
Kobaran api itu menyala-nyala membakar tepian hutan yang ada di samping Kediaman. Gejolak si jago merah itu memporak-porandakan tanah dan tempat yang sudah panas penuh bahaya.
"Sersan!!!!"
Teriak Zuan menatap kesemua tempat. Ia tak mungkin meninggalkan Daychi dalam kondisi seperti ini.
Para anggota musuh tampak tersenyum puas. mereka sangat yakin pria itu sudah hancur di ledakan kuat tadi. Entrik dan Tuan Yagumi sungguh sangat bahagia. Rencana mereka berjalan dengan sangat lancar.
"Lihat!!! Sersan-mu begitu bodoh dan sangat tak berguna." desis Entrik putra Tuan Yagumi yang juga memiliki dendam terhadap Daychi. Namun, ia takut jika berhadapan secara langsung dengan pria itu.
"Gamaru! kau mendengarku?"
Zuan berusaha menghubungi Gamaru tapi koneksi disini sangat buruk dan menghilang. Hanya tersisa sedikit anggota dan ia tak bisa mengabari Markas besar.
"Zuan! sekarang tinggal kau yang disini." sambar Entrik mengeluarkan pistolnya membuat Zuan menajamkan matanya.
"Klan Ryoto tak selemah itu." desis Zuan masih tak gentar sama sekali.
"Woww! di keadaan seperti ini, kau masih belagak jagoan."
"Memang seharusnya begitu!"
Mata Entrik melebar mendengar suara itu tepat dibelakangnya hingga ia ingin berbalik tapi kaki kokoh seorang pria dengan luka di keningnya itu sudah menerjang punggungnya.
"Ayah!!!" jerit Entrik tersungkur ke tanah lembab itu tepat di hadapan Tuan Yagumi dengan keretakan punggung yang patah.
"Entrik!" Tuan Yagumi syok mengepal keras dengan para anggota Ninja musuh sungguh termenung. Kapan pria itu melesat ke belakang pimpinannya? mereka jelas melihat jika tadi Daychi dilalap api panas itu?
"Kauuu!!!"
"Hm."
Daychi mengeluarkan pisau ditangannya mendekati Tuan Yagumi yang juga memeggang pistol miliknya.
"Kau tak akan ku maafkan!" geram Tuan Yagumi ingin menembak Daychi yang dengan kilat menyabetkan pisau ditangannya ke pergelangan lengan pria itu yang nyaris putus.
"Ayah!!!" Entrik memekik terkejut melihat darah yang menyembur dari tangan Tuan Yagumi.
"Serang dia!!!!" teraikan ketua Samurai itu melesat kearah Daychi yang sudah naik pitam segera menggorok leher Tuan Yagumi dengan bengis tak kenal ampun.
"Ayah!!!" Entrik histeris melihat leher Ayahnya digorok dengan sangat mengerikan dihadapannya. Seketika suasana beralih padahal ia sudah berharap mereka akan menang.
"Kau tak cukup kuat." geram Daychi menyeringai iblis menekan pisaunya hingga leher itu putus dengan tubuh Tuan Yagumi meneggang tak lagi bernyawa.
"Kau iblis brengsek!!!" maki Entrik menggila langsung bangkit ingin menyerang Daychi tapi, tiba-tiba datang segerombolan anggota gelap berpakaian hitam yang mencakar para anggota samurai yang terkejut.
"Maaf, kami terlambat!!!!"
Suara Fang datang melepaskan tembakan langsung menghadang Entrik. Daychi terdiam menoleh ke belakang dimana ada sosok di yang tengah berdiri di remangan malam ini.
"Kau?"
"Pergilah!"
Zuan tersentak melihat Tuan Khang yang tampak berbeda malam ini. Kenapa pria itu datang? biasanya walau Daychi mati-pun ia tak akan perduli.
"Cepatlah. Istrimu sudah semakin parah."
"W..Whuang." gumam Daychi kembali sadar menatap Zuan yang mengangguk hingga mereka berlari ke arah mobil. Tuan Khang menatap datar wajah panik Daychi yang masuk ke dalam baja mewah itu dan melesat dengan kecepatan penuh.
"Pilnya!"
