
Telapak kaki yang biasanya mulus dan putih itu tampak sudah melepuh memaksa kaki untuk berjalan kembali ke arah Kediaman.
Ia menapaki ranting dan aspal sunyi dengan lunglai sesekali terjatuh karna tak sanggup lagi memaksakan tubuhnya yang sudah tak bisa dirasakan lagi sakitnya.
"S..sedikit lagi." gumam Whuang saat sudah melihat lampu yang menerangi jalan didaerah Kediaman.
Kay berusaha mendorong kaki penuh luka Whuang kesana menopang langkah wanita itu.
"B...bisa... aku..."
Brugh...
Whuang tak mampu lagi berjalan hingga ia terjatuh ditepi jalan yang tampak tak ada satu orang-pun yang melewatinya. Kepala itu sudah berdenyut beberapa kali tapi Whuang kekeh untuk melanjutkan langkahnya.
"K...Kay! aku..."
"Whuang!!!"
Suara itu membuat Whuang tersentak menatap sayu kearah depan dimana ada seseorang yang berlari kearahnya.
"S..Siapa?" gumam Whuang karna tak bisa lagi melihat jelas dikarenakan pandangannya sudah hampir kabur.
"Whuang! kau...kau kenapa begini?" suara yang Whuang kenal mendekat ke arahnya.
"L...Lien!"
Yah. dialah Lien yang tadi ingin ke Kediaman Kakaknya untuk menanyakan sesuatu tapi, ia tak menyangka dini hari begini ia menemukan Whuang dalam keadaan berlumuran darah.
"A..Apa yang terjadi? siapa yang melakukan ini?" panik Lien terkejut saat melihat sekujur tubuh pulen Whuang yang hanya dilapisi Gaun tidur hitam itu dipenuhi luka-luka dalam.
"A..aku... k..kesana.." lirih Whuang menunjuk Kediaman Daychi membuat Lien paham segera menggendongnya.
"Aku akan membawamu kesana! bertahanlah."
Lien melangkah cepat kearah mobil miliknya yang terparkir didekat jalan tak jauh dari Gerbang Kediaman hingga para anggota yang melihat dari jauh segera mendekat.
"Tuan Lien!"
"Apa yang kalian lakukan disini? cepat buka Gerbangnya!!"
Mereka berlarian membuka Gerbang Kediaman dengan Lien yang memasukan Whuang ke dalam Mobil lalu melajukan benda mewah itu masuk ke dalam Gerbang yang sudah dibuka.
Ia tak bisa berjalan saja ke arah Kediaman sana karna jarak dari gerbang ke pintu terasnya saja cukup memakan waktu karna luas halamannya besar.
"Whuang! kau kenapa bisa begini?" guman Lien begitu cemas melajukan mobil yang segera ia hentikan didekat teras Kediaman beriringan dengan para anggota yang keluar mendekati mereka.
"Tuan!"
"Panggilkan Dokter kalian kesini!"
Lien keluar lalu bergegas membuka pintu mobil bagian Whuang hingga para anggota tersentak melihat keadaan Nonanya.
"N..Nona!"
"Cepatlah!!"
Mereka segera melakukan hal yang bisa mengantisipasi hal buruk. Lien yang tampak sudah terburu-burupun kebingungan dimana Zuan dan para anggota Lainnya.
"Kakak Zu!!!! Kak Day!!!!"
"Tadi, Tuan Zuan pergi bersama Tuan Fang. mereka sudah lama meninggalkan Kediaman karna ada laporan dari anggota lain di sekitar hutan." jawab Eva yang berlari mendekat bersama Seung yang sangat terkejut melihat kondisi Whuang.
"N..Nona! Nona kenapa?"
"Tak ada waktu lagi. kalian lakukan apa yang bisa di.."
"Lien!" lirih Whuang lemah tapi ia masih sadar dan bisa melihat kekhawatiran semua orang akan dirinya.
"Whuang! kau akan baik-baik saja. kau.."
"I..itu.."
Whuang menunjuk kearah lift yang mengantar ke lantai kamarnya. Wajah Lien terlihat berat tapi ia tak bisa menolak hingga segera kesana.
