Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Kebuasan Daychi!


__ADS_3

Aliran darah segar itu mengalir membasahi ranjang. Potongan tubuh yang telah dimutilasi itu dilempar kedekat ranjang hingga malam ini terasa begitu kelam tapi tidak bagi seorang Pria yang tengah asik melakukan hobi gilanya mencincang tubuh para wanita penghibur yang selalu berakhir tragis diatas tempat peraduannya.


"T..Tuan! s..saya..saya mohon, jangan!"


Isakan penuh ketakutan seorang wanita tanpa busana yang telah bergelimang dengan darah para kawananya tadi. Dari 5 wanita yang dibawa kesini hanya tinggal dirinya yang bernafas ditumpukan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


Kamar itu begitu remang hanya memanfaatkan cahaya rembulan. Ia tak bisa melihat jelas wajah tampan yang sekarang tengah menyeringai melihat betapa bahagianya menyiksa spesies tak berguna ini.


"Kau datang dengan sukarela. bukan aku yang memanggilmu!" desis Daychi penuh kebengisan menarik lengan wanita itu hingga ia kembali melakukan hal yang membuat anggota mereka melihat dari luar sana ingin muntah tapi ini adalah hal bisa bagi Zuan yang tetap diam berdiri tegap tak mengalihkan pandangan ke dalam ruangan eksekusi sana.


Menurut Daychi. kesenagan terbesarnya adalah melihat para musuh mereggang nyawa tepat dihadapannya. Dan yang paling penting ia sama sekali tak suka hal berbau kelembutan seorang Wanita kecuali penyiksaan.


"Tuan!!!!!"


"Cihh!!"


Daychi berhasil memutusnya lalu melempar kesudut ruangan dengan Zuan yang mengisyaratkan bawahannya memunguti itu dan membawanya ke kandang Metina.


"Masukan lagi!!" suara gila Daychi masih belum puas melihat seluruh ruangan sudah terjiprat cairan merah kental itu. Tubuh kekarnya sudah bersimbah darah tapi ia suka ini, setidaknya para musuh akan berfikir 2 kali mengirim wanita jajahan ketempatnya.


"Zuan!!!"


"Baik. Sersan!"


Zuan menatap para bawahan yang menggeleng tak lagi ada wanita yang diberikan. Club ini sudah sepi karna Brayen membubarkan pengunjungnya cepat karna takut jadi korban tambahan dari Kakak gila Lien itu.


Brayen yang sedari tadi ketakutan. hanya bisa bersembunyi dibalik tiang pembatas. Ia terus menghubungi Lien agar membawa Pria itu pergi atau Clubnya akan digentayangi banyak arwah penasaran tapi hasilnya nol. Lien seakan hilang ditelan Bumi.


"K..Kak Zu! t..tolong aku .aku.." gemetar Brayen sudah lemas menatap Zuan yang hanya memandang datar. Ia butuh wanita lagi atau tidak Sersannya akan melampiaskan itu pada anak buah mereka.


"Kau sangat lamban!!"


"Sersan!!!"


Mereka langsung membungkuk memohon jangan lakukan itu pada mereka. Namun, Daychi tak perduli. Hasrat membunuhnya sudah memuncak dan akal sehatnya pun hilang ntah kemana.


"Kesini kalian!!!"


Zuan mencari akal. para anggotanya tampak diam dengan wajah pucat tak berani masuk karna Sersannya bisa saja membunuh mereka semua.


"Kau.."


"Kakak Zu!"


Brayen segera bersujud dihadapan Zuan yang mengepal.


"Kak! jangan aku.. aku masih belum memiliki kekasih!!"


"Bangun sialan!!" geram Zuan membuat Brayen segera berdiri bersembunyi dibelakang tubuhnya tak berani melihat kedalam ruangan.


"K..Kak!"


"Kau ada wanita disini?"


"T..Tidak. mereka..mereka ku suruh pergi."


Jawab Brayen berkeringat dingin saat salah satu anak buah Ryoto ditarik masuk hingga membuat Zuan mendecah. Sersannya memang sudah kehilangan kendali.


"Brayen!"


Tatapan mereka beralih pada suara lembut nan tegas didekat tangga sana. Brayen menyipitkan matanya melihat wanita diremangan lampu hingga..


"D..Dia..dia itu perempuan!!" pekik Brayen tak lagi berfikir panjang membuat Whuang menyeringit.


