
Lautan biru agak menghitam itu tampak tenang seakan tak ada bahaya sama sekali. Pantulan bulan diatas sana terlihat jelas dipaparkan air yang hanyut dan damai bersenyayu dengan kegelapan malam yang mencekam.
Remang-remang terdengar suara cicipan burung malam dan beberapa serangga didekat pepohonan yang tertancap ke pasir abunya.
"Apa mereka sudah masuk wilayah kita?" tanya Fang yang sudah berdiri dibalik batang besar tak jauh dari lautan didepan mereka. Ada sebuah bangunan tinggi seperti Mercusuar ditengah-tengah lautan yang dibangun khusus memantau perairan bagi Klan Ryoto.
"Sepertinya tak ada tanda-tanda mereka akan datang. sedari tadi kita menunggu belum juga ada serangan." sambung salah satu anggota yang berjaga diantara kegelapan.
Fang mengisyaratkan agar tetap memantau karna bisa saja serangan musuh akan muncul secara tiba-tiba.
Namun, Fang segera menatap intens satu kelap lampu dari arah lautan sana. Lampu lentera kapal kecil seperti nelayan yang melaut malam-malam begini.
"Tetap waspada."
Suara Zuan menginstrupsi dari alat komunikasi di telinga mereka. pasukan yang bertugas dalam misi ini dibagi menjadi dua Team dan yang memimpin tetap Zuan dan Fang sebagai kaki tangan kepercayaan Daychi.
Zuan bertugas memantau dari arah selatan dan Fang mengawasi dari arah barat hingga keduanya bisa melihat pergerakan musuh dengan mudah.
"Perahu itu kearah sini."
Batin Fang mengisyaratkan agar anggota yang ada di Mercusuar untuk mengarahkan lampu besar kearah sana hingga mereka bisa melihat Perahu nelayan tadi semakin mendekat dengan dua orang yang tampak duduk diatasnya.
"Kami akan memeriksanya!"
"Tunggu!"
Fang menahan pergerakan anggotanya karna ia yakin itu hanyalah sebuah jebakan musuh. Ini lautan mati dan belum ada yang melaut di sekitar sini.
"Biarkan dia mendekat!"
"Baik!"
Anggota kembali ke tempat semula meninggu perahu itu mendekat dengan lampu besar dari Mercusuar terus menyinarinya sampai ke tepi.
"Akhirnya!"
Suara seorang pria paruh baya tampak membuka topi nelayannya setelah perahu itu menepi di dekat pasir. Dua orang bermata sipit dan salah satunya berkepala botak dengan pakaian kumu itu tampak kelelahan dan satunya lagi masih memakai topi dan memiliki rambut tampak lebih muda seperti anak pria botak itu.
"Sudah sedari tadi kita berlayar. tapi, belum juga mendapatkan ikan. ini semua gara-gara kapal besar tadi." ujar salah satunya seraya meneguk air dari botol minuman yang usang.
Fang terus mengamati pergerakannya dengan pistol ditangan sudah siap menembak begitu juga para anggota yang tak bergeming.
"Kita istirahat dulu disini, nanti pagi kita lanjutkan." gumam Pria botak itu yang diangguki laki-laki muda itu.
"Ayah! apa disini tak terlalu berbahaya?"
"Tak ada pilihan lain. jika berlayar lagi kita kehabisan tenaga." jawab pria paruh baya itu memilih turun dari perahu lalu meletakan kain sandagannya hingga...
"Berhenti!!"
Keduanya terkejut saat acungan pistol itu mengarah padanya. Fang keluar masih mengarahkan pistol bersama anggota lain mendekat.
"K..Kalian siapa?"
Gugup lelaki muda itu mendekati Ayahnya seraya menatap takut para manusia berpakaian gelap dan menyerukan aroma daging ini.
"Kalian dari mana?"
"K...kami nelayan dari seberang!" jawab Pria paruh baya itu mengangkat kedua tangannya hingga 2 anggota langsung memeriksa bawaan dan yang lain memeriksa kapal.
"Tuan-tuan! kami ..kami tak punya barang-barang berharga. hanya..hanya bekal itu yang kami punya." ujar lelaki muda itu cemas saat bawaan mereka di obrak-abrik.
"Tak ada yang mencurigakan. Tuan!" ucap salah satu anggota setelah mengeluarkan semua isi bungkusan dimana ada beberapa potong roti yang jatuh ke pasir dan ada pemantik api serta peralatan pancingan.
"Bagian sana!!" suara Fang menanyai anggota-anggotanya yang tengah memeriksa perahu. Dengan sadis mereka mengoyak kayu itu untuk melihat ada unsur lain di bawah sana.
"Jangan!!! jangan di rusak!!!"
"Sudahlah!" pria paruh baya itu mencengkal lengan putranya agar tak memberontak atau nyawa mereka hilang disini. Anggota Ryoto mengobrak-abrik segalanya tanpa belas kasih sama sekali mematahkan kayu-kayu perahu itu.
