Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Benarkah dia istrimu?


__ADS_3

Mobil mewah yang tadi melaju dengan cepat terkendali itu telah tiba masuk ke dalam Gerbang besar Kediaman Yuchin. Kendaraan bajanya melesat maju membelah deretan para pengawal yang tertunduk menyambut Tuan Muda pertamanya kembali.


Terlihat Nyonya Mieng sudah berdiri didepan pintu utama menatap mobil putranya yang terhenti didekat teras.


"Daychi!" Nyonya Mieng melangkah mendekati Daychi yang keluar dari mobil dengan wajah kelam dan tak bersahabat.


"Dimana dia?"


"Nak! kau kenapa?" tanya Nyonya Mieng menyentuh bahu kekar Daychi yang langsung masuk kedalam Kediaman.


"Whuang!!!! Whuang!!!"


"Daychi! kenapa kau berteriak?"


Nyonya Mieng khawatir membuntuti langkah lebar putranya yang tampak sangat tak bisa ditenangkan.


"Whuang!!!!"


"Daychi! jangan berteriak seperti itu."


"Dimana istriku?" Daychi berbalik menatap tajam Nyonya Mieng yang memucat. Ia berdiri kaku mengadah melihat wajah tampan menyeramkan itu.


"Dimana dia??? katakan padaku!!!"


"N..Nak.."


"Ibu! aku serius, dimana dia?"


Desak Daychi naik turun menahan panas dan sekangan amarah didalam sana. Bahkan sorot matanya tak lagi di katakan baik membuat para pelayan yang melihat itu langsung bersembunyi melarikan diri.


"Duduklah dulu. kau..."


"DIMANA DIA???"


"Untuk apa kau mencarinya?"


Daychi langsung berbalik ke arah tangga dimana sudah terlihat sosok pria lebih muda darinya tengah memakai stelan kerjanya berdiri menatap datar Daychi.


"Kauu..."


"Kenapa kau mencarinya. Kak?"


Tak banyak bicara. Daychi melangkah lebar mendekati Lien yang berdiri di ujung tangga dan segera menarik kerah kemeja pria itu jantan.


"Dimana dia?" suara dingin yang sangat menakutkan. Lien mencium aroma amis dan ia tak terkejut lagi melihat tangan Kakaknya berlumuran darah.


"Untuk apa kau tahu?"


Bughh...


"Lien!!!!" teriak Nyonya Mieng terkejut melihat Daychi meninju wajah Lien kuat sampai tubuh pria itu tersungkur tapi Daychi lagi-lagi mencekiknya dengan cengkraman itu.


"KATAKAN PADAKU." geram Daychi menggertakan giginya geram. Urat kemarahan itu terlihat jelas di wajah tampannya tapi tersirat rasa cemas dan ketakutan yang nyata.


"Kau memang tak berubah. Kak!" gumam Lien menyangga sudut bibirnya yang berdarah. Ia sudah tahu segalanya dari Zuan yang semalam menemani Whuang kesini dan ia sangat muak dengan cerita itu.


"Kau memang ingin mati."


"Selain Whuang. kau juga ingin melenyapkan aku?" tanya Lien menatap dalam manik iblis itu hingga akhirnya Daychi mendorong Lien dengan cengkraman terlepas.


"Aku tak ingin membuat masalah. Katakan sekarang, dimana Istriku?"


Tawa Lien langsung pecah membuat Daychi diam dengan wajah semakin mengeras. Kepalan tangannya menguat melihat adik kesayangannya itu malah mengejeknya.


"Istrimu? apa benar?"


"Lien! jangan pancing Kakakmu lagi." lirih Nyonya Mieng mendekat dengan mata berkaca-kaca. Tapi, Lien tak perduli akan semua itu. Ia sudah jijik dengan sikap egois dan penjahat wanita satu ini.

__ADS_1


"Apa benar dia istrimu?"