"Ini. Sersan!"
Daychi menggenggam benda itu lagi dengan jantung berdebar. Darah yang mengalir di keningnya akibat benturan tadi tak ia hiraukan karna ia begitu resah dan gelisah.
Sebentar lagi. tunggu aku!
Perasaan Daychi terus berkecamuk. Ia mengeluarkan ponsel-nya saat sudah jauh dari area penginapan tadi. Sinyal disini lumayan bagus dan seperti Gamaru sudah membereskannya.
"Siall!!! jawab panggilan-ku." umpat Daychi menelfon Dokter Dige yang sama sekali tak menjawab panggilannya. Zuan yang kelut semakin mempercepat laju mobil sampai begitu kilat tak lagi perduli jika nanti ada sesuatu didepan sana.
"Asss Siall!!!"
"Sersan!"
Daychi langsung tersigap saat suara Gamaru muncul di alat komunikasinya.
"Apa yang terjadi disana? kenapa mereka tak menjawab panggilanku?" panik Daychi dengan suara begitu menyimpan kemalut hati.
"Sersan! sepertinya Team medis sibuk di Apartemen, keadaan Nona semakin parah."
"A..Apa?"
__ADS_1
Daychi terasa terbongkem menatap Zuan yang bertambah memucat. Ia terlihat fokus menyetir dimana Mobil sudah membelah jalan yang mulai ramai tapi Zuan hanya menerobos dengan perkiraan hanya 10 menit lagi mereka sampai.
"Aku akan datang 10 menit lagi! berusahalah sekuat tenaga kalian!"
"Baik!"
Daychi memutus sambungan. Ia terus melihat kearah luar jalan yang berlalu begitu cepat, kaki dan tangannya sudah dingin dengan keringat gugup yang nyata. Setelah beberapa menit akhirnya Daychi tak sabaran.
"Cepatlah!" desak Daychi sudah melihat Apartemen itu dari sini. Lampu jalan yang terang mempermudah Zuan menyalip mobil dengan kecepatan tinggi hingga menerobos kedalam gerbang.
"Menyingkir!!!!"
Para anggota Sam mengamankan situasi karna mereka tahu kalau Sersan satu ini tak akan perduli pada apapun.
"Beri jalan!!!"
"Itu mobil siapa? kenapa melaju secepat itu?"
Para pengunjung Apartemen heran melihat Mobil itu sudah berhenti mendadak dengan dua sosok pria berwajah samar keluar berlari ke dalam.
Tangan Daychi sudah gemetar masuk ke Lift bersama Zuan yang juga menekan cepat tombol benda itu. Keduanya bersandar ke dinding Lift meredam ketakutan.
"Sial!!! cepatlah!!!" Daychi terus mengumpat menunggu Lift membawa ke lantai atas. Saat benda itu terbuka keduanya langsung berlari keluar tanpa menghiraukan beberapa anggota yang berdiri menunduk melihat Daychi yang terlihat kesetanan masuk ke dalam.
"Whuang!!!"
Orang-orang yang ada didalam langsung tersigap akan suara Daychi. Disana ada Lien yang langsung berdiri bersama Brayen yang terkejut melihat kening Daychi berdarah.
"Kak!"
"Apa yang terjadi?" tanya Daychi panik melihat wajah-wajah mereka yang seperti putus asa. Sam hanya diam duduk di sofa sana. Natalia dan anak-anaknya sudah ia suruh tidur di kamar lain.
"Kenapa kalian diam?"
"A..aku..."
Zuan tak mampu membendung rasa paniknya. Ia melangkah ke pintu kamar tempat Whuang di rawat hingga..
"A..apa?" Zuan memucat dengan berpeggangan ke dinding disampingnya membuat Daychi bertambah mendingin.
"Zuan!" Daychi mendekat merasa takut saat melihat mata Zuan berkaca-kaca menatap keadalam.
"W..Whuang!" lirihan lemah itu muncul dengan tungkai lemas tak mampu menopang tubuhnya. Tak bisa menunggu Daychi langsung masuk menyelonong mendorong para tenaga medis didalam dan..
Mata Daychi melebar melihat sosok diatas ranjang sana. Darah itu mengalir deras dengan wajah pucat tak lagi berona kehidupan.