"Brayen kau.."


"Bawa dia!" titah Zuan pada bawahannya hingga mereka mendekati Whuang yang seketika terkejut dirinya ditarik menuju ruangan yang begitu amis. Ia tadi ke Toilet dan saat keluar tak ada lagi musik dan pengunjung Club. semuanya sunyi dihiasi tangisan wanita.


"Lepas!!!"


"T..tolong aku!" gemetar Brayen pada Whuang yang terdiam tak mengerti. Ia tak mengenal siapa orang-orang ini hingga hanya pasrah dimasukan kedalam ruangan berbau busuk ini.


"Keluar!!!!!"


Suara berat menggelegar membuat Whuang terlonjak kaget dengan para anggota keluar langsung menutup pintu dibelakangnya.


"L..Lien!"


Gumam Whuang berfikir itu Lien. Karna diluar ada Brayen dan kemungkinan Lien tengah depresi atau ada sesuatu yang terjadi.

__ADS_1


Aroma amis diremangan bulan ini membuat Whuang sedikit tak nyaman. Matanya masih menatap sosok tinggi kekar yang berdiri tak jauh darinya dengan sorot mata menyala bak naga merah mengintai.


"Kau takut?"


"L..Lien!" gumam Whuang sedikit merinding dikala suara berat serak itu mengalun. Ia merasakan jelas aura kelam iblis ini menyelumbungi ruangan yang tengah mengurungnya.


Daychi hanya diam. Ia menatap lekat wajah cantik yang tengah menatapnya dengan penasaran, keduanya saling menatap tapi tak bisa melihat jelas wajah masing-masing. yang Daychi bayangkan wanita ini memang cantik walau hanya kulit putihnya saja yang terpancar remangan bulan.


"K..Kau mau apa?" gugup Whuang mencengkram botol ramuan ayahnya dikala Pria gagah ini mendekat membuat ia menelan ludah kasar. Bukan takut mati tapi ia tak pernah memikirkan akan bercinta diruangan segelap ini.


"Sialan!!"


"Ayah!!!"


Pekik Whuang saat lengannya ditarik hingga terpental keatas ranjang lembab amis sana. Tubuh Whuang terhempas keras sampai botol digenggamannya pecah membasahi dadanya.


"Kau gila. ha!!!!" suara keras Whuang murka melihat air dingin itu merembes didadanya sementara Daychi. Ia mengeluarkan pisau terakhirnya dan incaran kali ini adalah mata cantik Whuang.


"Berani kau. lintah." desis Daychi mendekat membuat Whuang mengepal. Tangannya sudah sakit dicengkram lengan kekar itu dan ia tak akan diam.


"Lintah kepalamu!!"


Whuang melesat ringan menyerang Daychi dengan serpihan kaca yang melukai tangannya membuat mantel tebal tadi melayang lepas menyerukan Aroma floral bunga khas tubuhnya.  Liukan tubuh jenjang Whuang mengelilingi Daychi yang menarik lengan lembutnya untuk menghantam dinding tapi Whuang bertolak keras memukul rahang Daychi hingga membuat pria itu cukup syok.


"Kauu!!!"


"Bajingan!" umpat Whuang melempar vas disampingnya ke wajah Daychi yang menghindar dengan ringan menarik pinggang ramping Whuang dan ia hantamkan ke kepala ranjang.


Brakkk...


"Aa. Ya tuhan!"


Brayen gemetar mendengar suara pecahan barang-barang didalam sana. Apa Kakak Day begitu ganas diranjang? atau ia tengah mematahkan tulang lentik Whuang?


Panik Brayen terus memohon maaf pada arwa Whuang agar tak menuntut balas padanya. Zuan hanya diam menatap datar pintu kamar yang beberapa kali seperti ditendang. Apa mereka berkelahi? tapi siapa wanita itu?


Pikir Zuan yang tadi tak terlalu memperhatikan Whuang karna ia fokus pada Sersannya.


Sementara didalam sana. Daychi dengan kuat menekan kepala Whuang ke bantal diatas ranjang dengan satu tangan melepas tali pinggangnya untuk mengikat wanita liar ini.


"Lepas!!!!"


"Kau punya mata yang indah." gumam Daychi semakin berhasrat mengkoleksinya. Whuang terkejut saat kedua tangannya sudah Daychi ikat dengan tali pinggangnya dan kedua kaki Whuang di kunci paha kekar Daychi yang kuat.


