Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Dia sangat cepat!


__ADS_3

Sesuai perjanjian semalam. Pernikahan Whuang dan Daychi sama sekali tak di hadiri media atau-pun masyarakat lokal. Mereka hanya datang dari pihak keluarga masing-masing dan tentu Whuang telah hadir bersama Ayahnya.


Pernikahan dilaksanakan di Klenteng Pouchu dimana biksu-biksu margawa sudah menjalankan semuanya dengan baik. Tak ada hiasan atau hal spesial dan hanya hal penting-penting saja.


Whuang tampak sangat cantik dibungkus pakaian pernikahan khas Konghucu dimana pernik tradisonal itu dipasangkan ke tubuh indahnya. Sementara Daychi, ia juga terlihat mempesona dengan stelan pengantin laki-laki berdiri tegap disebelah kiri Whuang bersama diatas Altar pernikahan bersiap mengambil sumpah pernikahan.


Tak ada raut kebahagian sama sekali-pun diwajah keduanya. Hanya datar seperti tak berminat tapi keluarga mereka sudah berdiri dibelakang sana mengucapkan do'a-do'a syukur setelah upacara Puja Bakti-nya.


"Silahkan Tuan Daychi San Yuchin!" ucap Pendeta menatap Daychi yang mengangguk datar mengambil sumpah sucinya.


"Aku Daychi San Yuchin! ingin menikahi Yu Whuang Peng sebagai istriku. Aku bersumpah atas nama leluhur dan yang agung, Aku Daychi San Yuchin akan menerima semua yang ada pada Yu Whuang Peng. Mengambil tanggung jawab sebagai suaminya dan menjalankan kewajibanku sesuai tujuanku awal." suara Daychi lantang membuat Tuan Khang menyeringai. Sumpah itu sangkat sakral tapi Daychi memiliki tujuan yang sangat mutlak.


Whuang mendengar dengan sesakma. Ia tahu tujuan Daychi adalah ingin membunuhnya dan Whuang tak masalah. Ia juga punya tujuan sendiri.


"Silahkan. Nona Whuang!" Pendeta beralih pada Whuang yang mengangguk mengambil nafas dalam.


"Aku Yu Whuang Peng! Menerima keinginan Daychi San Yuchin untuk memperistri-ku dan Aku bersumpah atas nama leluhur dan yang agung akan menjalankan kewajibanku dengan baik. jika dia menyayangiku maka aku akan lebih dari itu setimpal dengan apa yang dia berikan."


Pendeta agak heran dengan janji kedua mempelai ini. Tak ada kata cinta atau hal romantis melainkan hanya sebuah rincian kalimat hati-hati dan bermakna dalam.


"Baiklah! setelah ini kalian sudah menjadi suami istri!"


"Syukurlah!"


Nyonya Mieng berucap syukur atas kelancaran pernikahan putranya. Mereka melakukan beberapa upacara dan sembahyang utama dari memberkati Pernikahan Whuang dan Daychi hingga beberapa lama kemudian barulah semua prosesi selesai dengan acara pelepasan dari orang tua masing-masing.


"Ayah!" panggil Whuang pada Tuan Jirom yang begitu merubah wajahnya lembut memeluk putrinya membuat Nyonya Mieng menghangat.


"Ingat tujuanmu dari awal! Lien aset utama, bukan dia!" bisik Tuan Jirom mengelus punggung putrinya.


"Baik. Ayah! akan ku selesaikan dia secepatnya."


"Hm. dia bukan lawan yang mudah. kau harus hati-hati." timpal Tuan Jirom lalu melepas pelukan. Ia sudah membicarakan ini semalam dengan Whuang yang menurut saja selagi Ayahnya tak marah.


"Nak! kesini!"


Daychi dan Whuang mendekati Nyonya Mieng yang tersenyum hangat memeluk Whuang lembut membuat Whuang diam tertegun kaku. Pelukan ini sangat tulus dan begitu keibuan.


"Aku titip Putraku! maafkan dia jika dia salah karna Daychi tak berpengalaman soal rumah tangga. Cintai dia dengan tulus dan Ibu yakin kalian akan bahagia."


"Baik. Bu!" jawab Whuang seadanya melepas pelukan. Daychi hanya diam dengan wajah semakin dingin saat berhadapan dengan Tuan Khang yang menepuk bahunya jantan.


"Kau begitu tampan! dia sangat cantik dan kalian cocok." bermakna ganda.


"Cih! aku sudah tahu sifatmu." Daychi menepus kasar lengan Ayahnya lalu menatap Nyonya Mieng yang mengeluarkan benda segi empat seperti kotak kalung didalam tasnya.

__ADS_1


"Ibu!"


"Ini kalung peninggalan Nenek tertua Yuchin! warisan turun-temurun untuk anak tertua dan sekarang kau sudah menikah Day! giliran istrimu yang mendapatkannya." jawab Nyonya Mieng mengeluarkan kalung berlian berliontin percikan api berwarna kemerahan bergiok emas membuat Whuang agak ngeri membayangkan harganya.


