
Ruangan rawat yang tampak luas dengan pencahayaan sangat cukup itu terlihat begitu damai. Detikan jarum jam di dinding sana mengiringi suara denyutan monitor yang berjalan dengan lancar.
Sebuah bangkar menampung sesosok pria yang masih memejamkan matanya membuat beberapa orang yang sudah menunggu didekat sofa sana dihantui rasa cemas dan kekhawatiran.
"Ehmm!"
Gumaman kecil lolos dari himpitan bibir keringnya. Dahi mulus tanpa flek itu mengkerut dikala rasa pusing memutar di benaknya.
Perlahan. kelopak matanya tergerak karna tusukan cahaya lampu diatas sana. Alis tebalnya menekuk dengan sudut bibir tersungging ringisan.
"D .dimana?" gumam Daychi membuka pelan kelopak matanya. Bayangan yang samar-samar terlintas di netranya menyatukan bulir-bulir udara yang tengah mengkelabui ingatannya.
"Ichiii!!"
"W..Whuang!" gumam Daychi merasa ia mendengar teriakan Whuang saat itu. Apa ia sudah ada di alam lain? atau ia sudah meninggalkan dunia ini?
Daychi bertanya-tanya. Ia mencoba bergerak namun rasa nyeri itu menjalar di bahu dan perutnya membuat Daychi menggeram kembali memejamkan matanya.
"Kenapa masih terasa sakit?"
"K..kau sadar?"
Daychi langsung terperanjat mendengar suara dari arah samping. Ia membuka matanya menatap sosok wanita paruh baya yang tampak habis menangis.
"I...ibu.."
"Daychi!!!"
Nyonya Mieng langsung berlari kearah Bangkar putranya diiringi dengan Fang yang terbangun dari tidurnya di Karpet sana.
"Sersan!" mereka tampak berbinar melihat kearah Bangkar. Nyonya Mieng telah duduk di samping Daychi yang tampak linglung melihat ke sekitar ruangan ini.
"I..ini..."
"Daychi! syukurlah kau sadar. Nak!"
"A..aku ..aku dimana?" tanya Daychi masih tak percaya ia disini dan bertemu dengan mereka semua.
"Kau di rumah sakit. Nak! tadi kau..."
"KENAPA MASIH DISINI????"
Bentak Daychi dengan mata berkobar amarah dan tak menerima. Mereka terkejut akan respon Daychi seperti ini sementara Lien ia masih diam menatap kemarahan Kakaknya.
"Kenapa aku masih hidup? kenapa kalian melakukan ini. ha???"
"D..Daychi! Ibu .."
Daychi terbelalak melihat jam sudah menunjukan pukul 3 dini-hari dan apa yang terjadi pada Whuang. apa wanita itu telah..
"I..istriku! kalian..."
"Nak! kau..."
"Kalian telah memakamkannya!!! kalian memisahkanku dengannya!!!" maki Daychi dengan mata bergurat murka. Dadanya dikerumuni rasa sesak yang sangat menyekang bahkan lebih sakit dari luka-luka di tubuhnya.
"A..aku...aku ingin bertemu dia!"
"Daychi!"
Nyonya Mieng menghalang Daychi ingin turun dari Bangkar rawatnya. Wajah tampan Daychi bergurat kekhawatiran yang begitu besar terhadap Whuang.
"Menyingkir!"
__ADS_1
"Daychi! dengarkan I.."
"IBU!" geram Daychi menggertakan giginya seraya mencabut paksa selang infus di punggung tangannya membuat Nyonya Mieng terhenyak.
"Daychi! apa yang kau lakukan ini. ha?"
"Aku ingin bersama istriku! menyingkir kalian semua." ucap Daychi mengulur kedua kakinya turun tanpa sadar luka di perut dan bahunya berdarah.
"Shittt!" Daychi mencengkram perutnya yang terasa lembab dan begitu nyeri. Sepertinya luka ini di jahit hingga kembali lepas saat ia banyak bergerak.
"Sersan! anda tenanglah!" tegur Fang mendekat tapi Daychi tak perduli. Ia tetap melangkah turun ditengah luka patah itu.
"Menyingkir!"
"Sersan! kembalilah ke bangkar anda."
Resah Fang tampak khawatir melihat darah itu menembus perban dan pakaian rawat Daychi yang dengan langkah pelan dan menahan nyeri melewatinya.
"Nak! kau mau kemana?"
"B..bunuh aku sekarang!" pinta Daychi membuat mereka terkejut. Nyonya Mieng menggeleng berdiri dihadapan Daychi.
"Kau gila. ha??? berhentilah berfikiran buruk dan sempit seperti itu!!!"
"Kenapa? apa salahnya? kalian tak akan rugi!"
"Kak!"
Daychi beralih menatap Lien yang dengan santainya berbaring diatas sofa memainkan bunga dari vas diatas meja.
"Kau benar ingin mati?"
"Hm. lakukan secepatnya! kalian membuang-buang waktu." tegas Daychi menatap Lien yang mengambil nafas dalam lalu kembali duduk tenang.
"Kau tuli?"
