Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Tunggulah sebentar lagi!


__ADS_3

Jam sudah larut menunjukan pukul 11 malam. Sedari tadi Dokter Andra menunggu di depan pintu enggan masuk karna tak mau mengganggu Daychi yang tengah tertidur diatas Bangkar Istrinya.


"Apa Sersan masih belum bangun?" tanya Gamaru yang tadi datang karna memang ada urusan disini.


"Belum! sepertinya dia sangat lelah." jawab Dokter Andra menghela nafas panjang. Pastinya pria itu sudah terlalu menyibukkan diri sampai selalu tertidur pulas ketika sudah memeluk perut Whuang.


"Memangnya ada apa?"


"Hanya meminta persetujuan!" Dokter Andra menunjukan kertas ditangannya membuat Gamaru diam sejenak. Apa itu surat izin operasi Whuang? jadi, setelah operasi berakhir maka wanita itu akan segera di makamkan terlepas dari alat medis.


"Sulit untuk dipercaya."


"Maksudmu?" tanya Dokter Andra pada Gamaru yang berfikir.


"Sebenarnya aku tak percaya kalau Whuang akan bernasib seperti ini, dulu aku pernah mencoba mendekatinya saat Sersan tak ada tapi dia terus menolakku. dan sekarang keduanya ingin mati bersama."


Dokter Andra hanya diam. ia paham bagaimana luka Daychi dan Whuang tapi, jika ini keputusan mereka berdua ia tak masalah.


"Aku akan membangunkan. Sersan!"


"Baiklah!"


Gamaru mendorong pintu ruang rawat hingga matanya langsung tertuju pada buket-buket bunga di atas meja serta diatas sofa.


"Pantas jika Sersan selalu tenang disini." gumam Gamaru mendekati Daychi. Aroma Floral yang kental itu sangat damai, tentu Daychi selalu menambah bunga-bunga cantik menghiasi ruangan istrinya.


"Sersan!" panggil Gamaru menatap wajah damai Daychi yang tampak sangat lelap memeluk perut Whuang. Ia tak bergeming sama sekali hingga Gamaru mengulur tangannya ingin menyentuh kaki Whuang dan..


Bughh...


"Shittt!"


Gamaru langsung meringis saat bahunya di tendang kuat sampai tertolak beberapa langkah ke belakang.


"S..Sersan!" desis Gamaru menatap Daychi yang sudah menatapnya membunuh. Matanya terlihat masih belum bisa bangun dari rasa kantuknya tapi pendengarannya sangat tajam dengan penciuman siaga saat ada aroma tubuh pria lain disini.


"Kenapa kau kesini?" suara bariton seraknya. Daychi memperbaiki selimut Whuang yang sedikit tersibak.


"Dokter Andra ada di luar. dia ingin bicara dengan anda." jawab Gamaru seraya mengelus bahunya yang nyeri.


Daychi terdiam sejenak mengumpulkan nyawanya lalu ia menghela nafas turun dari ranjang istrinya. Gamaru tak bergeming, ia menatap Whuang dengan dalam membuat kepalan Daychi menguat.


"Sepertinya kau sudah bosan hidup."


"A... maaf, aku..aku keluar."


Gamaru melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Ia tak bisa mencari masalah dengan pria itu atau nyawanya akan pergi malam ini juga.


"Kau kenapa?" tanya Dokter Andra saat Gamaru melewatinya begitu saja.


"Sersan sudah bangun! aku pergi dulu."


Dahi Dokter Andra menyeringit memandangi kepergian Gamaru lalu segera sadar saat pintu ruangan terbuka memperlihatkan sosok gagah mempesona itu.


"Ada apa?"


"Maaf aku mengganggumu. Sersan!"


Daychi mengangguk menutup pintu ruangan lalu berdiri di samping Dokter Andra yang menyodorkan kertas di tangannya.


"Ini surat perizinan Operasi!"


"Sesar?"

__ADS_1


"Iya. kami terus memantau keadaan Bayi Nona dan waktunya begitu cepat, dia sangat sehat dan siap keluar."


Daychi terdiam sejenak. Apa ini saatnya berpisah dari anaknya? tapi. sudahlah, ini jalan terbaik bagi mereka.


