Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Luka yang sangat misterius!


__ADS_3

Mereka semua saling pandang bingung akan ucapan Zuan barusan. Jelas jika anggota yang ikut malam itu tak ditugaskan disini hingga mereka begitu mencari jawaban. Apalagi respon Sersannya terlihat sangat terkejut dan tak seperti biasanya.


"Selamat atas kemenangan-mu. Sersan!" ucap Zuan membungkuk dihadapan Daychi yang seakan terlempar dengan keras. Matanya termenung kosong dengan pikiran membayang.


J..jeritan malam itu? a..apa... apa Whuang?


"Anda sangat luar biasa. aku sangat kagum akan kelicikan anda yang selalu bekerja selama ini."


"Kau.."


Zuan tersenyum na'as membungkus rasa kecewa. ntah kenapa setiap perlakuan kasar pada Whuang maka ia terasa terbeban dan ikut mengalaminya.


"Apa dia tak pernah mengatakan itu?"


Daychi tak menjawab. Ia langsung melangkah cepat ke mobilnya dengan para anggota bersiaga memberi jalan Daychi yang sudah masuk kedalam mobil dan melajukan benda itu agak cepat dan terburu-buru.


Melihat mobil Daychi sudah menuju gerbang besar Zuan menatap Fang yang mengerti mengangguki isyarat Zuan yang juga masuk dalam mobilnya.


"Kau jaga disini. aku bersama Sersan."


"Baik!"


Jawab Fang memandangi mobil Zuan yang sudah tancap gas mengikuti mobil Sersannya yang sudah menghilang. Helaan nafas panjang Fang muncul kembali menatap mobil ini.


"Apa waktumu hanya sesingkat ini. padahal aku masih ingin melihat watak galakmu." gumam Fang menatap mobil yang hancur. Whuang memang menyebalkan tapi wanita itu berbeda dari wanita-wanita yang pernah dibantai Sersannya.


Tatapan mata tajam yang terlihat berkobar semangat dan penuh ambisius. Dia pekerja keras terlihat dari gaya bicara dan gesturnya dalam mengekspresikan setiap keadaan.


"Aku harap kau bisa meluluhkan Sersan! walau dia itu sulit melupakan Xiaojie."


Sambung Fang menghela nafas. Ia yakin keberadaan Xiaojie manis hangat itu tak akan bisa digantikan siapapun.


........


Mobil Daychi melesat cepat melewati jalan yang tak terlalu ramai. Hari ini ada Festival Hacurei dimana peragaan senjata tradisional China dipentaskan bersama pakaiannya jadi mereka berkumpul di Garena Festival sedangkan jalanan tepi kota lumayan sepi.


"D .Dia.."


Daychi masih membayang ucapan Zuan barusan. Ia menancap gas menuju Markas besar kedua selain yang di Jepang. Pikiran Daychi tengah berkecamuk bak benang kusut mencari kebenaran dari apa yang dulu menghantuinya.


"Bagaimana bisa? dia ...dia masih.."


"Siall!!!" umpat Daychi lagi terus memacu cepat. Ia sudah mahir dalam hal seperti ini hingga lolos dalam halangan jalur apapun. Dalam sekejap saja Daychi sudah masuk dalam area Anibu di hutan yang merupakan daerah Markas besar kedua Ryoto.


Zuan yang mengikuti dari belakang-pun heran. Kenapa Sersannya masuk ke wilayah Markas? apa terjadi sesuatu?

__ADS_1


"Aku tak bisa menebak isi pikirannya."


Gumam Zuan sudah masuk salam Gerbang Markas dengan para anggota berpakaian hitam di penuh tato naga itu sudah menjaga ketat berjejer di sepanjang Hutan Bambu hijau yang lebat.


"Sersan!!!!"


Mereka semua menunduk menerima dedaunan yang terhempas dikala Ban Mobil mewah itu melesat melewati mereka dan berhenti tepat didepan sebuah bukit dimana ada bangunan dibawahnya.


"Sersan!" pria dengan pipi penuh jahitan itu mendekati pintu Mobil yang terbuka memperlihatkan wajah kelam Daychi yang mengecam nyawa.


Daychi hanya melewati Gamaru yang mengerti langsung mengikuti Sersannya. Dua penjaga membuka pintu di kaki bukit hingga terlihatlah ruangan gelap remang cahaya dengan lorong yang panjang.


"Kalian berjaga!"


"Baik!"


