
Ucapan dari Tuan Khang membuat mereka terkejut terutama Lien yang membelalakkan matanya syok. Ia tak menyangka jika Ayahnya akan berkata seperti ini pada Whuang yang jelas ia sukai.
"Ayah! kau bercanda-kan?" tanya Lien serius.
"Apa aku terlihat begitu?!" Tuan Khang membuat Lien tertegun menatap Whuang yang diam masih dengan wajah biasa. Whuang masih belum ingin menyangga ucapan Tuan Khang.
"Malam ini kau datanglah!"
"Baik!" jawab Whuang tegas tapi Lien dengan cepat menyela.
"Ayah! Whuang akan menikah denganku. kan?"
"Kenapa kau begitu berharap. hm? banyak yang lebih baik dari dia." tegas Tuan Khang membongkem Whuang tapi ia mengerti kenapa Tuan Khang menolak seperti ini.
"Ayah! ini tak adil, aku mau menikah." bantah Lien kecewa.
"Kau aset terbesar Yuchin! jangan mau dibodohi orang lain terutama wanita." sindir Tuan Khang pada Whuang yang mengepal. Ucapan pria paruh baya ini sangat pedas dan menusuk.
"Tapi.."
Lien diam saat tatapan menajam Tuan Khang menghunus jantungnya. Pria paruh baya itu pergi membawa harapan besar dari sang putra yang seketika melemah.
Brayen yang melihat wajah sendu Lien-pun segera merangkul pundak jangkung temannya.
"Kau tak bisa melawannya!"
"Kenapa dia yang harus jadi ayahku?!" gumam Lien menahan emosi. Hidupnya diatur dan diatur hanya kebebasan dalam mengganti wanita saja yang ia dapat tapi jika ingin serius maka tak akan bisa mudah melaluinya.
"Dia tak menyukaiku. aku pergi dulu!" Lien dengan cepat mencengkal lengan lembut Whuang yang ingin berlalu dihadapannya.
"Whuang!" lirih Lien terlihat memelas.
"Carilah wanita yang sepadan denganmu. pasti banyak yang lebih berkelas dari aku." jawab Whuang merendahkan diri tapi percayalah itu taktik racun Dewi Bulan.
"Ayah memang seperti itu! aku yakin setelah ke Kediaman-ku dia menyukaimu." bujuk Lien membuat Brayen seakan terpukul berat. Biasanya teman liarnya ini tak akan pernah serius dengan wanita. dia selalu mencapai apa yang dia mau dengan rencana licik lalu melepasnya bagaikan sampah tapi sekarang malah memelas pada wanita. Cihh, Whuang memang berbeda.
"Kau yakin?"
"Aku yakin. aku akan meminta Kakakku membujuk Ayah pasti dia mau."
Whuang berfikir sejenak lalu mengangguk membuat Lien dengan cepat memeluknya. Walau Whuang merasa enggan tapi ia terpaksa membalas pelukan Lien walau dihatinya mengumpat.
"Kalau bukan karna tujuanku. sudah sedari tadi aku menampar mulut ayahmu."
Batin Whuang yang merasa muak. Tuan Khang sangat sombong dan angkuh. Pantas jika Keluarga Yuchin disegani karna para prianya tak bisa diajak kompromi.
"Aku akan berusaha membujuk Ayah dan Ibu! kau datang saja malam ini."
"Baiklah! terimakasih."
Ucap Whuang menepuk punggung bidang Lien yang enggan melepas pelukan. Aroma Floral khas tubuh Whuang membuat ia segan berpaling sebelum Brayen yang menarik bahunya.
"Kauu!!"
__ADS_1
"Dia belum jadi istrimu! ini Perusahaan dan jangan membuat ulah."
Geram Brayen membuat Lien menatap disekelilingnya dimana banyak pengawal yang menunduk tak mau ikut campur.
"Cih! lain kali aku akan ke Club."
"Itu yang ku ingin bahas. masalah Club-ku yang hancur karna Kakakmu." bisik Brayen geram tapi ia melirik kecil Whuang yang tak mendengar karna ia tengah menerima pesan dari seseorang.
"Maksudmu?" Lien tak mengerti.
"Kemaren malam saat kau ingin ke Club tapi tak jadi itu. Kakakmu tiba-tiba datang membawa anggotanya yang sangat menyeramkan. mereka penuh tato naga dan lagi wajah mereka sangar-sangar." Brayen bergidik ngeri.
"Lalu?"
"Kau tahu. dia membantai semua wanita penghibur yang dibawanya didalam kamar Club-ku dan disana.."
Brayen seraya mual membayangkan ceceran darah dan dagging manusia malam itu. Ia tak pernah menyangka Kakak Day dan Kakak Zua akan sekejam itu.
"Disana menjadi tempat pembantaian. Kakakmu sangat menyeramkan dan terus meminta korban, apalagi aku.."
"Lien! aku pergi dulu. ada hal penting yang ingin ku urus." pamit Whuang mengelus pipi mulus Lien membuat pria itu menggelinjang menatap kepergian Whuang yang berkedip nakal.
"Shitt! aku tak sabar membawanya ke ranjang-ku." desis Lien memeggangi pipinya sementara Brayen memijat pelipis. Bagaimana cara ia mengatakan kalau Whuang malam itu ada bersama Kakak Day?!
