Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Kapan akan menikah?


__ADS_3

Pagi-pun menyapa. Setelah perdebatan tadi malam akhirnya mereka kembali ditenggelamkan dalam kehidupan baru diawal mentari hari ini.


Seperti biasa. Whuang ada diatas ranjang rawat tengah diperiksa oleh Dokter dalam masa pemulihan wanita itu, tak ada yang begitu serius tapi efek samping dari racun yang mengenai tubuhnya membuat kenyataan pahit bagi Whuang sendiri.


"Nona!" lirih Dokter Lizel memeggang bahu Whuang yang menatap nanar ke arah pria yang belum bangun dari sofa sana. Semalaman Daychi berjaga sampai ketiduran.


"Kenapa begini lagi?" gumam Whuang dengan suara bergetar. beberapa menit yang lalu ia merasakan nyeri di perutnya dan rasa sakit itu kian meningkat menciptakan keringat dingin.


Tapi, Whuang tak menyangka kalau ia akan dinyatakan seperti itu.


"Anda tenang saja, kami yakin. Sersan tak akan marah atau kecewa."


"Tapi...tapi aku sudah banyak menyusahkannya." lirih Whuang dengan mata berkaca-kaca. Harapannya seketika gugur setelah memimpikan Kediaman mereka akan dipenuhi banyak tawa anak kecil.


"Sersan pasti akan mengerti! anda.."


"Sayang!"


Daychi bangun dari tidurnya langsung menatap cemas Whuang yang tampak menangis. Wanita itu berusaha tak memandangnya membuat Dokter Lizel dan Dokter Andra diam.


"Ada apa? kenapa kau menangis?"


"Tidak ada." jawab Whuang mengusap bulir bening yang jatuh itu menarik rasa sesak Daychi yang menghubungkan ini dengan kesalahannya semalam.


"Nyatanya aku menyakiti-mu. lagi!"


"I..Ichi!"


"Kau bisa memukulku atau melakukan apapun, jangan menangis begini. Whuang!"


Whuang diam semakin tak tega mengatakannya. Ia wanita serba kekurangan sekarang, tapi Daychi..


Melihat kebungkaman Whuang. hati Daychi semakin berkecamuk, ia segera menangkup kedua pipi tirus itu dengan lembut dan mata penuh penyesalan.


"Aku serius! aku minta maaf, aku menyakitimu lagi! tapi..tapi aku bersumpah sayang, aku tak berniat meninggalkanmu dan anak kita, tapi... aku.."


"Kau ."


"Aku hanya takut melukaimu seperti dulu!"


Whuang terdiam, tiba-tiba hatinya mencolos mendengar ucapan Daychi yang tegas dan sangat tulus. tatapan pria itu juga serius sesuai apa yang tengah ia katakan.


"I..Ichi!" suaranya mulai bergetar.


"Aku takut saat aku menemui-mu, aku akan membentakmu lagi, menamparmu lagi karna saat itu aku ingin membunuh orang, aku tak mau menemuimu dalam keadaan seperti itu."


"Benarkah?" tanya Whuang merasa sangat senang membiarkan Daychi memeluknya. Dokter Andra dan Dokter Lizel hanya mengulum senyum akan hal itu.


"Hm. aku tak mau mengulangi hal yang sama, padamu dan anak kita." ucap Daychi mengecup bahu Whuang yang tak segan memeluk kembali.


"Bagaimana dengan Tuan K.."


"Aku tak menyukainya!"


Whuang diam. jujur ia memikirkan ini dari lama hingga membuatnya sedikit lelah apalagi ia hanya ingin tenang dan damai saja.


"Ichi! aku tahu kau begitu membencinya tapi.."


"Dia itu licik! bisa saja nanti putraku dijadikan alat olehnya, aku tak akan membiarkannya."


"Tapi, bagaimana dengan Ibumu?"


Daychi diam sejenak mengurai pelukan. Ia tak bisa berlama-lama membiarkan Tuan Khang berkeliaran melihat istri dan anaknya.


"Tak akan terjadi apapun. biasanya juga begini."