"Ini..."


"Ini sangat berharga! tak ada yang punya benda ini karna hanya Keluarga Yuchin yang khusus memilikinya, jaga baik-baik semoga kau menyukainya." Nyonya Mieng memakaikannya keleher Whuang.


"Hm!"


Whuang agak bersembunyi dari Tuan Jirom yang tengah berbicara dengan beberapa pendeta didepan sana. Ia agak khawatir saat ayahnya melihat benda mahal ini maka jiwa lelangnya akan muncul.


"Baiklah! sekarang kau bawa istrimu karna dia tak akan lagi tinggal dengan Ayahnya."


"Hm."


Daychi melangkah sendiri turun dari Kelenteng meninggalkan Whuang yang berdecah kesal. Pria itu memang benar-benar menyebalkan.


"Nak! biarkan Ibu mebantu!"


"A.. tidak usah. Bu! aku bisa sendiri."


Tolak Whuang tersenyum cantik lalu perlahan turun. Pakaiannya memang menyulitkan Whuang bergerak hingga sangat pelan dan lama membuat Daychi yang ada didekat mobil semakin muak.


"Saya akan membantunya. Sersan!"


Zuan memilih menyongsong Whuang yang masih menuruni satu persatu anak tangga dengan wajah kesalnya.


"Nona!"


"Apa??" pedas Whuang emosi tapi Zuan memilih memeggang lengannya agar lebih cepat.


"Kauu!!"


"Sebaiknya anda cepat. Sersan tak bisa menunggu."


"Sialan!!! dia pikir aku mau berjalan seperti siput ini." gerutu Whuang geram mau tak mau menuruti ajakan Zuan yang membantunya turun mendekati Daychi yang dengan angkuhnya bersandar di Body mobil memainkan ponselnya.


"Dia memang ingin ini!"


"Nona!"


Zuan terkejut saat Whuang melempar heelsnya ke wajah Daychi yang seketika membuat mereka terkejut terutama Nyonya Mieng yang memucat melihat wajah dingin putranya.


"Suami tak tahu diri." umpat Whuang berjalan tanpa heels melewati Daychi yang tampak diam berapi-api dengan wajah mengeras dan kepalan tangan menguat.

__ADS_1


"Kauu!!"


"Nak!"


Nyonya Mieng dengan cepat memeggang bahu kekar putranya agar tak mengikuti tingkah Whuang yang kasar.


"Sudahlah. mungkin istrimu hanya kesal."


Daychi hanya diam tanpa bicara banyak masuk ke mobil duduk disamping Whuang yang masih mengumpat melepas semua pernik dikepalanya dan ia lempar ke sembarang arah.


"Menyesal aku menikah denganmu. menyusahkan hidupku setiap saat. tak ada hal baik setelah melihat wajah buruk-mu ini."


"Zuan!!!!"


Bentak Daychi keras hingga Zuan segera masuk karna Sersan-nya pasti ingin membantai wanita ini.


"Bawa mobilmu pelan! aku tak ingin riasanku hancur." protes Whuang hingga Zuan paham melajukan mobil stabil.


"Diam kau!!!" geram Daychi menatap membunuh Whuang yang tak mau kalah sampai melototkan mata almond indahnya.


"Apa? kau marah? baguss.. itu lebih baik dari pada tersenyum menjijikan!" ketus Whuang membuat Daychi sudah tak tahan lagi hingga segera mengambil tusuk rambut Whuang tadi dengan cepat menusukan benda itu ke perut Whuang membuat Zuan terkejut hebat menghentikan mobil.


"Sersan!!!"


"Mati kau!" geram Daychi memperdalam tusukannya membuat Whuang meringis dengan pelan menurunkan sesuatu dibalik pakaiannya.


"K..Kau..." desis Wjuang membuat wajahnya seakan mau pingsan padahal tangannya sudah membuka lipstik ajaibnya.


"Hm. kau hanya kutukan bag.."


Bughh...


Whuang dengan kilat menancapkan pisaunya ke punggung Dauchi yang terkejut bersama Zuan yang benar-benar kosong melihat dua manusia ini saling menusuk dihari pernikahannya.


Whuang menyeringai melihat darah mengalir di lengannya melihat wajah kosong Daychi yang tak percaya akan semua ini. bukan sakit atau takut tapi Whuang yang baru pertama kali bisa menusuknya.


"Impas!" bisik Whuang mendorong Daychi menjauh lalu membekap luka diperutnya. Untung Daychi hanya menggores dipinggir hingga ia menyobek pakaiannya dan mengikat luka itu sendiri.


"S..Sersan!" panggil Zuan memastikan Daychi yang tampak termenung menatap Whuang yang seketika santai kembali duduk anggun.


"Dia sangat cepat!"


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2