Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Merindukan Ayah dan Ibu!


__ADS_3

Pagi ini tiba-tiba saja Kediaman Zang mengadakan jamuan makan hingga para pelayan tampak sudah menyiapkan semua santapan memenuhi meja makan besar yang telah ditata rapi dengan kemewahan dan berbagai makanan yang menggiurkan lidah.


Semuanya ikut hadir termasuk Fang yang baru datang tengah berbicara dengan Zuan. Keduanya terlihat serius didekat tangga sana menunggu Sersannya turun.


"Apa rencana mereka?"


"Aku tak begitu paham karna Sersan yang mengerti segalanya! dan aku hanya di suruh untuk memantau Lien." jawab Fang bersandar ke pinggir tangga merasa risih dengan masker Zuan.


"Mereka memang licik." gumam Zuan benar-benar merasa muak. Jika mereka menyerang sekarang maka mereka pasti akan kebingungan karna belum ada pergerakan dari musuh.


"Pagi!!!!"


Sapa'an dari wanita cantik diatas sana tampak begitu mempesona dengan Dress santai selutut berwarna merah maron dengan lengan panjang tertutup terlihat sangat manis. Ia lebih seperti remaja dibanding pakaian-pakaian terbuka seperti biasa.


"Biasanya kau hanya pakai bera saja." ejek Fang masih kagum tapi Whuang hanya menunjukan wajah kesalnya. Rambut panjang itu di urai dengan jepitan didekat telinganya yang indah menutupi leher jenjangnya.


"Sebenarnya aku tak mau. tapi, Ichi yang memaksa! lagi pula bahannya juga dingin jadi kulitku tak iritasi." seraya melangkah turun dari tangga atas selayaknya seorang putri.


"Hm. dimana Sersan?" tanya Zuan tak mengalihkan pandangannya dari wajah cantik natural Whuang yang hanya memakai riasan tipis.


"Tadi dia menelfon."


Jawaban singkat Whuang lalu melangkah menuju ruang makan. Perutnya sudah keroncongan sedari tadi hingga hanya bisa menerobos kemana tempat saja sesukanya.


"Dia pikir ini Kediaman-nya apa?! melenggang seenaknya." ketus Fang menyusul Whuang bersama Zuan yang hanya ikut tanpa menyadari sedari tadi sosok wanita paruh baya di dekat sofa sana memperhatikan mereka dengan senyuman hangatnya.


"Sayang! kenapa masih disana?" Tuan Pein tampan setengah berlari dari ruangan samping mendekati Istrinya yang malah tersenyum begitu senang pagi ini.


"Ada apa?"


"Suamiku! ayo kita ke ruang makan!" ajaknya bersemangat berdiri menggandeng lengan Tuan Pein yang bingung tapi hanya menurut.


"Kenapa kau begitu senang pagi ini. hm?"


"Tak ada. aku merasa Kediaman kita dipenuhi anak-anak." jawab Nyonya Qian terlihat bahagia. Tuan Pein-pun tersenyum mendengarnya karna baru kali ini istrinya terlihat begitu ceria setelah kehilangan segalanya.


Setibanya disana. mereka tertegun melihat sosok cantik itu sudah tampak memakan camilan lezat dari kentang diatas meja diriringi dengan Fang yang ikut mencomotnya.


"Enak! lain kali aku mencuri ini juga." gumam Whuang membuat Fang tersedak.


"A..Apa kau disini juga.."


"Diam saja. aku hanya mengambil sedikit." bisik Whuang dengan mulut masih mengunyah makanan. Fang diam menatap nanar Zuan yang hanya mengulum senyum dibalik maskernya.


"Kau menyukainya?"


Whuang tersentak saat melihat Nyonya Qian sudah berdiri didekat pintu ruangan memandangnya lembut sekaligus geli. tapi, ia hanya tersenyum meletakan kembali satu potong Stik yang tadi ingin ia makan.

__ADS_1


"A.. Iya, tapi aku ambil hanya 2. maaf, Nyonya!"


"Kenapa minta maaf? makan saja semuanya! aku senang kalian menyukainya." ucap Nyonya Qian mendekati Whuang yang agak segan.


"Aku sudah kenyang. Nyonya!"


"Tidak-tidak, jangan begitu! ini semua disiapkan untuk kalian, makanlah. jangan sungkan."


"Benarkah?" tanya Whuang sudah tak lagi segan membuat Fang hanya membelo jengah membiarkan Nyonya Qian berdiri disamping Whuang yang tampak berbinar dengan mata abu indahnya.


"Iya,Nak! makan yang banyak agar kau jadi sehat dan bertenaga."


"Baiklah! kalau begitu aku tak akan sungkan." Ucap Whuang duduk di kursinya membuat mereka tertawa kecil menggeleng saja lalu ikut bergabung. Nyonya Qian mengambilkan isi piring Whuang dengan terlihat bahagia membuat Zuan lama menatap wajah ibunya.


