Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Sudah sekarat!


__ADS_3

"I..Chi." gumaman Whuang mencengkram selimutnya dengan mata sayu-sayu melihat keatas langit-langit.


Ia merasakan sesak yang teramat di dadanya dikala perasaan tak enak mengisi relung hatinya.


Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Daychi apalagi ia baru ingat soal senjata mematikan yang selama ini dirahasiakan Tuan Jirom dari semua orang.


"Nona! anda tenanglah." panik Dokter Lizel memeggang bahu Whuang yang tampak memaksakan diri untuk bertahan.


Darah yang keluar di mulut Whuang sama sekali tak berhenti keluar. Team medis yang bekerja tak tahu lagi harus apa.


"I..chi!" Whuang seperti ikan kehabisan nafas. Tabung oksigen didekatnya disambungkan selang yang langsung terhubung ke rongga kerongkongannya.


"Cepat hentikan pendarahannya!" desak Dokter Lizel sudah sangat panik tapi dokter Taname dan Dokter Dige sudah saling pandang.


"Apa yang kalian tunggu???" teriak Dokter Lizel tak lagi bisa mengendalikan kekhawatirannya.


"I..chi.."


.......


Lendir hitam panas itu memenuhi lantai ruang bawah yang sudah kacau. Mayat bawahan Tuan Jirom tergeletak di dalam kubangan cairan panas sampai tampak termakan oleh organisme didalamnya.


Anggota Ryoto diam berdiri diatas tangga menjahui lantai berbahaya dibawah. Mereka sudah menghabisi bawahan tua bangka itu hingga hanya tersisa beberapa orang yang tengah melindungi Tuan Jirom yang berdiri di bagian lantai dibagian tak terkena jipratan.


"Mereka sangat cepat." gumam Tuan Jirom tak menduga jika Klan sialan ini mampu lolos dari jebakannya. Amor yang ada didekat Tuan Jirom terlihat kagum akan kelincahannya tapi juga belum bisa lega.


"Sudahi permainkan kotormu ini." Daychi angkat bicara berdiri tegap tanpa kurang sama sekali.


"Sudahi? itu terdengar sangat lucu." jawab Tuan Jirom merasa tergelitik. Ia berjalan pelan dengan pikiran berputar arah. Ia mengotak-atik komputer didekatnya sepertinya akan memulai serangan kedua.


"Sersan!"


"Tempat ini bisa mengundang bahaya apapun. tetaplah waspada." tegas Daychi pada Zuan yang paham. Walau ia khawatir tentang keadaan Whuang tapi, ia harus menyelesaikan ini secepatnya.


"Sersan yang terhomat! karna kau, aku harus memakai lensa kontak dan kulit buatan ini."


Pandangan Daychi menajam saat Tuan Jirom melepaskan topeng kulit disetengah pipinya yang langsung memaparkan goresan luka dan rahang yang tak simetris. kemungkinan besar itu karna siksaan yang diberikan Daychi hari itu.


"Kenapa kita tak bekerja sama-saja? bukankah kau juga ingin memanfaatkan Whuang?!"


Zuan langsung mengepal menatap Daychi yang diam. Ia tak terima jika sampai Daychi setuju karna otak pria ini tak bisa ia mengerti.


"Bagaimana?" sambung Tuan Jirom membuat penawaran.


"Keuntunganku?"


"Kauu!!!"


Geram Zuan tak percaya akan jawaban Daychi. Para anggota hanya diam tak bisa berkutik merasa ini di luar rencana mereka.


Melihat itu Tuan Jirom semakin menyeringai. Dugaannya sangat tepat jika Daychi si iblis berdarah dingin ini tak akan pernah tulus dan mencintai wanita lugu itu.


"Bergabunglah bersamaku! lihatlah, aku punya banyak hal yang bisa menjadikan-mu penguasa dimana tempat."


"Aku tak suka di pimpin." tegas Daychi semakin membuat wajah Zian kelap dengan gigi beradu kuat.


"Apa yang kau katakan-ha???" bentak Zuan menyala-nyala. Tak satu kata-pun Daychi membalasnya. Ia tak mengalihkan pandangannya pada pergerakan Tuan Jirom yang terlihat masih berkutat pada Komputernya.


"Kau tenang saja. Aku sangat mengagumi caramu menyerang dan memimpin, kau layak jadi pemimpin."


"Hm. jaminanmu!"


"DAYCHI!!!" Suara Zuan menggelegar ingin menyerang Daychi tapi anggota lain menahan lengannya.


"Tuan!"


"Kau gila. ha??? cepat akhiri ini!!!" Zuan memberontak tapi Daychi menuli. Ia tak terlihat seperti memikirkan Whuang sama sekali.