"Kau tahu. Ibumu sangat menginginkan anak-anaknya akur bersama ayahnya. kau.."

__ADS_1


Whuang langsung meringis memeggangi kepalanya membuat Daychi tersentak luar biasa.


"W..Whuang!"


"K..kepalaku!" Whuang memeggangi kepalanya. Dokter Andra segera mengambil tindakan. Ia kembali membaringkan Whuang yang mencengkram lengan Daychi menahan nyeri.


"Nona! saya sudah bilang jangan terlalu di pikirkan." tegur Dokter Andra melakukan Injeksi ke lengan Whuang yang tampak pucat.


"Apa yang terjadi? kenapa begini?" tanya Daychi khawatir melihat keadaan Whuang. rasa takut itu menjalar di tubuhnya dikala menduga hal yang tidak-tidak.


"A..aku tak apa."


"Tak apa bagaimana? kau ini selalu saja sok kuat dihadapanku." geram Daychi yang terlampau cemas mengambil tisu mengelap keringat dingin di kening mulus itu.


"Ini efek samping pengobatan yang Nona jalani selama ini. Tuan!"


"Apa?" Daychi terdiam melihat wajah Whuang yang lemah.


"Karna racun itu merusak jaringan tubuh Nona, kami terpaksa melakukan terapi medis selama ini dan efeknya Nona akan mudah lelah." jelas Dokter Andra lugas.


Daychi diam tak bergeming membuat Whuang merasa berat mengatakan ini. Ia takut jika Daychi tak menerimanya.


"D..dan aku..."


"Katakan!"


"Maaf, tapi aku akan susah hamil." lirih Whuang dengan nafas tercekat melepas cengkramannya ke lengan Daychi. Air matanya mengalir merasa tak berguna hanya melahirkan sekali saja sudah begini.


"A..aku ..aku pasti akan selalu menyusahkanmu. aku hanya penyakitan begini dan..."


"Kau bicara apa?"


Whuang hanya diam. Ia tak sekuat yang dulu lagi dan semuanya sekarang sudah berbalik jatuh.


"I..Ichi! diluar sana mereka mengenalku dengan sebutan wanita malam. aku pembawa sial dan wanita kutukan. bagaimana kalau mereka tahu kau menikah denganku? apalagi kita sudah punya anak dan aku ..."


Tapi sekarang. ia mengerti karna Whuang merasa dirinya sudah tak seperti dulu apalagi mereka sudah punya anak, citra buruknya takut mempengaruhi semuanya.


"Sudah bicaramu?"


"K..kau seriuslah sedikit! saat mereka tahu kau itu anak keluarga Yuchin, maka mereka akan ikut mencemo'oh-mu karna menikahi wanita sepertiku! kau pikirkan itu." Whuang yang heran melihat reaksi santai Daychi.


"Kau pikir aku perduli?!" tanya Daychi menghapus air mata Whuang dengan jempolnya.


"Kau..."


"Berhentilah berfikiran negatif seperti itu! hanyalah omong kosong." jawab Daychi menyentil kecil dahi Whuang yang terdiam.


"Tapi..."


"Whuang. apa otakmu sekarang hanya tinggal seper-empat?!"


"Aku sedang memikirkan-mu!! kau ini memang menyebalkan." umpat Whuang menyikut pinggang kekar Daychi yang hanya menaikan bahunya acuh merapikan rambut istrinya dengan baik.


Wajah jutek Whuang kembali menekuk walau ia tak bisa berbuat banyak selain berbaring lelah begini. Daychi mengisyaratkan Dokter Andra untuk pergi hingga ia keduanya paham akan isyarat itu.


"Nona! anda harus banyak istirahat, jangan lupa minum obat anda."


"Hm." Daychi menjawab membiarkan mereka pergi keluar ruangan ini.


"Masih ingin bicara?" tanya Daychi meraih tablet obat diatas nakas. Whuang diam tak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Reaksi-mu kurang menakjubkan." jawab Whuang membuat Daychi mengulum senyum. Ia membuka tablet obat itu mengeluarkan banyak pil untuk pagi ini.


