Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Keinginan kecil!


__ADS_3

Isakan itu masih terdengar sendat walau sudah lama ia menumpahkan air matanya di dada bidang pria yang hanya diam sama sekali tak mengendurkan pelukan.


Whuang-pun sudah lemah. Ia memaki Daychi tapi ia sendiri yang merasa sakit, kalimat yang ia lontarkan hanya sebatas pelega hati yang dulu menahannya.


"P..pergilah!" hanya satu kata yang keluar setelah diam beberapa lama.


Daychi tak bergeming. ia sama sekali tak bergerak bahkan lebih mengeratkan pelukan membuat Whuang juga tak tahan dengan semua ini.


"A..aku melepaskan-mu!"


"Kau bicara apa?" sambar Daychi tak senang mendengar kalimat itu. Ia mengurai pelukan menatap wajah pucat Whuang yang menunduk tak mau memandangnya.


"Apa kau tak lelah dengan semua ini?" tanya Whuang memejamkan matanya untuk segera mengakhiri.


"M..maksudmu?" jantung Daychi memberontak seakan berpacu menunggu jawaban itu.


"Kau dan aku berbeda. kau punya sesuatu yang kau impikan dan aku hanya dipermainkan mimpiku sendiri. sangat jauh terhadap apa yang diharapkan."


"Whuang aku .."


"Kau mencintainya-kan?!" tanya Whuang tersenyum dengan mata berkaca-kaca menggenggam tangan Daychi.


"Aku ingin melihatmu mengatakan yang sejujurnya pada. Natalia! dan.."


"Berhentilah bicara seperti itu!!!!" bentak Daychi sangat merasa sesak mendengarnya. Ia sadar jika ia yang egois membuat masalah sebesar ini tapi ia tak berniat meneruskan hubungannya dengan Natalia.


"Kau sadar akan apa yang kau bicarakan ini.ha???"


"A..aku sadar!" jawab Whuang memberanikan diri menatap netra elang yang hanya menjadikannya penghias ranjang itu.


"Aku sadar! sangat." sambung Whuang lagi dengan nada bergetar membuat jantung Daychi terasa mau pecah. Ia tak suka melihat raut seperti ini di wajah cantik Whuang yang biasa begitu tegar dan penuh kejahilan.


"Whuang. aku mohon kau .."


"Dengarkan aku! kau berhentilah bicara." pinta Whuang menekan Daychi untuk mendengarkannya.


"Jika hanya bicara tentang perpisahan. JANGAN HARAP." jawab Daychi dengan pandangan tegas dan tak rela. Tapi, ia terkejut saat senyuman Whuang bertambah lebar membuat kegusaran itu menggunung di kepalanya.


"Kenapa kau tersenyum? tak ada yang lucu."


"Kau lucu." ucap Whuang menepuk pipi Daychi yang diam menganati setiap exspresi aneh Whuang yang semakin membuatnya takut.


"Tak ada yang lucu. berhentilah tersenyum seperti itu."


"Lalu aku harus seperti apa?" tanya Whuang seraya mengelap darah di hidungnya.


"Kenapa kau tak memberi tahuku?"


"Tentang?"


"Anak kita!" jawab Daychi menatap perut Whuang yang diam terhenti sejenak. Anak kita! bukankah itu terdengar sangat menyenangkan?!


"Dia hanya anakku!"


"Kauu .."


"Kau tak tulus melakukannya. jadi, ini hanya anakku." jawab Whuang santai membuat batin Daychi berdenyut. Ia menatap nanar wajah tenang Whuang yang benar-benar sudah depresi berat sampai seperti ini.


"Whuang!"


"Hm? jangan lewatkan kesempatan. pergilah! Natalia di luar."

__ADS_1


"Maaf!"


Satu kata itu membuat Whuang terhenyak dengan sekangan didadanya terasa menghentak hatinya. Keduanya saling tatap dengan guratan masing-masing membuat Whuang yang tak habis pikir.


"Maaf?"


"I..iya, Maafkan aku! aku..."


"Apa kau tak lelah berpura-pura terus?"


Daychi menggeleng segera menangkup kedua pipi Whuang yang masih memar. mungkin tubuh Wanita ini tak mampu lagi bekerja seperti biasa sampai tak sesehat dulu.


"Aku bersumpah aku tak pernah berpura-pura. aku memang tak mau melepasmu."


Tapi, kau juga tak mau melepas Natalia dari ingatanmu. Ichi! aku mengerti karna dia memang wanita yang sulit di lupakan. aku mengerti semua tentang-mu.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Whuang membuat Daychi diam meyakinkan hatinya tapi Whuang tahu, Daychi hanya nyaman bersamanya.


"Tak usah di jawab aku.."


"Beri aku waktu." sambar Daychi bersungguh-sungguh. Kepergian Whuang selama 3 hari saja sudah membuat hidupnya kacau, ia tak mau lagi itu terulang kembali.


"Sampai kapan?" tanya Whuang menikmati wajah gelisah Daychi yang terus mencari kesempatan memperbaiki segalanya.


"Secepatnya! kau tenang saja, aku akan mencari penawar racun-mu dan anak kita akan selamat. kau tak perlu menangis lagi. hm?"


