
Setelah keluar dari Club. Whuang dengan terpaksa kembali menemui Ayahnya di penginapan. Ia menyiapkan diri sebaik mungkin dengan rasa takut mulai menyeruak. Wajahnya sarat akan ke khawatiran tapi tak mengurai pesona cantiknya.
"Kay! bagaimana kalau Ayah tahu kalau aku tak memberikan kehormatan-ku pada Lien?!" resah Whuang tengah melajukan mobilnya stabil. Kay tengah bergelut dipahanya memberikan ketenangan pada sang nona.
"Kay! kau harus membantuku, aku tak mau Ayah marah besar gara-gara ini dan menghukum-ku." sambung Whuang meredam ketakutannya. Disaat ia sudah memasuki area penginapan jantung Whuang sudah bergetar tapi ia berusaha menormalkan sikap dan selayaknya biasa.
"Nona!"
Dua penjaga didepan penginapan kecil sana menyambut hingga Whuang memarkirkan mobilnya didepan sana. Kedua penjaga itu membukakan pintu mobil hingga Whuang keluar masih menggendong Kay si kucing berbulu abunya.
"Dimana Ayahku?"
"Tuan besar baru saja pulang! dan dia ada di dalam."
Dahi Whuang mengkerut bingung. Ayah baru saja pulang, tapi dia kemana saja? apa ada urusan lain?
Whuang membawa rasa herannya masuk menuju penginapan. Disana ia tak disambut siapapun karna hanya ada 3 pelayan dan itu khusus melayani Ayahnya.
"Ayah!"
Panggil Whuang mencari sosok menyeramkan itu dimana tempat. Ia melangkah menuju ruang santai Ayahnya hingga ia melihat sosok gagah itu masih tampak segar berdiri tepat menghadap kearah jendela yang memaparkan alam hutan subtropis.
"Ayah!"
Whuang mendekat dengan wajah senang. Senyuman di bibir seksinya begitu menggoda iman.
"Sudah mendapatkannya?"
Degg..
Langkah Whuang terhenti. Wajahnya mulai bergurat pucat dengan pelukan ketubuh lembut Kay mengerat meredam rasa gugup.
"Aku..aku sudah melakukannya!"
"Benarkah?" Tuan Jirom berbalik menatap putrinya dengan wajah penuh arti. Whuang membasahi bibirnya yang kering pertanda wanita ini menyembunyikan sesuatu dan itu hanya Tuan Jirom-lah yang tahu.
"Iya. Ayah! semuanya sudah beres."
"Anak pintar!"
"I..Iya." jawab Whuang berusaha tenang terus memperhatikan satu tangan Tuan Jirom yang masuk kedalam saku celananya. Ia tak berkedip seakan mengawasi benda menakutkan itu keluar.
"Ini.."
"A..Ayah!"
Whuang mundur terperanjat saat Tuan Jirom menarik tangan dari saku celananya dan Whuang kira benda itu ingin mengenainya.
"Kenapa?" seringai Tuan Jirom padat.
"T..Tidak ada. h..hanya aku ...tak enak badan." elak Whuang. sumpah demi apapun ia sangat takut pada Ayahnya.
"Ouh. sayang sekali! apa dia membuatmu begitu lelah?" Tuan Jirom mendekati Whuang yang terus membasahi bibirnya yang kering karna gugup.
"Iya. Ayah!"
Tuan Jirom menatap lengan dan bahu Whuang yang selalu memakai pakaian terbuka. Wanita itu memang memiliki satu hal yang tak bisa dimengerti yaitu tak bisa kepanasan atau kulitnya akan melepuh.
__ADS_1
"Apa dia setuju menikahimu?"
"Dia setuju! pasti setuju." jawab Whuang tegas tapi masih berjaga.
"Baik! jika kau hamil anaknya maka Keluarga Yuchin tak bisa menolakmu." ucap Tuan Jirom membelai surai panjang hitam putrinya lembut tapi tersimpan rencana.
"Maksud. Ayah?"
"Kau harus hamil anaknya!"
Whuang sungguh terkejut. Bahkan, wajah cantiknya kosong menatap perutnya. Hamil? kenapa? dia belum mau hamil apalagi menikah.
"Mereka Keluarga tersohor dan kaya raya! banyak yang akan menentang hubunganmu itu karnanya kau harus punya pion dan itu anakmu kelak."
"A..Ayah! aku bisa masuk ke keluarga mereka tan..tanpa anak dan.."
"Kau belum mengenal siapa itu YUCHIN!" desis Tuan Jirom menarik rasa mati Whuang.
"Yuchin! Keluarga yang penuh teka-teki. Tuan Besar Khang itu licik, dan Lien itu putra kesayangannya. kau tak cukup memanfaatkan kecantikanmu saja." Sambung Tuan Jirom benar-benar sudah merencanakannya.
"A..Ayah! tapi..."
"Kau mau membantahku!!!!" keras dan menggelegar.
"T..Tidak! T..Tidak. Ayah!" Whuang menggeleng menunduk membuat Kay merasakan tubuh nonannya gemetar.
"Ingat! tak ada yang bisa berkuasa disini, Yuchin dan Keluarga Zeong hanyalah jalan pintasmu!"
Whuang mengangguk cepat. Tuan Jirom kembali tersenyum menunjukan sesuatu yang ada digenggamannya.
"A..Ayah!"
Mata keabuan Whuang menatap botol kecil di genggaman Ayahnya. Tuan Jirom memang mahir dalam hal obat-obatan dan sebagainya.
