
Tatapan penuh kebahagiaan itu terlihat jelas dimata licik seorang Pria paruh baya yang tengah merancang berbagai strategi nantinya. Ia sudah membuat banyak pil dan juga ramuan khusus yang akan dijadikan senjata nantinya.
"Ini sangat berguna. aku bisa menjualnya pada semua orang yang mau membeli dengan harga mahal." decah kagum Tuan Jirom melihat racun pelumpuh yang sudah ia siapkan.
Cairan berwarna kebiruan dengan aroma menyengat itu ia buat dengan bahan langka dan sangat menjijikan. Dari bakteri dan mikroorganisme lain yang mematikan.
Ia ditawarkan harga yang fantastis oleh seseorang untuk membuat ini dan jelas jika orang itu sangat berpengaruh di dunia bawah dan memiliki banyak musuh untuk di basmi.
Drett..
Ponsel Tuan Jirom berdering hingga ia meletakan kembali botol kecil dipeggangannya tadi ke dalam boks khusus. Mata Tuan Jirom bersinar cerah dikala melihat tulisan Bos besarnya.
"Selamat malam. Tuan!"
"Sudah jadi?"
Suara serak yang begitu berat dan menyeramkan. Tuan Jirom harus berhati-hati berurusan dengan Klan satu ini.
"Sudah. Tuan! saya sudah membuatnya dan kesepakatan kita dimulai."
"Baik! aku sudah mengirim uangnya dan kau kirim barang itu ke Pelabuhan, jangan sampai diketahui aparat pemerintah."
"Baik! tapi anda menepati janji, kan?" tanya Tuan Jirom memastikan karna ini sangat licik. Ia juga harus bermain bersih agar tak ikut terimbas akan kekejamannya.
"Tentu! akan ku uji racunmu. Jika tak seperti yang ku harapkan, kau tahu resikonya."
"Baik. Baik Tuan!"
Sambungan itu terputus membuat Tuan Jirom menghela nafas lega. Ia harus segera mengemas ini untuk dikirim karna waktu yang ia punya hanya sedikit.
Sementara diseberang sana. Pria paruh baya dengan wajah tetap gagah dan mata sipit nyalang itu terlihat menyeringai. Tai lalat didekat dagunya terangkat karna senyuman lebarnya.
"Lihatlah. kau tak bisa ditempa senjata dan peluru tapi apa kau bisa melawan yang satu ini?!" gumamnya memutar kursi rodanya kesenagan. Ia akan terus membuat rencana karna Klan Ryoto sudah semakin besar. Ia tak bisa membiarkan pria itu terus berkuasa menekan wilayahnya.
"Daychi Ryoto Shan! kau akan menangis darah karna ini." geramnya muak dengan Pria muda satu itu. Ia sudah menua tapi pria itu belum juga menyingkir memeggang kendali di wilayah negara bermata sipit ini.
.........
Suasana sudah remang kembali dengan lampu yang meredup. Senyayu angin semakin dingin menembus tirai-tirai balkon yang menjadi saksi bisu atas erangan keras yang terjadi didalam kamar ini.
Suara keras decipan kulit dan lenguhan erotis itu sudah beberapa kali berhantaman tapi belum juga usai membantai waktu yang terus berputar.
"L..Lienmm!!!" pekikan keras Whuang tengah berpeggangan ke lengan sofa didepannya disaat hujaman itu begitu cepat dan sangat dalam. Rambut panjangnya sudah ditarik kebelakang membuat wajah cantiknya yang merah terkadah nikmat merasakan hentakan surgawi itu.
Daychi yang tengah memompa keras-pun terlihat begitu menggila memacu kuda cepat untuk mencapai puncak yang sudah beberapa kali mereka capai tapi belum juga usai.
"A...sss sayang!!!"
Daychi mendesis menahan kedutan dengan terus memacu mencengkram dua bongkahan sekang itu untuk bersama mencapai nirwana indah ini.
"A..Aku ."
"T...Tunggu!!"
Daychi mempercepat bahkan kali ini Whuang sampai menjerit hebat tak mampu menahan aliran darah yang mendesir ganas dengan bagian intinya terasa disekang dan ingin lepas.