Tuan Jirom semakin puas. Ia mengisyaratkan Amor agar mendekati anggota Daychi.


"Aku tak semudah itu percaya!"


Daychi menghentikan langkah Amor yang kembali menoleh kearah Tuan Jirom yang tak punya pilihan lain. Ia hanya bisa mengandalkan Klan Eyoto untuk menghancurkan Yagumi.


"Baik! kau akan percaya saat sudah melihat peralatan penelitianku."


Tuan Jirom menekan tombol merah didekat meja hingga tabung-tabung berisi cairan hijau tadi terbuka menguapkan asap hijau dengan hewan-hewan didalamnya mulai terlihat bergerak.


"Apa itu?"


Anggota Ryoto tercengang melihat serangga yang tadi direndam dalam tabung itu tampak mulai bergerak melepaskan diri dari cairan hijau yang beraroma menyengat.


"Ini penelitian terhebatku. berkat darah wanita itu aku bisa membuat pasukan serangga yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri, walau masih belum di program untuk menyerang tapi ini akan selesai dalam waktu dekat." jelas Tuan Jirom lugas dengan perhatian Daychi terus melihatnya.


"Kegunaannya!" Daychi masih saja tak bergerak membuat Zuan terlihat naik pitam.


"Ini berguna dalam menyebarkan racun-racun yang ku buat pada pihak musuh. semua hewan disini akan memiliki insting yang tajam, aku tak akan lagi memprogram untuk pengintai tapi ini sebagai PEMBUNUH. bagaimana?"


Tuan Jirom beralih menatap Daychi yang masih belum puas. ini memang sesuatu yang menakjubkan tapi belum bisa mengambil hatinya.


"Kau butuh wanita itu untuk menyelesaikan penelitianmu."


"Hm. benar! tapi dia sudah tak berguna."


"JAGA BICARAMU!!!!" bentak Zuan menggelegar di lorong belakang sana membuat mereka diam tapi Tuan Jirom terlihat heran.

__ADS_1


"Kenapa kau begitu perduli pada anak buangan itu? dia memang ditakdirkan untuk musnah dan hanya sebagai alat para majikannya. cobalah berfikir lebih cerdas." jawaban itu. Zuan bertambah sulit mengendalikan diri hingga langsung menyerang Daychi yang segera menangkap tinjuannya hanya dengan satu tangan.


"Sempurna." gumam Tuan Jirom sangat kagum akan kekuatan pria itu. Jika Daychi bergabung bersamanya, ia bisa memanfaatkan kelebihan Daychi untuk menguasai Dunia bawah.


"Kau terlalu berlebihan!" desis Daychi tanpa menatap Zuan yang tampak sulit mengendalikan dirinya.


"Aku tak percaya kau masih saja buta!!! dia melakukan apapun untuk-mu, tapi ini balasanmu!!"


Daychi hanya diam mendorong pukulan Zuan kembali membuat tubuh pria itu tertolak mundur sama sekali tak bisa menyentuhnya.


"Sersan yang terhormat! bergabunglah bersama-ku, aku akan memberikan ini semua padamu."


"Hm. penawaran yang menarik."


"Kau brengsek!!!" maki Zuan keras menarik rasa senang Tuan Jirom melihat Klan besar ini terpecah. Ia akan lebih mudah memisahkan dua kubu ini agar tak mengganggu rencananya.


"Tapi, aku butuh penawar itu karna dia masih berguna untuk ranjangku!"


"Baiklah! tubuh putri-ku itu begitu berharga." gumam Tuan Jirom mengeluarkan sesuatu di dalam saku celananya hingga mata Daychi menyipit melihat ada pil berwarna kecoklatan.


"Tersisa satu! kalau kau mau ini. kau harus bergabung denganku. bagaimana?" tawar Tuan Jirom dengan mata Zuan terlihat fokus pada plastik kecil ditangannya.


"Baik! berikan itu."


"Tidak!"


Daychi diam sejenak. Matanya terlihat santai seakan antara butuh dan tak butuh.


"Buktikan kalau memang kau tak menghianatiku." Tuan Jirom begitu waspada. Ia menggenggam Pil itu dengan pandangan siaga yang kuat.


"Kau ingin aku apa?"


"Habisi pria di samping-mu!" ujar Tuan Jirom menyeringai licik begitu merasa puas jika sampai Daychi menghabisi Zuan yang jadi penghalang terbesar rencananya.


"Sersan!" panggil Zuan memastikan keputusan Daychi.


"Bunuh dia! maka, aku akan memberikan ini."


Zuan terkejut saat Daychi mengarahkan pistol yang ada dipeggangannya ke kepala Zuan. Sudut bibir Tuan Jirom terangkat menarik kesenagan di dadanya.


