
Mereka semua terkejut dengan jawaban tegas yang keluar dari mulut Daychi terutama Whuang yang melotot bak tersambar petir di malam hari ini.
Ia benar-benar tak menyangka begitu juga Lien yang masih mencoba memahami apa yang dimaksud Daychi dan Ayahnya.
"K..Kalian!"
"Kakakmu Daychi yang akan menikahi. Whuang!" tegas Tuan Khang membuat Lien menggebrak meja.
"Apa-apa'an ini?!!"
"Lien!" geram Tuan Khang mendingin tapi Lien tak perduli. Ia yang ingin menikahi Whuang lalu kenapa Kakaknya yang mendapatkannya.
"Aku tak setuju! ini bukan main-main, Ayah! aku menyukai Whuang dan dia akan menikah denganku." bantah Lien keras.
"Itu yang terbaik untukmu."
"Tidak! aku tak mau."
Lien memeluk tubuh Whuang erat dan posesif membuat Nyonya Mieng terdiam rumit. Ia tak tahu kalau respon Lien akan seperti ini.
"Lien! Kakakmu akan menikah besok."
"Aku tak mau! kenapa kalian tak adil begini?!" bantah Lien membuat suasana mendingin. Daychi masih diam memandang kelap Whuang seakan menuntut wanita itu agar keluar dari pikiran adiknya.
"Itu keputusanku! besok mereka menikah!"
"Tak ada yang boleh tahu pernikahan ini." sambung Daychi membuat Nyonya Mieng terperanjat. Bahkan, wanita paruh baya itu menatap tak setuju Daychi.
"Day! pernikahan bukan permainan."
"Ibu! tak ada yang tahu aku bagian keluarga Yuchin. dan aku juga tak ikut ambil dalam urusan kalian." tegas Daychi membuat Whuang membatin geram.
..."Berarti Pria ini bukan pewaris. Yuchin! dia pasti tak sekaya. Lien"...
Batin Whuang menatap jijik Daychi yang hanya mempertahankan wajah datarnya. Terserah yang terjadi kedepannya yang jelas ia tak ingin Lien masuk dalam jebakan wanita ini.
"Aku tak mau! Whuang akan menikah denganku." bantah keras Lien merubah wajahnya gram dan begitu tak setuju. Kelabut pemberontakan itu membuat Tuan Khang mulai sulit mengontrol emosinya.
"Ingat Lien! kau kebanggaan Keluarga Yuchin! kau aset utamaku."
"Ayah! kenapa lau selalu mengaturku? aku sudah dewasa dan aku bisa membuat keputusan sendiri!"
Brakkk..
Para pelayan sana memucat saat Tuan Khang sudah menggebrak meja hingga semuanya diam. Lien bungkam dengan kepalan tangan menguat merasa begitu terluka akan keputusan Ayahnya.
"Pergi ke kamarmu!" kelap Tuan Khang membuat darah Lien mendidih masih enggan pergi.
"PERGI!!!!"
Whuang terdiam bersama Nyonya Mieng yang berkaca-kaca ingin menyentuh lengan putranya tapi Lien menepisnya kasar. Mata pria itu merah menahan emosi yang meluap ke kepalanya.
"L..Lien!" gumam Nyonya Mieng memelas jangan menyulut amarah suaminya.
"Kau bajingan. Kak!"
Umpat Lien pada Daychi seraya melempar piring makannya ke lantai dan melangkah pergi. Daychi hanya menatap datar seakan tak ambil pusing tapi percayalah ia juga sakit melihat pria muda itu harus mengalami ini.
__ADS_1
Seketika semuanya hening. Whuang jadi merasa bersalah melihat manik tulus Lien yang terluka karna rencananya. Ia tak menyukai Lien atau pria manapun tapi ia menghancurkan hati pria itu.
"Apa ayahmu sudah tahu tentang rencana pernikahanmu?" tanya Tuan Khang pada Whuang yang terdiam sesaat mengambil nafas halus.
"Ayah mengetahui hubunganku dengan Lien! dan dia setuju. kalau untuk Kakaknya aku tahu."
"Nak! apa kau setuju menikah dengan Putraku Day?" tanya Nyonya Mieng memeggang bahu Whuang lembut.
"Dia tak bisa menolak! itu ketetapan yang harus dilakukan." tegas Tuan Khang membuat Nyonya Mieng agak tersentak.
"Suamiku! bagaimana dengan Lien? dia pasti sangat sakit hati."
"Itu hanya sesaat! dia hanya ingin bermain dengan para wanita, termasuk wanita ini."
Whuang terus menahan suara pedas itu. Ia sebenarnya muak bertemu manusia angkuh di Keluarga ini tapi apalah dayanya yang dipaksa keadaan.
"Kau tentukan sekarang. menikah atau tetap menikah." tekan Tuan Khang seakan begitu menginginkan Whuang bersama Daychi yang mengepal.
"Tapi.."
"Kau tenang saja. aku akan memberi hadiah pernikahan yang sangat mahal untuk itu."
Whuang diam. Masalah soal uang pasti Ayahnya setuju walau nanti ia akan disuruh membunuh Daychi tapi masalah. Yang jelas uang lebih penting.
"Baiklah!"
"Cih! hanya uang di kepalamu." sahut Daychi berdecih jijik tapi Whuang masa bodoh. Ia hanya santai membuat Nyonya Mieng agak heran dengan sifat Whuang yang sulit ditebak.
"Kau akan menikah dengan Daychi besok! pastikan semuanya tak tercium awak media. Datanglah ke Klenteng Pouchu di selatan."
