
Sudah 5 hari Whuang di Markas bagian Ryoto. Ia tengah membantu memberikan keterangan pada para Ilmuan dan Dokter Profesional yang bekerja dibawah naungan Klan Naga Jantan itu, tapi sepertinya Whuanglah yang paling mendominasi.
Sekarang ia berdiri tepat ditepi bangkar salah satu anggota yang sudah tak bernyawa. Mayatnya terlihat membusuk didalam bangkar kaca yang digunakan sebagai objek analisis mereka.
"Tubuhnya semakin hari semakin luruh dan Mikro organisme didalamnya juga tak mati, bahkan semakin berkembang." jelas Dokter Digedola memberikan keterangan pada Whuang yang sudah memikirkannya.
"Sepertinya kita memang tak bisa mematikan racunnya untuk sekarang. Tapi, aku bisa membuat mereka menjadi lebih jinak."
"Maksud anda? Nona!" tanya Dokter Taname saling pandang dengan rekannya Dokter Dige.
"Mereka memang khusus dibuat untuk memakan. tapi, kalau kita ubah pola sistem menjadi penyubur. maka, yang terkena tak akan mati tapi memperoleh protein dari racun yang di ubah didalam tubuhnya."
"Caranya?"
Whuang menoleh kearah botol kecil yang beberapa hari ini ia buat. Whuang memang punya bakat soal obat-obatan karna melihat Ayahnya sedari kecil bergelut dengan ini.
"Itu cairan Siscometiilk, aku sudah mencoba mencampurkan dengan racun beku yang dicairkan kemaren dan hasilnya mereka tak lagi memakan saraf dan sel tubuh tapi berusaha mensuplei protein dan beralih membunuh zat-zat berbahaya."
Mereka terlihat berbinar kagum akan kepintaran wanita ini. Para peneliti yang sudah berminggu-minggu mencari ini tak juga mendapat hasil tapi Whuang dalam 5 hari saja sudah bisa menyelesaikan masalah.
"Untuk yang sudah tiada tak bisa-ku bantu. tapi, untuk yang masih sadar kalian bisa menyuntikan itu ke tubuhnya."
"Anda hanya membuat sedikit dan..."
"Ini!"
Whuang menyodorkan secarik kertas ke atah Dokter Taname yang mengambilnya.
"Itu rincian bahan dan caranya. kalian bisa membuat lebih."
"Terimakasih, Terimakasih. Nona!" ucap mereka tulus membungkuk dihadapan Whuang yang tersenyum kecil melepas sarung tangannya.
"Sudahlah. lagi-pula aku tak melakukannya secara gratis, Sersan kalian telah membayar mahal." jawab Whuang begitu santai menarik kekaguman semua orang. Saat melihat semua kemampuan wanita itu mereka begitu suka akan sikap Whuang yang terkesan cuek dan gila harta tapi keberadaannya selalu terasa.
"Baiklah. kalau ada apa-apa kalian hubungi aku." mengambil tasnya.
"Baik. Nona!"
Whuang mengangguk melangkah ke pintu keluar ruangan luas bersih ini seraya melepas Jas putih dan Masker yang menutupi separuh wajahnya.
Diluar sana ternyata sudah ada Gamaru yang sedari tadi melihatnya penuh perasaanya.
"Nona!"
"Hm."
Gumam Whuang acuh meletakan Jas putih itu ke atas kursi disamping ruangan tanpa menatap Gamaru yang begitu mengagguminya.
"Nona. kau sangat luar biasa."
"Aku tahu."
Jawab Whuang membuat Gamaru menyeringai. Sekarang Sersannya tak ada di Markas dan ia bisa bebas mendekati wanita ini karna sudah terlalu sempurna menyita perhatiannya.
"Kau mau kemana? Nona."
__ADS_1
Bughh....
Gamaru langsung terhantam ke dinding didekatnya saat lengan Tas kecil Whuang memukul lehernya dengan kuat. Mata keabuan cantik itu berkobar murka dengan wajah indah yang mengeras.
"JANGAN SOK AKRAB DENGANKU." tekan Whuang menggertakan giginya menarik senyuman licik Gamaru yang mengelus lehernya seakan mau patah. Wanita ini begitu berani dan sangat sulit untuk didekati.
"Kau disini. tentu kita akan akrab."
"Kau bukan siapa-siapa. bagiku."
Gamaru terkekeh kecil mendengar ucapan Whuang yang begitu penuh kegeraman. Ia menatap penuh minat paha mulus berbalut Dress pendek diatas lutut itu dengan kaki jenjang yang begitu putih dan halus.
