Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
W..Whuang?


__ADS_3

Mereka semua masih terus mencari termasuk Daychi yang menyusuri semak-semak yang ia rasa telah di lalui seseorang. Semakin lama ia melangkah maka semakin jauh ia dari titik awal dan tempat ini juga begitu berbahaya. Tak sedikit Daychi menemukan binatang liar seperti ular dan kelabang beracun disini. Belum lagi macan hitam yang sempat berpapasan dengannya tapi beruntung Daychi bukanlah orang buta di hutan.


"Sersan!!"


Suara Zuan dibelakang Daychi yang membuat langkah pria itu terhenti didekat pohon besar yang begitu tua. Zuan mendekat memanfaatkan sinaran rembulan yang baru muncul disela awan gelap.


"Kau menemukan sesuatu?"


"Tidak. kami sudah menyisir semua tempat tapi tak menemukan apapun." jawab Zuan dengan nafas agak memburu. Ia tadi berlari kesini karna khawatir jika ada hewan buas lain yang akan mengintai.


"Kita sudah semakin jauh dari jalan tadi. aku hanya khawatir jika ini jebakan musuh." sambung Zuan tapi Daychi merasa tak bisa beralih. ntah kenapa ia merasakan aroma tubuh Whuang disini?!


"Aku mencium aroma tubuhnya. walau samar."


"Mungkin itu hanya bunga-bungaan disini. Sersan!" sambung Gamaru yang baru mendekat. Ia tak yakin Whuang disini karna mustahil jika masuk kesini dengan selamat sedangkan mereka sudah sering dihadang macan dan ular berbisa.


Daychi menatap kearah batang besar dibelakangnya dengan senter yang masih menyala. Ia belum puas mencari walau suasana sudah semakin menusuk tulang.


"Aku..."


Terdengar suara Kucing mengeong tiba-tiba memecah malam kelam ini. Mereka memfokuskan pendengaran hingga itu tak asing lagi suara kucing.


"Kalian lacak bau bunga dan suara itu."


"Baik!"


Para Team pengintai berlari secepat kilat menggunakan indra pengendus mereka untuk mencari aroma bunga-bungaan samar ini bersama aungan kucing yang semakin tertelan dingin.


"Sersan!"


"Cari suara itu!"


Titah Daychi mengikuti para anggota pengintai. Anehnya penciuman mereka disini tak bisa terlalu tajam karna banyak aroma menyengat seperti bangkai dan semacamnya. Namun, Klan Ryoto tak akan bisa dihalangi dengan itu.


"Suara itu ke air terjun di bawah sana. Sersan!!!" teriak para anggota Pengintai menghidupkan lampu merah dan asap untuk mencegah serangga beracun.


"Ada apa dibawah sana?"


"Aroma bunganya samar-samar hilang disini. dan suara kucingnya juga seperti kelelahan."


Daychi yang mendekat seketika langsung menajamkan mata elangnya disela akar-akar yang begitu tebal tapi suara air terjun itu cukup keras terdengar beriringan dengan auman kucing barusan.


"Kita kebawah sana!"


"Sersan! kita tak tahu apa yang ada di..."


Daychi sudah melesat mengeluarkan pisau di balik jaketnya dan menebas akar-akar liar itu. Disepanjang langkahnya banyak kayu-kayu yang seakan sengaja di tumpuk menghalangi jalan.


"Cepat kalian turun ke bawah!!!"


"Baik!!"


Mau tak mau mereka ikut turun ke tanah yang lembab dan rerumputan yang licin. Mereka menebas beberapa gumpalan akar hingga sampai ke bawah melewati duri-duri tajam yang seperti di taruh disini.

__ADS_1


"Semuanya seperti di pasang. apa musuh yang merencanakan ini?" gumam Zuan menyeok ranting yang tajam untuk di buang ke semak-semak sana.


"Whuang!!!"


Panggil Daychi merasa wanita itu disini. Ia meloncati bebatuan air terjun yang tak jauh dari sini hingga melangkah hagi-hati memijaki rerumputan yang lebat.


"Sersan! anda harus hati-hati, ada banyak jebakan disini."


"Whuang!!!!"


Panggil Daychi menyenter ke sekitar tempatnya. Banyak tumbuhan pakis dan lumut yang menghijau tersimpan berbagai misteri. Ia memanfaatkan sinaran bulan yang mulai lantang untuk melesat semakin dekat ke arah air terjun.


"Sersan!!!"


"Sial!! Sersan bertindak ceroboh." gumam Gamaru yang memprediksi ada lumpur hisap disini. Sementara Zuan. ia tak mau diam saja dan mengikuti Daychi yang nekat meloncati beberapa aliran air untuk ke arah mulut air terjun curam dihadapannya.


"Sersan!! kita tak bisa terus disini, mungkin ini hanya pancingan musuh!!" teriak Zuan mengimbangi gempuran air terjun. Para anggota ikut melangkah mencari wanita itu karna mereka yakin dengan tindakan Sersannya yang tiba-tiba hilang kesabaran.


"Dimana kucing tadi?" gumam Daychi mencari hingga kembali ia dengar samar-samar suara lulungan miris didepan mulut air sana. Suara kucing yang seperti menangis meminta bantuan.


"Temukan mereka atau kalian tak akan pulang malam ini!"


