Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Melupakan sejenak!


__ADS_3

Ruangan lembab dengan kegelapan melanda itu tampak membekap seorang pria yang di kurung didalamnya. Baja-baja keras itu mengekang Sel tahanan bawah tanah dan hanya ada satu lampu yang bersinar redup tak memuaskan mata.


"Sial!!! disini bukanlah tempat yang baik." umpat Tuan Jirom yang telah di kurung di ruangan gelap ini. Sungguh oksigen saja hanya dipasok kecil dari fentilasi minim yang tak bisa bertukar udara dengan normal hingga ia sangat tersiksa. Luka diwajahnya terasa menyakitkan dan ia tak begitu bisa bergerak.


"KELUARKAN AKU DARI SINI!!!!"


"KAU BISA DIAM. HA????"


Bentakan dari arah samping membuat Tuan Jirom tersentak. Ia tak bisa menatap ke semua tempat selain sel tahanannya tapi tak di sangka ada orang lain disini.


"Siapa pria itu? kenapa dia memiliki sistem kediaman seperti pemberontak dingin."


Batin Tuan Jirom berfikir. Ia tadi di bawa tanpa persiapan dan ternyata pria yang memukulnya habis-habisan itu adalah suami wanita tak tahu diuntung itu.


Namun, seketika ia mendesis saat luka-luka di tubuhnya begitu perih dan sakit. Sialnya para anggota Daychi menyeretnya kasar tanpa mengobati luka sama sekali bahkan, mereka seakan membiarkannya mati perlahan.


"Sial!!!! kau tak akan lepas dariku. brengsek!" Tuan Jirom selalu mengumpati semuanya. Sepertinya Daychi bukan orang sembarangan dan pria itu mempunyai anggota-anggota yang aneh tak manusiawi.


"Apa dia bergabung dengan Klan Okane? tapi aku yakin pria itu punya Klan sendiri tadi..."


Tuan Jirom menghentikan kalimatnya saat rasa sakit menyengat wajahnya. Sumpah serapah itu ia keluarkan menahan sakit yang semakin menyerang. Jika seperti ini terus maka ia akan mati konyol tanpa bisa membalas.


"Sial!!! aku harus keluar dari sini."


Batin Tuan Jirom menarik nafas dalam lalu membekap wajahnya dengan kemejanya yang amis. Darah itu mulai berhenti karna ia seorang yang paham akan semua ini.


"Aku bisa menghubungi mereka akan membantuku keluar. yah, aku masih bisa." gumam Tuan Jirom sadar jika ia masih bisa memberi sinyal bantauan pada Pria tua itu dengan Jam tangannya.


Dengan tergesa-gesa dengan tangan yang sudah di lumuri darah Tuan Jirom menekan tombol di dekat Jam tangannya hingga menimbulkan cahaya merah yang kerlap redup.


"Disini sinyalnya buruk. memang brengsek."


Ia berusaha membuat koneksi menyambung dengan mengangkat Jam tangannya agar lebih mudah. Tapi nyatanya tempat ini di Stel khusus sampai membuat pertahanan kuat.


"Lihat saja. kau tak akan lepas Whuang, kau bertanggung jawab atas semua ini." gumam Tuan Jirom menyeringai. Ia tak akan sia-sia membuat rencana dan jika Whuang berkhianat maka cepat atau lambat wanita itu akan musnah.


.........


Wajah tampan pria itu terlihat merah bak kepiting rebus dengan deru nafas memburu dengan racauan yang muncul tak bisa menahan hisapan dari bibir lembut merah segar itu. Ia tengah berdiri dengan satu tangan mencengkram rambut wanita itu dan satunya lagi menarik ulur dengan cepat dan ketat membuat akal sehat Daychi menghilang.


"W..Whuang...!" geraman Daychi memejamkan matanya karna ingin kembali meledak. Bahkan, Whuang merasakan jelas jika pusaka perkasa itu membengkak untuk kesekian kalinya hingga Whuang mengerti mempercepat acara karokenya sampai Daychi membelalak.


"Ss... aaa..."

__ADS_1


"Dia pasti kejang!" batin Whuang menatap wajah Daychi yang menyeringit dengan tubuh mengejang.


"Akhhss, Sayang!!" Daychi beberapa kali menekan kuat benda itu ke mulut Whuang yang menerimanya dengan senang hati sampai matanya berair berpeggangan ke kedua pinggang kekar itu.


"Emm.... yahh!" erang Daychi memejamkan matanya menikmati eforia kenikmatan yang luar biasa meledakan batinnya. Ia sungguh sangat bahagia dan lepas menerima ini semua.


