnya kearah Tuang Khang tapi ia mengorbankan rahangnya hingga Saito tersungkur na'as ke belakang.


"Shitt!" umpat Saito mengusap rahangnya yang terasa mau patah dan darah keluar di hidungnya. Pukulan pria itu sangat keras sampai tulangnya bergeser nyaris patah.


"Jaga bicaramu!" geram Daychi dengan deru nafas memburu. Sorot matanya berubah kelap tak lagi bisa menahan dirinya.


"Aku benar! kau buka matamu lebar-lebar dan lihat bagaimana keadaan Whuang! mereka menyembunyikan kondisi istrimu yang sebenarnya karna kau tak akan bisa menerimanya!!"


"Kauu!!"


"Sersan!!"


Suara Zuan di belakang sana langsung menahan bahu Daychi yang sudah ingin melayangkan pukulan panasnya. Wajah Daychi sangat dingin mengeras membakar nafasnya.


"Jaga bicaramu!" desis Daychi menyentak bahunya dari tahanan Zuan yang menatap Tuan Khang.


"Kau harus menerima kenyataan! Istrimu menjaga janinnya dengan baik bahkan mengorbankan nyawanya, jangan sampai karna kebodohanmu semuanya sia-sia."


"Dia belum tiada!!!! dia hanya tidur, bajingan!!!"maki Daychi dengan nafas sesak. Bayang-bayang wajah pucat itu menghantui kepalanya dan kata-kata terakhir Whuang yang membelenggu hatinya.


"Tidur? kemana akalmu??!! lihat dia baik-baik. berhentilah di tipu oleh kenyataan, kau tak bisa seperti ini terus. Daychi!" bantah Tuan Khang yang tetap pada pendiriannya.


Daychi menggeleng dengan mata memanas dan batin menggila.


"T..tidak! dia..dia masih ada, dia.."


"DIA BUKANLAH HEWAN!!!!" bentak Daychi dengan urat kemarahan melintas di wajahnya. Malam ini semakin beku dengan sayatan hati sang Naga Jantan yang tak menerima.


"Bicaramu seakan mengatakan dia hewan! Istriku bukan hewan!!!" sambung Daychi lagi dengan nafas memburu.


"Bukankah sebelumnya kau menganggapnya lebih dari sekedar hewan?"


Ucapan Tuan Khang membuat hati Daychi tercabik. Mata pria itu mulai mengembun mengingat kembali jika ia memang sudah begitu brengsek melukai hati Whuang.


"Kau jangan munafik! sedari awal kau tak mencintainya dan hanya menjadikannya penghangat ranjangmu, apa kau masih mau menyiksanya dengan membiarkan janin di kandunganya ikut tiada??!"


"D..Dia..."


Daychi diam dengan sekangan sesak didadanya. Ia tak bisa melepas Whuang, dia tak bisa sendirian.


"Sadarlah Daychi! ini bukan kau yang sebenarnya, kau hanya merasa terbiasa karna selama ini tak ada wanita yang bisa mendekatimu selain dia, cobalah menerima keadaan!" tegas Tuan Khang seakan tak perduli akan kekacauan batin dan pikiran Daychi.


Melihat Daychi yang tertekan Tuan Khang paham segera mendekat tapi masih dengan jarak hati yang jauh.


"Pilihanmu hanya satu. aku sudah siapkan beberapa wanita yang sehat bersedia menampung Janin milik Istrimu, setidaknya tak ada yang perlu di khawatirkan nanti."


Daychi hanya diam saat Tuan Khang melaluinya pergi. Saito menangkap kerapuhan yang jelas di mata Daychi yang tampak sudah memanas tapi belum meneteskan kesakitannya.


"Pikirkan lagi. Tuan!" ucap Saito lalu pergi mengikuti Tuannya. Tubuh Daychi langsung lemah berpeggangan ke kursi taman disampingnya.


Matanya termenung kosong menatap ke arah gelap di sudut sana membuktikan betapa kacau dan buntunya pikiran itu.


"A..aku .."


"Sersan!"