"Baik!"
Begitu juga Daychi yang saling tatap penuh rencana dengan manik licik keabuan Whuang. Ia sudah memikirkan ini sebelumnya. Whuang tak akan bernafas lama bersamanya.
"Lihat saja. sampai kapan kau bertahan bersamaku."
Batin Daychi mengibarkan peperangan. Whuang pantang disulut api sudah berkobar dari matanya. Yang jelas ia tak akan membiarkan Daychi bernafas normal bersamanya.
"Bu! aku pergi!" pamit Daychi ingin bangkit dari kursinya tapi terdengar suara pecahan barang-barang diatas sana dan itu jelas siapa yang tengah mengamuk melampiaskan kemarahannya.
"Pergilah. biar Ibu yang bicara dengan Lien." sambung Nyonya Mieng memberi jalan tengah.
"Aku tak setuju!!!! kalian semua tak adil!!!" Suara Lien menggema diiringi pecahan semua barang dilantai kamarnya.
"Biarkan aku menemuinya." ucap Whuang berdiri tapi Daychi lebih dulu melangkah menuju tangga keatas sana.
"Pergilah susul dia!"
"Baik. Nyonya!"
Whuang melangkah stabil mengikuti Daychi dengan Zuan yang membuntuti mereka. Ia hanya waspada jika Tuan Khang merencanakan penyerangan para Sersan-nya karna pria itu sangat licik.
Prankkk ..
Suara pecahan kaca dari kamar atas berpilar itu. Para pelayan sudah berdiri didepan kamar Lien yang mempunyai ukiran gradasi indah jantan.
"Tuan!"
__ADS_1
"Pergilah!" titah Daychi hingga mereka membungkuk lalu melangkah pergi berpapasan dengan Whuang hanya menatap datar berdiri dibelakang punggung kekar sempurna Daychi.
"Lien!" suara Daychi tegas berdiri didepan pintu kamar yang meredam suara amukan itu.
"Kenapa kau lakukan ini. ha??? kau brengsek. kak!!!"
"Buka pintu kamarmu!"
"Pergi saja kau dari hidupku! kau selalu merusak apapun yang ku mau!!!" maki Lien dari dalam sana dengan suara tak bersahabat membuat wajah Daychi mengeras tanpa buang waktu menerjang pintu itu dengan kaki kokohnya membuat suara tabrakan keras menarik keterkejutan Whuang.
"Kakak!!!!" bentak Lien dari dalam sana membuat suasana seketika mendingin.
"Woww! sangat tempramen."
Batin Whuang menelan ludah kasar melihat serakan kayu-kayu mahal itu di lantai. Dimatanya itu semua berbentuk uang yang disia-siakan.
Lien tampak berdiri ditengah-tengah pecahan batang dan kaca dari Vas bunga. Wajah pria itu juga terlihat meradang menatap kelap Daychi yang berdiri tegap didepan pintu.
"Kenapa kau kesini? seharusnya kau senang dengan semua ini." ketus Lien membuat Daychi menggeram. Tapi, ia tak bisa membuat Lien mengerti tentang posisinya.
"Kau belagak membenci Whuang! tapi diam-diam kau ingin merebutnya dariku!!"
"Omong kosong!" umpat Daychi melangkah mendekat menyipak serpihan kaca itu agar tak mengenai Lien yang sangat ceroboh.
"Kau menyuruhku menjahuinya! lalu apa sekarang?"
Daychi hanya diam menyingkirkan barang-barang tajam itu kasar sesekali mendorong Lien menyingkir membuat Whuang mematung diam merasa heran. Apa pria gila ini begitu sayang pada adiknya? atau dia sudah tak normal.
Lien terus Daychi dorong kasar menjahui pecahan beling sampai membuat wajah tampan pria itu sendu menatap kearah Whuang yang hanya diam.
"K..Kak!"
"Hm."
Daychi melihat setiap sisi ruangan yang luas tapi sudah seperti kapal pecah.
"Jangan nikahi Whuang!" lirih Lien memeggang lengan kekar Kakaknya dengan suara tak rela. Ia baru kali ini ingin menikah tapi malah ditentang Ayahnya.
Daychi menghela nafas menatap dingin Lien yang begitu berarti baginya. Ia ingin adiknya bahagia tak seperti dulu di masa lalu tapi Whuang bukan wanita sembarangan untuk di nikahi pria seperti Lien.
"Kali ini berikan dia padaku!"
"Kak! kau memang seperti ini. ya?" senyum miris Lien tercipta mendorong bahu kekar Daychi yang tak bergerak sama sekali dari tempatnya.
"Kau sama saja dengan Ayah! aku pikir kau berbeda."
"Lien!" panggil Daychi pada Lien yang sudah pergi menuju pintu kamar mandi dan membantingnya keras membuat Daychi ingin menghancurkan segalanya.
"Dia benar. kau itu hanya duri dalam daging."
"Kauu!!!"
Whuang berdecih lalu melangkah pergi membuat Daychi ingin merobek mulut indahnya itu. Sudah berapa kali Whuang menghinanya sampai serendah ini.
"Sersan! ini Kediaman Nyonya. kendalikan diri anda " ucap Zuan menengahi amarah Sersannya.
"Dia pandai bersandiwara! wanita jajahan itu memang ingin mati." umpat Daychi menatap kepergian Whuang dengan kelap. Setiap bertemu wanita itu darahnya selalu dibuat mendidih panas seakan Whuang selalu memancing sikap temperamental.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..