"Enak?" tanya Whuang menatap Daychi yang masih terpejam dengan nafas ngos-ngosan tapi sangat puas.


"Hm. kau sangat pandai bermain." desis Daychi membuka matanya menatap Whuang yang masih menjilat hingga ia mengelap bibir basah wanita itu dengan jempolnya. Masih ada lava panas yang tadi ia semburkan di mulut sang penghangat.


"Telan!"


"Hm."


Whuang menelannya ringan membuat senyum Daychi mekar menyelipkan anak rambut yang berantakan ke belakang telinga Whuang yang juga senang karna bisa melayani dengan baik.


"Ichi!"


"Hm?"


" ini sudah lemas." ujar Whuang mengusap benda perkasa yang terlihat sudah mengkerut karna terapi supernya. Bentuknya-pun sudah sedikit ciut tapi begitu gagah dan menggelora muda.


"Masih bisa memuaskanmu." goda Daychi membuat wajah Whuang memerah tapi segera ia sembunyikan dibalik raut juteknya.


"Salahmu. kenapa memancingku? pasti kau juga ingin." mata Daychi semakin menyipit.


"Tidak. aku hanya merasa berhutang budi." gerutu Whuang membuka kancing terakhir Pyamanya yang sudah berantakan karna kebrutalan pria ini mencari mainan tangan.


"Lukamu berdarahkan?"


"Tak apa. ini tak sesakit yang semalam."


Daychi menghela nafas lalu menarik pelan Whuang agar berdiri untuk duduk di kursi dekat Bathub. Ia beralih berjongkok melepas celana tidur itu hingga kaki Whuang masih di perban walau basah.


"Lukamu tak boleh kena air-kan?"


"Aku tak tahu. tapi ini biasa, nanti akan sembuh sendiri." jawab Whuang tersenyum membuat Daychi tertegun sesaat. Wajah Whuang kembali seperti biasa seakan tak terjadi apapun.


"Kau sangat menyusahkan."


"Apa?" pekik Whuang syok tapi Daychi hanya masa bodoh memilih melepas atasan Whuang dan hanya menyisahkan benda segitiga maron itu senada dengan Beranya yang sudah Daychi lempar ke sembarang arah.


"Asetmu semakin besar. ini palsu, ya?" tebak Daychi asal meremas satu bongkahan padat ranum itu menarik emosi Whuang yang langsung menabok pipinya kecil.

__ADS_1


"Mulutmu. Naga Jantan pemarah." desisnya geram.


"Aku benar. kalau kau berlari maka bola ini akan mengguncang dunia."


"Sama sepertimu!" ketus Whuang membelo jengah membuat senyum samar Daychi tercipta.


"Tembakanku selalu tepat sasaran. kau sendiri menyukainya."


"Hm. terserah." pasrah Whuang memilih bersandar ke pinggir Bathub untuk menunggu Daychi selesai mandi dan barulah ia bersiap.


"Ichi! pergilah selesaikan mandimu." gumam Whuang membiarkan Daychi melepas bagian terakhirnya hati-hati agar tak melukainya. Mata Daychi menatap kagum akan bentuk liang nikmat sampai ia terus menegguk ludahnya yang berat.


"Selalu sempurna."


Batin Daychi merasa kembali berdesir. 2 hari ini tak melakukannya membuat Daychi tersiksa setiap waktu tapi ia tak akan pernah puas sebelum Whuang meminta ampun.


"Naikan kakimu!"


"Kau mau apa?" tanya Whuang menurut saja menaikan kakinya pelan keatas meja hingga paha putihnya yang memar itu menambah fantasi liar Daychi.


"Aku belum menusukmu." Whuang langsung syok.


"K..Kau .."


Daychi memposisikan dirinya sedikit berjongkok mengarahkan benda perkasa yang begitu kekar kembali meneggang bak tongkat rahasia yang menggetarkan tungkai Whuang.


"K..Kau .. jangan main-main. kau .. "


"Menjeritlah!" Daychi memaksa masuk dalam satu hentakan membuat Whuang terpekik keras dengan mata terbelalak dan mulut terngangak merasakan sekangan keras itu membelah tubuhnya.


"Ichii!!!!"


"Shitt! ini sangat sempit." erang Daychi lemah menekan dalam sampai tubuh Whuang kejang membusung kedepan berpeggangan ke bahu kekar suaminya.


"I..Ichii!" menggeliat tak beraturan merasakan geli bercampur nikmat.


"Kau memang cocok di panggil Bunga Malam."


"Emm.. Yeahh." gumam Whuang meracau tak jelas. Mereka bertarung sejenak melupakan masalah dan beban hidup karna tak tahu kedepannya masih bisa bersama atau tidak nantinya.


...........


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2