Ia membawa Whuang kedalam Lift beriringan dengan suara mobil diluar sana sudah kembali.
"Whuang!!!"
Suara Zuan tampak menggelegar berlari masuk ke dalam. Ia baru saja menyusuri hutan dan melihat bekas seokan kaki dan ceceran darah. apalagi, anggota pemantau tengah memburu Tuan Jirom yang lari dari pengejaran mereka.
"Tuan! nona Whuang telah kembali dibawa Tuan Lien, mereka ke lantai kamar Tuan Daychi."
Tanpa pikir panjang Zuan segera berlari menapaki tangga. Ia khawatir jika jejak darah itu adalah milik Whuang apalagi ia sudah tahu data dari penyadapan kemaren dan hasilnya membuat Zuan ingin menguliti Tuan Jirom secepatnya.
"Kalau terjadi sesuatu pada adikku. akan ku bunuh kalian semua." gumam Zuan mengepal terus menapaki tangga demi tangga hingga ia sampai ke lantai atas dimana punggung Lien sudah terlihat melangkah ke pintu kamar.
__ADS_1
"Whuang!!"
Zuan menghentikan langkah Lien yang menoleh kearah Zuan. Wajah panik pria itu baru kali ini ia lihat dan terpampang jelas.
"Kak Zu!"
"Whuang!" gumam Zuan perih melihat keadaan wanita ini kembali seperti semula bahkan lebih parah. Tapi, Whuang masih tersenyum ditengah mulut bersimbah darah itu.
"B..biarkan aku...m..masuk!"
"Tidak! kita akan pergi, kau ikut aku!" Zuan beralih menggendong Whuang dari pelukan Lien yang menyerahkannya. Ia masih bingung kenapa bisa Zuan secemas dan seperduli ini pada Whuang?!
"Z..Zuan! a..aku ingin ke.."
"Diam!!! sudah cukup kau menahanku."
"A...aku mohon." pinta Whuang dengan mata berkaca-kaca dan begitu menyedihkan. Luka di wajah wanita itu sama sekali tak bisa dikatakan ringan.
"Sial!!"
Zuan terpaksa melangkah mendorong pintu kamar hingga pemandangan remang ini kembali menyapa.
Aroma minuman itu sangat kental di dalam kamar yang tampak berantakan. Botol-botol anggur Bir itu berserakan di Balkon yang tengah menjadi saksi bisu kekacauan pria yang tampak sudah lama memandangi jam di dinding kamarnya.
"Kau kemana? aku...aku tak sengaja. aku tak sadar melakukan itu." gumamnya sudah dalam pengaruh minuman alkohol. Matanya sudah merah dan begitu pula wajah tampan kusut yang membuktikan sesak yang ia rasakan.
"Aku .. aku tak sengaja!!!! kenapa kau menyentuh barang-barang itu. ha??? kalau..kalau kau tak melakukannya maka..."
Daychi kembali menegguk minumannya tandas lalu melempar botolnya kesembarang arah menatap muak tangannya yang sudah menampar leluasa padahal ia juga sakit melihat tatapan hancur manik abu itu.
"Maka..tangan ini, ini tak akan mengenai-mu. kau ..kau keras kepala, Whuang! kau membuat kepalaku pecah sedari tadi!!! aku membencimu!!! aku benci matamu, aku benci semua hal tentangmu!!!" bentak Daychi menggelegar meracau tak jelas memaki dirinya sendiri tapi juga terus menunggu.
Ia tak sadar jika tiga pasang mata yang menatap semua itu dari ambang pintu sana tampak diam dengan mata termenggu.
"Tinggalkan aku disini."
"Tapi..."
"H..hanya sebentar."
Zuan menghela nafas panjang lalu menurunkan Whuang yang berdiri bertopang ke dinding disampingnya. Zuan meraih tisu didekat meja lalu membersihkan mulut Whuang yang dilumuri darah.
"Jika dia menyakitimu. aku ada diluar, kau bisa memanggilku."
Whuang mengangguk membiarkan Lien dan Zuan keluar kamar dengan pintu itu kembali tertutup.