"Apa ibu juga merasakannya?"


Batin Zuan larut dengan dunianya sendiri sampai Fang menyikut lengannya menyadarkan Zuan.


"Hm."


"Buka maskermu. kau tak akan bisa makan dengan mulut tertutup." bisik Fang tapi Zuan diam. Apa mereka akan tahu wajahnya yang sekarang?!


"Nak! bukalah maskermu, kita makan bersama!" timpal Tuan Pein membuat perhatian Whuang kembali pada Zuan yang tampak bimbang tapi Whuang paham itu semua.


"Namamu. Zuan-kan?" sambung Tuan Pein lagi agak termenggu dengan nama yang begitu mirip dengan putranya.


Whuang menghentikan kalimatnya saat Zuan sudah melepas maskernya membuat wajah Tuan Pein dan Nyonya Wian terkejut dan menatapnya kosong.


"Z..Zuan." gumam keduanya menatap intens mencoba melihat dengan jelas dan teliti. Memang pahatannya sudah terlihat mempesona dan dewasa tapi masih ada bayang-bayang wajah polos putranya.


"Kalian mengenalku?" tanya Zuan membuat langkah pelan Nyonya Qian tertuju padanya. Mata wanita itu berkaca-kaca dengan wajah masih tak percaya berusaha bangun dari hayalan mereka.


"K..kau a..agak mirip dengan. p..putraku." lirihnya bergetar menatap lekat Zuan yang tampak sudah tak mampu bersembunyi dari rasa sesaknya.


"Ibu!"


Degg...


Nyonya Qian terkejut saat Zuan malah memeluknya dengan panggilan itu sedangkan Tuan Pein masih termenggu diam seakan tak yakin jika putranya akan kesini.


"K..Kau..."


"Maaf! Maafkan aku." ujar Zuan mendekap erat tubuh Nyonya Qian yang sudah meneteskan air mata dengan bergetar memeggang punggung kekar putranya.


Pelukan ini, dan semuanya sangat aku rindukan.


"Z..Zuan.."

__ADS_1


"Maafkan aku. Bu! aku pergi terlalu egois tak memikirkanmu. maafkan aku."


"Zuan hiks! k..kau putraku!"


Whuang tersenyum kecil melihat itu semua. Tangisan Nyonya Qian pecah dipelukan Zuan yang sangat merindukan sosok ini, Tuan Pein-pun tak bisa diam saja langsung bergabung dengan mata berkaca-kaca.


"K..Kau...kau ini memang egois. kenapa kau ..kau pergi ha? dan sekarang kau kembali sudah sebesar ini. kau pikir kami tak mencemaskanmu?!" rutuk Tuan Pein menepuk bahu Zuan jantan membuat Nyonya Qian benar-benar tak melepas pelukannya.


"Putraku!! hiks, Zuan! i..ini kau.. kau putraku, kan?"


"Hm. maafkan aku. Ibu! maaf."


Tanpa sadar Whuang diam tak lagi makan. pikirannya mulai melayang kemana-mana termasuk merasa mulai merindukan Ibu dan saudara-saudaranya.


"Seandainya kalian masih ada. aku pasti tak akan kesepian."


Batin Whuang menatap nanar kedepan. Fang juga diam merasakan kesedihan Whuang yang memang ia tahu tak punya keluarga selain Ayah bejatnya itu.


"Aku ada urusan. kalian makan saja." ucap Whuang berdiri lalu melangkah pergi melewati Zuan yang langsung mencengkal lengannya.


"Kau mau kemana?"


"Aku harus menemui Eva dan Seung!" jawab Whuang tersenyum tapi Zuan tak melepas cengkalannya.


"Mereka tengah ada pekerjaan! kita makan disini."


"Zuan! please, aku sudah tak .."


"Nak! bergabunglah disini, kalau tak ada kau semuanya pasti sunyi." timpal Nyonya Qian mengelus kepala Whuang lembut membuat mata keabuan keduanya bertemu.


Tanpa sadar air mata Whuang menetes lalu menunduk mencoba untuk tetap bertahan.


"Kau merindukan Ibumu. hm?"


"T..tidak, a...aku.. hanya.." Whuang tak bisa berkata-kata banyak selain tersenyum saja hingga Nyonya Qian membawanya kepelukan hangat itu semakin membuat Whuang merasa tak adil.


"Dia pasti beruntung punya putri yang sangat cantik sepertimu."


"T..tapi dia tak adil! kenapa...kenapa dia meninggalkan aku sendirian, dia pergi bersama Kakak-k..kakak-ku. Nyonya! s..seharusnya dia juga membawaku-kan?" lirih Whuang membuat mereka saling pandang tersayat. Apa kedua orang tua Whuang sudah tiada?


"Kau boleh memanggil kami Ayah dan Ibu!"


Degg...


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2