
Daychi sungguh terkejut mendengar cerita Dokter Andra yang berbicara seraya mengganti perban di bahu dan perutnya. Wajah Daychi terlihat termenung kosong antara percaya dan tidak akan pernyataan barusan.
Lien yang mengerti dengan raut bingung Kakaknya-pun segera mendekat.
"Aku dan Ibu juga baru tahu saat Kakak Ipar bangun setelah operasinya dan langsung meminta bertemu denganmu. Ayah yang mengantar Kakak Ipar kesana."
"Tidak mungkin." gumam Daychi sama sekali tak percaya. Mengingat bagaimana sikap dingin dan acuh Tuan Khang selama ini. tak ada kemungkinan kecil sekalipun untuk menduga kesana.
"Sersan! terserah anda percaya atau tidak, tapi. Ayah anda memang sudah berperan besar dalam penyembuhan Nona dan rumah tangga anda." timpal Dokter Andra.
"Tapi. kenapa dia selalu mengirim wanita-wanita sialan itu dan memintaku mencari ibu pengganti bagi putraku?" geram Daychi kembali mendidih mengingat bagaimana Tuan Khang selalu mendesaknya.
"Kalau dia berniat baik padaku dan istriku lalu kenapa dia selalu saja membuat Whuang jauh dariku??"
"Karna kau tak pernah bisa mengendalikan amarah!"
Suara bariton datar dari pintu sana menyambar membuat wajah mereka tertoleh. Nyonya Mieng terdiam juga merasa bersalah karna ia sudah salah-paham.
"Ayah!" Lien tersenyum hangat. Tuan Khang melangkah masuk menggendong Bayi mungil merah itu yang sudah di bedong dengan rapi.
"Putramu lapar!" ucap Tuan Khang mendekati Bangkar Daychi yang berubah mendingin. Wajah tampannya sama sekali tak bersahabat dengan Tuan Khang yang memberikan malaikat kecil itu ke tangan Dokter Andra.
"Kau pasti merencanakan sesuatu?" geram Daychi mengintimidasi. seketika suasana di ruangan ini berubah mencekam tak tenang.
"Aku tak berniat!"
"Sudahlah. aku tahu sedari awal kau punya tujuan sendiri, tak mungkin kau melakukan sesuatu tanpa ada untungnya bagimu. benarkan?"
"Hey!"
Whuang mengelus punggung kekar Daychi yang naik pitam. Ia tak akan membiarkan lagi satu orang menyentuh anak dan istrinya. tak akan pernah.
"Ini semua hanya rencanamu saja untuk membuat hidupku semakin hancur! tak cukup kau memisahkan aku dari Ibu dan adikku dan sekarang kau... "
"Shitt!"
Daychi mengumpat mengepalkan tangannya. amarah itu terkobar di matanya menguarkan perasaan tak terima. Mereka tahu kenapa Daychi tak semudah itu percaya karna sedari kecil ia merasakan kekejaman Tuan Khang.
"Ichi!"
"Setelah penyembuhamu. kita pergi dari Negara ini!" tegas Daychi dengan deru nafas membawa panas. Whuang tersentak menatap Daychi yang tampak menyimpan kecemasan yang tinggi terhadapnya dan anak mereka.
"Kau tak bisa membawa cucuku!"
"BERHENTI BICARA. SEAKAN KAU PERDULI PADAKU!!!"
Oeeekkk....
Bentakan Daychi mengejutkan Bayi mungil itu sampai tangisannya pecah menyadarkan Daychi akan posisinya. Ia terlalu emosi sampai lupa jika ada mahluk suci itu disini.
"A... itu..."
__ADS_1
"Berikan!" Whuang perlahan bergerak duduk dengan menahan rasa ngilu di perutnya. Daychi membantu menyangga tubuh Whuang agar lebih baik.
"Kau memang tak berubah." gumam Tuan Khang mengambil nafas dalam masih berdiri dengan tenang. ia tahu jika Daychi memang tak akan bisa menahan amarahnya.
Nyonya Mieng mengiring Lien dan Fang pergi karna Whuang ingin menyusui putranya. Dokter Taname dan Dokter Dige juga pamit setelah menyelesaikan perban di tubuh Daychi.
"Kami permisi!"
"Hm."
Mereka pergi meninggalkan ruang rawat menyisakan Tuan Khang dan Dokter Andra yang menyerahkan bayi itu ke tangan Whuang pelan.
"Saat menyusuinya memang agak sakit. tapi, kau hanya perlu menyesuaikan saja."
"Em.. baik!" jawab Whuang menatap lama wajah mungil merah si kecil itu. Bibir lembut itu terlihat mencari Dotnya dengan mata bening berwarna abu yang sama seperti Whuang sangat mempesona.
"Sebaiknya kau perbaiki diri. kau bukan lagi pria lajang." tegas Tuan Khang ingin berbalik pergi tapi Daychi segera mencengkram selimutnya.
"Kenapa kau melakukan ini?" masih dengan intonasi menahan amarah. Tuan Khang menyunggingkan senyum samarnya yang terkesan datar.
"Kalau tidak. apa perjuangan istrimu akan terbayar?!"
"Kau..."
"Aku tak berniat apapun! tapi terserah, aku tak perduli." Tuan Khang melanjutkan langkahnya diiringi Dokter Andra yang menutup pintu ruangan meninggalkan Daychi dalam kesunyian.
"Haus. hm?"
Daychi langsung tersadar dan menoleh ke wajah Generasi Yuchin itu hingga matanya membulat melihat penjiplakan wajah ini.