"Wh..Whuang." gumam Daychi tersigap saat aroma tubuh wanita itu menyeruk ke hidungnya. Ia yang tengah bersandar di pembatas Balkon dan kamar langsung mencari-cari dimana asal bau amis dan aroma Floral ini.
"Bunga Malam!!! kau...kau disini, kan??"
Whuang hanya diam tetap bersandat ke dinding sana dengan mata kembali berkaca-kaca.
"Kau ..kau dimana? ini sudah mau dini hari. kau mau bersembunyi berapa lama lagi. ha???" racau Daychi terlihat linglung karna kesadarannya sudah diambil minuman keras itu.
"Aku selalu didekatmu. tapi, kau tak pernah melihatku."
Batin Whuang nyeri menelan segalanya. Daychi yang mencari-cari keberadaannya hanya dipandang nanar Whuang yang diam.
"Keluar!!! kau...kau tak bisa meninggalkan aku seperti ini!!" ucap Daychi berusaha berdiri dikala kepalanya terasa berputar hingga beberapa kali jatuh ke tumpukan botol-botol didekatnya membuat Whuang segera melangkah mendekat.
"Whuang!!! berhentilah bermain-main!!!" umpat Daychi kembali meraih botol minuman itu dan ingin menegguknya..
"Sampai kapan kau akan minum terus?"
Degg...
Daychi tersentak saat lengannya ditangan oleh tangan lentik yang tampak dilumuri darah mengering.
"K..Kau.."
"Sudahi tabiat minum beratmu ini." ucap Whuang lalu menjatuhkan dirinya duduk didekat Daychi di lantai dingin ini.
Mata Daychi berkulir melihat kulit putih Whuang yang tampak tergores dan berbau amis darah.
"I..Ini.." tangannya perlahan menyentuh paha Whuang yang dipenuhi luka cambukan dan setiap kulit wanita ini terluka.
"A..apa... apa aku.. aku yang melakukan ini?" tanyanya terlihat terkejut membuat Whuang diam menatap dalam wajah tampan kacau itu.
"Jawab!!!! kenapa kau diam saja???"
Whuang tetap tak bersuara. Hanya tangan lentik itu yang terangkat gemetar menyentuh pipi mulus Daychi dan rahang tegas pria itu lembut.
"Kau sangat tampan!" jawaban yang tak sesuai itu membuat Daychi segera menepis tangan Whuang yang menyentuh pipinya.
"Jawab aku! apa aku yang melakukan ini? dan..dan luka di pipimu itu.."
__ADS_1
"Tak apa. ini tak sakit." jawab Whuang tersenyum walau itu tak sejalan. Ia menikmati kecemasan Daychi padanya seakan hal itu sedikit mengobati luka di hatinya.
Tatapan Daychi berubah sendu. Tangan pria itu beralih menyentuh luka di pipinya dengan penuh penyesalan.
"A..aku menamparmu!"
"I..Ichi!"
"M..maafkan aku. maaf!" pinta Daychi langsung memeluk Whuang yang seketika memecahkan tangisnya ikut membelit punggung kekar itu erat.
"I..Ichi, hiks!"
"Maafkan aku. maaf, aku ..aku tak sengaja melakukannya. kenapa kau memancingku? aku .aku tak menyukainya." rutuk Daychi mengeratkan pelukan hangat itu. Whuang tak mampu membendung sesak didadanya dan begitu merasa tak bisa bertahan.
"A..apa tak bisa kau mencintaiku?" lirih Whuang membuat Daychi tertegun diam. Pelukan keduanya semakin mengerat tapi Daychi yang tengah dipengaruhi minuman itu tampak benar-benar jujur.
"W..walau sedikit." sambung Whuang lagi merasa tak sanggup begini tapi Daychi-pun sama. Ia muak dengan dirinya yang sama sekali tak tahu apapun.
"Aku...aku benci diriku sendiri!! aku...aku benci ini semua." geram Daychi membuat Whuang diam menunggu jawaban itu.
"K..kau tak bisa.."
"Aku tak bisa mencintaimu!!"
