Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Mencari pengganti?


__ADS_3

Tatapan aneh Tuan Khang langsung tertuju pada Daychi tengah masuk ke dalam Mobil besar yang khusus untuk membawa Bangkar milik Whuang. Semua Team medis di kerahkan memasang peralatan medis menunjang tubuh wanita itu di dunia luar ini.


"Hati-hati!" Daychi terus memantau dengan matanya sendiri. Ia tak sabar lagi melihat mata indah istrinya kembali terbuka menatapnya dengan pandangan Galak itu.


"Sersan! sebaiknya anda ke mobil satunya. disini .."


"Apa aku mengganggumu?" tanya Daychi dengan suara datarnya membuat Dokter Taname diam beralih menatap Dokter Lizel yang menjaga disini.


"Tidak. Sersan! hanya saja, pergerakan kami tertahan jika.."


"Lakukan apa saja. aku hanya duduk di sini." jawab Daychi tetap menggenggam tangan Whuang yang sudah di pasang selang. Kerongkongan wanita itu terpasang selang oksigen trakeotomi yang di lubangi hingga semua alat disini bekerja mengoperasikan kembali tubuhnya.


"Tapi..."


"Turun!" tegas Tuan Khang berdiri didepan pintu belakang Mobil menatap tajam Daychi yang enggan. Ia tak perduli dengan siapa-pun, yang jelas ia harus ikut.


"Kalau kau mau semuanya berjalan lancar. maka, turunlah dari mobil itu!"


"Tapi kenapa? aku hanya ingin menemaninya." geram Daychi mengeraskan wajahnya kelam membuat mereka diam.


"Aku ingin bicara denganmu!"


"Aku tak perduli!" jawab Daychi dingin sama sekali tak bisa diajak bicara. Tuan Khang memang tak suka melihat putranya seperti ini, ini kenyataan hidup. lalu kenapa harus di buat rumit.


"Cepatlah!!! berapa lama lagi kalian diam??" suara Daychi menggelegar membuat para Team medis segera melakukan tugasnya.


"Baik Sersan!"


Dokter Taname menutup pintu mobil Tuan Khang mengepal, Daychi memang tak pernah berubah, masih saja tak mendengarkannya.


"Suamiku!" Nyonya Mieng berdiri didekatnya menatap mobil yang melaju stabil ke luar Gerbang Apartemen dengan penjagaan dari anggota mereka.


"Lihatlah! dia selalu mengambil keputusan sendiri."


"Karna dia tumbuh dengan perjuangannya sendiri!" jawab Nyonya Mieng membuat Tuan Khang terdiam. Wajah tegasnya yang begitu serius tampak termenggu.


"Jangan salahkan dia yang tak menurut. tapi, cobalah pahami posisinya sekarang! Suamiku, kau ingin memaksa Daychi mencari wanita lain untuk menyelamatkan generasi Yuchin. apa kau tak berfikir soal hatinya?!" suara Nyonya Mieng nyaris tertelan saat tahu pemikiran suaminya.


"Cinta itu hanya melemahkan. lihat dia yang tak punya akal sama sekali." desis Tuan Khang lalu melangkah pergi ke mobilnya. Air mata Nyonya Mieng jatuh, ia tak pernah mengerti jalan pikiran suaminya bagaimana?! terkadang ia seperti dinikahi seorang robot.


"Ibu!"


"A. ya?" Nyonya Mieng segera menghapus air matanya saat Lien sudah berdiri di belakangnya.


"Ada apa. nak?"


Lien tak menjawab. Ia beralih memeluk Nyonya Mieng yang terdiam dengan mata semakin berkaca-kaca.


"Apa Ayah memang tak menyayangi kita?!"

__ADS_1


"K..kenapa kau bicara seperti itu. hm? dia sangat menyayangi kalian tapi, caranya berbeda. Nak!"


"Dengan menghancurkan hati Kakak setiap saat!"


Nyonya Mieng tercekat akan jawaban Lien yang mengepalkan tangannya. Semakin kesini ia semakin paham kenapa Kakaknya tak pernah menurut. itu karna Ayah mereka tak pernah menginginkan kebahagiaan.


"L..Lien!"


"Lihatlah Kakak! sedari kecil dia tak pernah mendapat apapun yang membuatnya berbeda saat bersama Whuang, hidupnya jadi penuh masalah tapi dia menyukainya. kejahilan wanita itu mampu membuat Kakak terikat dengannya, tapi .."


"Ibu akan bicara dengan Ayahmu! tenanglah, dia tak akan tega melakukan itu. hm?" Nyonya Mieng mengusap pipi mulus Lien yang mengangguk mengurai pelukan.


"Kalau dia menyakitimu. Ibu tak usah lagi bersamanya!"


"Hustt! jangan bicara melantur, pergilah!"


