Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Habis obat!


__ADS_3

Wajah penuh harap yang terpancar dari mata Nyonya Mieng membuat Whuang terdiam. Ia merasa syok sekaligus agak merinding mendengar ucapannya barusan.


Dengan kaku Whuang memperbaiki posisi duduknya seraya membasahi bibirnya yang kering akibat dilanda kegugupan.


"Kau hamil. pasti sangat membahagiakan, Nak!"


"A.. ibu. aku rasa tidak begitu! aku hanya kurang istirahat dan..."


"Apa Daychi menyentuhmu?"


Whuang semakin tak bisa bicara. Kalau ia mengatakan Daychi setiap hari menggempurnya maka kemungkinan besar Nyonya Mieng meyakini dugaannya. Tapi, kalau ia berbohong maka Daychi juga akan kena.


"Bu. bagaimana bisa aku hamil sedangkan sekarang aku sedang datang bulan."


"A...begitu, ya?" gumam Nyonya Mieng melemah tak seperti yang tadi. Harapan wanita itu seketika meredup menatap perut Whuang yang dibaluti Mini Dressnya.


Melihat itu Whuang merasa bersalah. Ia juga belum memikirkan kesana karna ia selalu meminum obat kontrasepsi yang diberi Ayahnya dulu tanpa sepengetahuan Daychi.


"Maaf. Bu!"


"A.. sudahlah, Aku hanya berharap kau cepat hamil. tapi, ini masih baru dan kalian masih butuh waktu untuk menikmati masa Pernikahan, bukan?" ucap Nyonya Mieng mengerti menarik rasa lega di hati Whuang. Ia segera mencari cara agar bisa keluar dari obrolan tentang kehamilan ini


"Sebenarnya Daychi itu suka hal seperti apa. Bu?" tanya Whuang mengalihkan.


"Ntahlah. anak itu sulit dimengerti." membuat dahi Whuang mengkerut. Mustahil Ibunya sendiri tak tahu tentang anaknya.


"Maksudnya?"


"Daychi sudah lama tak tinggal disini. dia sangat enggan menginjakan kaki kalau tak berurusan dengan Lien, yang aku tahu dia hanya selalu suka minum dan pergi begitu saja."


Ujar Nyonya Mieng dengan raut wajah sendu. Terlihat sekali wanita paruh baya ini sangat merindukan Daychi dan anak-anaknya berkumpul dimasa sekarang.


"Padahal, aku berharap Daychi dan Lien tumbuh bersama dalam satu rumah. mereka selalu ada di sisiku tapi.."


"Bu!" Whuang memeggang pundak Nuonya Mieng yang mulai berkaca-kaca.


"Tapi tidak. anak-anakku terpecah dan aku sendiri tak punya kuasa mendekatinya." sambungnya dengan suara bergetar. Ia merasa sakit dikala Suaminya membeda-bedakan keduanya sampai timbul permusuhan. Padahal, ia sudah lelah dengan semua itu.


"Whuang! hanya kau yang sekarang dekat dengan Daychi, jaga dia baik-baik. Nak!"


"A..Aku ..."


Nyonya Mieng memohon dengan tatapan sendu itu. Whuang-pun merasa tak berdaya memikirkan cerita hidup dan bagaimana hubungan Daychi dengan Ayahnya.


"Daychi hanya ingin perhatian. dia membenci wanita karna dia menganggap mereka sangat rendah dan mudah di beli. kalau dia merendahkanmu, itu karna dia terlalu kecewa, dia sudah gagal dalam hal seperti itu dan..."


"Apa Daychi punya kekasih sebelum me.."


"Mieng!"


Suara tegas berat dari arah pintu utama menyita perhatian mereka. Nyonya Mieng langsung berdiri saat Tuan Khang sudah ada disana menatap mereka datar terutama Whuang yang ikut berdiri.


"Suamiku!"


"Kenapa dia datang kesini?"


