Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Kemarahan Daychi!


__ADS_3

Berita kesadaran dan kelahiran Whuang sudah sampai ke semua penjuru dunia gelap yang tengah bergejolak membuat bongkeman besar.


Para Klan pemberontak kekuasaan Ryoto semakin dilanda rasa takut jika wilayah mereka akan di kuasai oleh Klan besar itu. Apalagi, Klan Ryoto masuk dalam Klan yang paling disegani dan ditakuti sepanjang sejarah dunia bawah.


"Apa rencana anda selanjutnya? Sersan!" tanya Zuan yang sudah berdiri dibelakang Daychi tepat didekat Taman Rumah Sakit.


Siang ini adalah waktu tidur Whuang. itu karnanya ia bisa keluar kalau tidak wanita itu pasti akan terus melarangnya kemana-pun karna luka-luka di tubuhnya.


"Tak perlu menyembunyikan apapun."


"Apa anda yakin. jika Tuan muda Ryu dan Whuang akan baik-baik saja?!" Zuan terus meyakinkan. Masalahnya Daychi sangat di musuhi dalam topeng kehormatan dimana tempat. Ia khawatir jika nanti akan ada kekacauan lagi.


"Istriku adalah adikmu dan dia Nona Muda Keluarga Zang. apa kau tak mau menyatakannya pada Dunia?" tanya Daychi menatap datar kedepan. Disini sunyi dan sangat damai untuk ditempati.


"Anda benar! aku memang harus membuat pernyataan apalagi keberadaan-ku masih belum di ketahui."


"Hm. aku rasa kau tahu apa yang harus di lakukan." jawab Daychi berbalik menatap tegas Zuan yang mengangguk dan pamit pergi menyelesaikan tugasnya.


Daychi hanya diam ditempat menghela nafas dalam. Sekarang ia tak akan menyembunyikan hubungan mereka lagi, ia tak ingin Whuang kembali menjahuinya.


Lama Daychi merenung sampai akhirnya ada mobil mewah berwarna hitam masuk kedalam Gerbang. Mata sipit Daychi mulai menajam menduga siapa yang datang siang ini?!


"Tuan Besar!"


Para anggota menyambut sosok gagah yang keluar dari mobil bersama Nyonya Mieng yang tampak membawa paper-bag dengan wajah yang sangat bahagia.


"Kau duluan saja." ucap Tuan Khang pada Nyonya Mieng yang mengangguk melangkah masuk ke pintu utama Rumah Sakit besar ini dikawal anggota lain meninggalkan Tuan Khang yang sudah bersitatap dingin dengan putranya.


"Tuan besar! apa yang anda butuhkan?" tanya ketua anggota pada Tuan Khang yang hanya diam melangkah menuju taman dimana Daychi berdiri.


Daychi hanya membuang muka beralih melangkah melawan arah dengan Ayahnya.


"Sepertinya kau memang keras kepala?"


Langkah Daychi langsung terhenti tepat dihadapan Tuan Khang yang tak memandangnya sama sekali. Kepalan tangan Daychi menguat dengan wajah yang menahan luapan emosi.


"Kau masih berani kesini!"


"Ini tempat menantu dan cucuku. bukan?"


Rahang Daychi langsung mengetat sempurna. Ada benteng besar yang menghalang dua pria jantan itu dengan aura iblis yang saling menyelubungi.


"Sekali lagi kau bicara seperti itu. maka..."

__ADS_1


Daychi menatap tegas wajah datar Tuan Khang yang sama sekali tak terpancing. Ia hanya tenang seperti air tapi ntah apa yang dipikirkan dalam benaknya.


"AKAN KU BUAT KAU MENYESAL." suara mengancam yang pasti.


"Aku tak pernah menyesal!"


"Kauu..."


Daychi benar-benar terasa mau memberi bongkeman panasnya pada Tuan Khang yang sangat memancing amarah Naga Jantan itu.


"Hanya kau yang memberikan penerus sekuat itu. aku tak akan menyesal!"


"Sialan!!!"


Daychi ingin memukul wajah Tuan Khang tapi tangannya tertahan saat terlintas wajah Ibu dan Adiknya Lien. mata elangnya mengigil dengan urat kemarahan muncul dikepalan tinjunya.


"Pukul! pukul semau-mu." ucap Tuan Khang dengan suara masih santai.


"Kauuu..."


Brakk...


