
Tak ada pembicaraan sama sekali. Sedari tadi Daychi diam masih duduk di ruang makan sedangkan Nyonya Mieng dan Mey sudah pergi setelah mengatakan apa yang ingin di sampaikan.
Whuang-pun sama. Ia tetap makan bahkan ia menghabiskan satu piring dan sekarang bertambah lagi karna moodnya sedang hancur.
"Sekalian kau kunyah sumpitnya." ketus Daychi mencairkan suasana tapi Whuang tetap diam dengan wajah datar bersuhu tinggi itu memakan daging udang dan kepiting yang ia habiskan sendiri.
"Hm."
Jawaban singkat dan tak jelas membuat Daychi menghela nafas dalam. Tak ada para pelayan disini karna telah ia suruh pergi.
"Aku tak akan menemuinya."
"Oh."
Mata sipit Daychi langsung membulat lebar mendengar ucapan Whuang. Raut tak suka itu mulai ia jabarkan melalui raut muka dinginnya.
"Oh?"
"Lalu?" tanya Whuang sambil mengunyah dengan mulut belepotan. Tak perduli akan citra wanita cantik bertubuh langsing semok, ia jadi dirinya sendiri.
"Baik! aku akan bertemu dengannya."
"Hm. pergilah!"
Daychi langsung membuang nafas kasar. Kenapa wanita ini sangat aneh? tiba-tiba bertingkah menyebalkan. Pantas Daychi tak tahu apapun soal wanita karna ia bukan pemain yang handal soal cinta.
"Baik! aku pergi!"
Whuang melirik kilas Daychi yang berdiri dari kursinya lalu melangkah pergi. Sebenarnya ia kesal dan muak mendengar nama wanita lain tapi ia tak mau membuat Daychi besar kepala.
"Memangnya siapa wanita itu?!" gumam Whuang pada dirinya sendiri seraya menegguk air putih pendorong makanan di kerongkongannya.
"Baik! aku tak bisa duduk diam saja. ini bukan gayaku." ujar Whuang pada dirinya sendiri. Ia berdiri seraya mengelap mulutnya dengan Sarbet lalu melangkah ke arah pintu keluar ruangan dimana para pelayan sudah berdiri.
"Seung, Eva!"
"Kami. Nona!"
Keduanya mendekati Whuang dengan kepala tertunduk. Yang lainnya memilih melangkah masuk ke ruang makan menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Ada apa? Nona!"
"Aku ingin bicara dengan kalian."
Seung dan Eva saling pandang. Mata polos Seung bergurat tak mengerti tapi Eva yang sudah lebih dewasa-pun hanya mengangguk mengikuti langkah Whuang ke arah belakang Mansion.
"Apa yang ingin Nona bicarakan?" bisik Seung pada Eva yang menaikan bahu.
"Aku juga tak tahu. tapi, sepertinya sangat serius."
Keduanya melangkah dibelakang Whuang yang memilih keluar Mansion tepat di daerah taman lebar belakang dimana banyak patung seperti kemaren.
"Apa disini tak ada orang?" tanya Whuang memandang ke semua tempat lalu duduk di tepi keramik yang menopang patung Naga perkasa itu.
"Disini tak ada penjaga. Nona! ini hanya diawasi sesekali." jawab Eva sopan.
__ADS_1
"Tapi, kenapa anda membawa kami kesini?" sambung Seung masih bingung membuat Whuang menghela nafas dalam.
"Siapa wanita yang di maksud Nyonya Mieng tadi?"
Pertanyaan itu membuat Seung dan Eva saling pandang lalu menelan ludahnya kasar. Mereka takut bicara banyak karna itu hal pribadi Keluarga Yuchin.
"Katakan saja. aku akan menjamin keselamatan kalian." tegas Whuang masih intens.
"S..sebenarnya itu.." gugup Seung mengusap tengkuknya.
"Itu adalah Nona Muda keluarga Zang!"
"Keluarga Zang?" gumam Whuang merasa Familyar.
"Yah. Nona! Keluarga Zang adalah keluarga terpandang dan bisa dibilang sahabat dekat dengan Keluarga Yuchin. mereka menjalin kerjasama bisnis dan banyak hal bersama dan selalu digadang-gadang merajai Negara Timur." jelas Eva serius dan jujur.
"Jadi? bukannya Ichi dulu pergi lalu kenapa bisa bertemu dengan wanita sakit-sakitan itu?" pedas Whuang membuat Seung ngeri dengan mulutnya.
"Dulu saat masih remaja Tuan Muda Daychi membantu Adiknya Lien dalam menjalankan bisnis tanpa sepengetahuan Tuan besar, dan ternyata Nona Muda keluarga Zang tahu itu dan langsung menyukai Tuan Muda Daychi. Tapi, Nona tahu sendiri kalau Suami anda pemarah dan emosian. apalagi dia suka menyiksa wanita dan dilakukan dihadapan Nona keluarga Zang sampai dia trauma dan jatuh sakit."
"Kenapa Daychi tak membunuhnya? padahal ia mudah melakukan itu." Batin Whuang mencoba menerka-nerka.