"S..Sersan!"


"Tembak dia!!!"


Tuan Jirom seakan memberi dorongan hingga ujung pistol Daychi menekan kening Zuan hingga kedua mata elang itu saling tatap tegas.


"Bunuh dia!!!"


"Sersan!" para anggota tampak memucat saat melihat jari Daychi bergerak ingin menarik pelatuk senjatanya dan..


Dorrr ....


Bak kilat menyambar, peluru itu melesat ke arah dada Tuan Jirom yang terkejut merasakan timah panas itu melesat menembus rongga dadanya.


"K..kau .."


Waktu seakan terhenti. Pandangan kosong dan raut tak menyangka itu terpapar jelas di wajah-nya yang tak lagi lengkap sempurna.


"Ambil barangnya!"


"Baik!"


Amor merampas kertas digenggaman Tuan Jirom yang sudah tersandar dengan darah keluar di mulut dan dadanya. Pria paruh baya itutak percaya pada Amor yang ternyata bekerja sama dengan Daychi.


"K..kau..."


"Maaf, tapi Whuang lebih berharga bagiku." tegas Amor melempar kertas itu ke arah Daychi yang sigap menangkapnya. Zuan kembali berdiri tegap dengan wajah datar tak bergurat sinis.


Ia tahu saat Sersannya tadi memandangnya dari isyarat mata yang ia pahami. Para anggota mereka juga termenggu kosong akan rencana tiba-tiba ini.


"Sebelum kau ingin berperang. cobalah mencari lawan yang cocok." desis Daychi menembaki tabung-tabung disamping dinding hingga pecah sekaligus membuat jipratan api.


"Pergilah dari sini!! akan ada ledakan!!!" teriak Amor ikut menghancurkan ruangan penelitian ini. Ia memutus kabel komputer dan mendorong Tuan Jirom kearah cairan yang hitam di lantai sana.


Percikan api dan asap dari dinding kayu itu menyebar membuat para anggota mengerti. Mereka mulai memotong setiap pipa yang ada didinding penginapan agar tak lagi bisa menyalurkan asap.


"Sersan!! kalian pergilah, kami akan menyelesaikan ini."


"Hm."


Daychi dan Zuan berlari keluar diiringi dengan ledakan disisi samping penginapan. Ia memang berencana menghancurkan tempat ini agar tak ada lagi bahaya kedepannya.


Tuan Jirom yang tengah digerogoti senjatanya sendiri itu tertawa terbahak melihat tempatnya hancur. Penelitian besarnya seketika dimusnahkan dengan pengkhianatan dan kelicikan musuhnya.


"Kalian tak akan bisa lolos begitu saja!!!!"


"Berhentilah bicara." geram Amor menekan tombol didekat meja hingga cairan hitam kental dari pipa dinding tadi kembali menyembur merendam tubuh Tuan Jirom yang tampak merah bak udang rebus karna panas dan begitu menguliti tubuhnya.


"T..tak akan bisa lepas." desis Tuan Jirom tak jera. Ia menekan sesuatu di jam tangannya dengan kulit yang melepuh


seperti dimakan sesuatu.


"Kau..."


"Mati bersama itu lebih baik." sambung Tuan Jirom menyeringai melebarkan mata Amor yang baru sadar jika diluar sana masih ada bahaya.

__ADS_1


"Jangan melewati danau di samping pe.."


Duarrrr....


Ledakan besar sudah terjadi dengan api menggulung tinggi bersama angin malam ini. Danau kecil di samping penginapan meledak dengan cairan lumer kemana tempat.


Para Anggota Ryoto terkejut saat cairan itu ternyata berisi bahan yang sama seperti yang di tabung tadi.


"Sersan!!!"


Jerit mereka karna sebagian besar yang ada di luar tampak bermandian cairan itu dengan kobaran api yang menyala-nyala. Tanah yang mereka pijaki bergetar hebat membuat Daychi dan Zuan yang berlindung dibalik mobil cukup syok.


"Apa itu?" gumam Zuan melihat penampakan mengerikan dimana tubuh para anggota yang terkena langsung menjadi bangkai hangus.


Apa ini yang dimaksud Whuang?


Batin Daychi melihat danau itu terus menyemburkan lahar hijau yang panas dan memakan korban. Penerangan mereka sudah terbatas dengan sinyal yang lenyap.


"Bagaimana ini???" para anggota terlihat kelimpungan.


"Sersan! kita tak akan sempat pulang cepat." gumam Zuan berjaga dan begitu cemas.


"Kalian takut!!!"


