Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Ingin melihatmu sebentar saja!


__ADS_3

Pandangan manik abu itu kosong dengan keterkejutan yang telah menenggelamkan kesadarannya dalam kegelapan dan rasa tak terjabarkan.


Whuang diam dengan tetesan air mata turun mencoba mencari kebohongan dari mata Tuan Jirom yang sama sekali tak bercanda.


"K...Kau..."


"Kau bukan anakku. bahkan, kita tak memiliki hubungan apapun. Whuang!" ujar Tuan Jirom membelai kepala Whuang lembut mempermainkan hidup wanita itu. Tak ada rasa kasihan sedikit-pun mengungkapnya sama sekali.


Tak ada kata yang keluar dari bibir pucat Whuang yang terlihat tak mampu berbuat apapun. Tubuhnya yang penuh luka hanya dibiarkan karna ia sudah lelah.


"Kau ku temukan diatas kayu yang diambang lautan dan aku sangat berbaik hati mengambil-mu, dan membuat kau hidup sampai sekarang. tapi kau? Cih!"


Tuan Jirom berdecih langsung mencengkram rambut panjang Whuang kasar membuat wajah lebam bengkak dan sudut bibir koyak itu terkadah menatap nanar dirinya.


"KAU MENGKHIANATIKU!"


"J..jadi kau..."


"kau memiliki tubuh yang sempurna dan sangat spesial. darah-mu yang bisa menyembuhkan luka itu sangat berguna untuk semua penelitianku. lagi-pula, putri-putriku tak ada yang berguna."


Ucapan Tuan Jirom benar-benar mencabik dada Whuang yang semakin mencengkram kuat. Sakit, nyeri bahkan ia kembali seperti malam itu merasa linglung dengan hidupnya sendiri.


"K..Kenapa?" bibir Whuang bergetar dengan isakan yang lolos.


"Karna kau begitu berharga bagiku! kau bisa memberikan aku apapun termasuk kekayaan yang bahkan anak dan istriku tak pernah memberikannya."


"Kau..." Whuang tersentak saat menduga hal apa yang dilakukan manusia iblis ini pada para saudara dan istrinya.


"Aku menjadikan mereka sepertimu "


Degg....


Whuang terkejut dengan wajah tak percaya akan apa yang tengah dinyatakan padanya. Jadi.. jadi mereka..


"KAU BRENGSEK!!!!" maki Whuang keras mendorong Tuan Jirom menjauhinya sampai cengkraman pria itu terlepas diikuti tawa keras Tuan Jirom.


"Kenapa??? kenapa kau melakukanya??? mereka anak dan istrimu!!! kau gila!!!!"


"Yahh!!! aku memang sudah gila. Whuang." desis Tuan Jirom ditengah manik abu berair itu mengigil tak mampu membayangkan apa yang telah dilakukan iblis ini pada darah daging dan istrinya sendiri.


"Mereka...mereka anakmu, dia istrimu!!! kenapa kau lakukan ini. ha??? mereka tak salah apapun!!!"


"Mereka yang membocorkan penelitianku sampai aku di keluarkan dari Leb terbesar yang menjadi pasokan keuanganku!!! aku sangat membenci itu." geram Tuan Jirom sudah muak hingga ia jadikan anak dan istrinya sebagai alat lama sebelum Whuang ada.


Whuang merasa sangat hancur. Ia kira hanya ia yang mengalami penderitaan seperti ini tapi ternyata, saudara-saudara yang dulu menemaninya meninggal karna kekejaman Ayahnya sendiri.


"Kau bajingan!! aku...aku tak masalah jika kau menyiksaku, tapi ..tapi mereka anakmu!!! mereka juga menyayangimu. dan .dan kau .."


"Aku membebaskan mereka dan tenang sampai sekarang diatas sana. jangan khawatirkan itu. hm?"