"A...A..kk.."
"Akhhhss!!!"
Keduanya melenguh panjang dengan tubuh yang mengejang hebat. Daychi menekan kuat penyatuannya melepaskan lahar yang sudah meledak didalam sana membuat tubuh Whuang melenting kejang bahkan pinggangnya bertekuk menahan sensasi dahsyat yang dilalui.
"Kau sangat nikmat." desis Daychi terengah dengan nafas memburu. Ia menarik pelan benda basah itu dari liang yang menghapitnya ketat lalu menekan kembali membuat Whuang terngangak mencengkram lengan Daychi kuat.
"Akhs!"
__ADS_1
"Kau suka. hm?" bisik Daychi melakukan itu berulang kali sampai Whuang menggeleng menahan sesuatu yang tiba-tiba mendesak ingin keluar. Daychi menyeringai menduga wanita ini ingin keluar hingga ia dengan cepat melepas penyatuan beralih mengaduk dengan jari kekarnya.
"K..Kauu!!!" Whuang terpekik keras berpegangan ke sofa didepannya dengan tungkai gemetar menahan sengatan hebat dengan pinggang terus menekuk gelisah.
Shittt. aku suka ini, aku ingin lebih, Sayang! jeritan Whuang yang suka keliaran Daychi mengimbangi hasrat tingginya.
"Seperti ini!" Daychi terus mempercepat hingga ia melihat bagian kenikmatan itu berkedut dan..
"Y..Yeah!!!!" pekik Whuang kuat sampai jatuh ke lantai dengan jipratan air itu keluar membasahi Karpet dengan benar-benar deras.
Daychi menyeringai melihat Whuang terkulai lemas dengan tubuh kejang merapat ke sofa. Ia menatap jarinya yang basah dan tentu Daychi tak segan untuk menyesapnya mencicipi rasa manis dari liang kenikmatan itu.
"Dia sangat mengimbangi. tapi aku menyukai keliarannya."
Batin Daychi yang mengangkat sudut bibirnya kecil. Whuang masih sempit dan rapat membuat Daychi agak termenggu saat memulai penyatuan tadi. Tapi Daychi tak percaya jika Whuang belum pernah melakukan ini karna cara bermain Whuang sangat nakal dan liar.
"Mau kemana?" tanya Daychi menatap Whuang yang merangkak menuju ranjang yang sudah berantakan bak diterjang gempa bumi. Selimut sudah berserakan dan pakaian mereka ntah hilang ke sudut mana.
"A..Aku mau tidur." jawab Whuang yang tak mampu bergerak banyak karna begitu lelah. Sedari tadi melayani Daychi dan begitu juga sebaliknya sampai sudah jam 5 dini hari mereka berperang hebat tak ada yang mau mengalah.
"Tidur! kau lupa ucapanku?" tanya Daychi mengusap benda perkasa itu sudah teggang lagi membuat Whuang bergidik ngeri. Tubuh kekar Daychi memang tak bisa ia bantah tapi ia sudah lelah.
"Aku lelah. aku mau tidur."
"Tapi aku belum." jawab Daychi masih menatap Whuang yang begitu sexsi. siapa yang akan puas jika dewi kecantikan ini sudah pasrah dihadapannya? kucing tak akan menolak ikan bakar lezat.
"Besok! janji!" Whuang sayu-sayu mengangkat jarinya seperti huruf V membuat Daychi jengah. Ia mendekati Whuang yang segera menutup bagian bawahnya dengan selimut membuat Daychi menggeram.
"Buka!"
"Kau berani bayar berapa?" tanya Whuang bersandar ke kaki Ranjang menatap licik Daychi yang terhenyak.
"Kauu!!"
"Hm? aku tak mau kalau tak ada imbalan."
"Kau jangan membuang waktu!!!!"
"Aku mau uang!! atau benda lain yang berharga!!" jawab Whuang tak kalah keras membekap keramik mahal ini mengantarkan rasa sejuk di kulit lembutnya. Kamar Daychi sangat wangi dan bersih membuatnya nyaman berlabuh dimana saja.
Daychi menatap Whuang geram tapi Whuang hanya santai menikmati dinginnya lantai ini.