Whuang tersenyum kecil mengelus perutnya. Apa selama 3 hari ini Daychi masih belum paham tentang apa yang telah terjadi? para dokter disini saja tak akan mampu mengalahkan kejeniusan pria brengsek itu.


"Sersan!"


"Kau bilang apa?" tanya Daychi berubah dingin membuat Whuang terasa geli.


"Kauu!!!"


"Hm? mulai sekarang. aku dan kau hanyalah sebatas a..."


Daychi menyambar bibir Whuang yang segera menerimanya dengan senang hati. Ia sengaja memancing kekesalan Daychi yang sama sekali tak suka ia panggil seperti itu.


Whuang berpeggangan ke pinggang kekar milik Daychi yang melahap habis benda kenyal yang begitu ia rindukan. Ciumannya yang tadi memaksa perlahan melembut mencumbu luapan hati yang terasa lepas.


"Ehmm!" desisan Whuang membuat Daychi tersigap segera melepas pangutan dengan tatapan khawatir.


"A..apa aku melukaimu?"


"Agak perih!" lirih Whuang menyentuh sudut bibirnya yang memar mengingatkan Daychi akan tamparan malam itu. Ia mulai merasa bersalah atas apa yang ia lakukan.


"Kau bisa membalasku!" sambar Daychi mengusap sudut bibir Whuang yang basah karna ciumannya tadi.


"Benarkah?"


"Hm. kau bisa melakukan apapun, aku memang salah. maafkan aku." tulus Daychi mendekatkan pipinya agar Whuang lebih mudah menamparnya.


"Nanti kau marah!"


"Tidak! kau bisa melakukan apapun, aku tak akan marah. aku berjanji." tegas Daychi dengan Whuang yang mengangkat satu tangannya.


"Pejamkan matamu!"


"Hm!" Daychi menurutinya menunggu tamparan tangan lentik itu tapi...


Cup ...

__ADS_1


Mata Daychi terbuka lebar saat merasakan kecupan di bibirnya dengan nafas tercekat merasa tak percaya menatap Whuang yang menyunggingkan senyuman.


Tiba-tiba saja ada rasa hangat yang menelusup ke relung hatinya.


"K..kau.."


"Kau sangat tampan. aku tak rela memukulnya." jawab Whuang mengelus pipi mulus dan rahang tegas Daychi yang tertegun diam. K..kenapa senyumanmu itu membuat-ku takut?!


"Whuang!" lemah Daychi merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi.


"Hm?"


"K..kau tak akan meninggalkan aku-kan?" tanya Daychi baru kali ini merendahkan harga dirinya dihadapan sosok wanita yang sudah mengubah hidupnya.


"Memangnya kenapa?" Whuang masih mengelus rahang tegas itu.


"Hanya kau yang mengerti aku. aku ingin bersamamu. dan anak kita."


Air mata Whuang langsung lolos mengecup lama kening pria itu dengan rasa ikhlas dan tabah yang ia terus pertahankan.


"Ntahlah. aku tak tahu."


"Tidak! aku sudah merobek surat perceraian kita, aku juga akan membuat kau dan Baby sehat. aku akan membuat semuanya utuh, iyakan?"


"Hm." Whuang hanya mengangguk membuat Daychi diam tak puas.


"Jawab!"


"Iya. kau puas?"


"Hm. PUAS!" jawab Daychi lalu meraih tisu didekat nakas lalu membersihkan darah di hidung Whuang. pandangan manik abu itu tak lekang sama sekali dari wajah tampan yang pasti akan sangat ia rindukan kehadirannya.


Ichi, aku ingin melihat-mu memperjuangkan aku! itu keinginan kecil-ku dan anak kita. setidaknya, aku sudah melihat keseriusan-mu. tapi, maaf.. maaf jika nanti mungkin aku tak akan menepati ucapanku. maafkan aku.


"Kau istirahat-lah dulu. hm? aku berjanji aku akan mendapatkan penawarnya. kau tunggu sampai aku kembali sama Baby!"


Daychi mengusap perut datar Whuang yang hanya tersenyum menahan sakit di dadanya yang mulai merasa ditekan. Nyeri dan seperti dimakan sesuatu yang menyulitkannya bernafas.


"I..ini sakit!"


Whuang mencengkram selimutnya dengan keringat mulai keluar. Ia menatap Daychi yang masih sibuk dengan perutnya.


"I..ichi!"


" ada apa?" tanya Daychi menatap wajah pucat Whuang yang tampak aneh.


"Dia memiliki banyak racun dan obat-obatan terlarang. hati-hati pada ruang yang banyak tabungnya." ucap Whuang disela nafas yang memaksa.


"Kau..."


"Aku tak apa. cepatlah kembali." ujar Whuang yang diangguki Daychi. Pria itu kembali merapikan tempat tidur dan selimutnya.


"Tunggu aku." Daychi mengecup lama kening Whuang yang mengangguk pelan membiarkan Daychi memanggil Dokter untuk kembali memantau Istrinya.


"A.. apa harus sekarang?"


......


Vote and Like Sayang..


Maaf ya say.. semalam sinyal disini nggak ada. jadi nggak bisa ngirim

__ADS_1


__ADS_2