Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Apa yang Spesial?


__ADS_3

Pasukan musuh itu datang menyerang Kediaman Zang. Para anggota berpakaian Shozuku seperti ninja berwarna hitam dengan membawa samurai dibelakangnya. Mereka menyerang membantai para pengawal yang memberi perlawanan di taman samping.


Terlihat sekali kelincahan mereka bergerak bahkan menebas tubuh lawannya membuat Tuan Pein yang menatap dari arah teras mulai khawatir.


"Saito!!" panggil Tuan Pein pada kepala pengawal yang tengah bertarung melawan pasukan bersamurai itu. Mereka terlihat sengit tapi tak bisa mengimbangi.


"Tuan! biarkan kami yang mengurusnya, anda jaga Nyonya dan Nona Muda didalam!!!" teriak Natto seraya menghantamkan pisau di tangannya melawan ayunan samurai kearahnya.


"Mereka sangat lihai. kita tak..."


"Kami akan membantu!"


Tuan Pein menoleh karah Zuan yang sudah mengisi pistolnya lalu mengisyaratkan para anggota yang tadi menjaga mereka untuk maju.


"Kau.."


"Pergilah kedalam!" titah Zuan lalu turun ke arena perkelahian melepaskan beberapa tembakan menghadang beberapa Anggota Samurai yang terlatih melawan mereka.


Zuan meninju beberapa anggota musuh yang ingin melesat masuk hingga anggota Ryoto tampak memanas segera mengeluarkan cakar mereka mencabik buta.


"Sialan kalian!!!"


Anggota Ryoto bergerak lincah dan gesit melawan sampai membuat para pengawal yang tengah diserang-pun kagum akan cara bertarung Klan satu ini sangat ganas.


Zuan menembak dari jarak dekat kearah dada dan lengan mereka hingga darah itu berjipratan dimana-mana. Salah satu ketua dari penyerangan ini terlihat geram melihat anggotanya tergeletak tak bernyawa dengan tubuh penuh cakaran.


"Sial!!! aku tak mengira kalau anggota kecil Ryoto bisa mengalahkan pasukan Samurai. Tuan Besar." gumam Ninja Shozuku itu melihat para bawahannya yang dibantai.


"Kenapa?"


Zuan mendekat dengan tubuh kekar tegap berdiri diantara perkelahian. Sorot matanya begitu mengintimidasi sampai membuat Ketua Samurai itu mengepal.


"Aku tak ada urusan denganmu!" desisinya lalu melesat menyerang Zuan dengan samurai berkilap darah ditangannya.


Zuan dengan cepat menangkis serangan itu dengan batang pistol ditangannya yang terpotong membuktikan ketajaman benda bersejarah itu.


"Aku yakin ini dari Klan Okane!"


Batin Zuan mengambil samurai lawan yang jatuh di tanah hingga kembali beradu pedang dengan ketua Shozuku itu. Kekuatan yang di sertakan Ketua Samurai itu cukup terlatih membuat Zuan harus berhati-hati melawannya.


"Tuan Zuan!!" teriak satu anggota Ryoto saat ada anggota musuh yang ingin menyerang dari belakang tapi Zuan dengan cepat berbalik menebasnya jantan dan kembali menghadang Ketua Shozuku yang terhenyak.


"Sial!!! dia sangat cepat, aku tak bisa disini terlalu lama atau akan mati sia-sia."


Batinnya masih memasang kuda-kuda memperhatikan para anggota yang dicabik didepan mata. Ia kira ini akan berhasil tapi nyatanya tak bisa.


"Cukup melihatnya!!"


Suara kelam Zuan mendekat memukul lengannya hingga samurai yang ia pegang terlempar dan..


"Mundur!!!!" teriak pria itu lalu meloncat kearah kursi taman dan berlari menuju beton yang dengan mudah ia lompati diikuti 2 anggota samurai yang tersisa mencurahkan darah.


"Kami akan mengejarnya!" sambar anggota Ryoto sudah bersiap.


"Tak perlu!"


Mereka langsung menoleh kearah teras samping yang sudah hancur tadi hingga terlihat Daychi berdiri menatap datar para mayat Samusari dan para pengawal kediaman Zang yang sudah tewas ditempat.

__ADS_1


"Sersan!" mereka membungkuk berbaris tapi Zuan segera mendekati Daychi yang memang tak turun tangan karna ia tak berminat.


"Sesuai rencana anda." ucap Zuan menunduk hingga Daychi mengangguk. Keduanya saling tatap penuh rencana lalu kembali memandang para anggota yang tengah membantu sisa pengawal yang terluka.


"Mereka tak mengincar kita!"


"Aktifkan pelacak dan sadapnya. aku ingin mendengar mereka!" titah Daychi lalu membuka ponselnya dengan Zuan yang mengangguk mengaktifkan alat penyadap yang tadi ia tempelkan ke Ketua Shozuku itu lewat tinjuan ke lengan pria itu tadi.


Ini rencana Daychi sebelumnya karna mereka mencari tahu kenapa Klan Okane menyerang Keluarga Zang yang tak berkesinambungan dengan dunia gelap.


"Sial!!! kita gagal mendapatkan sempel itu."


Suara seorang pria mendesis sakit diiringi gelombang angin seperti tengah mengiringi mereka. Daychi menyambungkan itu dengan Earpiche miliknya hingga semuanya terdengar.


"Sempel apa yang mereka maksud?"


Batin Daychi belum mengerti dengan Zuan yang diam. Ia lagi-lagi harus mencoba mencari tahu apa maksud musuh sebenarnya datang kesini.


"Tuan menyuruh kita mengambil satu saja barang yang bisa untuk di uji. tapi mereka begitu tak membiarkan masuk."