__ADS_1


Whuang mencengkram tanah dibawahnya dengan kuat. Matanya mengigil menahan semua kesakitan dan amarah itu menatap Tuan Jirom dengan jijik dan sangat muak.


"Kenapa? kau ingin menyerangku atau membunuhku? apa bisa?" tanya Tuan Jirom remeh tapi Whuang sudah mengepalkan tanah itu di tangannya.


"Kau bukan manusia." gumam Whuang perlahan bergerak melawan semua rasa sakit di fisik dan jiwanya. Darah itu deras keluar tapi ia tak perduli lagi akan semua ini.


"Lihat! bergerak saja kau susah. Whuang! jangan sok kuat dihadapanku. itu sangat menjijikan."


"Enyahlah dari dunia ini!!!"


Whuang melempar tanah ditangannya ke wajah Tuan Jirom yang terkejut saat tanah itu masuk kedalam matanya. Whuang berusaha berdiri berpeggangan ke pohon disampingnya walau tertatih-tatih menyangga tubuh.


"Sialan!!!" geram Tuan Jirom mengusap kedua matanya yang perih membuat Kay segera bersiaga didekat Whuang.


"Aku bersumpah! aku tak akan mati sebelum membunuhmu."


"Kau tak bisa bergerak tapi masih berusaha memberontak. Dasar wanita menjijikan."


Whuang malah terkekeh kecil mendengar makian Tuan Jirom. Tak lagi sakit yang ia rasakan melainkan hanya sebuah ambisi yang memakan semangat hidupnya.


"Aku...aku memang menjijikan. bahkan, kau tahu jika di dunia ini tak ada manusia semenyedihkan sepertiku."


Tuan Jirom berusaha menatap Whuang yang terlihat sudah tak bisa dikatakan baik. wajah cantik sembab itu tampak kacau dengan lebam di mana-mana beserta tubuh yabg dipenuhi cakaran dan cabikan rantai.


"Apa yang bisa kau lakukan dengan kondisi seperti ini?"


Whuang menyeringai mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Ia bersandar ke pohon dibelakangnya menatap Tuan Jirom dengan pandangan misterius.


"Sss..Siall!!!" geraman Tuan Jirom meraba pipinya yang mengeluarkan darah sementara matanya masih belum bisa melihat dengan jelas. Whuang memang bisa memanfaatkan keadaan seperti ini.


"Sakit? apa sakit?"


Whuang menerjang punggung Tuan Jirom kuat sampai tersungkur ke tanah sana beriring dengan tubuhnya oleng juga ikut jatuh.


"Aku ..aku tak akan membiarkan kau h... uhukk!!!"


Whuang langsung terbatuk menyburkan darah segar di mulutnya dengan tubuh yang tiba-tiba dijalari rasa sakit lebih dari yang tadi.


"A..ada apa ini?"


Batin Whuang memuntahkan darah-darah merah itu membuat seringaian Tuan Jirom mekar. Ternyata racun itu sudah mulai bekerja memakan organ-organ dalam sana.


"Kau tahu apa artinya itu. hm?" desis Tuan Jirom membuat Whuang menatap nanar darah yang mengalir di mulutnya lalu beralih memandang Tuan Jirom yang berdiri mengusap pipinya sendiri.


"K..Kau..."


"Kau harus kembali padaku!"


"T..tidak! aku...aku tak akan sudi!!!" bentak Whuang menahan sakit disekujur tubuhnya. Kenapa? kenapa tubuhnya jadi seperti ini? sakit yang ia rasakan kembali seperti malam itu.

__ADS_1


"Whuang! siapa lagi yang mau melindungimu?! Pria itu memang licik menyadap pembicaraanku. tapi, aku sudah menghancurkan benda itu sebelum memberi tahu informasi lebih akurat. dan hasilnya, aku bisa mempermainkanmu." ucapnya sangat puas melihat respon Whuang. Daychi memang tak mudah ia akali dan ia membutuhkan Whuang untuk rencana lebih besar selanjutnya.


