Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Dua cara!


__ADS_3

Gelap yang tadinya menyelimuti langit diatas sana. Tampak sudah mengurai menjadi bayang-bayang mentari yang bersembunyi dibalik awan gelap mendung menampung tangisan.


Mentari tak begitu tampak. Angin yang biasa agak kencang sekarang tiba-tiba beralih tenang seakan sudah lenyap senantiasa mengisi ruang kosong di mata setiap manusia yang sekarang tampak termenung masih ditempatnya masing-masing.


Lien terlihat diam bersandar di dinding dengan pandangan kosong. Tak ada satu-pun kalimat terlontar di bibirnya selain air mata mengering begitu saja.


"Lien!" lirih Brayen yang baru datang karna semalam ia pulang. Pagi ini ia kembali membawa pakaian ganti dan makanan tapi sepertinya tak ada yang ingin asupan pagi gelap ini.


"Dimana yang lain?" tanya Lien pada Fang yang terlihat tak bersemangat berdiri didekat Sofa.


"Zuan dan Sersan masih didalam! Team medis menyiapkan data untuk pemeriksaan."


"Tuan Besar?"


"Pergi!" Fang menghela nafas dalam. Semuanya seakan berubah dalam satu malam. Sekarang semuanya tak lagi tahu akan melakukan apa. Tapi, Tuan Khang bersedia mengurus pemakaman Whuang sambil menunggu hasil pemeriksaan nanti.


"Ouh. hm!" gumam Brayen seraya meletakan barang-barang yang ia bawa. Langkahnya terulur mendekati Lien yang belum juga bicara.


"Lien! bersihkan diri-mu dulu, aku bawa baju ganti." Lien sama sekali tak bergeming di tempatnya. Wajah kusut tak bertenaga itu sangat menyedihkan.


"Permisi!"


Suara dari pintu masuk hingga mereka semua menolah. Dahi Brayen mengkerut melihat sosok pria berwajah agak dewasa berdiri memakai kemeja hitam dan celana kerjanya tak lupa kacamata bertengger di hidung mancungnya.


"Kau siapa?" tanya Brayen tapi pria itu menatap Fang yang mengangguk mengerti.


"Ini Dokter Andra!"


"Dokter Andra?" gumam Brayen merasa tak asing. Sepertinya ia merasa familyar dengan nama itu.


"Yah. namaku Andra! aku di panggil oleh Tuan Sam untuk membantu pemeriksaan." jawab Dokter Andra tegas. Ia sudah tahu semuanya dari Natalia hingga ia tak mau membahas soal Whuang disini.


"Sebentar lagi Team medis kami akan datang. kau bisa melihat dulu ke dalam." ucap Fang mempersilahkan Dokter Andra masuk menuju kamar rawat Whuang semalam.


Fang mempersiapkan dirinya agar tetap tegar saat melihat sosok yang juga penting selama ini.


"Ganti bajumu! ini sangat dingin."


Fang segera mengalihkan pandangannya ke arah lain saat melihat Daychi tampak membersihkan wajah dan tubuh Whuang dengan air hangat. Paper-bag itu ada disamping ranjang dengan selimut sudah berganti bersih.


"Sial!!"


Umpat Fang nyatanya juga tak mampu bertahan melihat wajah pucat Whuang yang tak lagi bertingkah konyol dihadapannya. Tubuh wanita itu tampak kaku tapi Daychi enggan beranjak sedikit saja dari ranjang istrinya.


"Sayang! berhenti dulu muntahnya, kau tak menghargai usahaku." gumam Daychi terus mengelap darah yang keluar di hidung dan mulut Whuang. Tubuh wanita itu tampak semakin memucat hampir biru dengan pakaian telah diganti Daychi yang mengurusnya semalaman.


Seung dan Eva yang berdiri dibelakang Zuan tampak hanya diam menahan isakan, mereka tak menyangka akhir dari segalanya akan seperti ini.


Sementara Zuan. ia terlihat kacau bersandar di dekat ranjang menggenggam tangan lentik dingin adiknya Ia sama sekali tak tidur bersama Daychi hingga wajah dua pria itu muram dengan kantong mata terlihat jelas.


"Kalian bawa makanan?"


"I..iya!" jawab Seung dan Eva bersuara gemetar. Daychi menatap kotak makanan di sampingnya lalu memandang wajah bening seputih kapas Whuang.


"Kau mau makan ini? atau mau ku carikan yang lain. hm?" tanya Daychi merapikan rambut panjang istrinya. Ia tak mengurus dirinya sendiri tapi, pikiran dan akal sehat pria itu hanya tentang wanita ini.


"Kau tak suka? baiklah. akan ku carikan yang lain."


"S..Sersan!"


Lirih Fang tak sanggup dan ingin berbalik pergi tapi ternyata Team medis sudah kembali ke sini dengan wajah yang terlihat kembali diuji.


"Apa yang .."