"Baiklah!"
"Apa?" tanya Whuang masih berwaspada. Otak lelangnya muncul untuk memeras Daychi yang sudah tak bisa menahan bengkakan dibawah sana.
"Apapun yang kau mau. Tapi uang."
"Emm.. baik! kau bersumpah?"
"Cepatlah!! aku melayanimu sampai selesai." decah Daychi ingin menarik tangan Whuang namun wanita nakal ini malah menghindar semakin masuk ke dalam sana.
"Bunga Malam!!!"
"Apa? kau tak mau bersumpah. ya sudah."
Daychi mengambil nafas dalam meredakan emosi yang meluap. Jika ia menembak Wuang sekarang maka ia akan kehilangan cara memuntaskan benda sakral ini.
"Aku bersumpah!"
"Atas nama?"
"Namamu!"
Whuang menggeleng tak percaya. Daychi sangat licik tapi ia lebih licik dari itu.
__ADS_1
"Yang lain!"
"Kau yang benar saja. aku tak mau membuang waktu!!!" geram Daychi menatap membunuh Whuang yang seakan tak mendengar membuat darahnya mendidih ke ubun.
Sebenarnya terbuat dari apa wanita ini? bisa-bisanya tak takut sama sekali.
Namun. Whuang teringat dengan patung tadi sore dan ucapan pelayan Seung padanya.
"Bersumpahlah atas patung Nagamu!"
"Tidak bisa." bantah Daychi tak suka.
"Ya. sudah! lagi pula aku sudah mengantuk."
Daychi menghela nafas panjang meredam semua emosinya. Ia tak bisa jika menanggung hasrat yang ntah kenapa saat bersama wanita ini selalu tak berhenti mengalir.
"Baiklah!"
"Cepat katakan!" titah Whuang seakan menjadi nyonya.
"Aku bersumpah atas Klan Ryoto akan memberimu harta dan uang yang kau mau."
"Benarkah?"
"Benar!!! sekarang cepat!!" suara keras kelam Daychi mengalun membuat bibir bengkak Whuang manyun merasa jengkel.
"Cepatt!!"
"Sabar! kau mau tidak? kalau tidak aku.."
"Bisa lamban dari ini?" tanya Daychi melembutkan suaranya membuat Whuang menahan geli. Ia tahu Daychi akan tunduk jika masalah seperti ini belum dituntaskan.
"Merapat kesini!"
"Kau keluar dulu!" Daychi ingin menarik Whuang tapi Whuang malah menarik pinggangnya untuk berjongkok di dekat kolong ranjang hingga senjata keperkasaan itu tepat di hadapan Whuang yang mengaggumi kekekarannya.
"Kau mau apa?"
"Diamlah! ini servis terbaik, kau harus membayar mahal."
Suara Whuang dibawah sana membuat Daychi hanya mendegus meletakan kedua tangannya diatas ranjang menunggu apa yang dilakukan wanita itu.
"Hey! kau sudah mati?"
"Sabar! buka sedikit kau terlalu tinggi!"
Daychi hanya menurut merendahkan sedikit pinggangnya hingga Whuang langsung mengambil posisi masih didalam kolong ranjang.
"Kau ce.."
Daychi menggelinjang saat merasakan sentuhan tangan lentik itu hingga ia ingin melihat tapi Whuang menendang ranjang diatasnya.
"Kau diam. jangan lihat dan pejamkan mata."
"B..Baiklah!"
Daychi menurutinya dengan kedua tangan mencengkram ranjang merasakan sensasi nikmat dari bibir dan lidah basah itu. Daychi beberapa kali mendesis dengan kepala terkadah serasa terbang ke awang sana.
"Akhhs!!"
Mendengar suara itu Whuang tak lagi menahan. Ia melakukan semua yang ia bisa membuat Daychi terasa mau berteriak akan apa yang Whuang berikan. Whuang seakan menyalurkan fantasi hebat yang sangat menantang bagi Daychi yang menyukai kekasaran.
Shittt . aku menyukainya, kau sangat luar biasa. Whuang.
........
__ADS_1
Vote and Like Sayang..