"Memangnya aku harus seperti apa?"


"Setidaknya kau beri solusi! aku tahu kau tak perduli dengan mereka tapi anak kita?! aku tak mau dia tumbuh seperti kita berdua."

__ADS_1


Daychi langsung menghela nafas membantu Whuang kembali duduk seraya mengambil segelas air disampingnya.


"Tak akan ada yang berani mengusiknya."


"Apa kau mau kita seperti ini terus?" tanya Whuang membuat Daychi menatapnya sejenak.


"Buka mulutmu!"


"Untuk?"


"Ini!" Daychi menunjukan 4 pil di tangannya dan ukuran benda itu cukup membuat Whuang menelan ludah. Ia sangat tak suka hal berbau pil apalagi sejak kecil ia dipaksa menelan seperti ini.


"Kau saja! aku juga tak begitu sakit."


"Aku tak melakukan operasi sesar. Nyonya!" jawab Daychi kesal tak sabar. memang karakternya begitu Whuang-pun tak asing lagi.


"Sama sekali tak romantis." gumam Whuang memejamkan matanya bersandar ke punggung ranjang.


"Kau tak mau meminumnya?"


"Aku sudah sehat." jawab Whuang asal tak sejalan dengan kenyataan. Tak ada sautan dari Daychi yang menggeleng lalu memasukan pil-pil itu kedalam mulutnya berurutan dengan air.


"Cih! benar-kan. dia ini sama sekali tak pandai berbuat manis sedikit saja."


Batin Whuang kesal. Daychi mencengkram pelan kedua pipi Whuang membuat bibir wanita itu terbuka tapi tak dengan matanya.


"Ichi! kau ini mau apa lagi?! aku mau istirahat. per.."


Daychi langsung menyatukan bibir keduanya membelalakkan mata Whuang yang terkejut dengan serangan mendadak ini. manik abunya syok menatap wajah datar Daychi yang menyentil keningnya agar membuka lebar.


Perlahan tapi pasti Daychi menyalurkan benda itu ke kerongkongan Whuang yang merasa Pil ini tak sepahit yang ia duga. ukurannya juga tak sebesar itu karna Daychi memotongnya kecil-kecil.


"Telen!" titah Daychi memeggang tengkuk jenjang wanita itu agar menelannya. Whuang mau dengan cepat menelannya tapi lidah Daychi masih ada didalam sana membuat wajah Whuang bersemu merah akan ketampanan suaminya sendiri.


"Kau malu?"


"A..apanya?" Whuang bergurat datar walau tak sejalan dengan hatinya tengah berbunga. Kalau begini terus ia bisa diabetes.


Daychi tersenyum kecil mengusap sisa air di bibir Whuang yang tampak mengigit bibir bawahnya.


"Soal itu jangan kau pikirkan! percayalah padaku. hm?"


"Hm." Whuang mengangguk patuh. Ia lega Daychi tak mempermasalahkan apapun. perasaan cemasnya berganti dengan senang karna Daychi sudah mengetahui segalanya.


"Tapi itu..."


"Whuang! aku akan berusaha mengambil jalan tengah, kau tak diizinkan berfikiran berat. mengerti?"


"Baiklah!"


Whuang menurut. Daychi meletakan ponselnya diatas ranjang lalu mendekati ranjang bayi Baby Ryu yang sudah bangun tapi tampak hanya diam sedari tadi.


"Apa kau bisa?"


"Bisa! ini mudah." jawab Daychi enteng mengambil alih si kecil itu. Ia sudah paham soal bayi karna ia mengurus Elis sedari kecil.


"Hati-hati!"


"Hm. kau jangan banyak bergerak, ku pasung kau sampai membantah!" cerocos Daychi yang membawa Baby Ryu ke kamar mandi. Disana sudah ada segalanya hingga semuanya mudah.


"Dasar!" gumam Whuang menggeleng. Namun, ia terfokus pada ponsel Daychi yang ada notif baru.


KAPAN KAU MAU MENIKAHINYA?!


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


Kita menuju puncak acara ya say


__ADS_2