__ADS_1
"Tak ada barang-barang berharga yang kalian cari! kami hanya Nelayan, kapal itu punya Kakekku!!!"
"Diam kau." geram Fang menarik pelatuknya hingga suasana jadi mencekam. Zuan yang melihat dari arah sana terus memantau arah datangnya perahu tadi.
"Ayah! jelaskan pada mereka kalau kita hanya Nelayan biasa dan..."
"Perahunya ada peledak!"
Ucap para anggota melihat benda kecil dibelakang kayu hingga...
"Menjauh!!!!"
Teriak Fang meloncat ke arah pohon dan mereka juga masuk ke air diiringi suara ledakan keras dari perahu yang terpecah berkeping dengan api menyambar keatas.
Asap itu mulai menguar tebal menutupi pandangan arah laut membuat Fang yang berlindung dibalik pohon segera memasang kacamata lensa khususnya dengan anggota lain juga.
"Disini mulai buram! kami akan masuk dalam kabut dan kau lihat dari arah lain."
"Hm. aku melindungi kalian dari sini."
Suara Zuan menjawab hingga Fang mengisyaratkan para anggota keluar dari perlindungan lalu masuk kedalam kabut. Sepertinya peledak itu memang di rakit untuk menyebarkan asap tebal agar mengurangi penglihatan.
Zuan menggunakan teropong jarak jauhnya melihat ke arah lautan dimana sudah ada kapal besar yang datang dengan suara gelombang air yang besar.
"Mereka memang sudah mulai menunjukan taring." gumam Zuan geram masih membiarkan kapal itu untuk maju. Ia menahan para anggota yang sudah naik pitam ingin segera menyerang.
Lampu-lampu kapal itu menyala kuat dengan sinaran Mercusuar yang terus menghujam mereka.
"Itu dia ikan buntalnya." gumam anggota geram melihat salah satu Bandot tua Marvelo yang bersiri tegap angkuh di ujung depan kapal seakan telah membasmi mereka.
"Kalian terkejut???? ha!!!!"
Suara kerasnya remeh ditengah pengawalan para manusia-manusia sangar berbadan kekar. Ada lagi kapal-kapal kecil dibelakang sana hampir memenuhi lautan membuat rasa puas Tuan Marvelo karna berhasil bersekutu dengan pihak lawan.
"Lihat ini Sersan!!!! jangan hanya bersembunyi di balik kandangmu!!!!"
Fang yang geram mendengarnya meminta izin pada Zuan yang tak memperbolehkan mereka bergerak dulu. tentu ada alasan dibalik semua itu.
"Lihat! disini sudah ada Tuan Owmes dan Petinggi Kueyren kalian tak akan mampu berkutik lagi!!!" ucap Tuan Marvelo angkuh menunjukan dua pria paruh baya yang memang berperan penting dalam kenegaraan mereka serta memiliki banyak anggota yang sudah disebar untuk menghabisi semua Klan itu disini.
"Dimana mereka? apa sudah tiada?" tanya Tuan Owmes sinis menyesap rokoknya. Ia adalah Mentri pertahanan di wilayah kecil Arge dan sekarang waktu yang tepat membalas dendam.
"Kalian jangan lengah! ledakan kecil itu tak cukup kuat membunuh satu anggota mereka saja." timpal Tuan Kueyren yang lebih teliti dibanding yang lainnya.
"Lepaskan tembakan bersamaan!!!!" titah Tuan Marvelo sudah jijik hingga tembakan beruntun itu dilesatkan kearah kabut tebal tadi dan sepanjang garis pantai. Kekuatan mereka memang besar tapi begitu tergesa-gesa.
"Marvelo! kau jangan membuat kekacuan diluar rencana." desis Tuan Kueyren geram melihat pasukan mereka sudah melepas tembakan membabi-buta.
"Siapa yang akan lolos dari serangan semacam itu! mereka tak akan..."
"Sekarang!" titah Zuan memencet sesuatu ditangannya hingga bagian kapal belakang meledak membuat Marvelo terkejut bersama 2 rekannya yang lain.
Anak-anak kapal mereka terhempas karna gelombang ledakan itu lebih besar bak kembang api menghiasi langit sampai meratakan bagian kanan awak kapal mereka.
"B..Bagaimana bisa?"
"Sudah ku bilang jangan tergesa-gesa." gumam Tuan Kueyren mengeluarkan pistolnya ditengah kabut kembali menyerang kearah mereka.
Liciknya Zuan sudah tahu mereka akan datang dalam jumlah sebesar ini hingga lebih dulu memasang peledak berkekuatan besar dan tugas anggota diatas Mercusuar adalah menembakan Bom asap seperti yang mereka lakukan tadi.
"Kau memang Genius, Zuan!" gumam Fang bersemangat melesat bersama para anggota yang segera naik keatas Spedboot yang sudah disembunyikan tadi dan melesat kearah kapal besar sana.