Zuan menyusul dari belakang menapaki lantai dingin ini. Hanya ada lampu diatas atap datar berlapis besi itu dan kiri kanan mereka juga besi baja menopang perut bukit.


"Sampai saat ini belum ada kabar dari Dokter Dige dan Rekan Taname." ujar Gamaru mengikuti Daychi dari belakang. Mereka melangkah masuk semakin dalam melewati tangga pendek menuju ruangan atas yang tak begitu jauh.


"Dige!"


Suara Daychi tepat berhenti didepan sebuah pintu besi yang tampak tertutup rapat dengan sistem yang tepat. Tak berselang lama dari Daychi memanggil pintu baja itu terbuka hingga menampakan sosok pria paruh baya dengan pakaian santai biasa dan sorot mata tunduk.


"Sersan!"


"Lukanya tak terlalu parah. tapi ada hal yang lebih serius."


"S..Siapa?"


Zuan langsung melangkah mendekat membuat Gamaru diam melempar pandangan kearah sang Sersan.


"Aku ingin menemuinya."


"Untuk saat ini dia belum sadar."


Daychi langsung tersentak ringan. Bagaimana bisa? jelas jika ia tak membiarkan kulit wanita itu tergores parah sama sekali.


"Maksudmu?"


"Ini sangat aneh. di Lab-pun anggota kebingungan kenapa tak ada yang terlihat di sel darahnya? padahal anda bilang dia kesakitan. Sersan!"


Zuan yang mendengar itu seketika terhenyak menatap Daychi yang tengah dilanda kebercamukan. Apa yang dimaksud mereka itu Whuang? tapi kenapa tadi..


"Aku akan menemuinya."

__ADS_1


Daychi masuk mendorong pintu dengan Dokter Dige yang membuntutinya hingga terlihatlah ranjang besar yang menampung tubuh seseorang diatasnya.


"S..Siapa?"


Zuan mencoba mencari disela tubuh Dokter Taname yang juga memeriksa menutupi separuh tubuh sosok itu. Apalagi ia tak bisa terlalu menerobos ditengah kondisi ini.


"Aku bingung. kemaren ada racun misterius yang diuji di Lab-pun hasilnya tak jelas. dan sekarang kenapa wanita itu kesakitan tak ada penyebab?"


"Itu siapa?" tanya Zuan serius membuat Gamaru memejamkan matanya pelan.


"Aku tak tahu. semalam Sersan membawanya dalam keadaan yang lemah."


"Sersan?" gumam Zuan mencari jawaban hingga ia tersadar lalu menatap punggung kekar Daychi yang berdiri di tepi ranjang besar itu.


"Shitt! kenapa aku terlalu panik sampai tak berfikir jernih." umpat Zuan memukul kepalanya kesal membuat Gamaru membuka mata pelan.


"Mungkin kau juga menyukainya."


"Kau .."


Zuan tersentak dengan ucapan Gamaru yang terlihat memerah membayangkan wajah cantik itu. Ia tak pernah sebelumnya melihat wanita yang memiliki kesan yang pedas tapi sangat mempesona.


"Kau jangan bermain-main." geram Zuan mengepal.


"Kenapa? Sersan perduli hanya karna ada maunya. kau tahu sendiri dia bagaimana." jawab Gamaru enteng. Tapi menang benar jika hati Sersan Naga itu hanya akan dikunci oleh satu orang dan Daychi-pun bersumpah untuk tak mencintai wanita lain atau tidak kutukan itu akan menimpanya.


"Secantik apapun dia tak akan pernah bisa menggantikan setangkai bunga yang disimpan bertahun-tahun. Luka lama belum sembuh dan untuk apa membuat luka baru?"


Mendengar itu Zuan cukup tersentak. Ia baru sadar jika keadaan tak berpihak pada Whuang. Wanita malang itu tak akan pernah mendapatkan posisi yang sebenarnya dan akan tetap dalam bayang-bayang masa lalu.


"Ingat Zuan! Spesies seperti itu hanya ada 3 didalam hidup Sersan."


"Itu.."


"Nyonya besar, Xiaojie dan Queen kecil."


Zuan mengambil nafas dalam menatap nanar ranjang itu. Aku mengerti. sekuat apapun pengaruhmu kau hanya akan menyaksikan masa lalu, aku berharap kau..


Tatapan Zuan beralih pada Daychi yang terlihat merespon datar.


"Kau tak akan memberikan hatimu pada Iblis satu itu."


.....


Vote and Like Sayang .

__ADS_1


__ADS_2