Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Daychi aneh!


__ADS_3

Mata sipit dengan alis tipis itu tampak melebar dengan jawaban yang baru saja diberikan oleh wanita itu. Tak ada pandangan takut atau merasa terhina, ia selalu terlihat kuat dan penuh ketegaran.


"Bunga malam bukan hal yang buruk. menurutku kau saja yang terlalu melebihkan."


"Woww!!"


Whuang diam dengan pandangan menajam berdiri melihat langsung manusia angkuh dan sangat sombong dihadapannya ini. Pakaiannya yang mewah dan wajah cantik yang selalu dibanggakan ini terlihat sangat naif.


"Lihat! dia bilang Bunga Malam itu tak buruk? sangat mengesankan."


"Pergilah dari sini!"


Tegas Daychi seraya menarik Whuang untuk meninggalkan dua manusia itu.


"Apa Ibu-mu tahu kau di jajahan seperti ini?"


Gret...


Kepalan tangan Whuang seketika menguat dengan gigi terkatup rapat. Ia sudah berusaha menahan ini dan wanita itu yang memancingnya.


"Ici!"


"Hm."


Whuang menatap Daychi dengan tatapan permintaan hingga Daychi mengangguk melepas cengkalannya.


"Diam? itu jawaban orang Bodoh!"


Bughhh...


Lien terbelalak saat tinjuan keras itu dilayangkan ke wajah cantik Aunty Mey-nya yang terhantam ke dinding sana. Whuang berdiri tepat dihadapannya dengan wajah keras penuh amarah.


"Cobalah berfikir sebelum kau bicara." geram Whuang masih menggendong Kay yang terus membuat penjagaan.


Wanita berambut agak pirang itu tersenyum kecil mengusap darah di sudut bibirnya. Tak diragukan lagi wanita ini sangat kuat dan memiliki mental baja.


"Aku bicara benar. kau memang wanita jajahan, bukan?"


"Masalah-mu apa dengan itu?"


Mey menyeringai berdiri kembali tegap dengan sorot mata bertambah mengerikan. Whuang yakin wanita ini juga memiliki beladiri yang sama dengannya.


"Kau tak pantas masuk ke Keluargaku."


"Salahkan Tuan besar kalian. kenapa dia mau menikahkanku dengan putranya."


Jawab Whuang lalu melangkah pergi membuat Lien terbawa nyeri. Sekarang semuanya akan rumit. Bagaimana bisa Whuang melawan Aunty Mey yang begitu keras?!


"Daychi!"


"Sudah cukup untuk malam ini."


Ucap Daychi dingin lalu melangkah mengikuti Whuang yang sudah masuk ke dalam lift sana. Daychi ikut masuk berdiri disamping Whuang yang tampak diam mencengkram lengannya menahan semuanya sampai pada pintu Lift tertutup dihadapan mereka.


Tak ada pembicaraan sama sekali. Whuang diam dengan pikirannya dan Daychi melirik kuku wanita itu sudah melukai lengannya sendiri.


"Dia hanya ingin mengujimu."


"Aku tak perduli." jawab Whuang masih dengan suara penuh amarah. Terserah bagaimana-pun dunia ini mengatakannya Bunga Malam atau Wanita Jajahan. Tapi Whuang tak terima ibunya disangkut-pautkan karna wanita itu sudah tak ada di dunia ini.


Setelah beberapa lama. Lift-pun terbuka menarik langkah keduanya keluar menuju pintu kamar diujung sana. langkah Whuang begitu cepat seakan ia ingin menghindar dan segera pergi dan menghilang. Keduanya masuk kedalam kamar luas ini tapi Whuang segera mengambil mantelnya.


"Kau mau kemana?" Daychi masih berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Keluar!"


"Kemana?"


Whuang memandang Daychi dengan marah dan wajah emosi yang nyata.


"Kau tak mengerti arti KELUAR!!! haa??" bentak Whuang jngin menerobos keluar tapi Daychi dengan cepat menarik pinggagnya ke pelukan erat itu.


"Lepas!!!!"


"Ini sudah malam!"


"Aku ingin keluar!!! lepas!!"


Daychi sama sekali tak melepasnya bahkan mengeratkan pelukan tak perduli jika pukulan wanita terus menghantam punggung dan bahunya.


"Kau brengsek!!! brengsek!!!"


Kay meloncat dari gendongan Whuang yang memukul Daychi membabi-buta. Ia meluapkan semua rasa sesak dan panas itu pada suaminya sendiri.


"Jangan membawa ibuku dalam hal ini!!! dia tak salah apapun. dia tak salah apapun!!!" teriak Whuang menampar Daychi dengan keras sampai suara hantaman itu membuat Kay termenung.


"I..ci!"


Gumam Whuang saat sadar jika ia sudah terlewat batas sampai memukul tanpa dasar begini.


