
Cahaya senja dari langit merah sana melesat masuk disela pepohonan dan Jendela di ruangan seorang pria paruh baya yang sedari tadi berdiri menatap datar keluar. Ia tampak menguarkan aura tak bersahabat. Whuang yang sedari tadi berdiri tak jauh darinya hanya diam membungkam mulut.
"Baru datang sekarang?"
"Ayah! sangat sulit mencari waktu untuk kesini, apalagi Pria itu begitu ketat memberi penjagaan." jawab Whuang menundukkan pandangan.
Wajah Tuan Jirom seketika bergurat ambigu. Lirikan mata tajamnya begitu misterius tak bisa ditebak Whuang.
"Kau sangat pandai berkilah."
"Ayah! aku tak berbohong." sambar Whuang terhenyak dengan wajah memucat. Ia tak berani menatap Tuan Jirom yang sudah berbalik memandangnya dengan penuh penghakiman.
"Benarkah? mustahil kau tak bisa menelfonku selama ini, aku yang terus menelfonmu."
"A..Ayah. jika aku menelfon maka dia akan curiga kalau..."
"Mendekatlah!"
Whuang dengan perasaan berkecamuk mendekat memaksakan langkah kakinya. Ia menunduk dengan jantung berdebar kuat takut jika pria paruh baya ini menghukumnya.
"A..Ayah!"
"Ulangi jawabanmu!" titah Tuan Jirom yang sudah berhadapan dengan wajah pucat Whuang. Mata keabuan putrinya ini selalu mengawasi tangannya yang ada didalam saku celana.
"ULANGI!!"
"A..Aku tak menelfonmu karna aku takut jika dia tahu kalau..."
Plakkk...
Tamparan itu menghantam pipi Whuang keras sampai wanita itu tersungkur dengan leher menghantam ujung meja didekatnya.
"AKU TAK MENERIMA ALASAN!!!" bentak Tuan Jirom membuat Whuang gemetar merapat ke meja disampingnya. Wajah pria paruh baya itu tampak mengeras dengan mata mengigil menahan amarah.
"A..Ayah!"
"Kau pikir aku bodoh. ha?? kau tak pernah berusaha untuk mendekati. Tuan Muda Lien!!!"
Whuang terkejut dengan tubuh gemetar merapat ke meja disampingnya. Darah itu keluar di sudut bibirnya dengan leher lebam dan pipi bengkak.
"A..Aku .. aku t..tak berbohong."
"Ternyata kau begitu menikmati hidup sebagai NYONYA MUDA YUCHIN. hm?"
Mata Whuang melebar syok lalu menggeleng cepat dengan keringat dingin yang keluar membasahi keningnya. Wajah cantik itu sudah memucat mencengkram ujung meja kuat menatap takut tangan Tuan Jirom seakan itu belenggu hidupnya.
"T. Tidak. aku.."
"Apa kau membantunya?"
"Tidak ayah. hiks! tidak!" jerit Whuang histeris mencengkram kepalanya dan bersembunyi dibalik meja dengan tungkai lemas dan tulang mengigil. kepalanya sekarang mulai dihantui bayang-bayang gelap dan rasa takut yang ditanamkan sang ayah.
"Aku menyuruhmu membunuhnya. tapi kenapa sampai sekarang kabar kematian itu belum ku terima? Whuang!!!"
"A..Ayah. m..maaf!"
__ADS_1
"Maaf. hm?"
Seringaian Tuan Jirom meruak. langkahnya mendekat bagaikan harimau pengintai bagi Whuang yang sudah benar-benar tak bisa berfikir tenang.
"Whuang. putriku!"
"T..tidak." gumam Whuang merasakan jika Tuan Jirom akan menghukumnya. Ia terus menelusupkan diri di sudut sana dengan suara rentetan rantai yang menghantui kepalanya.
"Keluarlah!"
"A..Ayah. j..jangan."
Gumam Whuang terus berlindung dibawah meja membuat kesabaran Tuan Jirom habis. Ia harus menekan wanita ini lagi sebelum rencananya gagal.
Brakk ..
"Ayah!!!"
Jerit Whuang sampai keluar dikala meja itu hancur akibat tendangan Tuan Jirom yang semakin memantik api diatas ketakutannya. Whuang merapat ke dinding dengan tubuh gemetar pucat mendingin.
"J..Jangan." lirihnya terus melihat kearah tangan Tuan Jirom yang belum keluar dari saku celananya. Suara rantai itu bagaikan ilusi yang seakan menakuti batin wanita itu.
"Sudah lama kau tak menjerit sekeras tadi. hm?"
"A..Ayah. j..jangan hiks, aku...aku mohon."