"Dia istriku!" jawab Daychi tegas dan yakin tapi semakin mengocak perut Lien yang segera berdiri berhadapan dengannya.


"Kak!" Lien menepuk bahu kokoh Daychi.


"Buktikan padaku kalau dia memang istrimu?" sambung Lien semakin memantik bara api di dada Daychi.


"Aku tak bermain-main. Katakan dia DIMANA???" Suara Daychi menggelegar ke seisi Mansion membuat mereka merasa bangunan ini bergetar karenanya.


"L...Lien! sudah, biar Ibu yang bicara."


"Tidak!"


Lien membantah dengan mata masih bersitatap dengan Kakaknya. Ia memang tak pernah berhasil berhubungan dengan wanita bahkan dulu ia memanfaatkan spesies itu untuk menghancurkan seseorang. tapi, ia paham betapa sakitnya hidup seperti itu.


"Bajingan ini harus tahu dimana posisinya!"


"LIEN!!!!" Geram Daychi menyulut emosi Lien yang merasa sangat tak percaya.


"Kau bilang dia Istri-mu. Kak! kau bilang dia istrimu!!! lalu kenapa kau tak memberikan hak-nya??? kenapa???" keras Lien yang kecewa. Ia juga mencintai Whuang tapi selama ini ia mengalah karna tak mungkin baginya melawan Daychi dan Ayahnya.


"Kau diam?" sambungnya lagi saat tak ada jawaban dari Daychi.


"Dia berhak untuk di cintai! tapi kenapa? kenapa tak bisa? apa hanya karna wanita itu?"


Daychi tetap bungkam. ia kebingungan dengan hatinya sendiri, di sisi lain ia mencintai Natalia tapi ia tak mau kehilangan Whuang yang sangat berarti baginya. Wanita sempurna yang mampu membuatnya merasa hidup setelah sekian lama.


"Lihat. Ibu! Lihat bagaimana bodohnya Kakak-ku yang sangat cerdas bermain hati ini."


Lien menggeleng merasa sangat kecewa. Ia mendukung semua keputusan Whuang karna ia yakin bersama Daychi hidup wanita itu hanya akan semakin menyesatkan.


"Dimana dia?" suara Daychi mulai pelan dan lemah tak lagi searogan biasanya.


"Kau terlambat!"


Lien melewati Daychi yang langsung tersigap. 'Terlambat'. kenapa bisa seperti itu?


"Waktumu hanya 1 minggu!"


"S..satu minggu?"


Daychi mendekati Lien yang ingin melihat bagaimana respon Daychi saat mengetahui ini nantinya. Tapi, yang jelas ia akan berusaha mencari solusi.


"Dia akan pergi setelah waktu itu!"


"Pergi kemana? katakan padaku!"


"Aku tak tahu, itu perkiraan Dokter!"


Lien langsung pergi keluar meninggalkan Daychi dalam kebingungan. kenapa semua orang seakan merahasiakan sesuatu darinya?


"Nak!"


Nyonya Mieng menyentuh bahu Daychi yang terlihat sangat cemas dengan wajah tak menentu. Baru kali ini ia melihat putranya begitu sulit menentukan sikap.


"A..apa yang dia katakan semalam?" tanya Daychi membuat Nyonya Mieng mengambil nafas dalam.


"Ibu tak tahu banyak, tapi yang jelas. dia sudah menandatangi surat Cerai kalian."


Daychi memejamkan matanya untuk mengontrol emosi. Setiap kata CERAI itu terdengar membuat jantungnya terasa di remas-remas kuat.


"Dia tak bisa melakukan ini! dia akan tetap bersamaku."


"Kau sangat cerdik!"


Mereka menoleh ke depan pintu utama dimana Tuan Khang tampak sudah berdiri tegap dengan pembawaan yang berkharisma. Tatapan dingin Tuan Khang langsung menghunus Daychi yang semakin mengepal.

__ADS_1


"Suamiku!"