"Kau pasti kedinginan. Sayang! itu karnanya aku melarangmu memakai pakaian terbuka, tapi kau sangat keras kepala."


Mereka menatap Daychi yang mengusap pipi Whuang dan menambah selimut lagi. Padahal itu percuma saja di lakukan.

__ADS_1


"Kalian sudah memberikannya pertolongan darurat?" tanya Dokter Andra yang melihat jika Whuang memang tak lagi ada.


"Dari data kehamilan Nona semalam. kami menemukan bahwa, sel-sel di tubuhnya yang masih berfungsi tiba-tiba melawan racun menuju rahim. Jaringan otot Nona mengeras di area perut dan sepertinya Nona memang sangat melindungi anaknya." jelas Dokter Taname yang semalam di pukuli Daychi karna menyentuh tubuh istrinya. tapi, itu semata-mata ia lakukan untuk melihat sejauh mana raga wanita itu bekerja.


"Bisa di bilang, Nona mengorbankan dirinya untuk menjaga stabilitas rahim miliknya." sambung Dokter Lizel pada Dokter Andra yang terdiam sesaat.


"Dari peralatan oksigen dan kabel jantung di dada Nona. kami membuat aliran kejut buatan agar janin di dalam perutnya bisa bertahan sampai saat ini. tapi, kami tak bisa menjamin untuk waktu ke depan." timpal Dokter Dige terlihat sudah merasa tak berguna. Mereka tak bisa menyelamatkan wanita sebaik Whuang.


Dokter Andra mengambil nafas dalam. Sulit baginya mempercayai bawah Sersan Arogan itu telah jatuh hati pada sosok wanita selain Natalia. Tapi, sayangnya hatinya kembali di hancurkan.


"Apa kita harus memaksa Sersan? kalau begini terus. dia akan semakin hilang akal. dan akan mengganggu perawatan Janinnya." Dokter Lizel melemah.


"Ikuti caraku!"


Mereka saling pandang saat Dokter Andra mendekati ranjang dengan berani. Dokter Taname yang sudah babak-belum hampir mati di tangan Naga Jantan itu sangat tersentak.


"Selamat pagi!"


Daychi menoleh. Seketika ia melihat Team medis yang semalam ingin memisahkannya dengan Whuang hingga rasa takut dan kepanikan Daychi meruak.


"Pergi dari sini!!!" bentak Daychi langsung memeluk Whuang kembali menatap siaga mereka semua. Dokter Andra melihat jelas jika emosi Daychi tengah kacau didalam sana.


"Maaf, Sersan!"


"Kau..kau pasti ingin melakukan hal yang sama dengan bajingan-bajingan itu!! iya-kan?" maki Daychi mengacungkan pisau buah yang tadi digunakan mengupas apel untuk Whuang.


"Sersan! aku rasa kau kenal aku?! aku Andra Dokter di bawah naungan Keluarga Bilions."


"Mau apa kau kesini?" tegas Daychi masih enggan percaya.


"Memeriksa Nona! sepertinya dia demam, dan tubuhnya terlihat pucat."


"T..tapi dia tak akan meninggalkan aku!" gumam Daychi mengecup pipi tirus itu lembut penuh cinta darinya. Dokter Andra tahu betul bagaimana rasa kehilangan orang yang sangat di sayangi dan bahkan begitu berarti disetiap nafasnya.


Aku tahu bagaimana perasaanmu. Sersan! karna itulah kenapa aku paham rasa sakit yang membuat keberanian-mu, akal sehat-mu. berubah menjadi ketakutan dan mengecoh dunia-mu sendiri.


"Y..yah. dia akan selalu bersamaku." Daychi tersenyum lebar. Di pandangannya Whuang hanya istirahat dan tidur. Istrinya terlalu lelah berjalan sendirian dan ia mulai sekarang akan menemaninya.


"Baiklah. jadi, apa saya boleh memeriksa. Nona!"


"Tapi jangan sekali-pun kau menyakitinya." tekan Daychi mengancam dengan sangat mengerikan. Dokter Andra mengangguk duduk disamping Whuang dimana Zuan masih enggan bergeming.


"Sersan! maaf, saya buka sedikit."


"Hm."


Dokter Andra mengambil Stetoskop dari Tasnya. Dari layar monitor wanita ini sudah tak punya detakan jantung tapi dari kabel medis yang tertanam di dadanya bisa membuat kejut sementara.


"Aku harus melakukan USG! janinnya masih bisa di selamatkan atau tidak. aku harus segera melakukannya."


Batin Dokter Andra membuat diagnosa. Dari kulit Whuang yang lepuh dan jaringan ototnya melemah bisa di pastikan efek racun itu. penawarnya hanya bekerja sesuai dosis tapi sayangnya tubuh Whuang tak lagi bertahan lama.


"Sersan!"


"Ada apa? apa ada yang serius? atau ..atau dia.."