"A..Aku tak akan pernah mengikutimu!!!" bantah Whuang keras.


"Kau tak punya pilihan lain. Whuang! kau sudah ku tanami racun kematian dari kecil."


Degg...


Mata Whuang terbelalak mendengar ucapan Tuan Jirom yang mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


"Kau masih ingat ini?"


"P..pil.." gumam Whuang melihat itu dibawah sinaran rembulan yang menuntun matanya.


"Yah. ini bukanlah Pil Vitamin yang ku katakan, tapi ini. adalah Racun yang sama membunuh MEREKA."


Ssketika nafas Whuang tercekat dengan wajah semakin memucat.


"Jika kau mau berumur panjang. maka, datanglah padaku! jika tidak..." Tuan Jirom menghentikan kalimatnya menyimpan kembali Pil itu.


"Siap-lah mereggang nyawa dengan cara yang menyeramkan."


Tuan Jirom pergi kearah semak-semak sana lalu menghilang dikegelapan meninggalkan Whuang yang gemetar meraba bibirnya yang dipenuhi darah kental.


"I...ini..." Whuang bergetar mengingat ucapan Tuan Jirom tadi yang benar-benar membuatnya pupus dan jatuh. Apa ia akan mati? ia harus apa?


Pandangan Whuang bergulir menatap kearah rembulan diatas sana. Masih saja sama indahnya seakan mengejek nasib buruknya.


"K..kau senang?" gumam Whuang tersenyum kecil menertawakan hidupnya. Ini sangat menggelikan sekaligus tak adil. Ia belum merasakan apapun di dunia ini selain kebohongan dan kepedihan, lalu kenapa secepat ini?


"Cih! K..Kay... kau dengar yang dia katakan tadi? sebentar lagi aku akan bebas. aku ..aku bebas."


Kay tak tahan melihat kerapuhan Nonanya sampai mengalihkan wajahnya tapi Whuang senang. Ia bahagia bahkan senyuman itu diiringi dengan air mata yang bercampur aduk.


"Kakak!! Ibu!!! kalian dengar itu?? aku...aku akan bebas!!! aku...aku akan bebas. Ibu!!!" teriak Whuang melepaskan bebannya sampai Kay menunduk menutup matanya.


"Aku ..Aku bebas!!! hiks, aku...aku tak akan di permainkan lagi Bu! hiks, tak akan lagi-kan?" isak Whuang diakhir kesenagannya sampai pada isakan yang lolos dengan jiwanya yang lelah.


"Kenapa??? kenapa harus selama itu? ambil aku sekarang!!! aku sudah lelah!!!! aku lelah, Bu hiks. aku sudah tak bisa disini!!" jerit Whuang membelah malam lalu ia merasa kepalanya sangat pusing. Tiba-tiba tubuhnya dijalari panas yang membuat pandangannya menghitam.


"K..Kay!" lirih Whuang mencengkram kepalanya yang berat. Ia menatap kesekelilingnya tak tahu harus kemana.


"Ichi!"


Hanya nama itu yang terlintas di kepala Whuang yang semakin merasa tertikam tapi ia sadar, ia tak mungkin lagi bertemu dengan Daychi. Tapi, hati Whuang berkata lain. Ia ingin melihat Daychi sekali saja sebelum mengakhiri semua ini.


"Aku...aku ingin memelukmu. s..sekali saja, y..yah.. setelah itu..aku...aku janji tak akan menggangumu lagi. tak akan." gumam Whuang mengusap darah di mulutnya lalu memaksakan langkah untuk berdiri walau ia kerap terjatuh tapi wajah Daychi terbayang olehnya.


"Aku ..aku ingin melihatmu sebentar. aku...aku ingin memelukmu untuk yang terakhir."

__ADS_1


.........


Vote and Like Sayang..


__ADS_2