"Kediamannya dimana?" sambung Whuang santai.
"Di kota Shanghai, mereka terkenal akan kehormatannya disana." sambar Eva yang diangguki Seung.
"Emm.. baiklah! temani aku membuntuti seseorang."
"A..Apa?" Seung san Eva terkejut mendengarnya.
"T..tapi, Nona! kami.."
"Tak apa. nyawa kalian aku yang tanggung jawab. Ganti baju kalian dengan yang berbeda lalu temui aku saat Ichi sudah keluar."
Mau tak mau mereka mengangguk. Tapi, Seung seketika bersemangat karna mereka akan ikut dalam petualangan Nonanya yang sangat misterius.
"Aku tak sabar untuk keluar. kita akan jadi mata-mata, Eva!" bisik Seung semangat mendapat cubitan dari Eva di lengannya.
"Eva!!"
"Jangan kesenagan dulu. Nona itu sangat berbahaya, bisa saja nanti dia membawa kita ke kuburan atau...atau hal yang menyeramkan."
"Cepatlah!!!!" suara Whuang membuat mereka kelimpungan berlari mengikuti kembali dari belakang. Para penjaga di dekat teras sana menatap mereka datar tapi tak berani memandang Whuang yang tengah mode panas.
Setibanya didalam sana. Sudah ada Zuan dan Fang yang berbicara serius. Sesekali Whuang mendengar nama keluarga Zang yang membuat raut Zuan berubah kelam.
"Lagi?"
"Hm. mereka memang mencari mati." umpat Fang tak suka hingga matanya tak sengaja menatap Whuang dengan pakaian seperti itu menarik matanya keluar.
"Aaa... kenapa kau selalu ada di depanku dengan Mode panas seperti itu? aku laki-laki normal!!!!" teriak Fang menutup matanya tapi hanya sebelah membuat Zuan meninju wajahnya sampai tersungkur ke lantai.
"Jangan bermain-main." geram Zuan kelam membuat Fang heran kembali berdiri dari lantai dingin ini.
"Kau ini sama saja dengan Sersan! selalu memukul tiba-tiba."
__ADS_1
Zuan tak menjawab. melainkan ia membuka jaketnya lalu melemparnya pada Whuang yang spontan menangkapnya bingung.
"Untuk?"
"Ini bukan kamarmu." tegas Zuan tak memandang sama sekali hingga Whuang memakainya. Lumayan karna ia juga kedinginan.
Ntah kenapa Whuang nyaman dengan perlakuan Zuan. tapi bukan karna cinta tapi hal yang sulit ia jabarkan.
"Kalau di lihat-lihat dia agak mirip dengan Nona."
Batin Eva melihat wajah Whuang dan Zuan bergantian. keduanya sama-sama berwajah mempesona dan terlihat meredam aura masing-masing.
Lama Whuang memandangi Zuan yang hanya menatap datar ke arah tangga sampai ia tak menyadari ada lemparan jaket kearahnya.
"Nona!!!"
Whuang tersigap saat jaket itu sudah menghantam wajahnya hingga kepalan tangannya menguat dengan mata mereka terbelalak melihat siapa di depan Lift sana.
"Kenapa melemparku??? sialan!!!" geram Whuang mencengkram jaket itu lalu menatap murka Daychi yang sudah mempesona dengan stelan luar yang cool seperti biasa.
"Ganti jaketmu!"
"Kau aneh! aku nyaman dengan i..."
"GANTI!!!!"
Suara itu menggelegar hingga Whuang langsung melepas Jaket Zuan lalu memakai Jaket khas milik Daychi yang harumnya maskulin.
"Selalu saja membentakku." umpat Whuang lalu mendekati Zuan ingin mengembalikannya.
"Tetap ditempatmu!" cengkal Daychi mendekat.
"Ini jaketnya. harus ku kembalikan!"
"Pergi kekamarmu!" tegas Daychi kelam membuat Whuang mendidih. Keduanya sama-sama tak mau kalah hingga dengan kasar Whuang melempar jaket ditangannya ke wajah Daychi.
"Nona!!!"
"Dasar pemarah!!!" umpat Whuang lalu berlari ke Lift menuju kamarnya. Mereka hanya bisa diam tak berani bicara atau kepala mereka akan hilang detik ini juga.
"Kalian!!"
"A.. iya. Sersan!" gugup Fang bersembunyi dibalik bahu Zuan yang hanya diam tanpa raut apapun menerima jaket yang di lempar Daychi padanya.
"Aku sudah bilang menunggu diluar. kenapa kalian masuk?" geram Daychi emosi. Ia sudah menyuruh para anggota untuk berjaga diluar tapi nyatanya mereka tetap masuk dan sekarang wanita nakal itu dilihat panas.
"Sersan! kami masuk karna..."
"Ada yang ingin ku bicarakan pada anda. Sersan!" sambar Zuan tegas menatap penuh arti Daychi yang diam. Terlihat ada sesuatu yang tak diketahui sampai Fang menggila di tempat.
"Kenapa harus telepati begini. aku tak bisa membaca pikiran kalian!!!!"
......
Vote and Like Sayang..
__ADS_1