Whuang hanya diam tak menjawab atau bergerak membuat Nyonya Mieng agak tak enak dengan Whuang atas ucapan Suaminya.


"Dia datang untuk mengunjungi kita. Suamiku!"


"Untuk apa? dan dia hanya datang sendiri." jawab Tuan Khang pedas membuat Whuang geram. Ia pun kalau bukan karna Nenek Peot itu maka tak akan ia injak lantai ini.


"Suamiku. jangan seperti itu." lirih Nyonya Mieng menatap sendu Whuang yang tersenyum membungkus kesal.


"Tak apa. Bu! aku pulang dulu."


"N..Nak! kau.."

__ADS_1


"Apa suamimu tak perduli padamu sampai membiarkan kau sendiri?" tanya Tuan Khang merendahkan. Whuang berdiri elegan berhadapan dengan ayah mertuanya ini.


"Ayah Mertua! seandainya kau tahu seberapa sibuk suamiku itu maka kau pasti akan bangga padanya. tapi yah, kau juga sibuk dengan urusanmu." jawab Whuang ringan dan masih sopan.


"Cih! anak itu hanya bisa membuat masalah, dia hanya ingin menang sendiri." remehnya menduduki sofa singel didekat Nyonya Mieng dengan angkuh. Sekarang Whuang tahu. sifat Daychi memang dituruni Ayahnya.


"Seperti anda."


Jawab Whuang dengan senyuman mengena lalu pamit melangkah pergi ke pintu keluar membawa rasa jengkel. Walau Ichinya itu menyebalkan tapi ia juga tak menyukai Ayah mertuanya.


"Cih. gaya bicaranya sama saja. padahal yang ia katakan itu benihnya juga, dasar Ayah Mertua tak tahu diri."


"Nona!"


Whuang hanya melewati para pengawal yang heran dengan raut wajah tak bersahabatnya sementara Kay juga menbuntuti Whuang kearah mobil.


"Bunga Malam!!"


Langkah Whuang terhenti didekat mobil saat suara yang ia kenal itu muncul. Mata Whuang semakin membelo jengah tak berselera lagi.


"Bunga Malam!"


"Hm? ingin mandi lagi?" Whuang berbalik menatap kejam Mey yang sudah berganti pakaian santainya tapi masih mewah dengan rambut disanggul.


"Kau dengar aku baik-baik." Mey melangkah mendekat membawa kekelaman.


"Aku dengar. cepat katakan! aku tak punya waktu banyak." jawab Whuang memainkan kuku cantiknya yang rapi.


"KAU JANGAN PERNAH MENGUSIK DAYCHI."


"Maksudnya?" tanya Whuang sedikit heran.


"Kau sama sekali tak pantas untuknya."


"Ouhh. jadi siapa yang pantas? apa KAU?" Whuang mengangkat alisnya menatap penuh kemirisan.


Tawa kecil Whuang pecah membuat para pengawal sana bersemu melihat wajah cantik yang begitu indah milik Whuang.


"Hey! sadar diri, Nenek! kau sudah tua!"


"Kauuu..."


Drett...


Ponsel Whuang berbunyi hingga ia mengambilnya cepat dan ternyata itu Daychi yang sudah menelfon sebanyak 20 kali berturut-turut. Whuang baru sadar sekarang.


"Ha..."


"Kau sudah mati. ha? aku menelfonmu sedari tadi dan.."


"Maaf. Sayang! aku baru melihatnya sekarang."


Mey terkejut mendengar ucapan Whuang yang menyeringai samar. Ia tak tahu pria yang menelfonnya diseberang sana bagaikan disambar petir berpeggangan ke Body Mobilnya.


"Sayang!"


"A... Apa?"


Daychi tampak gugup membelakangi Zuan yang tengah menghubungi anggota di wilayah lain. Mereka akan pergi meninjau tempat pertambangan di Kota ini tapi Daychi malah sibuk menghubungi Whuang.


