
Setelah bergulat lama dengan pikirannya sekarang sudah larut malam akhirnya Daychi memilih pulang setelah mengerjakan pekerjaan pentingnya di Markas. Ia tengah memburu seorang wartawan yang tengah bersekutu dengan Klan Okane untuk membongkar identitasnya di depan publik.
"Tuan!" Seung menghadap Daychi yang ingin melangkah ke Lift menuju lantai kamarnya.
"Hm."
"Nona Whuang tadi berkeliling. tak ada yang dia lakukan selain mengagumi kemegahan dan mahalnya Mansion. Tuan!"
Daychi hanya menjawab dengan anggukan datar lalu melangkah masuk ke dalam lift tanpa menatap wajah imut Seung yang sudah hafal dan sikap datar acuh Tuannya.
Sementara didalam Lift. Daychi memejamkan matanya bersandar ke besi baja itu merilekskan tubuh yang sudah lelah karna terlalu banyak pekerjaan yang ia lakukan hari ini.
"Semoga dia sudah mati didalam sana."
Gumam Daychi sangat muak mengingat wajah Whuang hingga Lift terbuka-pun rasanya malas pergi kesana. Memaksakan langkah kaki kokohnya menuju pintu kamar seraya melepas Jaket yang ada ditubuhnya. Ia tadi sudah mandi di Markasnya akibat gerah yang melanda.
Daychi menekan gagang pintu hingga terlihatlah remangan kamar luas yang bagian atas plafonnya terdapat ukiran naga yang gagah.
"Kenapa remang begini?"
Gumam Daychi melangkah masuk lalu duduk diatas sofa bersandar sejenak merilekskan tubuh memejamkan mata lelahnya.
Namun, Daychi menyeringit saat aroma harum ini menyebar di seluruh kamarnya. Aroma Floral khas bunga-bungaan dan aroma harum yang begitu lezat.
"Apa wanita itu.."
Daychi segera membuka matanya yang langsung bersitatap dengan ranjang king size yang begitu rapi tapi terdapat gudukan diatasnya.
Melihat itu Daychi menyeringai. Pasti Whuang telah tidur dan ia bisa segera menuntaskan wanita itu malam ini.
"Waktu yang tepat." gumam Daychi mengeluarkan pisau dari balik jaket yang terlepas dan melangkah stabil kedekat ranjang.
Hanya cahaya rembulan yang masuk kedalam kamar karna tirai balkon dibuka. Daychi merangkak pelan naik keatas ranjang seraya bersiap mengarahkan pisau ditangannya ke gundukan selimut dan segera menusuknya kuat bahkan begitu berhasrat.
"Kau sedang apa?"
Deggg...
Daychi terkejut mendengar suara lembut tegas itu dari depan sana hingga matanya membulat melihat siapa yang tengah berpenampilan seksi dihadapannya.
"I..Ini.."
Daychi langsung mengambil remote kontrol di nakas dan langsung menghidupkan lampu hingga semuanya terlihat jelas sekarang dimata elang Daychi yang benar-benar terperangah.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Whuang tanpa malu atau takut hanya mengenakan Bera dan Daleman saja berdiri di tepi ranjang dengan rambut digulung handuk. Aroma tubuh Whuang sangatlah harum membuat Daychi terdiam kosong menatap semua ini.
"Ouh. mau membunuhku?" tanya Whuang melihat pisau tertancap dibantalnya. ia sudah menduga ini hingga Whuang menyusun bantal selayaknya manusia lalu ia mandi karna gerah habis mengemas barang-barang berharga di Kediaman ini.
"Haiss! terlalu mudah di tebak, itu makanya kalau benci itu jangan terlalu dalam. Tuan! kau jadi ceroboh." tawa kecil Whuang pecah mengambil pisau yang tertancap dibantal.
"K..Kau..."
"Hm? kenapa?" tanya Whuang dengan santai duduk disamping Daychi yang dengan cepat mengalihkan pandangannya kearah lain dengan jantung berdegup cepat memompa darahnya.
Whuang hanya memakai bera hitam jarang yang begitu membungkus dada sekangnya menyembul putih pulen belum lagi dengan liukan tubuh indahnya begitu membuat darah Daychi mendidih.
"Mau perang denganku? boleh. sini!"
"K..Kau .."
Daychi menggelinjang saat tangan Whuang menyentuh lengannya hingga ia menjauh menepis kasar dengan wajah dinginnya.
Lama Whuang menatap respon Daychi yang menjauh menutupi bagian bawahnya dengan selimut menarik seringai di bibir seksinya.
"Sayang!"