Daychi hanya diam saat ada mobil yang datang dari arah gerbang yang roboh. Sepertinya Klan Okane memanfaatkan penyerangan ini agar bisa melawannya.


"Sial!!!" umpat Zuan melihat kearah jalan. Waktu semakin berjalan dan mereka tak mungkin bisa kembali secepatnya.


"Kau kalah telak. Daychi!!!!" suara lantang Tuan Yagumi berkoar membelah malam. Kepalan Daychi menguat mempertahankan pil di tangannya.


"Tunggulah sebentar lagi."


Batin Daychi memejamkan matanya menatap Dron yang terbang diatas sana. Ia menekan tombol di kacamatanya lalu keluar dari perlindungan Mobil.


"Kau keluar juga rupanya!" Desis Tuan Yagumi keluar dari mobil dengan bantuan seorang pria muda yang berwajah hampir mirip dengannya memeggang kursi roda. Bisa dipastikan itu putra Tuan Yagumi yang tampak angkuh menatap puas kekacuan disini.


"Ayah! anggotanya sudah banyak hancur, sekarang giliran kita."


"Hm. ini memang rencana-ku sedari awal." gumam Tuan Yagumi sudah merencanakannya sedari awal. Ia sengaja membuat Tuan Jirom memantik percikan kekacuan menghancurkan setidaknya memberinya jalan masuk.


Dengan memanfaatkan Whuang ia bisa mencari cela untuk membunuh Daychi malam ini juga.


"Mereka sudah mempersiapkan ini." gumam Zuan melihat ke sekeliling dimana mereka susah di kepung. Jika bergerak jauh dari tempat mobil ini saja maka mereka akan terkena lumpur hijau panas itu.


"Tak ada waktu lagi!" gumam Daychi menembak kearah mobil Tuan Yagumi diikuti hujan peluru dari Klan lawan.


"Percuma!!! kau tak bisa melawanku lagi!!!" Tuan Yagumi tertawa puas melihat tembakan beruntun itu dilayangkan kearah Daychi yang dengan teliti menghindar seraya terus menembaki anggota Klan Okane bersama Zuan.


Anggota yang tersisa hanya sedikit dan itu melawan Klan musuh dari arah selatan.


Aku butuh waktu menyelesaikan orang sebanyak ini. tapi, tak ada lagi waktu untuk itu.


Daychi yang berkelahi terus menembaki anggota musuh. Ia taj terkena tembakan sama sekali tapi pikirannya tengah diambang-ambang.


"Sersan! kau pergilah duluan, aku akan melindungimu dari sini." ucap Zuan berdiri siaga menembak dibelakang Daychi yang tak bisa. Jika Zuan kena maka janjinya pada Whuang tak akan berarti.


"Pegang ini!"


"Sersan!" gumam Zuan saat Daychi menyerahkan Pil itu padanya.


Daychi hanya menatap datar tempat disekelilingnya yang sudah di penuhi anggota musuh. Apalagi danau itu akan meledak lagi dan kecil kemungkinan bisa selamat dari sini.


"K..kau .."


"Bawa ini pergi!"


Zuan menggeleng. Percuma jika ia membawa Pil itu tapi Daychi tak selamat. walau kemampuan Daychi sangat lihai tapi di lingkungan penuh bahaya seperti ini tak mungkin bisa selamat.


"Mereka mengincarku! aku yang membuat dia duduk di kursi roda, bukan kau atau yang lain." tegas Daychi membuat Zuan diam tak tahu harus memilih apa.


"Jika dia bertanya tentang-kau aku.."


"Katakan saja aku tengah menepati janjiku." jawab Daychi tanpa ada keraguan dimatanya. Ia melihat peledak yang sudah berakar ditanah yang mereka injak. Ini memang sudah direncanakan lebih awal.


"S..Sersan!" lirih Zuan tapi Daychi sadar. Ia yang telah membuat berbagai dendam dan kebencian.


Dan lebih baik ia menghabisi segalanya agar wanita itu akan hidup aman tak akan ada lagi yang mengincarnya.


"Pergilah!" Daychi masih menembak teliti melindungi Zuan yang berdiri kaku tak tahu harus kemana.


"A..aku..."


"Jika disini akhirku. tolong sampaikan pesanku."


"S..Sersan!" lirih Zuan tapi Daychi lagi-lagi menembak musuh dibelakangnya.


"Katakan. Terimakasih sudah mencintai pria bajingan sepertiku." tegas Daychi menepuk bahu Zuan dengan pandangan kilas dan segera mendorong Zuan keluar dari area ledakan.


"Pergi!!!!!"


.............


Vote and Like Sayang


Maaf ya say.. baru pulang soalnya🤭🙏

__ADS_1


__ADS_2