Daychi langsung mematikan sambungan saat sudah mengira ini kemana. Ia menatap Zuan yang tertegun diam tak mengerti.


"Aku tak mengerti. Sersan!"


"Klan Okane bisa membuat berbagai uji coba dengan para peneliti ilegalnya. ada kemungkinan kalau salah satu anggota keluarga disini yang akan dijadikan wadah mereka." tegas Daychi mengungkapkan kecurigaannya.


"Tapi..."


"Tuan!"


"Kenapa mereka menyerang kita berulang kali? suamiku!" gumam Nyonya Qian sendu membuat Daychi menoleh.


"Berapa kali?" tanyanya intens.


"Sudah 3 kali anggota bersamurai itu datang. dan pertama kali mereka pergi ke kamar putriku." jelas Tuan Pein khawatir membuat Zuan terhenyak.


"Putri anda? apa yang spesial dari itu?" sambung Zuan mengepal dengan wajah mengeras.


Tuan Pein dan Nyonya Qian saling pandang tapi mereka hanya mengambil nafas dalam.


"Cih! kalian diam? kalian menyembunyikan kalau adikku memang spesial di banding wanita yang kalian bawa."


Batin Zuan menggeram emosi tapi ia pandai mengendalikan diri dibanding Daychi yang mengerti posisi Zuan bagaimana.


"Apa ada sesuatu yang putrimu miliki?" tanya Daychi membuat Nyonya Qian tak mau mengungkit masa lalu karna jika Chiyo dengar maka hatinya akan sakit.


"Mungkin mereka hanya akan berniat buruk pada putriku. apalagi dia anakku satu-satunya yang.."


"Cih!"


Zuan melangkah pergi melempar samurai ditangannya ke lantai hingga berdenting nyaring. Mata Nyonya Qian berkaca-kaca seakan melihat sosok lain ketika bersama Zuan.


"Sebaiknya kalian jangan menyembunyikan apapun."


"A..Aku..."


"Itu lebih baik." sambung Daychi lalu melangkah pergi. Ia harus segera menemukan jawaban dari semua ini termasuk Zuan yang pasti tahu kenapa para Klan Okane tiba-tiba datang kesini.

__ADS_1


Sementara 3 sosok manusia tadi tengah mengintip dari atas tangga dimana Seung sudah gemetar bersembunyi dibalik tubuh Eva karna melihat perkelahian tadi.


"Eva!! mereka bukan manusia."


"Diamlah! kau jangan memelukku sekencang ini. Seung!" geram Eva melepas pelukan Seung yang beralih berjongkok bersembunyi.


Sementara Whuang yang mendengar pembicaraan itu seketika diam. Jadi ini berhubungan dengan putri Keluarga Zang. ini sangat menarik.


"Kalian pergilah ke belakang. bantu para pelayan!"


"Lalu. anda.."


"Aku ingin memastikan sesuatu. jangan sampai ketahuan!" tegas Whuang menatap Seung dan Eva yang mau tak mau mengangguk melangkah pergi. untung saja barang-barang curian mereka sudah di masukan ke dalam mobil jadi aman.


Whuang menatap kepergian kedua rekannya lalu mulai menghela nafas. Kay sudah ia perintahkan mengawasi Nenek penyakitan itu agar bisa melaporkan sesuatu padanya.


"Baiklah! aku harus menyelidiki ini." gumam Whuang mengencangkan maskernya dan mengedap kearah kamar Nona Muda itu. Untung saja bekas-bekas luka si kakinya sudah sembuh dengan cepat hingga ia mudah menyamar begini.


Selayaknya biasa. Whuang bergerak bak angin tanpa tahu kemana ia melangkah olah siapapun. Pergerakan yang lihai dan sudah biasa membuat kelincahan tubuh Whuang melangkah kearah pintu kamar wanita itu.


"Aku yakin jika pura-pura sakit, maka tak akan mampu berlama-lama diatas ranjang."


Gumam Whuang mengeluarkan sesuatu dibalik sakunya. Dan itu adalah alat perekam kecil yang selalu ia bawa ketika menjalankan misi serta lipstik yang serba guna.


"Kay!"


Whuang memejamkan matanya untuk mencoba merasakan keberadaan Kay yang tentu menyatu dengan hatinya. Whuang menekan gagang pintu yang di kunci rapat sedangkan tadi tak di kunci sama sekali.


"Aku benar. dia pasti..."


"Sedang apa?"


Degg...


Whuang terkejut saat ada suara berat yang memanggilnya dari belakang hingga tubuhnya meneggang dengan wajah memucat dibalik masker sana.


"Mati, aku!"


Batin Whuang berkeringat dingin mengumpati dirinya sendiri sampai membuat sesosok pria tampan dengan pahatan sempurna itu mendingin.


"Kau yang tadi menginjak kakiku. Bukan?"


"A.. Iya! a..aku...aku permisi." gugup Whuang berbalik ingin pergi tapi lengannya langsung di cengkal membuat mata Whuang terbelalak.


"A.. apa dia tahu aku disini? a.. t..tidak. aku.."


"Tubuhmu lumayan. Nona Pelayan!"


Ucapan itu membuat darah Whuang mendidih apalagi tangan kekar itu menyentuh sensual pahanya seakan begitu berminat.


"Sial!!! Daychi sialan!!! ternyata kau memang penjilat organ wanita!!!!"


.......


Vote and Like Sayang...


Tadi author liat ada yang ngoment soal anaknya Daychi. jadi sayangku yg baru baca novel author. kalian wajib baca yang Dilema Cinta Natalia, karna kisah cinta pertama Daychi ada disana sayang.. moga berminat ya🤭🥰

__ADS_1


__ADS_2