Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Selalu memberi kejutan!


__ADS_3

Telah berlangsung cukup lama anggota Ryoto menembaki para serangga yang datang semakin banyak. Beberapa anggota yang terkena-pun sudah tak bernyawa diluar sana dengan teriakan menggelegar akan sakit dari racun mematikan itu.


Daychi yang tengah berdiri dibalik dinding belakang-pun mengepal melihat bagaimana ganasnya serangga sialan itu memangsa sampai memakan korban lanjutan.


"Sersan!!!!!"


"Aaaaa!!!"


Teriakan itu sungguh membuat Daychi merasa tak berguna. Semua cara telah mereka lakukan termasuk melakukan Bom asap tapi tetap saja mereka tak mundur sama sekali.


Melihat Sersannya yang diam. Zuan tahu jika pria itu tengah mencari jalan keluar agar tak memakan korban lebih banyak.


"Zuan!"


"Yah. Sersan?"


Daychi menghela nafas panjang lalu mulai menatap air didekatnya. Kalau memang ini kunang-kunang biasa seharusnya tak datang pada saat siang hari. ini pasti sudah dibuat sematang mungkin.


"Siram mereka dengan air!"


"Baik!"


Zuan segera mengisyaratkan para anggota untuk mundur berhenti melepas tembakan dan bersembunyi dibalik dinding belakang pertahanan. Ketua Komando tinggi Anbu mengerti hingga melepas selang air didekat tembok dengan para anggota melakukan hal yang sama.


"Tembakan secara deras!"


"Baik!"


Mereka langsung menyetel tingkat tinggi hingga air itu keluar deras mengenai segerombolan serangga itu. Benar saja mereka terhempas jauh membuat mereka semua berbinar tetap menjalankan perintah Daychi.


"Lebih cepat!!!"


"Baik!!!"


Daychi mengamati semuanya hingga tak ada lagi serangga yang berterbangan diatas sana menarik rasa lega para anggota yang sudah tak memiliki cara.


"Syukurlah! serangganya sudah..."


"Mereka datang!"


Teriak Ketua Komando terkejut melihat serangga itu kembali terbang membentuk Koloni bahkan lebih banyak dari biasanya. Daychi-pun terhenyak karna merasa ini mustahil.


"Mereka menyerang!!!"


Zuan mengumpat kembali menembak seperti tadi tapi sia-sia karna ini sama sekali tak berguna.


"Kita harus apa? kalau sama seperti ini semuanya bisa mati!!!"


"Mereka sangat brutal!!"


Suara-suara itu membuat Daychi memejamkan matanya mencoba tenang. Musuh memang sangat licik menggunakan cara ini untuk menyerang.


"Ichi!"


Daychi tersentak membuka mata saat lengannya di peggang oleh tangan lembut seseorang dan ia kenal panggilan itu.


"Kenapa kau keluar? keadaan semakin sulit dikendalikan." geram Daychi menatap membunuh Whuang yang menatap tajam para serangga sana. Dengan Kay yang mengamati dari atap bangunan sesuai perintah Nonanya.


"Tak ada waktu berdebat. cara satu-satunya hanya merebus mereka."


"Whuang. kau..."


Daychi tak sempat bicara saat Whuang sudah mengkerahkan para pelayan perempuan yang ada dibelakangnya untuk menyemprotkan air panas yang terhubung langsung dengan pemandian.


"Menjauh dari sana!!!!"


Teriak Whuang membuat para anggota mengangguk hingga mundur membiarkan serangga itu melesat kearah Daychi yang menarik Whuang menjauh. wanita itu segera mengangkat tangan.


"Sekarang!!!"

__ADS_1


"Baik!!!"


Para pelayan sana langsung menyemprotkan air panas mendidih dari selang secara bersamaan hingga menyapu semua serangga yang tampak berterbangan mencari aman tapi sayang semuanya sia-sia. Hawa panas itu begitu terasa membuat para anggota melongo tak percaya.


"S..Serangga-nya.."


"A..Apa mati?"


Anggota menatap kawanan serangga yang berjatuhan ditanah dan meleleh menjadi cairan hitam kental berasap. Aromanya juga menyengat seperti karet dibakar membuat mereka menutup hidung yang begitu sakit menghirupnya.


"Jangan menyentuhnya. biarkan dulu cairan itu membeku, jangan sentuh mayat-mayat yang sudah terjangkit."


"Baik!!"


Mereka mematuhi ucapan Whuang yang berdiri tegas menatap lahar hitam panas sana. Kalau tak segera dibekukan maka mereka akan membuat serangga lain hinggap dan beresiko menularkan racun.


"Tidak bisa. ini harus segera dibekukan."


"Kami akan membantu menyelesaikannya."


Ujar para pelayan yang mengerti soal ini pada Whuang yang segera mengangguk. Para anggota memulai penjagaan agar tak ada hewan yang masuk ke wilayah belakang.


Sementara Daychi. Ia masih tak percaya melihat sekumpulan hewan mematikan tadi hancur dalam satu rencana.


"Setelah di bekukan. kalian lapisi tangan kalian dengan sarung yang dibaluti air garam."


"Apa tak akan berbahaya?" tanya Zuan mewakili pikiran Daychi yang memandang serius wajah tegas Whuang.


"Menurutku tidak. itu bisa melindungi tangan mereka agar tak terjangkit lagi pula cairannya juga beku."


"Kami sudah menyemprotkan semuanya. tapi, mereka tak mati sama sekali." decah Zuan benar-benar heran memandang kerah lendir hitam itu.