Daychi langsung mengusap wajahnya kasar lalu mencengkram rambutnya merasakan kekacauan yang terbesar dalam hidupnya.


"Asss..Sialll!!!!" Daychi memukul kepalanya yang terasa mau pecah dan frustasi menghantui dirinya. Ia tak mau dan tak ingin melakukan apapun.


"Kenapa??? kenapa harus seperti ini???" geram Daychi menatap langit kosong sana. tak ada rembulan seperti biasa yang bisa menenagkan batinnya.


"K..kenapa? kenapa harus Whuang?" lirih Daychi sudah merasa tak berguna. Takdir ini seperti mempermainkan hidupnya.


"Dulu kau buat aku jatuh cinta pada wanita yang sudah bersuami, aku mengalah melepasnya! tapi.. tapi sekarang.. sekarang aku mencintainya!! lalu...lalu kau mau merenggutnya dariku!! apa maumu sebenarnya???" bentak Daychi tak perduli jika banyak orang yang melihatnya dari kejahuan. Mereka berfikir jika Daychi tengah kehilangan Cintanya.


"A..apa?? kau juga tak mau mengambilku! bahagia saja aku tak kau izinkan, Sialan!!!"

__ADS_1


Zuan hanya diam membiarkan Sersannya memaki nasib yang tak pernah berangsur baik. Ia ingin membenci Daychi tapi ia melihat pria itu hidup sedari kecil sudah tak ada yang bisa di bawa senang.


"S..Sersan!"


"S..sekarang! sekarang kau ambil dia, d..dia yang ku punya dan.." Daychi segera mengusap wajahnya yang mulai dibasahi cairan bening yang susah payah ia tahan tadi.


"Sersan!" Zuan mengulurkan kotak ditangannya ke hadapan Daychi yang terdiam melihat benda itu. Ia menatap Zuan penuh tanya tapi Zuan menganggukinya.


"Whuang memberikan ini untuk an..."


Daychi langsung mengambilnya sebelum kalimat Zuan selesai. Pria itu tergesa-gesa membuka benda itu dengan jantung yang berdebar.


"I..ini..."


Daychi menatap nanar kalung liontin bunga api yang selama ini di pakai Whuang. Tangannya bergetar menyentuh benda itu dengan secarik kertas di bawahnya.


"Bacalah! aku sudah membaca bagianku." ucap Zuan melangkah agak jauh agar Daychi leluasa. Ia mengisyaratkan anggota agar membuat lingkungan ini sepi.


Sementara Daychi. ia membuka lembaran kertas itu pelan hingga matanya terpaku akan satu kata yang sampai sekarang sangat ia rindukan.


Ichi


"W..Whuang!" gumam Daychi berkaca-kaca melihat tulisan tangan wanita itu.


Apa kabarmu? kau pasti baik-baik saja. bukan?"


Daychi menggeleng dengan bibir bergetar menahan kesesakan didadanya.


"T..tidak, aku...aku tak baik."


Pasti sekarang kau sedang duduk mencari bulan. benar tidak?


Daychi mengangguk melihat ke atas langit sana. Tak ada rembulan indah itu lagi yang bisa menyejukan batinnya.


Ichi! jangan cari lagi bulannya, dia sudah ada bersamaku, aku melihat jelas wajah tampanmu disini.


"D..dimana?" gumam Daychi bergetar menahan bongkeman sakit di dadanya.


Aku tahu aku sangat mempesona dan begitu berbakat mencuri uangmu. jangan terlalu merindukan aku, ya?


"T..tapi aku merindukanmu! sangat." ucap Daychi dengan air mata menetes di kertas yang ia baca. Untuk pertama kali cairan bening itu keluar dengan mudahnya seunur hidup.


Ichi! sungguh kau pria paling menyebalkan yang pernah ku temui selama hidupku, kau pria pertama yang berani menyentuh tubuhku tanpa izin, dan pria terangkuh, tersombong dan terkasar yang pernah ada. Tapi, aku mencintaimu.


Dada Daychi terasa nyeri membacanya tapi ada rasa bahagia yang tak terjabarkan membaca kata-kata ini.