"Whuang!!!!" teriak Daychi langsung mendekat mendorong Dokter Dige menyingkir hingga tangannya mengigil memeggang pipi pucat wanita itu.
"S..Sersan!"
"Apa..apa yang terjadi? kenapa..kenapa begini?" tanya Daychi mengusap bibir Whuang yang masih mengeluarkan darah. Ia menepuk pelan pipi Whuang agar membuka matanya.
"W..Whuang. aku...aku datang." serak Daychi karna rasa sesak dan takut itu menjalar di dadanya. Wajah cantik sebening kapas itu terlihat tak merespon ucapannya.
"W..Whuang. aku...aku membawanya! itu... itu obatnya!"
Daychi mengambil kertas Pil tadi yang jatuh ke lantai menunjukannya pada Whuang yang tak membuka matanya membuat mata Daychi mulai memanas.
"Whuang!!! kau ... kau bangun, ini... ini yang kau butuhkan."
Mereka hanya diam menunduk dengan mata berkaca-kaca. Tak bisa mereka bayangkan jika Nonanya pergi sesuai ucapannya tadi.
"I..Ichi!"
Daychi kembali berbinar saat lirihan lemah itu muncul. Perlahan kelopak mata indah itu terbuka dengan sangat lemah dan hanya sayu-sayu menampakan manik abunya.
"K..kau... makan ini, ayo!" Daychi dengan tangan gemetar membuka plastik kecil itu memeggang pil kecoklatan yang berisi racikan pemulih. Tapi, apa bisa bekerja saat semuanya sudah usai?
Membuka bibirnya saja Whuang tak begitu bisa. Darah itu mengganjal kerongkongannya dengan selang oksigen masih mengalir didalam sana.
"Kunyah, ayo. kau bisa sembuh." Daychi meyakinkan dirinya sendiri padahal melihat kondisi Whuang yang seperti ini tak ada harapan lagi.
"I..Chi!"
"Hm? kau jangan banyak bicara! cepat telan itu!" tekan Daychi tapi seketika matanya termenggu saat melihat leher Whuang sudah membiru sampai urat-urat kulit wanita itu menjalar diatas permukaan dadanya.
"I..ini..." tangan Daychi gemetar menyentuh leher Whuang yang sudah dipenuhi darah dan selimut ini juga. Kulit putih Whuang yang biasa terlihat bersih dan segar telah berubah pucat dan lepuh.
"K..kau..."
Whuang tersenyum kecil melihat wajah tampan Daychi terlihat mencemaskannya. Ia berjuang untuk melihat pahatan tampan ini sebentar saja dan syukurlah Tuhan memberinya kesempatan.
"K..kalian!! kalian apakan dia??? kenapa bisa seperti ini???" bentak Daychi begitu keras memecah kerongkongannya. Mereka semua diam menunduk tak lagi bisa berbuat banyak.
__ADS_1
"S..Sersan!"
"Aku menyuruh kalian menjaganya!!!! apa-apaan semua ini?? sialan kalian semua!!!" maki Daychi melepas semua kesesakan dan khawatir yang membeludak di dadanya.
Whuang diam. pandangan sayu ke arah wajah pucat Daychi yang terlihat mendingin. Bisakah ia egois? tapi ini sangat menyenangkan. Dia begitu menggemaskan.
"Kau...kau tenang saja. obat itu akan beraksi cepat! kau...kau akan baik-baik saja." ucap Daychi membersihkan darah yang terus keluar di mulut Whuang dan hidung mungil itu. Ia mengusapnya terus tapi tak kunjung kering hingga kepalan Daychi menguat dengan wajah mengeras kelut.
"K..kau...kau berjanji padaku.." lirih Daychi lemah dengan mata berkaca-kaca terlihat begitu rapuh.
"A..apa?"
"Kau tak akan meninggalkan-ku. i..iyakan?" serak Daychi menggenggam tangan lentik Whuang yang terasa mulai dingin. Mata Whuang juga sudah sayu antara sadar dan tidak.
"I..Ichi!"
"Hm? jawab aku!"