"Nona harus di bawa ke rumah sakit besar. disana peralatan kami lengkap dan tak terbatas, lagi-pula. Anda juga harus di rawat." jelas Dokter Andra melihat luka di kening Daychi yang kering.


"Baiklah! tapi, dia akan bangun-kan?" harap Daychi begitu besar membuat Dokter Andra diam. Ia seperti melihat dirinya di masa lalu tapi ini lebih menyakitkan.


"Hm. anda tenang saja, dia tak akan meninggalkanmu!" kiasan bahasa yang tersimpan banyak makna di dalamnya.


Seketika Daychi berbinar. Ia mengusap pipi Whuang lembut menyampaikan kasih darinya.


"Sayang! kau tidur jangan terlalu lama, aku membutuhkan-mu. hm?" Daychi menghujami wajah wanita itu dengan kecupan penuh cinta. Ia membayangkan bagaimana kalau nanti ia akan kembali mengulang Moment sakral mereka di Altar?! ia tak sabar untuk mengatakan perasaanya.


"Kalau kau butuh apapun. kau bilang saja, semuanya tersedia!"

__ADS_1


"Baik. Sersan! sekarang, anda bersihkan diri dulu. Nona tengah sakit dan jika anda tak bersih-bersih maka.."


"Natalia!!"


Daychi memanggil Natalia yang baru saja datang habis mengurus anak-anak dan suaminya. Wanita itu terlihat tertegun menatap sang Kakak-nya yang terlihat berbeda.


"I..iya?"


"Kau duduk disini!"


Natalia diam menoleh kearah Sam yang ada di sampingnya. saat Sam mengangguk barulah ia mendekat dengan langkah kaku.


"Disini! jaga istriku sebentar, aku ingin ke kamar mandi."


"K..kak!" lirih Natalia mencengkram Dress hamilnya. Ia tak menyangka kalau Kakaknya akan bisa seperti ini.


"Hanya kau yang ku percaya! duduk disini!"


"Hm." Natalia mengangguk perlahan duduk menggantikan Daychi yang masih menggenggam tangan lentik Whuang.


"Sayang! aku mandi sebentar, kau tunggu aku sebentar lagi! jangan kemana-mana. mengerti?" tekan Daychi berdiri melangkah cepat menabrak pintu kamar mandi sebegitu terburu-buru.


"Jaga dia!!!! dia itu keras kepala!!!"


Natalia masih mendengar suara Daychi di dalam sana. Suara barang-barang berjatuhan terdengar jelas hingga mereka mengambil nafas dalam.


"A..and!" lirih Natalia menatap Dokter Andra yang terlihat sudah tahu harus seperti apa.


"Ada dua cara!"


"B..Bagaimana?" Zuan menyambar dengan wajah kusutnya membendung harapan. Walau ia berbicara seakan merelakan tapi Zuan tak seperti itu. Dia sama terpukulnya dengan Daychi yang sudah hilang kendali.


"Sersan harus memilih dua metode penyelamatan Janinnya!"


"J..jadi .." Zuan tak tahu harus apa. A..apa Whuang sudah benar-benar meninggalkannya? W..Whuang...


"Maaf, tapi! Nona memang sudah tak bisa di tolong, dia memberikan hidupnya untuk malaikat kecil mereka berdua."


Bibir Zuan kembali bergetar dengan mata berkaca-kaca. Ia mencengkram kepalanya yang terasa mau pecah di buat gila dengan semua ini.


"W..Whuang!"


"Tapi, kita harus menjaga pilihannya! dia ingin anaknya hidup dan kalian harus membantu, jangan biarkan dia menderita lagi."


"Bagaimana caranya?" Natalia menyahut. setidaknya mereka bisa menyelamatkan satu saja nyawa Daychi.


"Pertama. Transfer rahim!"


Dahi Natalia mengkerut, ia tak begitu paham soal ilmu medis ini. tapi Team medis dibelakang sana paham akan maksud Dokter Andra.


"Transfer rahim dilakukan dengan cara memindahkan rahim Nona ke tubuh wanita lain, dengan artian. ada Ibu pengganti!" jawab Dokter Lizel membuat Natalia diam. Tak mungkin mengorbankan wanita lain lagi untuk bersama Daychi yang pasti akan menghabisinya.


"C..cara kedua?"


"Mempertahankan alat-alat vital Nona agar bekerja selama masa kehamilan, ini hanya bersifat sementara dan bisa di katakan alat-alat medislah yang menggerakan bagian vitalnya untuk membantu janin berkembang." jelas Dokter Andra memberi pilihan yang sama-sama sulit.


"A..apa Whuang bisa.."


"Tidak! saat kandungannya sudah cukup pada batasnya, maka alat medis di lepas dan.."


Dokter Andra tak melanjutkan ucapannya. Ia tahu jika yang lain bisa mengartikan maksudnya.


"Ini pilihan sulit. tapi, harus di lakukan secepatnya."


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2