"Baik!!"


Mereka semakin tak memperdulikan prediksi Gamaru yang kesal terpaksa ikut mengarungi air. Daychi sudah meloncat ke bebatuan besar di depan air terjun hingga ia tak menemukan apapun.


"Whuang!!!!"


Panggil Daychi merasa sangat dekat dengan wanita itu. Bahkan, aromanya mulai sedikit kental dengan suara kucing tadi kembali terdengar.


"Tunggu!!!" Zuan menghentikan para anggota karna ia melihat samar hewan itu tak melukai Daychi dan melainkan terus mengeong serak dan lirih.


"Sersan! mungkin itu hanya kucing..."


"I...Ini .."


Daychi menyeringit menyenter kucing itu hingga matanya langsung termenung melihat hewan berbulu abu yang basah kuyup dengan mata sayu-sayu terbuka.


"Kay!"


"Sersan!"


Mereka mendekat dikala Daychi yang mulai menatap ke sekelilingnya. Raut terkejut dan cemas tergambar jelas membuat Zuan yang baru melihat Kay-pun segera terhenyak.


"K..kau... kau dimana Whuang? kenapa kau disini?"


"Sersan!"


"Cari Whuang!!! dia disini!!! Kay disini dan dia... SIALL!!!!"


Bentak Daychi langsung meloncat ke dalam air meletakan Kay diatas batu. Ia mengarungi cairan dingin itu tak perduli jika ada bahaya yang mungkin akan mengincar didalam air.


"Apa yang terjadi? kenapa Sersan seperti itu?" gumam Gamaru menatap Zuan yang memucat. Tidak, Whuang pasti baik-baik saja.

__ADS_1


"Cari dia!!!"


"Baik!!"


Mereka segera menggempur air dengan Daychi yang berkecamuk mengais lumut-lumut didekatnya. Ia menatap liar kesemua arah yang samar-samar dilihatnya.


"Kau dimana? Kau dimana???"


Geram Daychi tak bisa berfikir jernih hingga ia bersandar ke batu didekat air terjun. Matanya terlihat bergelut membelah cahaya yang semakin terang.


"Whuang!" lirih Daychi mengepal dengan emosi memukul batu dibelakangnya.


"Kau jangan menyusahkanku!!!!" bentak Daychi keras. Namun, ia tersentak saat tangannya malah melekat ke uraian basah seperti rambut panjang.


Perlahan Daychi mengarahkan senternya ke telapak tangan dan dahinya menyeringit melihat rambut panjang yang terjulur di batu dan...


Duarrr....


"W...Whuang!!!!"


Suara keras Daychi terkejut membuat para anggota mendekat hingga mata mereka terbelalak melihat siapa yang tengah tergeletak dengan tubuh membiru dibawah air sana.


"Whuang!!! Whuang kau..."


"Sersan!"


Zuan mendekati Daychi yang memucat melihat wajah wanita itu pucat pasih dengan tubuh penuh luka. Kulit putihnya sudah tak lagi merona dengan kaki meruam biru.


"W..Whuang." Zuan syok berpegangan ke batu disampingnya sementara Daychi sudah seakan meledak membuka Jaketnya dan segera mengangkat Whuang ke pangkuannya.


"Whuang!! Whuang kau mendengarku?"


"A..Apa yang terjadi?" gumam mereka tersayat melihat kondisi wanita itu. Matanya sudah tertutup dengan bibir pucat bahkan lebih parah dari kecelakaan malam itu.


"KALIAN JANGAN DIAM SAJA. BRENGSEK!!!"


"S..Sersan." lirih Zuan sudah lemas dengan tangan agak gemetar terulur untuk memeggang lengan putih itu hingga...


D..Dingin. Zuan terhenyak dengan Daychi yang terbongkem menepuk pipi pucat wanita itu agar sadar. Rasa takut menyeruk di dalam rongga dadanya hingga pandangan Daychi panik luar biasa.


"Kau akan baik-baik saja. kau belum menyelesaikan tugasmu." gumam Daychi tak lagi mampu menahan kecemasan langsung menggendong ringan Whuang dan menerobos air. Ia melesat cepat tak menjadikan halangan bebatuan besar dan lumut-lumut itu dengan Zuan yang membawa Kay sudah tak sadarkan diri setelah berusaha keras mencari bantuan.


"Bagaiaman ini? Sersan pasti marah besar." gumam para anggota yang merasa khawatir. Keadaan Nonanya tak bisa dikatakan baik dengan tubuh seperti itu.


Sementara Daychi. Wajahnya sudah tak bisa terhutung dinginnya dengan nafas tercekat berusaha tenang. Ia mengeratkan pelukan ke tubuh dingin Whuang yang sudah seperti es.


"Kau tak begini. kau selalu menyusahkanku." gumam Daychi dengan dada bergemuruh. Jantungnya sudah seakan mau pecah memompa darah untuk menghangatkan tubuh yang yang mendingin cemas bercampur amarah yang berkobar.


Daychi melesat menerobos semak-semak yang berduri didekatnya. Yang ia tahu sekarang hanya Whuang dan wanita itu harus baik-baik saja.


"CEPAT ATAU KALIAN SEMUA AKAN MATI DI TANGANKU!!!!"


"B..Baik!"

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang...


__ADS_2