Seketika pelukan Whuang terlepas berganti dengan wajah kosongnya. Air matanya jatuh deras dengan semuanya hancur tanpa sisa.
"K..kenapa?" lirih Whuang bergetar. Daychi segera melepas pelukan beralih menangkup kedua pipinya.
"Aku..aku sudah berusaha. aku berusaha menerimamu, tapi tak bisa! aku...aku tak bisa." Daychi tampak jujur dan tulus begitu frustasi dengan hatinya.
"Kau...kau bisa menghukumku atau..atau kau membunuhku, Whuang! aku ..aku muak dengan ini semua." Daychi frustasi memukul kepalanya sendiri sampai akhirnya Whuang mencengkal lengan kekar pria itu.
"Sudah!"
"K..kau bisa memukulku atau melakukan apapun. tapi.. tapi aku mohon jangan tinggalkan aku." lirih Daychi menggenggam tangan Whuang yang dingin. Jika ia egois maka ia akui itu karna ia tak mau kehilangan Whuang tapi juga tak bisa melepas masa lalunya.
"Jangan. ya? aku...aku akan memberimu apapun, kau.. kau suka uang, harta apapun. asalkan kau tetap disini." Daychi seperti anak kecil mengungkapkan kekhawatirannya tapi itu hanya akan membuat Whuang merasa mati di tempat.
"Kalau aku pergi?"
"W..Whuang!" Gumam Daychi menggeleng tak suka.
"Kau pilih. aku pergi atau aku mati."
"T..tidak,..kau..kau tak bisa melakukan itu. kau tak bisa pergi kemanapun. kau akan tetap disini." kekeh Daychi kembali memeluk Whuang erat bahkan begitu kuat membuktikan rasa takutnya.
"Disini saja. bersamaku!"
"Kau sebenarnya kenapa? kau selalu memberi harapan tapi tak pernah membuat kejelasan."
Batin Whuang memejamkan matanya menikmati ini semua. Ia ingin melepas perasaannya malam ini dan jika esok ia masih bernafas maka ia akan gunakan itu untuk melindungi semua orang.
"Siapa wanita yang kau cintai itu?" tanya Whuang mengelus kepala Daychi yang kental akan aroma alkohol.
"Dia sudah bersuami."
Whuang tersentak langsung memandang Daychi yang terlihat diam meletakan kepala keangkuhan itu ke bahunya.
"M..maksudmu?"
"Dia istri pria lain. itu menarik, bukan?!" tanya Daychi tersenyum kecil membuat Whuang diam. Apa yang sebenarnya terjadi? apa Daychi tak bisa bersama wanita itu karna sudah bersuami?!
"La..lalu? bagaimana bisa aku membuat kalian bersama? apa aku harus mengambil suaminya dan.."
"Kau bicara apa?!!! berhentilah bertindak sesukamu. kau pikir ini lulucon. ha??" bentak Daychi tak suka dengan ucapan Whuang yang seakan-akan merelakannya.
Namun. Whuang memang sudah lelah, jika ia diberikan waktu maka ia ingin melihat Daychi bahagia disisa waktu miliknya.
"Aku tak bercanda."
"Whuang!!!"
"Sudahlah, kau hanya bisa berteriak tak jelas. aku bosan mendengarnya." unpat Whuang membuat Daychi mulai gelisah.
"Kau...kau marah?"
"Menurutmu?" Whuang belagak galak walau ia hanya ingin menikmati raut manis yang terakhir kali akan ada bersamanya.
"Jangan marah. kau tahu bukan?! kalau aku suka begitu." gumam Daychi tampak sudah tak bisa mengontrol kesadaran sampai ia ingin tumbang tapi Whuang segera memeluknya.
Setelah ini. aku akan berusaha agar kau bisa bahagia, aku berjanji padamu. Ichi, aku taruhkan sisa hidupku untuk memperbaiki segalanya.
"Aku sangat mencintaimu, apapun akan ku lakukan untukmu. tapi, kau tenang saja. Aku tahu impian terbesarmu, dan tunggulah sebentar lagi. aku akan mewujudkannya."
......
__ADS_1
Vote and Like Sayang...