Daychi menendang pot bunga di sampingnya sampai hancur membuat para anggota terdiam menunduk. Serpihan pot itu bertebaran seperti perasan hancur Daychi yang sudah tak bisa di bangun sedari kecil.


"Kau sialan!! pergi kau dari sini!!"


"S..Sersan!"


Fang yang melihat dari arah pintu tadi langsung mendekati Daychi yang tampak mulai sulit mengendalikan dirinya. Hasrat membunuhnya naik terbukti dari wajah dan sorot mata mematikan itu.


"Lakukan apa maumu padaku!"


"Sekali saja kau mengusik anak dan istriku. AKU AKAN MEMBUNUHMU." geram Daychi lalu melangkah pergi menuju mobilnya membawa emosi yang kembali mendidih melewati Fang yang tak berani menyapa.


"S..Sersan!" lirih Fang saat Daychi menutup pintu mobil kasar lalu melajukan benda itu secepat mungkin keluar dari Gerbang rumah sakit.


"Bagaimana ini? apa Sersan akan meminta korban lagi?"


"Memang benar. hanya itu yang bisa melepas hasrat membunuhnya."


Para anggota saling berbicara membuat Fang dilanda kebingungan sekaligus cemas. Luka di tubuh Daychi masih belum begitu sembuh, apalagi sekarang pria itu dalam keadaan emosi dan bisa saja melakukan hal yang mengerikan lagi.


"A..aku beritahu Whuang saja!" Fang ingin melangkah kembali ke pintu masuk tapi ia terhenti saat pikirannya kembali berputar.

__ADS_1


"Tidak. Whuang masih belum sehat apalagi sekarang ada Tuan Muda Ryu, aku tak mau mengambil resiko sebesar itu."


"Biarkan saja!"


Fang berbalik menoleh pada Tuan Khang yang sudah berdiri dibelakangnya. Wajah pria paruh baya itu masih datar membuat Fang jengkel.


"Maaf. tapi anda tahu sendiri jika Sersan tak menyukai anda. kenapa harus datang kesini?"


"Jawabanku masih sama."


Tuan Khang melangkah melewati Fang yang terdiam. Sebenarnya apa yang di pikirkan pria ini? kenapa setiap kali bertindak selalu sulit ditebak sama seperti Sersannya.


"Anak dan ayah sama saja! tapi, sayangnya mereka tak ada etikat baik." gumam Fang lalu berlalu menuju mobilnya. Ia harus menyusul Daychi agar tak lagi melakukan hal sekejam itu.


........


Nyonya Mieng dengan hati-hati meletakan Kotak makanan yang ia bawa tadi ke atas meja dekat Sofa. ia menyusun tempat makanan itu dengan pelan takut membangunkan Whuang yang tertidur diatas bangkar dengan si kecil tampan itu juga terlelap di atas keranjang bayinya.


"Syukurlah. dia istirahat." gumam Nyonya Mieng berbalik menatap Whuang yang kelihatannya lelah.


Seung dan Eva yang berdiri menjaga ruangan ini. juga ikut membungkus senyuman, mereka tak sabar menunggu Tuan Muda Mempesonanya itu bangun lagi dan bermain bersama.


"Tuan kecil Ryu. sangat tampan." gumam Seung memerah membayangkan tatapan memikat itu.


"Sutt! kau ini selalu saja bertingkah aneh, sudah jelas Sersan begitu tampan dan gagah. tentu putranya mewarisi." sambar Eva juga ikut malu sendiri.


Tapi. Seung membayangkan wajah Zuan di kepala polosnya yang tak tahu banyak hal ini.


"Seandainya Tuan Zuan mau padaku. maka aku pasti akan punya malaikat kecil seperti itu."


"Sadar. kita ini PELAYAN." tekan Eva membuyarkan lamunan Seung yang mengerucutkan bibirnya.


"Aku tahu! tapi, apa salahnya bermimpi."


Eva hanya menggeleng lalu tersentak saat Tuan Khang sudah terlihat di ujung sana. Ia segera membuat penjagaan ketat sesuai perintah sersannya.


"Kau hati-hati. Pria ini sangat berbahaya."


"B..benar! matanya sama dengan Sersan." gugup Seung menepi dengan nyali ciut. Tuan Khang hanya melewati mereka seakan tak melihat sama sekali.


Tapi, Eva merasa heran. kenapa Sersannya tak datang padahal biasanya pria itu akan selalu menghadang musuh berat ini?


.....

__ADS_1


.Vote and Like Sayang..


__ADS_2