Isak Whuang memeluk tubuhnya sendiri dengan kaki bertekuk membuat perlindungan diri. Namun sayangnya Tuan Jirom benar-benar sudah tak bisa meredam amarahnya tentang kejanggalan Whuang.
"Kesini!!" menyeret lengan Whuang kasar.
"Ayah!!!"
"Sudah cukup bermainmu!"
"J..Jangan!" Whuang menggeleng dengan mata melebar melihat tangan Tuan Jirom sudah keluar memaparkan rantai tajam yang diikat jarum, itu sangat menyakitkan baginya.
"Cobalah sekali saja!"
"T..Tidak ayah.. kau .."
"Hukumanmu!!!"
Tuan Jirom menyabetkan benda itu ke lengan Whuang yang langsung menjerit kuat dengan Kay yang mencakar pintu tapi sia-sia karna sudah di kunci.
"Ampun. Ayah!!! Ampuni, aku!!!"
"Anak baik! kau anak baik!!!"
"Ayah!!! hiks, Sakittt!!!"
Kay terus mendobrak sekuat tenaga dan mencakar kayu-kayu itu sampai kukunya berdarah tapi tetap saja tak bisa. Jeritan Whuang seakan membelah batin hewan itu bahkan tubuh Kay serasa ikut di cabik.
"Sakittt!!! hiks, am..ampun. Yah!!!"
Amor yang mendengar itu dari bawah sana hanya diam menulikan telinga. Begitu juga yang lain tak mampu bergerak, air mata mereka hanya luruh tapi wajah tetap datar seakan bukan manusia.
__ADS_1
"Ayah!!!!! sakitt, hiks!! Ampun, Yahh!!"
"Anak baik! kau alat terbaik bagi, Ayah. hm? ini tak sakit."
Suara-suara penyiksaan itu membuat bulu kuduk mereka merinding. Sudah dipastikan setelah ini Nonanya akan sangat tersiksa dipaksa sembuh dari luka yang menyebabkan kerusakan dari dalam.
Kay mengeong keras terus mencakar membuat Amor tak bisa menahan langsung berlai menuju ruangan Tuannya. Terlihat jika cakaran Kay sudah merembes ke pintu itu tanpa ampun.
"Kay!"
"Ayah!!!!"
Jeritan terakhir sangat gila membuat kedua tangan Amor terkepal langsung mendekati pintu ingin membukanya tapi...
"Amor!!!" suara Tuan Jirom sudah lebih dulu memanggilnya. Rahang Amor mengeras. Tapi, ia tak bisa menolak hingga membuka pintu itu dengan dorongan agak kuat dan barulah terbuka bersama Kay yang langsung menerobos masuk.
Deggg...
Mata Amor melebar melihat darah menjiprat di dinding dengan kepalan tangan Tuan Jirom yang menggenggam rantai itu ikut meneteskan darah.
"N..Nona."
Batinnya tersentak melihat Whuang tergeletak di sudut ruangan dengan lengan penuh cakaran dan kakinya juga. Rambut wanita itu lengket dengan wajah di tutupi rambut panjangnya yang berantakan.
"Bawa dia ke tepi hutan. buat seakan-akan dia dilukai binatang buas!" titah Tuan Jirom tanpa ampun sama sekali. Manik matanya tak menggambarkan rasa kasihan sedikit-pun.
Tak ada jawaban dari Amor membuat darah Tuan Jirom mendidih.
"Kau mendengarku???"
"A...Iya. Tuan!"
Dengan cepat Amor mendekati tubuh Whuang yang tampak masih sadar tapi tak bisa bergerak. nafas wanita itu lemah dengan bekas luka dimana-mana kecuali wajahnya.
"S..kit."
"Dengar, lihat dan rasakan! kau hanya bisa seperti itu, kau alat terbaikku. bukan?" masih menekankan itu pada Whuang yang sudah tak bisa bergerak.
"Ini hukuman sekaligus rencana. setelah ini kau mungkin akan mudah mendekati, Tuan Muda satu itu."
"Saya permisi. Tuan!"
Amor menggendong ringan Whuang dengan hati dibentengi. Darah wanita ini begitu lengket dan pemandangan itu tak asing bagi Amor sendiri.
"Dia harus bisa memanipulasi lawan. jangan menggunakan hati untuk bertindak."
"Baik."
Jawab Amor seadanya melangkah keluar dengan Kay yang terus mengeong mengikuti mereka. Ini adalah pilihan yang ditetapkan bagi Whuang sendiri.
"Semoga anda bisa bebas. Nona!"
Gumam Amor berbisik. ia harus melakukan titahan Tuan Jirom yang pasti akan meminta bukti darinya.
........
__ADS_1
Vote and Like Sayang..