"Sekali kau menyentuhku! kau akan menyesal seumur hidup!!!"


Daychi menampar Whuang yang seketika mendidih. Ia memberontak keras tapi tenaganya terkuras akibat tindihan tubuh berat Daychi yang menekan perutnya.


"Wanita jajahan sepertimu. tak pantas hidup bebas." geram Daychi mengarahkan pisaunya ke wajah cantik Whuang yang bersembunyi diremangan bulan. Mata Whuang melebar dikala seringaian iblis itu begitu yakin dan buas melahap matanya.


"K..Kau ."


"Cantiknya! ini kado ulang tahun, Queenku!" desis Daychi berucap tak waras menekan ujung pisaunya ke pelupuk mata Whuang yang berdarah hingga Whuang memejamkan mata dengan jantung berdebar.


Whusss ..


Tiba-tiba angin dari Balkon sana berhembus agak kuat menerbangkan tirai yang berlumuran darah. Aroma tubuh Whuang mulai kental dengan cahaya rembulan seakan mekar perlahan menerangi separuh tubuh Whuang yang membuat Daychi terkesima.


Pisau ditangannya lepas dikala aroma Floral dan aroma khas dari dada Whuang menyeruk ke hidung mancungnya.


"Cantik!" lirihnya tanpa sadar melihat dada sekang Whuang begitu pulen dan sangat menggirukan. Tatapan Daychi semula sarat akan membunuh sekarang berganti dengan kelabu hasrat bercinta yang kuat.


"Ini sangat lembut!" Daychi langsung membenamkan wajahnya kesana spontan Whuang terkejut membelalakkan matanya.


"Cabul!!!!" teriak Whuang memberontak tapi Daychi benar-benar menguasai tubuhnya. Wajah tampan Daychi yang belum Whuang lihat sudah terbenam sempurna kebelahan kenyal itu menghirup dalam eforia yang ia rasakan.


"J..Jauhkan wajahmu!!" geraman Whuang tak tahan jika seperti itu. Daychi dengan kasar merobek gaun minimnya membuat kulit punggung Whuang merah tergores kecil tapi pemandangan remang ini semakin membakar jiwa kelelakian Daychi.


"Lepas!!"


"Diam!!!"


Geram Daychi menekan membuat Whuang menciut. Wajah Daychi masih bersembunyi dibalik sinaran rembulan tapi Whuang terpaku menatap mata elang yang begitu mengintimidasi.


"K..Kau siapa?"


Batin Whuang tak tahu. Jika ini Lien maka tak mungkin tubuhnya sekekar ini. Aroma nafas Woody musk itu membuat otak Whuang kacau, sensasi seksi pria ini tak bisa ia tolak.


"Enggh!" Whuang sedikit melenguh dikala Daychi meniup dua bongkahan kenyal montok itu.

__ADS_1


"Kulitmu terbuat dari apa?" serak Daychi meremasnya lembut membuat Whuang melenting. Sungguh, ia wanita dewasa yang tak pernah disentuh lelaki tapi pria ini sangat berani menjamahnya.


"K..Kau.."


Daychi tak menunggu lama lagi. Ia mulai melahap dua bongkahan kenyal itu ganas membuat Whuang terbelalak dengan punggung terangkat kecil menahan kejutan jantung.


"H..Hentikan. emm!"


Daychi tak berhenti. Bahkan, ia semakin berbuat gila dengan mengigit kecil gemas puncak si montok itu menghadirkan sensasi remang bagi Whuang yang terasa ingin menjerit


Cukup!!! aku gila karnamu!!


Begitu gemasnya. Daychi sampai menamparnya beberapa kali membuatnya merah dengan bekas jarinya disana. Ada rasa sakit dan nyeri tapi ntah kenapa Whuang begitu terbakar panas.


"Sial!!! dia pasti terkena ramuan ayah."


Batin Whuang berusaha sadar. Daychi telah ternggelam dalam lautan hasratnya hingga tanpa menunggu lama ia membuat tubuh Whuang polos tanpa sehelai benangpun menarik mata berat semakin terselumbung gairah.


"Kenapa kau sekenyal ini. hmm?" antara gemas dan geram Daychi mencengkram paha putih mulus Whuang dan terus memukul tubuh wanita itu agar merah karna ia suka rona karyanya.


"Hentikan!!!"


"Merah!! aku suka merah!!!"