Lien mengangguk lalu melangkah menuju mobilnya. Disana sudah ada Brayen yang menunggu.


"Lien!"


"Ada apa?"


"Kau ikut ke rumah sakit?" tanya Brayen membukakan pintu dan Lien masuk kedalamnya.


"Tidak! aku harus mengurus Perusahaan."


"Aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi pada Kak Day dan Kak Zu!"


"Hm. kepalaku pusing memikirkannya." desis Lien memijat pelipisnya. Ia tak mengerti, kenapa malam itu Ayahnya mau membantu melawan Klan Okane? padahal selama ini pria itu tak sudi ikut campur dalam urusan Daychi.


Sementara Zuan. ia masih diam dengan pandangan sama sekali tak berkedip kearah Gerbang keluar. Seung yang baru keluar mengemas barang-barang Nonanya seketika terhenti dibelakang Zuan.


"T .tuan!" Seung menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang yang tadi di temukan di laci kamar.


"Apa?"


"Ini kotak yang ada di laci kamar Nona!"


Zuan mengambil benda berwarna coklat itu. Ada kertas di bawahnya yang direkatkan hingga Zuan langsung mengambilnya.


"Kakak..


Mata Zuan terpaku dengan tulisan tangan ini. Ia membuka kertas itu hingga memaparkan tulisan yang begitu panjang tapi tampak bergetar.


Kak. hanya kau yang aku percaya dan yang selalu ada di sampingku, walau kita tak sedarah tapi aku sangat menghormatimu.


Bibir Zuan bergetar membacanya. Kenapa kau berkata sepeeti itu? kita saudara Whuang. kau adik kandungku. Zuan merasa tertekan sendiri.


Terimakasih karna kau selalu ada di setiap langkahku. kau selalu menemaniku dikala aku sudah tak bisa melangkah lagi. jika nanti aku tak lagi sempat memberikan benda itu padanya. tolong kau wakilkan, Kak! aku mohon.

__ADS_1


"W..Whuang!" gumam Zuan mencengkram pinggiran kertas itu dengan mata mulai memanas.


Tolong berikan kotak ini padanya.hanya kau yang aku percaya di dunia ini, jika tidak. aku akan marah padamu.


"Cih!" decah Zuan menarik sudut bibirnya kecil akan kalimat terakhir Whuang. Ia kembali melipat kertas itu lalu menatap kotak ini.


Seung yang melihat raut berubah Zuan. seketika merasa penasaran dengan isi suratnya.


"Kau pergilah!"


"A.. iya, Tuan!" jawab Seung lalu bergegas pergi dengan barang-barang hampir menimbun tubuh mungilnya. Paper-bag itu tampak memenuhi tangannya menuju mobil dimana Eva sudah menunggu.


"Baiklah! aku akan mewakilkan-mu. Adik!" gumam Zuan lalu berlari kecil menuju Mobilnya. Setidaknya ia masih punya semangat untuk menyampaikan pesan dari Whuang untuk Naga Jantannya itu.


........


Tuan Khang terlihat berbicara dengan seseorang di ponselnya. Ia tengah ada di dalam mobil dengan Saito yang merupakan kaki tangannya siap siaga.


"Hm. persiapkan saja, aku ingin menemuinya!"


Saito hanya diam terus mengemudi. Ia tak begitu paham rencana Tuannya untuk putra pembakangnya satu itu.


"Kau beri pesan padanya! malam ini aku ingin bertemu di taman dekat rumah sakit."


"Baik!"


Saito mengerti. Namun, ia masih terfikir tentang Tuannya yang ingin mencari wanita pengganti untuk menampung generasi besar Yuchin.


"Tuan!"


"Hm." Tuan Khang sibuk dengan ponselnya.


"Menurut Dokter! Cara ke 2 itu lumayan bisa menjaga janin. Nona!"


"Apa dia bisa memastikannya?"


Saito diam tak lagi bicara. Ia tahu jika semakin memaksa maka Tuan Khang akan semakin kekeh akan keputusannya.


"Mereka hanya bisa berusaha! Tubuh wanita itu sudah di penuhi racun, masa kehamilan itu 9 bulan lamanya. aku tak bisa mengambil resiko besar jika nanti calon penerus satu-satunya itu tak bisa di selamatkan."


"Tapi, Tuan Muda Daychi tak akan menerima." sambung Saito pelan.


Tuan Khang menarik nafas dalam. Ia tak ada bermaksud menghalangi cinta Daychi dan Whuang. tapi, ia sangat menjaga nama Yuchin dan tak akan ia biarkan penerus itu hilang.


"Sedari awal Whuang dan Daychi tak saling mencintai! dan kau lihat setelah beberapa lama mereka bersama, Cinta itu tumbuh karna terbiasa. dia hanya akan kehilangan sesaat."


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2