"Kapan kau akan melakukannya?"


"Mungkin dini hari nanti! kami tak bisa menunda lagi karna waktunya sudah pas." jawab Dokter Andra memberikan Pulpen ke tangan Daychi yang mengambilnya.


Tanpa pikir panjang Daychi menanda-tangani surat itu dengan cepat menggoreskan tintanya lalu memberikan benda itu kembali ke tangan Dokter Andra yang hanya diam.


"Lakukan yang terbaik!"


"Aku tahu. Sersan! serahkan semuanya padaku."


"Hm." Daychi mengangguk menatap kembali kedalam sana. Dokter Andra tak bisa berbuat banyak selain memenuhi tugasnya sedari awal.


"Waktu menjenguknya hanya 30 menit lagi, kami akan menyiapkan ruangan operasi!"


"Aku mengerti!"


Dokter Andra melangkah pergi meninggalkan Daychi yang menyandarkan tubuhnya ke ambang pintu. Ia menatap cincin pernikahannya yang tak pernah ia lepas sama sekali.


"Kak!"


Suara Lien dari arah Lift samping. Disana ada Tuan Pein, Nyonya Qian dan Zuan yang datang karna sudah di beri tahu sebelumnya tentang jadwal operasi Whuang.


"Tuan!"


"Masuklah!"


Daychi membuka pintu untuk Nyonya Qian yang segera masuk bersama Tuan Pein. mereka sudah tahu siapa Whuang sebenarnya karna beberapa bulan lalu Zuan menyatakan segala kebenaran untuk mereka.


"Sersan!" Zuan berdiri di samping Daychi yang menatap datar Nyonya Qian yang menangis kembali memeluk Whuang.


"Sudah!" jawab Zuan lalu diam menatap rumit pahatan tampan ini. Apa Sersannya serius mau melakukan hal gila itu?


"Sersan! aku tahu kau begitu mencintai adikku tapi,.. tapi apa kau tak memikirkan Putra kalian?"


Daychi menghela nafas tenang. Ia memandang tegas Zuan yang sejujurnya juga tak bisa tapi ini bukan jalan yang benar.


"Aku tak mau gagal sampai 2 kali, putraku pasti akan mengerti kenapa Dadynya lebih memilih mengikuti Momynya. dia akan lebih baik dariku."


"Tapi, kalau Whuang ada pasti dia akan menentang keputusan anda dan.."


Zuan diam saat Daychi sudah mengangkat tangannya menghentikan kalimat itu.


"Tak ada yang bisa menentang-ku! kalau Whuang mau menghentikan-ku maka datanglah sendiri, aku menunggunya selama ini."


"Sersan! anda..."


"Aku percayakan putraku padamu dan keluargamu! jangan sesekali kau membiarkannya dekat dengan bajingan Tua itu. jalankan tugasmu sebagai Pamannya." tegas Daychi membuat Zuan bungkam. Daychi telah memindahkan semua harta dan aset berharga selama ini atas nama putranya.


"Sersan!"


"Aku titip dia. aku pergi dulu!"


Zuan diam membiarkan Daychi melewatinya. pria itu pasti ingin pergi ke tempat eksekusi kematiannya dimana sudah disiapkan anggota pembunuh disana.


"Sersan!!! setidaknya lihatlah anakmu lahir lebih dulu!!" panggil Zuan tapi Daychi tak menghentikan langkahnya. Ia hanya tersenyum kecil sudah mantap dengan keputusannya.


"Sersan!!! pikirkan lagi!!!"


Daychi tetap diam masuk ke dalam Lift. Ia membuka layar ponselnya dimana wajah Whuang kembali terlihat cantik terus menghantui pikirannya.

__ADS_1


"Sebentar lagi! hanya sebentar. hm?" gumam Daychi memejamkan matanya. Tak ada rasa sakit saat meninggalkan dunia ini melainkan ia tak sabar untuk segera bercerita tentang perasaanya pada Whuang.


Aku memang egois. Sayang! aku suami yang tak berguna dan Ayah yang tak baik bagi putra kita, tapi inilah aku. sungguh aku tak bisa hidup tanpa-mu dan kau tenang saja, tak akan aku biarkan anak kita kekurangan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah karna Sam dan Natalia bersedia menjaganya.