"Kalian pergilah!"titah Tuan Khang para para asistennya di luar sana. Ia melangkah santai mendekati Daychi yang sudah menyala-nyala.


"Suamiku!"


"Pergilah ke kamarmu. Mieng!"


Nyonya Mieng terdiam lalu mengangguk melangkah tak rela kearah Lift. Tapi, mau bagaimana lagi?! ia tahu suaminya ingin bicara berdua dengan putranya.


Sekarang. tinggallah Daychi dan Tuan Khang yang berdiri tegap sama-sama memiliki jiwa iblis yang menurun.


"Aku bangga padamu!"


"Maksudmu?" suaranya mulai menahan geram.


"Kau begitu pandai memanfaatkan lawan. sangat licik." Tuan Khang duduk diatas sofa singelnya terlihat sudah tahu respon anaknya bagaimana.


"Kau tak perlu ikut campur dalam urusanku."


"Kenapa? aku sudah lihat bagaimana kau memikat lawanmu lalu menghancurkannya dalam sekejap. Itulah seorang DAYCHI, bukan?"


Daychi diam. ia membayang dimana malam itu tamparannya membekas diwajah Whuang. Ia tak ingat apa yang semalam ia lakukan sampai membuat wanita itu sehancur ini.


"Ini suratnya! tanda tangani saja itu lebih baik." Tuan Khang mengeluarkan Map dari bawah meja kaca didepannya. Daychi mengambil benda itu dengan mata membara murka melihat tanda tangan Whuang sudah tertera disana.


"Jangan harap!"


Daychi langsung mengoyak surat-surat itu dengan sangat cepat lalu menginjaknya kuat melepaskan rasa sesak didadanya.


"Kau pasti tahu dimana dia?"


Tuan Khang mengangkat bahunya acuh. Ia tak terlihat begitu perduli akan semua ini.


"Setelah pergi semalam. dia sudah tak terlihat, kondisinya juga sangat menyedihkan. Apa kau memukulnya begitu keras? atau mungkin kau menyiksanya? teruskan saja. Daychi! aku bangga padamu."


Daychi segera pergi. Ia harus mencari Zuan yang pasti juga tahu segalanya.


"Ke ujung dunia-pun. aku akan tetap menemukanmu."


..........


Pandangan heran manik hitam itu terlihat kebingungan saat melihat seorang wanita cantik yang tiba-tiba datang dibawa Zuan ke Kediaman besar mertuanya.


Ia berdiri didekat pintu dengan pandangan hangat yang teduh. Senyumannya juga mekar walau terlihat polos.


"Emm... itu, apa ini pacarmu?" tanya Natalia pada Zuan yang melirik Whuang yang hanya diam berdiri disampingnya.


Mantel bulu coklat itu membalut tubuh jenjangnya dengan Boots hitam panjang menghiasi kaki Whuang yang tampil sangat elegan dan begitu mempesona dengan balutan kacamata hitamnya.


"Bisa kami masuk?" tanya Zuan membuat Natalia tersentak segera mempersilahkan.


"Maaf, aku...aku terlalu terkejut. masuklah, diluar dingin."


"Kau hamil?"


Natalia terdiam saat dua kata itu baru muncul di bibir manis seksi Whuang yang sangat di kagumi Natalia akan aura cantiknya.


"A.. iya, baru 7 bulanan, Nona!" sopan Natalia mengelus perut buncitnya disertai senyum jenaka itu.


Whuang diam. saat ini ia tengah berfikir bagaimana karakter sebenarnya wanita ini? kenapa terlihat sangat polos?!


"Sayang!! jangan turun sendirian!! kau bisa jatuh!!! bisa dengarkan aku. tidak?!!"


"M..maaf!" cengir Natalia melambaikan tangannya pada sang suami yang sudah kelimpungan turun ke bawah.


"Apa itu suaminya?"

__ADS_1


Batin Whuang tak begitu melihat karna di tutupi pilar didekat lantai dasar.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2