Sementara Whuang. Wanita cantik seksi itu sudah keluar dari Gerbang dengan para penjaga Perusahaan hanya diam menatap tajam mengendalikan mata nakal pada wanita cantik itu.
"Sial!! kenapa harus dengan Kakaknya? pasti dia miskin karna tak disayangi Ayahnya." umpat Whuang melangkah menuju Mobil. Ia tak perduli dengan pandangan beberapa pengendara dan para pejalan kaki didekatnya karna ia sudah emosi sekarang.
Ia membuka pintu Mobil abu Travita keluaran Swedia itu dan masuk menduduki kursi kemudi. Kay yang sedari tadi menunggu segera bergelut di paha putih Nonanya menikmati kulit lembut dan aroma harum itu.
Kay mengeong lembut lembut membuat Whuang tersenyum kecil melajukan mobilnya meninggalkan lingkungan Perusahaan besar ini. Whuang hanya menatap lurus kedepan memilih jalan yang agak sepi dan dekat dengan hutan karna ia butuh ketenagan dari alam.
"Saatnya santai."
Gumam Whuang mengambil batangan rokoknya seraya satu tangan mengemudi dan menyesap benda mahal itu menikmati perjalanan ketenagan. Rokok yang di hisap Whuang bukanlah rokok sembarangan. Bahan penyusunnya ini tak berbahaya karna hanya rasa buah, aromanya juga harum memiliki asap jika dibakar tapi hanya dipermainkan bibir manisnya menjadi gelembung-gelembung putih.
Lama Whuang berkendara melewati tepian hutan mencari kesegaran. Ia membuka kaca jendela mobil seraya melihat kehijauan alam karna ini memasuki musim dingin jadi ia bebas merasakan sejuk angin menjelang siang ini.
Brakk...
Whuang terkejut saat ada yang menabrak mobilnya hingga dengan cepat tangan lentiknya memutar kemudi dan menginjak rem agar berhenti.
"Sial!!" umpat Whuang keluar dari mobil masih saja merokok melangkah kedepan bagian Mobilnya dan..
"T..tolong!"
Whuang terhenyak melihat seorang pria berlumuran darah dengan satu tangan yang buntung. Wajahnya penuh cakaran dengan baju sudah koyak.
"Apa kau dikejar binatang buas?"
"T..T..long." lirih Pria itu terkapar tak berdaya membuat Whuang mendekat ingin menyentuh bahunya tapi suara langkah kaki dari samping hutan membuat mata Whuang menajam.
Benar saja. Ada tembakan menuju kearahnya membuat Whuang dengan cepat meloncat indah keatas Cup mobilnya tanpa oleng sama sekali.
__ADS_1
"T..long!" pria itu histeris melihat 5 orang berpakaian hitam dengan lengan penuh tato itu mendekat mengacungkan pistolnya kearah Whuang yang hanya diam tetap waspada.
"Siapa kalian?" tanya Whuang tegas dan menantang.
"Bukan urusanmu!"
Geram mereka mendekati pria itu tapi Whuang dengan kilat melempar Heelsnya mengenai lengan para pria yang mengacungkan pistolnya itu.
Whuang begitu gesit melompat mengambil dua pistol yang terlempar kearahnya dan kembali mengacungkan berlawanan.
"Kalian siapa??" tanya Whuang lagi mengancam berdiri membelakangi Pria penuh luka tadi. Rokoknya sudah jatuh karna terlalu lincah bergerak.
5 Orang pria gelap itu saling pandang menatap Whuang yang berpenampilan luar biasa dengan wajah cantik bak Macan betina.
"Kau berani!"
"Tentu! kenapa kalian menyerangnya? apa salahnya?"
"Bukan urusanmu!"
Mereka melesat menyerang Whuang dengan cakaran tajamnya membuat Whuang gesit memutar tubuh menghantamkan kaki jenjang yang sangat berbahaya membuat mereka meringis sakit.
Tak cukup disitu saja. Whuang bertolak melalui bamper mobil dan memberikan tinjuan panasnya ke wajah satu pria dihadapannya lalu menendang bagian sakral yang pasti berdenyut.
Bughh...
Mereka terhuyung akibat kelincahan tubuh Whuang berputar lentik seakan mengetahui titik tumpu dalam pertarungan.
"Aroma daging? kenapa sangat kental?"
Batin Whuang aneh. Ia mengamati lengan para pria ini dipenuhi tato dan ia cukup syok saat jempol mereka sudah hilang alias buntung.
"Kalian siapa? para pria cacat!"
"Mulut mu!!!"
Geram mereka kembali melesat melawan Whuang yang kembali bertarung sengit. Lengan panjang dan lincah itu terus memukul tapi Whuang juga mengalami cakaran di mantelnya merobek pakaian hingga ia muak langsung menembakan pistol ditangannya.
Dorrr.....
"Sialan kalian!!" .
Umpat Whuang setelah melepas tembakan mengenai dada satu pria itu dengan darah keluar membuat pria dibelakang Whuang memucat. Ia tahu Klan ini tak akan bisa mati hanya dengan satu tembakan.
"T..tembak l..lagi "
Whuang ingin menembak tapi tiba-tiba ada suara berat dan kelam disampingnya membuat Whuang terkejut.
"Lepaskan pistolmu!"
Degg...
"Suara itu?"
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..