"Percuma aku hidup menemaninya tumbuh. tapi, aku tak bisa menghadirkan sosok Ibu untuknya. aku harap kau jangan marah padaku." gumam Daychi memeggang dadanya yang terasa selalu sesak didalam kesendirian. Jujur ia lebih mencintai Whuang dari pada anaknya sendiri.


.........


"Suamiku!"


Nyonya Mieng menemui Tuan Khang yang seharian tak keluar dari ruang kerjanya. Pria itu mengunci diri tanpa mau berbicara sama sekali didalam sana.


"Suamiku! aku...aku mohon hentikan putra kita!!!" teriak Nyonya Mieng mengetuk pintu ruangan dengan keras. Tangis wanita itu sudah tak terbendung dikala membayangkan kegilaan Daychi selama ini.


"Aku mohon!!! aku ...aku tak mau kehilangan Putraku!!! aku tak mau!!!"


"I..Ibu!"


Lien yang datang karna mendengar tangisan Ibunya. Ia tahu betapa cemasnya sang ibu yang mengkhawatirkan anak kandungnya yang merencanakan kematiannya sendiri malam ini.


"L..lien! t. tolong, Kakakmu! dia...dia mau..."


"Ibu!"


Lien memeluk Nyonya Mieng yang sudah tak berdaya membujuk Daychi agar berhenti seperti itu. Tapi, tak ada yang bisa merobohkan pertahanannya sendiri.


"D .Daychi, hiks! d..dia...dia tak bisa begini!"


"Aku tahu! tapi..."


"Itu pilihannya!"


Nyonya Mieng tersentak saat pintu ruangan kerja itu terbuka memperlihatkan wajah datar Tuan Khang yang sama sekali tak bergurat apapun.


"A..Ayah!"


"Dia memilih jalan ini, untuk apa mencegahnya!"


"Apa kau memang berhati batu. ha???" bentak Nyonya Mieng membuat Lien tersentak. Baru kali ini Ibunya mengangkat suara keras dengan wajah penuh amarah dan mata menggeram.


"I..Ibu!"


"Jangan samakan putraku dengan pria tanpa perasaan sepertimu!!" maki Nyonya Mieng dengan air mata terus mengalir. Ia sudah tak tahan lagi dengan kekacauan di Keluarga ini terutama ketidak adilan yang diterima anak-anaknya.


"Kau... kau selalu saja bersikap egois mengutamakan nama Keluarga ini dari pada anak-anakmu. Khang!"


"Jaga bicaramu!" geram Tuan Khang dengan sorot mata membunuh tapi Nyonya Mieng sudah lelah. ia tak sanggup lagi melihat Daychi selalu tersiksa akan tekanan dari suaminya dan Lien jadi boneka hidup di Keluarga ini.


"Aku selama ini selalu diam dan menghargai keputusanmu! aku diam saat kau menjadikan putra-putraku Pion untuk melindungi nama YUCHIN ini. tapi sekarang..."


"I..ibu!" lirih Lien terkejut saat Nyonya Mieng melepas cincin pernikahannya sendiri membuat mata Tuan Khang terpaku.


"Ambil ini!" Nyonya Mieng melempar cincin itu ke hadapan Tuan Khang yang terdiam.


"Aku tak sudi ada di Keluarga ini. menyandang nama kebanggaan dunia yang mengorbankan hidup anak-anakku! carilah boneka-mu yang lain. yang bisa memuaskan EGO-MU" desis Nyonya Mieng lalu menarik Lien pergi dengan rasa sakit yang selama ini terlepas dari hatinya.


Lien memandangi wajah sembab Ibunya lalu menoleh kebelakang dimana Tuan Khang masih diam menatap datar mereka. Tak ada niat untuk mengejar sama sekali.


"I..Ibu!"


"Cepat! kita harus menghentikan Kakakmu, I..ibu tak mau kehilangan kalian." isak Nyonya Mieng berlari menuruni tangga. Ia memang menghormati suaminya tapi sekarang rasa sayangnya pada Daychi dan Lien membuat Nyonya Mieng berani angkat bicara setelah sekian lama.


.......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2