"Tubuhmu sangat beracun. Bunga Malam."
Whuang mengepal. Ia memakai Dress seperti Monalisa yang memang berlengan panjang dengan pita dilehernya. Dada itu terbungkus rapi tak terlihat sama sekali menampilkan pemandangan manis dari seorang Whuang.
"Kau sangat indah, rambut panjang lurus dan mata begitu musterius. tapi sayangnya..."
Gamaru menjeda kalimatnya saat Whuang sudah berbalik melangkah pergi tak mau mendengar bualan itu.
"Kau hanya Alat!"
Langkah Whuang terhenti dengan sorot mata membunuh yang ia pejamkan. Ia tak punya waktu untuk bertikai disini apalagi Gamaru salah satu anggota Ryoto yang memang bicara blak-blakan.
"Aku memang Alat. tapi setidaknya lebih berguna dari Pria menjijikan sepertimu."
"Cih!"
Gamaru berdecih menatap Whuang yang sudah melanjutkan langkahnya menjahui ruang Lab. Wanita itu begitu keras sampai selalu menolak kuat ucapannya.
"Kay! kita pergi dari sini."
"Nona!"
Ketua Komando Anbu mendekat membuat Whuang terhenti tepat didekat Mobil silver yang memang ia pinta dari Daychi.
"Nona. anda mau kemana?"
"Pekerjaanku telah selesai. aku mau pulang."
"Sebaiknya anda kembali istirahat. kami masih belum bisa menemukan zat apa yang ada di..."
Ketua Komando itu diam saat Whuang mengangkat tangannya agar berhenti bicara.
"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah mencemaskan aku."
"Tapi..."
"Selamat bekerja."
Ucap Whuang masuk kedalam mobilnya bersama Kay yang segera bergelut diatas paha mulus Whuang yang tampak sedang kesal. Ia membunyikan klakson yang diangguki mereka hingga Mobil mewah itu melaju stabil kearah jalan menuju Gerbang Utama.
"Menyebalkan. ingin sekali ku robek mulutnya." umpat Whuang memacu cepat kekuar Gerbang. Ia sudah tak tahan disana dan akan segera menemui Ayahnya. Ia harus membicarakan soal apa yang beberapa hari ini menganggu pikirannya.
Drett...
__ADS_1
Ponsel Whuang berbunyi hingga Kay segera membuka tas hingga Whuang mudah mengambil benda pipih itu.
"Kenapa dia menelfonku?" gumam Whuang melihat nama Daychi. Kay hanya diam memilih tidur karna ia sangat ngantuk kalau sudah di paha wanita ini.
"Hm. ada apa?"
"Kau dimana?"
Suara berat yang terdengar menahan emosi menarik kejengkelan Whuang.
"Kau mendengarku?"
"Aku sudah keluar. memangnya kenapa?"
"Sudah ku bilang jangan dulu keluar. Musuhku pasti mengincarmu."
Whuang diam sesaat terfikir soal seseorang yang sudah membuatnya hampir kehilangan nyawa malam itu. Ia belum membalas sama sekali.
"Kau dimana?"
"Kauu .."
"Jawab saja. kau dimana?" suara Whuang mulai kesal.
"Aku ada pekerjaan di luar. aku tak pulang nanti malam"
Whuang menyeringai. Daychi tak sedang disini dan ia bisa bebas kemana saja termasuk mengunjungi lintah hitam yang akan merasakan bagaimana terjatuh dari ketinggian.
"Oh. baiklah!"
"Hanya 'Oh'?"
"Hm."
Gumam Whuang jengah membuat Daychi yang tengah ada di Pertambangan Ilegalnya sana naik darah. Ia sedari tadi hanya menelfon sampai Zuan yang mengurus para anggota-pun menggeleng.
"Bisa bicara lebih, kan?"
"Cih! sudahlah, kau membosankan."
"Kauu .."
Tuttt....
Suara Daychi tercekat karna Whuang mematikan sambungan. Bisa-bisa telinganya pecah mendengar suara bentakan itu. Whuang menghela nafas menatap ke sekeliling hutan yang sudah diluar jalur Markas.
"Kay!"
Kay membuka matanya menatap Whuang yang berfikir.
"Apa rencana yang cocok untuk Target kita?" tanya Whuang ingin lebih dahsyat dari sebelumnya. Kay menjilat lengan Whuang yang memandangnya hingga kedua mata mereka bertemu seakan berkomunikasi.
"Yahh!!! Musnahkan aset berhargannya." gumam Whuang sangat senang. Ia memacu kendaraan cepat tak sabaran bercuma Nenek Peot itu.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang...