Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Tak usah pulang!


__ADS_3

Rembulan diatas sana sudah tampak begitu indah dikelilingi kilapan bintang yang begitu ceria malam ini. Desiran dingin mulai meraba dipermukaan dinding dan pepohonan yang menciut mencari kehangatan.


Hembusan anginnya yang pelan dan menusuk itu masuk di sela Fentilasi yang ada didalam ruang rawat lengkap itu. Sedari tadi sosok yang sudah lelah memejamkan matanya tampak terus menunggu diatas ranjang rawat miliknya.


"Ini sudah jam 11. kenapa Ichi belum pulang?" gumam Whuang merasa gelisah. Seung dan Eva sudah tidur diatas Sofa sana setelah menemani Baby Ryu yang juga terlelap diatas pangkuannya.


"Baby! kira-kira kemana Dadymu. hm?" gumam Whuang mengusap pipi gembul putranya dengan telunjuk lentik halus itu. Baby Ryu menggeliat merasakan sentuhan hangat sang Momy di wajah tampan miliknya.


"Maaf. Momy membangunkan-mu. Sayang!" sesal Whuang tak tega saat mata kantuk indah Putranya yang sayu-sayu terbuka.


"Tidur lagi?"


Baby Ryu mengerijab beberapa kali menatap wajah cantik Whuang yang begitu menggetarkan hati. Bibir pink wanita itu melengkung melihat pandangan Baby Ryu melembut padanya.


"Baby! kau membuat Aunty Eva dan Aunty Seung lelah menunggu-mu senyum. kenapa tak mau tarik sedikit saja ini-nya. hm?" Whuang mencubit remang dagu halus buah hatinya itu sampai akhirnya Baby Ryu tersenyum memperlihatkan gusi merahnya yang menggemaskan.


"Tampanya!! anak Momy."


Whuang menciumi wajah tampan belia itu hingga wajah Baby Ryu sangat bahagia bahkan ia semakin mempertontonkan gusi lembutnya. lidah kecil mungil yang tampak terlihat dikala senyumnya semakin melebar.


"Baby! kemana Dadymu? ini sudah larut dia belum pulang. Shitt, awas saja dia." gumam Whuang beralih melihat Jam dinding yang terus bergerak ke angka 12.


Tatapan manik abu Baby Ryu berubah datar melihat raut cemas Whuang yang tak bisa tenang.


"Eva!"


Panggil Whuang pada Eva yang memang lelah karna menunggu seharian. Ia harus berbicara pada anggota yang berjaga di luar.


"Kalian yang ada di luar!!!"


Suara Whuang sedikit keras menyentak Eva dan Seung yang langsung berdiri dengan nyawa masih diambang-ambang.


"Nona!!"


Keduanya bersiap diiringi pintu ruangan terbuka memperlihatkan 2 anggota Ryoto yang berjaga didepan pintu.


"Kami! Nona!" menunduk dan sopan.


"Dimana suamiku? kenapa belum pulang. juga?" tanya Whuang membuat keduanya saling pandang. Bagaimana bisa mengatakan jika Sersannya tengah mengeksekusi tawanan di markas yang sudah terasa dingin sekarang ini?


"Kalian tahu?"


"Tidak. kami tak tahu, Nona!"


Jawaban itu membuat mata cantik Whuang semakin tenggelam. Dahinya mengkerut dengan alis turun seperti tak percaya.


"Yakin?"


"Yah! kami ditugaskan khusus disini, jadi kami tak tahu apapun. mungkin saja ada urusan penting untuk.Sersan!" jawab salah satunya membungkuk meredam kegugupannya dipandang intens oleh netra tajam Whuang.


"Kau pikir aku masih satu dua hari mengenal Klan Kalian."


Batin Whuang geram. Tapi, jika ia bertanya itu hanya akan membuang waktu. Ia yakin Daychi tak akan seperti ini kalau bukan karna urusan penting.


Namun, Whuang terasa berdenyut saat mengingat malam itu Daychi juga meninggalkannya karna ingin bertemu dengan Natalia dan Elis. apa kali ini juga?


"Nona!"


"T..tinggalkan aku sendiri." gumam Whuang memejamkan matanya menahan desakan sesak yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


Eva dan Seung saling pandang lalu mengangguk melangkah keluar ruangan dan menutup pintu itu. Whuang mengambil nafas dalam membuka matanya.


"Tidak. dia..dia tak mungkin melakukan itu lagi padaku." gumam Whuang mencoba menepis pikiran seperti itu. Tapi, ntah kenapa rasanya ia takut dan merasa resah sendiri.


"Tapi..."


Kau kemana? kenapa tak menghubungiku dulu atau kau tak bisa disini sebentar saja?


Whuang mulai berkaca-kaca membuat Baby Ryu tampak mendingin.


"A..apa kau menemuinya lagi?!" lirih Whuang merasa sakit. bagaimana kalau kau memang tak bisa melepaskannya? bagaimana kalau kau tak perduli padaku dan anak kita lagi?


"Eva!!" panggil Whuang sudah tak mampu menerka-nerka begini. Pintu itu terbuka memperlihatkan Eva yang masuk mendekat.


"Ada apa? Nona!"


"Pinjam ponselmu!"


Eva langsung membuka ponselnya lalu memberikannya pada Whuang yang mengetikan nomor ponsel Daychi yang ia hafal sampai saat ini.


"Angkatlah!" gumam Whuang mengigit bibir bawahnya. Suara operator itu menjawab langsung meruntuhkan semangat Whuang.


"Nona!"


"Ichi!" gumam Whuang kembali memulai panggilan tapi tetap juga tak aktif membuat ia frustasi.


"Kau kemana? setiap kali begini. kau memang tak berubah." gumam Whuang melempar ponsel Eva ke samping tempat tidur dengan mata terlihat kecewa.


"Nona! mungkin saja Sersan ada urusan penting."


Whuang hanya diam dengan wajah yang menahan kesal. Kalau sampai dugaannya benar maka sedetik saja tak akan ia biarkan Daychi melihat wajahnya dan putra mereka.


"Dia memang ingin ini."


"Kunci semua pintu di rumah sakit ini dan jangan biarkan dia masuk!"


"Nona! anda..."


Eva terhenti saat tatapan Whuang sangat mengecamnya. Ia terpaksa mengangguk mengelus dadanya merasa akan ada amarah besar.


"Habislah kau Sersan."


.........


Botol minum itu sudah kosong ia teguk setiap kali menembaki kepala-kepala tawanan yang sudah tak bernyawa didalam ruangan Eksekusi. Disini Daychi membuat lantai menjadi kental akan darah segar yang berceceran dimana-mana.


"Sialan!!"


Daychi menembaki semuanya sampai jeritan hebat itu memenuhi ruangan gelap ini. Hanya ada satu lampu ditengah tapi timah panas itu melesat pasti ke kepala mereka.


"Keluarkan semuanya!!"


"Baik!"


Para anggota memunguti kembali mayat-mayat menyedihkan ini dan menyeret tawanan baru dari sel bawah yang memberontak tapi kepala mereka di sarungi kain hitam dan kedua tangannya di ikat.


"T. tolong!!! jangan!!!"


"A..ampun. Sersan!"

__ADS_1


Anggota Ryoto menuli. mereka sudah biasa melihat ini hingga lagi-lagi akan dipertontonkan hal yang sama.


"Berdiri!!" anggota Ryoto mendorong 5 tawanan itu ke lantai dingin pekat sana dengan jeritan segera melengking saat merasakan cairan yang amis itu memenuhi lantai.


"Ampun!!! Ampun, Sersan!!!"


"Cih!"


Daychi mengisi kembali pelurunya kembali membidik seraya dengan satu tangan dan tangan satunya memeggang botolnya.


"Ampunan-mu tak diterima!"


"Ampun!!!"


Yang lainnya berteriak saat suara tembakan itu memekik keras menciptakan rasa takut yang menjalar diseluruh penjuru kulitnya.


"Sersan!!! Ampuni kami!!! Ampun!!"


Daychi tak menghiraukannya. Disetiap peluru yang melayang menembus otak mereka membawa emosi yang berkecamuk didakam pikiran Daychi.


"Matilah kalian semua." desis Daychi tanpa ampun membuat Zuan yang sedari siang menemani Daychi, hanya berdiri diatas tangga belakang menatap datar segalanya.


"Butuh berapa lama lagi?" gumam Zuan menghela nafas. Ia tahu kenapa Sersannya tak mau pulang sebelum amarah itu lepas disini.


"Tuan!" salah satu anggota mendejati Zuan karna tak ada yang berani berdiri disamping Daychi.


"Ada apa?"


"Laporan anggota dari rumah sakit kalau Nona tak mengizinkan Sersan masuk ke sana."


Zuan tak terkejut sama sekali. Ia memilih mendekati Daychi yang masih asik membakar emosinya disini.


"Sialan kalian semua!!"


"Sersan!" panggil Zuan tapi Daychi tak berhenti membuatnya menghela nafas menduga sesuatu.


"Sersan! lihatlah ponsel anda!"


"Ada apa?" nafasnya masih memburu dengan keringat yang keluar.


"Lihat jam-nya!"


Daychi dengan cepat mengambil ponsel diatas meja dekat kursi duduknya tadi. Awalnya Daychi hanya santai dengan raut datarnya memeggang benda itu dan menghidupkannya. tapi ..


Duarr...


Mata Daychi melebar melihat Jam sudah menunjukan pukul 12 malam dan sudah 5 kali panggilan tak terjawab dari nomor anggota.


"I..ini .."


TAK USAH PULANG. AKU TAK BUTUH, KAU..


"Shittt!"


Daychi segera melempar pistolnya kesembarang arah lalu berlari menuju pintu keluar. Jantungnya sudah berdebar mengumpati diri yang tak tahu waktu. Daychi tahu itu nada amarah Whuang.


"Kenapa kalian tak memberi tahuku??"


Ruang bawah itu memang tertutup hingga tak akan bisa melihat cahaya mentari atau rembulan dari luar.

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2