"Hanya matanya yang menuruni aku. selebihnya wajah-mu." desis Whuang bersandar ke kepala Bangkar lalu membuka kancing atasannya dengan mata abu si kecil itu menatap Daychi dengan datar.
"Dia sangat acuh." gumam Daychi saat tatapan Bayi tampan itu berpaling padanya lalu beralih memandang wajah cantik natural Whuang yang mengarahkan bibir merah kesayangannya itu ke puncak ranum aset berharganya.
"Tadi dia tidur lumayan sangat lama. jadi, aku bisa kesini menemuimu."
"Apa sakit?" tanya Daychi ia khawatir melihat dada Whuang yang semakin berisi dan menggoda seperti membengkak.
"Mereka bilang ini biasa, apalagi ini anak pertama. Ichi!"
"Tapi, kalau aku yang melakukannya kenapa tak sakit? kau bahkan menggeliat ingin me.."
"Sutt!" Whuang membekap mulut Daychi yang berbicara melantur dihadapan putra mereka. Walau wajah mempesona Naga emas muda itu tak merespon banyak tapi bisa saja ini buruk kedepannya.
"Nanti, Baby dengar!"
"Apanya? lihat. menatapku saja dia enggan." decah Daychi melepas bekapan tangan Whuang lembut. Ia akui pahatan tampannya di jiplak tapi bukan berarti ia akan membiarkan pesonanya kalah.
"Ichi! dia masih kecil, pasti ngantuk."
"Sayang! kau lihat dia, sedari tadi seperti jijik padaku." gumam Daychi merasa jengkel. ingin sekali ia mencubit pipi gembul halus itu tapi sayangnya ia terlalu mencintainya.
__ADS_1
Whuang hanya menahan geli melihat respon Buah hati mereka ini. Memang si kecil bermata sipit dan wajah beraura itu terkesan tak perduli akan lingkungan sekitarnya itu, namun. sudah banyak wanita-wanita yang mabuk melihat pesona Generasi Klan Ryoto ini. sampai suster-suster tadi sampai syok.
"Hey! kau ingat ini, aku Dadymu yang paling tampan di mata Momymu. INGAT." tekan Daychi mengancam tapi ia tersenyak saat putranya malah memejamkan mata sambil mengemut haus.
"Kauu .. " Daychi menggeram mengepalkan tangan antara gemas dan kesal sekaligus.
"Shitt! untung saja kau putraku." decah Daychi dengan nafas berat.
"Ichi!"
"Hm?" Daychi menatap penuh ksaih wajah cantik Whuang yang tak sepucat biasanya. Ia suka melihat kembali pahatan indah wanita ini.
"Ada apa?"
"Namanya siapa? aku bingung memikirkannya."
Whuang menekuk wajahnya yang tampak lelah hingga Daychi langsung mengusap surai panjang wanita itu lembut.
"Ryushan!" jawab Daychi tegas mengukir wajah tampan putranya dengan pandangan menerawang. Whuang terkesima mendengar nama itu karna langsung membuka kedua mata indah Bayi mereka memperlihatkan gradasi abu galaksi didalam sana.
"Ryu?" gumam Whuang penuh tanya.
"Hm. itu nama yang sudah dari lama ku siapkan untuk penerus Klan Ryoto. Nama itu artinya Naga didalam bahasa jepang dan Sunskerta China sangat berarti penguasa yang bijaksana dan gagah. aku yakin dia pantas menyandang Gelar itu." jelas Daychi sangat yakin. Ia merasakan jika ada sebuah pancaran kegelapan dan cahaya yang ada didalam diri Putranya.
"Em.. aku suka ! Baby Ryu, suka sayang?"
Si kecil itu menyunggingkan senyum penuh pikatnya membuat Daychi puas. Tak di ragukan lagi semua hal tentangnya akan menurun ke Naga Emas satu ini.
"Apa tak pakai marga.."
"Tidak!" tegas Daychi masih mempertahankan egonya membuat Whuang menghela nafas. Ia sudah tak mau bermusuhan lagi karna ia sudah lelah.
"Ichi! aku tahu kau sangat menjaga kami, tapi! apa kau tak bisa mengerti sedikit saja kalau Ayahmu itu.."
"Aku tak mau membahasnya. dulu!" gumam Daychi menatap penuh permohonan. Ia butuh waktu untuk menerima segalanya dan mencerna semuanya sendiri.
"Baiklah! aku mendukung keputusanmu."
"Terimakasih!" ucap Daychi tulus lalu keduanya saling pandang dengan hunusan cinta yang dalam. Pandangan Daychi beralih ke bibir sensual Whuang yang sudah lama tak ia rasakan kehangatan dan hasrat manisnya.
"I..ichi!" gugup Whuang saat pandangan Daychi terlihat larut. Ia ngeri karna waktunya tak pas.
"Aku mau merasakannya!" gumam Daychi tanpa sungkan menarik dagu lancip Whuang kearahnya hingga Daychi langsung menempelkan bibirnya penuh kerinduan.
Nafas Whuang tertahan merasa begitu gugup. padahal mereka sudah sering melakukan ini sebelumnya. aroma nafas Daychi yang cool berpadu dengan keharuman Floral milik Whuang yang damai dan seksi.
"Aku sangat merindukanmu. Bunga Malam!"
Whuang tersenyum kecil mendengarnya. Nyatanya mereka akan kembali memanggil dengan bayangan lama tapi dengan rasa baru yang begitu berbeda.
"Kau tak pernah berubah." desis Whuang saat merasakan jika Daychi menahan hasratnya. Ia bisa melihat bagian bawah pria itu sudah membengkak ingin lepas dari sarungnya.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..