Bibir Whuang bergetar dengan tangan yang memaksa terangkat lemah menyentuh rahang tegas yang sekarang ada di hadapannya. ia mengusap darah di kening Daychi lembut.
Kenapa aku begitu terasa senang? seharusnya aku sedih saat meninggalkanmu. Ichi!
Whuang tersenyum lepas. Ntahlah, ia terlihat sangat bahagia disaat seperti ini hingga Zuan tak lagi mampu berdiri selain berjongkok di dekat lantai.
"J..jawab aku. kenapa kau diam?" serak Daychi menggenggam tangan Whuang erat seakan ia tak mau ditinggalkan.
"T..teri..makasih."
"Jawab aku!!!! itu bukan yang ku mau!!!" bentak Daychi tak sanggup menahan desakan sesak di hatinya. Ia tak sanggup melihat wanita yang selama ini menemani hari-harinya dengan sikap jahil dan menyebalkan itu jadi terlihat lemah.
"I..Ichi!" Whuang menarik nafas berat dan terlihat sangat kesusahan.
"W..Whuang..."
"I..ni."
Daychi tersentak saat Whuang mengarahkan tangannya ke perut datar itu. Jantung Daychi semakin berpacu merasakan perut Whuang tegang dan keras seperti batu.
"K..kau..."
"K..kau t..tenang s..aaja! d..dia.. a..akan ku jaga, Uhukk!!" Whuang terbatuk menyemburkan cairan merah kental itu membasahi dada Daychi yang terdiam kosong.
"N..Nona!" gumam mereka tak sanggup melihat itu semua. Apalagi Zuan yang sudah terisak di depan pintu sudah menduga apa yang akan terjadi.
Daychi yang tahu itu dengan cepat menggeleng. Ia semakin menggenggam tangan Whuang erat dan tak rela.
"Tidak! kita...kita akan menjaganya bersama-sama. kau..kau akan baik-baik saja." ucap Daychi sudah berkaca-kaca membuat senyuman Whuang bertambah lebar.
"W..waktuku.. t..tak banyak. Ichi!"
"DIAM!!! TUTUP MULUTMU!!!" Bentak Daychi histeris membekap mulut Whuang agar tak bicara lagi. Hatinya terasa tercabik sakit dan rasa takut yang menjalar ke ubunnya.
J..jangan. jangan rebut dia dariku.
"K..kau tak bisa meninggalkanku! kau tak bisa." Daychi menggeleng langsung memeluk Whuang kuat meredam kepanikan dalam dirinya.
"A..aku mohon, aku mohon!" lirih Daychi merasa begitu mati. Tubuh Whuang dingin dan kaku seakan tak lagi mampu bergerak.
"A..aku mencintaimu!" bisik Whuang ke telinga Daychi yang tertegun diam dengan setetes air mata yang lolos. Bibirnya bergetar merasakan nafas Whuang tersendat di lehernya.
"W..Whuang..."
Whuang menggeleng mengangkat wajahnya dari bahu Daychi hingga kedua pasang mata itu saling menatap. Tatapan angkuh yang sudah tunduk Daychi menyerukan ketenagan bagi Whuang yang melihat jelas air mata yang turun untuk pertama kalinya.
"A..aku mencintaimu. I..Chi!"
"A..aku .." Whuang langsung membekap bibir Daychi agar tak bicara. Ia sudah pasrah dan tak mau merubah apapun di hati Daychi.
"T..tak apa. kau tak u..usah menjawabnya. hm?"
Bibir Daychi bergetar menahan desakan sakit dan ketakutan yang sudah menguasai dirinya. Air matanya tak lagi mampu di bendung hingga menjadikannya sosok yang lemah.
"W..Whuang!"
"B..Berbahagialah!" lirih Whuang lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Daychi yang sudah pucat pasih hingga kecupan ringan itu dilayangnya ke bibir keringnya.
"B..Berbahagialah, I..Ichi!" lirihan Whuang disertai darah yang berlumuran sampai akhirnya mata wanita itu perlahan terpejam dengan henbusan nafas yang semakin memendek.
"J..Jangan...A..aku..aku mohon."
"A .ku..mencintaimu."
........
__ADS_1
Vote and Like Sayang