Jika di beri kesempatan kedua, aku lebih memilih ingin hadir di masa lalumu dari pada masa depanmu. aku ingin jadi wanita pertama yang mendapatkan hatimu, Ichi! karna rasanya sakit jika ada dibayang-bayang wanita lain.


"M..maaf!" lirih Daychi serasa di tikam. Apa karna ini Whuang menyerah? apa ia tak akan dapat kesempatan lagi?


Tapi, sayangnya waktuku sangat dibatasi. aku tak bisa melihatmu membentak lagi. melihat mata tajam-mu melotot dengan alis ditekuk menggemaskan, aku sangat merindukan saat kau matlrah dan merajuk padaku. Ichi!


"K..kembalilah!" lirih Daychi dengan nafas tercekat. Ia seakan melihat jika Whuang menulis ini dengan kekuatan seadanya.


Waktu semakin berjalan, seiring berputarnya masa kau juga akan menemukan Cinta yang baru. aku harap kau tak menghadirkan Whuang yang lain setelah-ku, jika ada wanita yang benar-benar tulus padamu. maka pergilah, berbahagialah dengannya. Sayang!


"T..tidak! k..kau jangan begini." Daychi menggeleng tak setuju.


Berhentilah bersembunyi di balik kegelapan. kau itu hanya butuh kasih sayang dan cinta, mungkin kita tak ditakdirkan bersama karna kau sudah punya takdir yang lain. Ichi!


"A..apa yang kau katakan. ha? aku ..aku tak punya yang lain. h..hanya kau...hanya kau."


Terimakasih sudah membiarkan-ku memakai kalung kebanggaan Keluargamu! aku sangat bahagia karna aku yang pertama memakainya dari bagianmu, dan terimakasih karna kau bersedia mendampingiku selama ini. Aku jadi tahu bagaimana rasanya cinta sepihak, dan mencintai dalam diam. kau sangat tega padaku, Ichi.


"M..maafkan aku! maaf, aku ..aku yang salah, aku minta maaf!" ucap Daychi melemah dan mencengkram dadanya yang sakit.


Kau masih ingat perjanjian kematian kita, bukan? jika kau ingat. maka jalanilah itu, kau tak akan merasa sakit jika kau melupakan aku. aku akan selalu melihatmu dari sini, berjanjilah kau akan bahagia. dan untuk ranjang di kamarmu itu punyaku! aku tak sudi kau bercinta dengan wanita lain disana, cari ranjang yang lain. Kau mengerti?


"S..sayang!" lirih Daychi terasa bercampur aduk membaca perkataan wanita ini. Disuatu sisi ia merasa hancur tapi di sisi lain Whuang begitu posesif pada miliknya.


Jika kau membawa wanita lain ke atas Ranjang panas kita, aku bersumpah akan menghantuimu. kau tak akan hidup tenang, dasar Naga Jantan tak berguna. tapi...


"Tapi?"


Tapi, aku sangat mencintaimu! Cih, pasti kau akan besar kepala.


"Aku juga mencintaimu!" balas Daychi tersenyum kecil merasa hangat dan lebih tenang.


Ya sudah, ini kepanjangan. Ichi! belum tentu kau membacanya, tapi jika tidak awas saja. aku akan mengutukmu dari sini. emm... Selamat Tinggal Naga Jantanku, semoga kau tetap menduda seumur hidup.


Daychi terkekeh kecil membaca bagian terakhir itu. Tiba-tiba saja rasa sakitnya sedikit terobati tapi, Daychi bukan ingin melepas tapi dia bertambah ingin jika Whuang selalu bersamanya.


"Hanya dua! kau mau ikut aku, atau aku yang mengikutimu." gumam Daychi menatap langit sana. Ia sudah hilang semangat hidup jika wanita itu tak ada. lebih baik mati dari pada hidup dengan kenagan menyakitkan ini.


"Tunggu aku! aku akan tinggalkan penjagaan ketat untuk anak kita dan setelah itu, aku akan mengurungmu bersamaku. HANYA DENGANKU."


......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2