Geram Daychi terus membuat Whuang seraya ingin menangis. Pria ini sudah gila, sangat gila sampai terus memukuli kulitnya agar meradang.


"Lepas!! Brengsek!!"


"Kau harus merah!"


Desis Daychi langsung menyambar bibir Whuang brutal membuat wanita itu memberontak tapi Daychi sudah mengungkungnya jantan. Perlakuan pria ini sangat kasar karna memang Dayci tak paham berlaku lembut pada wanita kecuali orang-orang spesial dalam hidupnya.


"Emm!!"


Whuang berusapa merapatkan bibirnya tapi Daychi sangat mahir berciuman. Pria ini mencengkram satu bukit kembar kenyal itu sampai membuat ia memekik memberi aksesnya untuk masuk.


Whuang terus memberontak tapi tak bisa. Semakin lama tubuhnya begitu menuntun sampai akhirnya Whuang pasrah membiarkan Daychi menyesap kasar bibirnya antara gemas akan kelembutan dan rasa manis Strawberry itu atau geram akan penolakan Whuang padanya.


"Ehmm!" Whuang meroma dikala ciumana Daychi sangat menuntun. Ia tanpa sadar membalas membuat Daychi tersengat akan sensasi bibir hangat Whuang.


"Shitt!"


Umpat Daychi melepas tautannya dengan benang saliva masih menghubung. Nafas keduanya memburu dengan wajah manja Whuang membuat Daychi tak bisa tahan mencengkram kedua pipi wanita ini dengan satu tangan lalu kembali menyesap madu dari bibir merah ini.


"Ehm!!" Whuang tersentak saat pahanya dibuka lebar dengan kasar oleh kaki Daychi yang sudah memposisikan diri. Sepertinya pria ini tak sadar salam suasana bercinta mereka ia tengah terpengaruh obat api gairah milik Ayah Whuang.


"Dia sudah keras."


Batin Whuang sadar jika bagian pahanya ditekan oleh sesuatu. Ia masih berusaha tenang walau tungkainya sudah gemetar bagaimana pria ini akan memulai penyatuan jika sedari tadi dia selalu kasar.


"K..kau ."


Whuang memucat dikala Daychi mulai bangkit melepas kaos amisnya dan dilempar kesembarang arah hingga samar-samar Whuang melihat tubuh atletis yang dibekali tonjolan otot kekar yang sangat seksi.


"Ini bukan Lien!"


Batin Whuang terpesona akan tubuh kekar Daychi yang mengungkungnya. Ia larut dalam pahatan sempurna itu sampai lupa jika Daychi sudah polos dihadapannya.


"A.. itu.."


Benda keras size berbahaya itu membuat Whuang menelan ludah. Remang-remang begini ia tahu berapa ukurannya dan ini lebih besar dari yang pernah ia tonton selama ini.


"Please! jangan yang ini."


Batin Whuang gemetar menatap lekat Daychi yang juga mengaggumi bentuk tubuhnya. Begitu luar biasa dan bersih seakan Whuang bukan dari manusia seperti spesisnya.


Kesempurnaan tubuh Whuang memang menyeluruh tapi disini yang paling menonjol selain dada dan belakangnya Whuang juga punya bentuk pinggang yang indah bak Biola Spanyol, kaki jenjang yang cantik dan bentuk perut rata yang lembut membuat Daychi terasa melihat Dewi.


"Sebelum mati. puaskan aku dulu." desis Daychi menyapu tungkai jenjang Whuang dengan indra perasanya menyusuri lekuk tubuh wanita itu membuat Whuang melenting bak busur panah.


"Shittt ***!" Whuang mencengkram bantal diatasnya. Ia tak perduli lagi aroma amis ini karna ia mulai masuk dalam fantasi liar Daychi padanya.


"Lien. emm!" erang Whuang karna tak tahu menyebut siapa. Ia hanya bisa menggeliat erotis dalam kekuasan Daychi yang sangat mahir dalam bermain.


Pria itu membuka lebar paha ayam betinanya ini sampai matanya tak bisa berkaca banyak selain menatap penuh minat bagian inti yang begitu mulus, dan harum menyebar aroma daging wangi di hidungnya.


"Ini gila!" desis Daychi langsung menyambar buas membuat para anggota diluar sana langsung saling pandang heran. Kenapa sedari belum juga ada suara tuannya menyatakan 'SUDAH'.


....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2