
Perlahan pelupuk netra almond cantik itu berkerut dengan ringisan kecil yang lolos dari bibir pink segar yang tak terlalu pucat lagi. Kedua tangannya beralih mencengkram selimut dikala pikirannya sudah membayang jauh.
"Dasar wanita!"
"Kau selalu saja menyusahkan-ku."
Suara itu begitu pedas dipikiran Whuang yang melihat jelas jika ada yang meloncat ke lembah bersamanya dan dengan cepat membobol kaca Mobil mengambilnya keluar sebelum Mobil itu menghantam bebatuan runcing dibawah sana.
"K..Kay!"
Gumam Whuang masih belum membuka matanya membuat sesosok gagah yang sedari tadi menunggu di sofa sana langsung berdiri meletakan botol minumannya.
"K..Kay..em!"
"Kau sadar!"
Mata Whuang langsung terbuka lebar mendengar suara itu lagi hingga tatapan tajamnya kembali menghunus sosok yang membantunya semalam. Ia juga tahu kapan pria ini membuntutinya dan bisa segesit itu.
"K..Kau.."
Tak ada jawaban apapun dari Daychi yang tampak semakin dingin saja. Tak ada manik khawatir sama sekali bahkan ia sudah kelam seperti biasa.
"Minum?"
"Hm."
Daychi meraih satu gelas air putih yang sudah terisi penuh diatas meja dekat ranjang lalu memberikannya pada Whuang yang meraihnya dengan pelan tanpa meminta untuk di suapi.
"Ingin ku bantu?"
"Tidak!" tegas Whuang menegguknya sampai tandas menarik seringaian di sudut bibir Daychi yang duduk disampingnya. Whuang semakin tak paham dan tak bisa menebak apa rencana pria ini.
"Kay. bagaimana dengan dia?"
"Hanya hewan dan.."
Daychi menghentikan kalimatnya saat Whuang sudah mencengkram lengannya. sorot mata wanita ini begitu menerkam dan penuh teka-teki.
"Dia bukan sekedar hewan."
"Cih!"
Daychi menepis cengkraman Whuang yang diam meredakan emosinya. Tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya dan kemungkinan Kay juga akan baik-baik saja.
"Kenapa kau belagak kuat. hm?"
"Aku tak mengerti maksudmu." jawab Whuang datar. Keduanya begitu memiliki pertahanan dan pikiran yang sangat sulit dijabarkan.
"Tubuhmu mati rasa. dan kau masih ingin sendiri? cih!" Daychi mengingat saat malam itu Whuang melepas pelukan tidur yang nyatanya ia sadar tapi masih membiarkan Whuang pergi karna ingin mencari tahu siapa sebenarnya wanita ini.
"Sendiri itu lebih baik."
"Hm. kau masih bertahan rupanya."
__ADS_1
Whuang memejamkan matanya. Ia harus segera menuntaskan ini atau tidak nyawanya akan terancam. Ini pasti peringatan dari Ayahnya untuk segera membunuh Daychi dan menjalankan rencana. Tapi bagaimana? Daychi terlalu licik untuk ia kecoh.
"Ada rencana?"
"Pergilah! aku ingin sendiri." ujar Whuang membuang muka tak bersahabat. itu semua tak luput dari pengamatan Daychi yang pasti akan menggali informasi detail soal racun itu.
"Tubuhmu sakit tapi tak ada yang ditemukan."
Whuang hanya diam tanpa merespon lebih. Ia juga tak tahu kenapa rasa sakit itu datang dan jawabannya hanya dari ayahnya.
"Benarkah?"
"Hm. sepertinya kau sangat spesial."
"Tentu. dan kau juga tahu itu." jawab Whuang menyeringai membuat wajah Daychi sedikit bergurat aneh tapi Whuang berusaha tenang agar identitasnya tak terbongkar.
"Kau .."
"Permisi. Sersan!!"
Suara Gamaru dari balik pintu sana menjeda kalimat Daychi yang tadi ingin menekan Whuang.Tapi, sepertinya sekarang bukan waktu tepat untuk mengintrogasinya.
"Masuk!"
"Baik!"
Pintu itu terbuka menampakan sosok pria dengan jahitan di pipinya. Tatapan mata kagumnya terpancar menyapa Whuang yang hanya menoleh sekilas lalu kembali membuang wajah.
"Ada apa?"
Gamaru mendengar membawa hasil Lab tentang racun hari itu. Dan kabar buruknya Klan musuh kembali menyerang bahkan hari ini di Kediaman utama.