Lien mengangguk mengeluarkan pistol di balik jaketnya membuat Nyonya Mieng termenggu diam melihat anak-anaknya.
"Baiklah! akan ku kabulkan." Lien mengisi pistolnya dengan peluru dengan Daychi yang berdiri menatap serius arah ujung benda itu.
"Cepatlah!"
"Aku tanya sekali lagi. kau memang ingin mati. ha?"
"KAU MEMANG TULI ATAU BAGAIMANA? CEPAT BUNUH AKU SEKARANG!!"
Bughh...
Lemparan bantal bayi itu langsung mengenai kepala Daychi yang tersentak diam ditempatnya. Mata elang pria itu langsung tertuju pada benda yang tadi menghantam kepalanya tergeletak di lantai sana.
"S..Sersan!" lirih Fang menelan ludahnya kasar melihat kearah pintu ruangan.
Kepalan tangan Daychi seketika mengerat. wajahnya berubah mengeras kelam karna berani-beraninya mahluk sialan itu melemparnya dengan benda ini.
"Berani kau..." Daychi berbalik menatap kearah pintu dan...
Duarrr...
Nyonya Mieng tersentak saat Daychi oleng hingga Fang segera menopang tubuh kekar Sersannya. Mata Daychi melebar dengan mulut terperangah melihat sosok yang tengah duduk di atas kursi roda sana dengan sorot mata membunuh dan begitu tajam seakan menelannya.
"MAU MATI. HA???"
Suara indah itu melengking hebat dengan deru nafas memburu menahan amarah di hatinya. Wajah pucat yang terlihat tak semati biasanya dan manik abu yang sudah terbuka menunjukan kuasanya.
__ADS_1
"K..kau..."
Daychi tak memalingkan wajahnya dari sosok yang telah merenggut semua jiwa dan raganya itu. matanya mulai memanas dengan debaran jantung yang menggila didalam sana.
"Katakan sekali lagi! biar aku yang menembak kepalamu!" maki wanita itu dengan mata berkaca-kaca menahan gebuan rasa sesak. Ia merasa sakit melihat kegilaan pria ini tapi ia juga sangat senang bisa melihatnya lagi.
"S..sayang!" lirih Daychi dengan air mata yang lolos begitu saja dari pelupuk netranya. Ia menatap Nyonya Mieng dan Fang bergantian lalu menunjuk kearah wanita itu seakan bertanya apa itu istrinya atau bukan?
"D .dia..."
Nyonya Mieng mengangguk mengusap pipi mulus putranya lembut.
"Iya. dia istrimu!"
"W..Whuang?"
Nyonya Mieng mengangguk hingga Daychi langsung berlari kearah wanita berkursi roda itu dengan mata berkaca-kaca memanas.
"W..Whuang!!"
"I..Ichi!" gumam Whuang bergetar dengan air mata luruh sempurna bersama Daychi yang sudah meraih tubuhnya kedalam pelukan pelukan erat penuh cinta dan gebuan kerinduan itu.
"S..sayang! ini.. ini kau?" tanya Daychi memeluk sangat erat menghirup dalam aroma Floral yang begitu sangat damai ini.
"Kau tak mengenalku?"
"B..bukan. aku ..aku hanya..."
Daychi tak mampu berkata-kata selain terus mendekap hangat dan mengecup puncak kepala Whuang yang juga mendekapnya sama-sama melepaskan kesesakan.
"A..aku ..aku tak bermimpi-kan? aku..aku tak .."
"Apa terasa mimpi?" tanya Whuang mengurai pelukan menatap manik elang yang selama ini telah menguasai hatinya. Manik abu milik Whuang mengantarkan sihir Cinta yang mengikis ego Naga Jantan itu.
"K..kau... t. tampar aku?"
"I..Chi.."
"Pukul! pukul aku!"
Whuang langsung menepuk bahu Daychi yang terluka hingga darah itu terasa lengket ditangannya. Sementara Daychi ia terdiam seperti orang dungu saat merasakan sakit.
"I..ini..."
"Itu bahu-mu berdarah dan..."
"A..aku ..aku tak mimpi! aku...Ibu!!!" teriak Daychi menoleh kearah Nyonya Mieng yang sudah menangis haru melihat putranya.
"Ibu!!! Ibu aku ..ini.. ini Whuang. istriku?"
"Hm. iya, Nak!" Nyonya Mieng menganggukinya hingga Daychi langsung berteriak kegirangan berhambur memeluk Whuang dengan jeritan hati yang lepas.
"Kau masih bersamaku!!! kau tak pergi, Sayang!!"
Whuang merasa geli dengan isak tangis tertahannya menepuk pipi Daychi meluapkan kekesalannya.
"Dasar Naga Jantan tak berguna." gumam Whuang mengusap rambut Daychi yang enggan melepas pelukan. Ia sudah nyaman melupakan orang-orang disekitarnya yang mengulum senyum terutama Zuan yang berdiri dibelakang kursi roda Whuang.
Jika Daychi tahu apa yang sebenarnya terjadi. pasti, dia akan sangat marah dan sekaligus berterimakasih pada seseorang.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1