"Ini.."
"Campurkan ini dalam minumannya dan ia akan sangat menginginkanmu!"
Whuang dengan tangan gemetar mengambilnya tapi ia terperanjat saat tangannya dicengkram kuat Tuan Jirom.
"A..Ayah!"
"Saat sudah meminumnya! ini akan bekerja cepat dan sangat keras, aroma tubuh dan darahnya saja akan membuat hasrat menggelora!"
Tuan Jirom meremas kuat lengan Whuang yang menahan semuanya agar tetap tenang. Ia harus tenang atau ia akan kembali seperti semalam.
"Dan ingat! kau harus membuat dia selalu candu akan kau. buat dia ingin menjadikanmu Ratu dalam hidupnya, Camkan itu!" melepas tangan Whuang yang sudah merah tercetak di lengan seputih Porselen itu.
"B..Baik!"
"Pergilah! temui dia kembali ke Club, aku ingin segera mendengar kabar baik itu."
Whuang mengangguk menggenggam erat benda itu dan pamit keluar. Pandangannya masih kosong tak tahu harus apa. Ini bahkan lebih sulit dari pada membunuh 3 suami yang menikahinya. Status Whuang sekarang entah kemana. semuanya hanya diatur Ayahnya.
Kay memilih terus menjilati punggung tangan mulus lentik Whuang. Ia tahu hati Nonanya tercabik dibalik pesona keras dimata dunia.
"Nona!"
__ADS_1
Beberapa pelayan Tuan Jirom menyapa tapi Whuang hanya diam melangkah menuju danau disamping penginapan. Ia butuh ketenagan sebelum melangkah maju melepas hal yang sangat berharga baginya.
Mereka menatap penuh kesenduan. Diluar seorang Yu Whuang Peng hanyalah Bunga Malam yang menggoda tapi tak ada satu-pun laki-laki yang menatap Whuang dari segi kejamnya hidup wanita itu.
"Tak pernah merasakan bebas. atau melihat dunia itu seindah apa."
Gumam Mereka saling pandang lalu pergi meninggalkan Whuang yang sudah sampai diluar sana.Tempat hijau yang asri dengan danau dihadapannya hijau begitu damai.
"K..Kay!"
Lirih Whuang terduduk di kursi didekat rerumputan Danau. Matanya menggenang tapi tak ada air mata yang mau jatuh. Rasanya ingin menangis tapi percuma. Rasa lelah ini tak akan lepas hanya dengan menangis.
"Terkadang.."
Whuang menatap langit mendung sana dengan penuh kegeraman.
"Terkadang aku membenci Kalian! kau biarkan aku berjuang sendirian bersama Ayah. dan kalian kemana?"
Protes Whuang hanya bisa mengumpat. 2 saudari dan Ibunya sudah meninggal sejak ia remaja dan Ibunya tiada ketika melahirkan mereka. Imey dan Terry Kakak perempuannya meninggal entah kenapa ia tak tahu, Whuang sendirian ditempa kekerasan.
"Ini tak adil! kenapa hanya aku yang merasakan ini, ha?" suara bergetar Whuang membuat Kay terus menggeliatkan bulunya ke lengan wanita itu agar tetap tenang.
"T..tak adil. Kay! mereka jahat padaku."
Gumam Whuang lalu mengusap wajahnya. Ia sudah lebih baik dan akan kembali seperti diluaran sana. Berhadapan dengan para lelaki hidung belang yang menginginkan tubuhnya.
...........
Kepala pria itu sudah berdenyut sedari tadi karna permintaan gila Lien adiknya yang ingin menemui wanita itu. Daychi sangat geram sekaligus muak mendengar namanya begitu menjijikan.
"Kak! sekali saja biarkan aku menemui Whuang!"
"Diam kau!!"
Daychi melempar gelasnya ke kamar yang telah mengunci pria itu. Daychi terpaksa mengurung Lien untuk sementara waktu sampai ia bisa membunuh wanita itu secepatnya malam ini.
"Kak! dia sangat manis, aku sudah mencicipinya!"
"LIEN!!!"
"Kau jangan sok suci. Kakak! aku tahu setiap malam ada bangkai yang selalu di giling di ruang bawah tanah untuk Metinia. bukan? itu para jajahanmu!"
Teriak Lien memberontak terus menghantam pintu sedangkan Daychi. Ia duduk di sofa tepat didekat tangga. Ia tengah menyeduh alkohol yang menjadi taman sejawatnya. Zuan si kaki tangan setia itu selalu berdiri disampingnya.
"Sersan! Klan Okane dari Jepang ingin merampas Gudang senjata milik kita di perbatasan. mereka ingin 10% dari hasil perampokan dibagi rata!" jelas Zuan yang baru saja menerima informasi anggota yang menjaga Gudang satu itu.
Daychi hanya diam tak menunjukan respon banyak. Ia terus menegguk botol minuman itu merasa jijik dengan para budak sialan yang selalu menganggunya.
"Okena Yagumi!"
"Iya. Sersan! dipimpin langsung oleh Haciro anak dari Mafia tanah Yagumi!"
Daychi manggut-manggut. Musuhnya memang sangat banyak ingin mengalahkan perdagangan ilegal di Dunia bawah. tapi sayang, ia tak akan mudah menyerahkan miliknya begitu saja.
"Hm. aku akan mengurusnya malam ini. dan pastikan Pria tak punya otak didalam kamar sana jangan keluar sebelum semuanya selesai."
..........
__ADS_1
Vote and Like Sayang..