"Ini hasil Lab dari pemeriksaan rancun malam itu."
"Sudah ditemukan?" tanya Daychi melirik reaksi Whuang yang tetap diam seakan tak mendengar.
"Dari uji coba Leb. Peneliti menemukan ada unsur mikroorganisme kecil yang bergerak memakan semua jaringan tubuh dan mengirim sinyal mati ke otak. kemungkinan racun ini tak hanya berisi zat pelumpuh tapi juga pemakan daging."
"Pemakan daging?"
Batin Whuang terkejut. Ia ingat jika Ayahnya sering membuat penelitian gila dan ia pernah menjalani semua itu tapi tak tahu seperti apa hasil dari pekerjaan kotor Ayahnya.
"Lalu?" Daychi masih tenang.
"Setiap anggota yang terkena maka jalan satu-satunya hanyalah amputasi di daerah yang terkena racun. dan saya sangat khawatir karna mereka sudah mulai mengincar Kediaman Utama anda."
Daychi langsung mengepal. Mereka sudah beegerak lebih jauh dan ia masih belum menemukan cara agar bisa menghambat atau menghancurkan racun sialan itu.
"Apa tak ada cara menghambatnya?"
"Rancun itu.."
Keduanya langsung menatap Whuang yang terbawa suasana hingga kembali diam memasang wajah datar menciptakan seringaian di bibir Gamaru.
__ADS_1
"Cih! ternyata dia juga tahu tentang racun, pantas jika Sersan tak langsung membunuhnya."
"Apa?" tanya Daychi mendapat helaan nafas dari Whuang.
"Racun itu terlalu berbahaya. anggotamu harus hati-hati. bukan?"
Mata Daychi menyipit semakin tenggelam dengan kecurigaan yang di pendam. Sepertinya ia harus bekerja keras sekarang.
"Tentu! dan kau juga harus beristirahat karna kau sangat penting bagiku."
Whuang terhenyak dengan ucapan Daychi barusan. Matanya seketika kosong melampaui batas pikiran yang tengah melayang.
"P..Penting?"
Batin Whuang agak bergetar. Tak pernah ada yang mengatakan itu padanya bahkan Ayahnya selalu mengatakan berguna dan alat yang sempurna.
"Istirahatlah. kau sangat merindukan Kay, bukan?"
"Hm."
Daychi tersenyum kecil mengelus kepala Whuang yang juga diam menatap Daychi rumit. Apa itu sebuah belaian kasih sayang atau belaian kemenagan?
A..Ayah! batin Whuang terasa remuk. Kenapa Daychi terlihat begitu sulit ia ketahui? pria ini terkadang baik tapi seketika jadi misterius.
"Aku keluar!"
"Hm."
Daychi berdiri kalu melangkah keluar dengan Gamaru yang tersenyum lebar menatap wajah kosong Whuang. Sepertinya wanita ini begitu kesepian?
"Semoga lekas sembuh. Nona!"
Ucap Gamaru lalu menutup pintu ruangan meninggalkan Whuang dalam kekacuan hati dan pikiran. Ia tak pernah bisa melawan Daychi si Naga Jantan yang berubah-ubah.
"Tetaplah kasar dan bengis. aku mohon!" guman Whuang mencengkram dadanya. Ia wanita normal yang pastinya akan lemah jika di lembutkan apalagi tak pernah ada yang menginginkannya.
Lama Whuang bergelut dengan pikirannya hingga ia kembali sadar harus apa.
"Aku harus bertemu ayah. apa dia yang bekerja sama dengan orang lain untuk memusuhi Daychi dan Klan Ryoto atau tidak?!"
........
Sementara diluar sana. Daychi tak benar-benar pergi hingga ia mendengar segalanya, sungguh ironis jika ia bisa sekejam ini.
"Kau tahu tentang racun itu dan aku tak akan melepasmu."
Gumam Daychi melempar tatapan membunuh. Whuang memang punya pesona dan tubuh yang luar biasa. Tapi ia tak akan tertipu hanya karna hasrat, tak perduli wanita itu yang pertama atau tidak yang jelas ia harus melumpuhkan semua yang berani mengusik pertahanan-nya.
..
Vote and Like Sayang .
Untuk jam updet biasanya author kalau lagi senggang 3 kali say. pagi siang ama sore. tapi mungkin yg jelas cuman malam jam 8 nan sama jam 11 siang🤭
__ADS_1