"Disini!!! Bodoh!!!!"
Teriak Fang menembak secara bersamaan bagian kapal itu membuat anak buah musuh yang tersisa setengah langsung ikut menyerang.
"Sial!! bagaimana bisa mereka bisa melihat di kabut setebal ini?" umpat Tuan Marvelo bersembunyi dibalik dinding kapal karna tembakan itu melesat kearah mereka mengenai beberapa bawahan yang tumbang.
Fang bersemangat meloncat dari Spedbootnya ke arah badan kapal beserta anggota lain bak hewan buas mengeluarkan cakar mereka hingga mencabik para mushh yang menyerang secara langsung.
__ADS_1
"Jangan biarkan mereka naik!!!!"
Teriak Tuan Owmes sudah kelimpungan saat kapal ini berguncang sementara lampu terang dari menara tinggi sana terus menyorot mereka bertiga hingga tak bisa melihat secara normal.
"Jangan membunuh mereka bertiga! ini perintah Sersan!"
"Baiklah! tapi aku mau mencicipi kulitnya sedikit." jawab Fang pada Zuan diseberang sana menggeleng saja membiarkan anggota mereka membantai para bawahan bandot-bandot itu.
Melihat tak ada harapan untuk menang Tuan Kueyren mulai tak bisa bertahan dengan rencana pertama mereka. Ia mengisyaratkan Tuan Owmes untuk meledakan kapal ini dan mereka akan menyelam ke bawah.
"Berhenti!!!!!!"
Suara keras Tuan Owmes membuat para anggota Ryoto terhenti sejenak mencabik-cabik tubuh tak berguna itu hingga pakaian mereka berlumuran darah memucatkan wajah Tuan Marvelo yang masih bersembunyi.
"Ada kata-kata terakhir?" tanya Fang menendang kepala-kepala manusia yang menghalangi jalannya mendekati Tuan Owmes yang gugup.
"Hentikan semua ini atau kalian akan meledak bersama kapal besar ini."
Fang tersentak mendengar ucapan mereka. Ia melihat ke kiri kanan dimana telah banyak peledak dan minyak yang telah tumpah diatas permukaan laut.
"Kau terkejut? kami memang berencana membunuh kalian semua dan jika mati disini kalian juga tak akan mendapatkan informasi apapun dari kami." remeh Tuan Owmes membuat darah Fang mendidih. Ia terlalu bersemangat sampai ceroboh begini.
"Lihatlah! dia tak bisa bergerak!" kelakar Tuan Marvelo menimpali padahal ia juga takut mati disini tapi lebih baik begitu dari pada mati di tangan Klan sadis itu.
"Aku hitung sampai 3.. kalian mundur!"
"1..." Tuan Marvelo menghitung seraya menjauh dari arah Fang yang tetap diam berfikir.
"2..., kau takut? cobalah mengemis!" pancing mereka pada Fang yang begitu naik pitam mencengkram pistol ditangannya.
"3.. bakar ka..."
Dorrr ...
Suara tembakan dari samping sana membuat Fang terkejut melihat 3 pria itu tampak ditembak dalam satu peluru tepat di bagian pahanya.
"Maaf!!! aku terlambat!!!!"
Suara girang dari seorang wanita yang meloncat naik keatas kapal setelah membuat 3 pria itu tumbang tak mampu menahan bobot tubuh karna pahanya terluka.
"K..Kau..."
"Aku tadi mengurus yang di dalam hutan air sana. jadi aku terlambat kesini." jawabnya santai tampak sudah berkeringat membuktikan habis menyelesaikan sesuatu.
Para anggota Ryoto terdiam menatap kosong sosok itu lalu memandang kearah hutan didekat pesisir hingga sudah tampak asap mengepul yang tak mereka sadari.
Saat suasana hening malah membuat Whuang kaku. Kenapa semua orang menatapnya aneh? apa ia salah membakar hutan itu karna ada banyak anggota musuh disana.
"N..Nona!"
"Hm? aku sudah membantu kalian-kan?" tanya Whuang santai karna ia sudah meratakan segalanya.
"H..Hutan itu..."
"Ada apa? kenapa kalian pucat?" tanya Whuang tak mengerti tapi Fang sudah lemas mengusap wajahnya.
"Itu Hutan tempat tinggal hewan kesayangan. Sersan!!!! kenapa kau bakar???"
Degg....
"A..Apa?" Whuang terkejut dengan mata kosongnya.
"Habislah kami. Whuang!!! kami sengaja tak menyerang kesana dulu karna melindungi hewan peliharaan Naga Jantanmu dan apa yang kau lakukan sekarang sudah mencekik leherku!!!!" teriak Fang frustasi tapi Whuang hanya mencengir mengusap tengkuknya kaku.
"M..Maaf, aku tak sengaja!"
......
Vote and Like Sayang..
__ADS_1