"Sama persis seperti senjata anda. Sersan!" sambung Zuan menatap Daychi yang diam. Klan Ryoto juga mengunakan lendir hitam sebagai racun mematikan tapi sepertinya musuh meniru taktik itu.


"Musuh kalian pasti meniru setiap penyerangan andalan Klan Ryoto. mereka memilih kunang-kunang sebagai uji coba karna Serangga ini tidak memiliki paru-paru, tetapi mengangkut oksigen dari luar tubuh ke sel-sel interior melalui serangkaian kompleks tabung yang lebih kecil berturut-turut dikenal sebagai trakeol. percuma memberinya asap atau sebagainya."


"Luar biasa!"


"Kunang-kunang tak akan ada saat siang hari karna mereka termasuk hewan Nokturnal. Mereka akan mengisi daya di siang hari dan mulai bersinar dimalam hari."


"Tapi ini..."


"Ini kunang-kunang hasil uji coba. mereka sudah tak bersikap natural, jika di siram dengan air biasa itu hanya akan membuat mereka tambah berambisi."


Mereka menghela nafas mendengar penjelasan Whuang. Kali ini bisa digagalkan karna kecerdasan wanita itu.


"Semuanya! kalian kembali ke tempat penginapan dan tangani yang luka."


"Baik!"


Mereka bubar akan perintah Daychi yang kembali memandang Whuang. Wanita ini selalu membuatnya terkejut dengan hal mustahil sekalipun.


"Zuan!"


"Yah?" Zuan mendekati Whuang yang terlihat ingin bicara.


"Ikut aku!"


Daychi menatap tajam Whuang yang tak menghiraukannya. Wanita itu melangkah kembali kearah hutan bambu yang tadi tempat keduanya bicara.


"Ada apa?"


"Maksudmu dengan senjata. Ichi?"


Tanya Whuang berjalan beriringan dengan Zuan. Keduanya seakan tak menghiraukan Daychi yang memandang dari kejahuan sana dengan penuh amarah.


"Klan Ryoto terkenal karna racun dari cakaran dan Lendir hitam serta aroma daging. setiap waktu Lab selalu mengembangkan cara agar tak bisa dikalahkan pihak lawan tapi nyatanya dulu banyak yang berkhianat sampai Sersan menerapkan aturan YUBETSUME."


"Artinya?" tanya Whuang penasaran.

__ADS_1


"Potong ja..."


"Ehmm!"


Tiba-tiba Daychi menyalip diantara keduanya membuat Zuan terhenti dengan Whuang yang tampak kesal. Ia sudah hampir mendengar artinya.


"Aku tak mau berdebat. Ichi!"


"Siapa yang mau mengajakmu berdebat?!" suara angkuh Daychi tanpa rasa bersalah setelah menyenggol Zuan ke pinggir.


"Pergilah. banyak pekerjaan di Lab!" Daychi berucap dingin pada Zuan yang segera mengangguk membuat Whuang terhenyak.


"Tidak bisa. aku masih belum tahu artinya, Zuan!"


"Nanti akan ku lanjutkan."


Jawab Zuan pamit pergi dengan Whuang yang ingin mengikutinya tapi Daychi segera menarik lengan wanita itu hingga kembali menghantam dada bidang kerasnya.


"Kauu!!! dahi-ku sakit!!!" teriak Whuang mengelus dahinya kesal.


"Kau sepertinya sangat mengidolakan. Zuan!" suara sinis dan remeh.


"Iya. aku lebih menyukai Zuan dari pada kau."


"Kauu!!!!"


Daychi mendidih ingin menjambak rambut Whuang yang dengan cepat berbalik memunggungi Daychi dengan kedua tangan di lipat ke dada.


"Perbedaanmu dan Zuan sangat jelas."


"Bicaramu.."


"Dia selalu tenang dan tak pernah memukulku. sedangkan kau,.. Cih."


Daychi terhenyak dengan perkataan Whuang yang terlihat sangat kesal. Sepertinya ia memang terlalu emosi dengan wanita ini.


"Kau marah?"


"Sedari dulu aku memang marah."


Gerutu Whuang ingin melangkah pergi tapi tiba-tiba ia meneggang saat tubuhnya dipeluk dari belakang dengan begitu hangat dan erat.


"D .Dia .."


"Maaf!"


Bisik Daychi memangku dagunya di bahu Whuang yang tertegun kosong. Apa benar ini Naga Jantan itu? tapi kenapa tiba-tiba merendahkan diri begitu?


"Kau sudah membantu tadi. walau tak maksimal tapi.."


"Apanya tak maksimal? aku yang selesaikan segalanya. dan kau hanya diam saja!" geram Whuang tersulut emosi


"Aku diam karna ingin memberimu ruang agar bisa menunjukan diri. lagi pula Pahlawan selalu memantau bawahannya."


Whuang membelo jengah mendengar ucapan percaya diri yang begitu angkuh. Ternyata ia salah, Daychi tak akan pernah merendahkan diri pada wanita.


"Sudahlah. aku ingin ke kamarku."


"Hm. sepertinya aku harus memijatmu."


Degg...


"Ichiii!!!" teriak Whuang tahu kemana arah pembicaraan mereka dengan satu tangan memukul bahu kekar suaminya ini.


"Ayolah. pijatanku gratis, kau seharusnya merasa tersanjung karna tak pernah seorang DAYCHI RYOTO SHAN. menawarkan dirinya."


Ujar Daychi sangat angkuh menggendong Whuang dengan ringan melangkah kembali masuk ke penginapan Markas. Disepanjang perjalanan Whuang menulikan telinganya untuk tak terpancing emosi atas ucapan angkuh Daychi.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang...


__ADS_2