"Ichi, Sayang! maaf, aku baru lihat panggilanmu tadi."


"K..Kau sakit?"


Whuang hanya mengulum senyum melirik wajah Mey yang sudah merah padam mendengar kata-kata manisnya barusan.


"Apa? kau sangat merindukanku?"

__ADS_1


"Whuang! kau gila. ha?"


"Ichi! aku juga begitu merindukanmu, kapan kau pulang. Sayang?"


Tanya Whuang sengaja mengeraskan sedikit suaranya membuat para pengawal memucat. Benarkah itu Tuan Mudanya yang menelfon? kenapa sangat manis?


"Whuang! obatmu habis, ha?"


"Iya. Sayang! aku tak sabar menunggumu pulang." Whuang terkekeh seakan ada ucapan lucu padahal ia membuat Daychi diseberang sana pusing akan tingkahnya.


"Aa.. kau sangat romantis. ya sudah, Sayang! kau bekerjalah dengan hati-hati, aku menyayangimu."


"Kau kenapa?"


"Umuahh! Bay Baby!"


"Whuang!!!!"


Whuang langsung mematikan sambungan lalu menyimpan ponselnya kembali didalam tas dengan wajah dibuat pasrah.


"Beginilah. Nek! Suamiku sangat tak bisa bersabar dan begitu tak mau berjahuan, padahal ia baru pergi tadi pagi."


"Kauu..."


"Ya, sudah. aku pergi dulu! jaga diri baik-baik dan cobalah ke dokter, siapa tahu salah satu sarafmu rusak. bukan?"


Ejek Whuang santai masuk ke mobil bersama Kay yang melempar pandangan kemenagan pada Mey yang sudah berapi-berapi. Wanita itu hanya bisa mengepal di tempat.


"Aku pergi. Nek! jaga diri baik-baik."


"Whuang!!!!"


Mobil Whuang sudah melesat pergi membunyikan klakson sekuat mungkin disertai tawanya yang pecah didalam Mobil. Ia tos dengan Kay yang juga sangat senang melihat wajah bahagia Nonanya.


"Kay! lihat wajahnya, pasti gula darahnya naik." kekeh Whuang mengelus kepala Kay yang menjilati lengannya. Ia melajukan mobil keluar menuju arah penginapan Ayahnya.


"Ichi mungkin tak pulang. jadi, aku bisa bebas bertemu Ayah."


Gumam Whuang meyakinkan dirinya. Ia harus menyelesaikan keputusan pria itu secepat mungkin.


................


Sementara di dekat persinggahan Tanbang besar sana. Mobil-mobil pengangkut batubara dan Nikel Tampak lalu-lalang dijalur mereka. Sebuah tanah luas yang begitu besar di keruk alat berat dengan beberapa anggota yang bekerja mengawasi anak buah tambang.


Sementara Daychi. Ia tengah duduk di atas kursi yang ada di persinggahan. Pikirannya melayang membayangkan sikap aneh Whuang tadi.


"Shitt! kenapa aku jadi ingin menemuinya?!"


"Sersan!"


Zuan berdiri disamping Daychi yang kembali berwajah dingin dengan botol minuman dihadapannya sudah habis 2 gelas.


"Ada apa?"


"Anda ingin pergi sekarang?"


Daychi diam. rencananya mereka mau pergi ke tempat tambang lain tapi akan memakan waktu lama untuk kembali ke kediaman.


"Perintahkan anggota inti untuk pergi lalu laporkan padaku. aku ada urusan lain di Kediamanku."


"Urusan? bukannya tadi Sersan yang begitu mendesak ingin meninjau area Tambang yang begitu besar."


"Aku tak ingin barang-barangku di lelang lagi oleh wanita sialan itu. Ini kesempatan emas untuknya."


Ucap Daychi berdiri kembali kearah Mobil. Zuan hanya menggeleng tak mengerti kemana pria ini membawanya hilir mudik.


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2