"I..Ici. aku.. k..kau..kau boleh membalas." ucap Whuang melihat darah di sudut bibir sensual itu. Daychi mengusap sudut bibirnya lalu menatap Whuang yang terlihat merasa bersalah.


"Kau bisa membalas. ini salahku!"


"Sayang-nya pipimu tak akan kuat menahannya."


Degg...


"A..Aku tak masalah. aku bisa manahannya."


"Kau yakin?"


"Hm. lakukan!"


Whuang memejamkan matanya menunggu tamparan itu dengan Kay yang bersiap menyerang Daychi yang mengayun tangannya kearah wajah Whuang dan...


Cup...


Kay membelalakkan matanya saat Daychi malah mencium bibir Whuang dengan tangan memeggang tengkuk wanita itu. Mata Kay seketika berkunang dan langsung tergeletak di lantai sana.


"Ke..Kenapa?"


Batin Whuang terhenyak saat tak merasakan pukulan melainkan bibir lembut itu menempel dengan penuh sensasi. Tubuh Whuang kaku tanpa mau membuka mata membuat sudut bibir Daychi terangkat memberi kecupan disana.


"Kali ini ku maafkan." bisik Daychi membuat mata Whuang terbuka lebar hingga gradasi abu itu sangat menusuk dada Daychi.


"K..Kau..."


"Lain kali kau bilang jika ingin memukul."


Daychi beralih memeluk Whuang yang seakan merasakan hal berbeda. Pelukan yang hangat tanpa sikap kasar Daychi biasanya. Pria ini seakan jadi berbeda dan begitu hangat.


"Kenapa dia begini?"


Batin Whuang tak mengerti. Tangan yang biasa menyiksanya itu malah beralih mengelus puncak kepalanya dengan hembusan nafas Wood Musk yang harum biasa mencacinya sekarang mengalir tenang.


"Apa lenganmu sakit?"

__ADS_1


"A.. ha?" tanya Whuang tak begitu dengar.


"Lenganmu. tadi kau mencengkramnya."


Whuang agak kaku saat Daychi melihat lengannya yang ada bekas kuku. Pria itu dengan cepat mendudukan Whuang di tepi ranjang seraya meraih kotak obat di dekat laci.


"A.. tidak apa."


Daychi hanya diam mengolesi luka cabikan itu dengan saleb pengering dengan meniupnya lembut membuat Whuang termenung tak percaya. Apa ini Daychi si Naga Jantan emosian itu? tidak. kenapa dia bersikap seperti pangeran tampan begini?!


"Dari pada menyakiti dirimu sendiri. lebih baik pukul orangnya."


"Nanti kau marah padaku." jawab Whuang mulai terpancing kesal akan ucapan wanita tadi.


"Tidak akan. selagi masih dalam batas."


"Batas? kau lihat dia. apa dia punya batasan atau tidak?"


Daychi menghela nafas menggenggam kedua tangan lentik Whuang yang benar-benar ingin membunuhnya.


"Dia adik Tuan besar katamu itu. dan sangat di sayang."


"Oh. jadi kau mengatakan aku harus mengalah begitu?" jengah Whuang menyentak genggaman itu.


"Tidak. kau boleh melakukan apapun.."


"Cih. paling hanya.."


"Termasuk membunuhnya."


Whuang langsung terperanjat mendengar itu bahkan ia tak percaya jika Daychi mendukungnya. Melihat respon Whuang Daychi hanya mengulum senyum beralih mendorong pelan Whuang berbaring keatas ranjang.


"Kau serius?"


"Yah! mereka sama saja di mataku, selain Lien dan Ibu!"


Jawab Daychi menaikan baju Whuang sampai keatas leher hingga ia bisa melihat dua gundukan sintal itu terbungkus rapi dan menggiurkan.


"Kenapa kau bermusuhan dengan Ayahmu? maksud-ku kenapa harus berpisah dan orang luar tak tahu identitasmu. padahal kau membutuhkan kasih sayang Ibumu."


"Aku tetap menyayangi Ibuku." jawab Daychi melepas kaitan Bera Whuang yang hanyut dalam cerita ini. Ia memekarkan senyuman melihat dua bongkahan kenyal ini sudah terbuka bebas dan sangat kenyal.


"Tapi. sepertinya Ayah-mu suka melihat kau sengsara."


"Biarkan saja. bagaimana dengan keluargamu?"


Whuang diam lalu menatap Daychi yang menyesap puncak ranum itu lembut selayaknya bayi menciptakan kegelian.


"Keluargamu. bagaimana?"


"Kau tak akan mengerti keadaan keluargaku."


Dahi Daychi mengkerut dengan hisapan masih melekat membuat Whuang memejamkan matanya.


"Kenapa?" Daychi mencoba mencari informasi.


"Ntahlah. kau tak akan mengerti."


Jawab Whuang hanya tersenyum. Padahal ia sendiri juga takut mengingat kisah hidupnya. Terlalu menakutkan baginya.


.....


Vote and Like Sayang .

__ADS_1


__ADS_2