"K..Kau diam!!!" geram Daychi menatap tajam Whuang yang memanggilnya begitu serak dan mesra membuat bulu kuduk Daychi meremang.
"Sialan!!"
Daychi ingin bangkit tapi seketika kaki jenjang Whuang langsung melenting kearah pahanya.
"Kau apa-apaan? ha!!!!"
"Apanya?"
Tanya Whuang mendayu manja meletakan satu kaki mulus putihnya keatas paha Daychi dengan satu tangan menopang tubuh kebelakang dan satunya lagi ada di bibirnya di gigit seksi membuat nafas Daychi memburu.
Bentuk tubuh yang montok dengan paha aduhainya membuat Daychi menegguk ludah berat. Ia pria normal yang tak bisa diberi pemandangan seindah ini tanpa bertindak agresif.
"Kau tak mau ini?"
Desis Whuang meremas satu bongkahan kenyal sekang itu dengan sensual membuat jakun Daychi naik turun dengan bagian bawahnya sudah meneggang. Mata lemah pasrah Whuang seakan membuatnya terhipnotis akan birahi yang memuncak.
"Aku mau kau yang pegang."
"K..Kau ."
__ADS_1
Whuang menarik tangan besar kekar Daychi dan mengarahkannya menggenggam bongkahan montok yang begitu kenyal dan bulat berisi. Whuang bergerak seperti cacing kepanasan dengan mata selalu menatap Daychi yang sumpah demi apapun tak bisa menahan ini.
"Yeahh. begitu!" Whuang memejamkan matanya saat Daychi mulai terpancing mencengkram benda itu dengan mata berat. Kaki Whuang bergerak nakal menyentuh bagian keras ini hingga bagian inti Whuang berdenyut ingin meminta pengalaman malam itu.
"Aku juga tak bisa menahan saat bersamanya."
Batin Whuang merasa Daychi begitu mempesona. Keperkasaan pria ini di ranjang membuatnya nagih apalagi Whuang termasuk Wanita nakal berhasrat kuat. Hanya Daychi yang mampu membuatnya terbang setinggi itu.
"Emm!!"
Suara lemah Whuang mengigit bibir bawahnya ditengah remasan yang Daychi berikan. Tanpa sadar Daychi mendekatkan wajahnya ke busungan dada macan betina ini hingga aroma harum menggoda itu menyeruk ke rongga hidungnya.
"L...Lien!" gumam Whuang seperti biasa karna ia terbiasa dengan nama itu. Tubuhnya bertekuk saat Daychi membenamkan wajahnya ke gudukan sintal itu membuat Whuang merasa tersengat rasa panas.
"Ouchh!!"
Whuang begitu melayang dengan ciuman lembut gemas itu apalagi Daychi begitu pandai mengeksplor rasa panas di tubuh keduanya.
Whuang merasakan jelas sentuhan asli malam itu kembali lagi hingga ia hanya pasrah mencengkram remang rambut Daychi yang masih mengunyel gemas dua aset berharganya.
Satu tangan Daychi melepas kaitan pembungkus benda ini lalu ia lepas kasar membuat Whuang mendesis seksi dikala hembusan nafas Daychi menerpa dengan lantang.
"Kau suka. hm?"
Tanya Whuang membelai kepala keangkuhan yang tengah menyesap puncak benda kenyal itu lapar. satu tangan besar Daychi masih mengenggam gemas dengan mulut penuh karna ukurannya juga begitu seksi dan pas.
"Ouhh. Sayang!" erang Whuang merem-melek dengan sensasi lidah basah ini. Ia sangat bahagia melupakan permusuhan mereka sesaat begitu juga Daychi yang candu akan rasa manis dan kelembutan ini.
Daychi mengigit kecil membuat Whuang membusung memejamkan matanya menikmati bagaimana efouria dari seorang Sersan Daychi.
"Lagi!" rengek Whuang dikala Daychi menghentikannya dengan bibir basah itu ia elus penuh damba. Deru nafas keduanya memburu dengan tatapan saling menginginkan.
"Ku pastikan kau tak akan tidur malam ini."
Desis Daychi langsung menyanbar brutal bibir Whuang yang dengan sukarela memberi pelayanan membalas tak kalah berhasrat. Ia menyukai semua yang Daychi lakukan pada tubuhnya karna begitu bersenasi.
Antara benci, hasrat birahi itu menyatu hingga bermain kasar-pun Whuang tak masalah karna itu ciri khas Daychi yang sulit ia tepis.
......
Vote and Like Sayang..
Kalau lolos ini ntar author sambung lagi yah🤭
__ADS_1