Gairah Ranjang Sersan Daychi

Gairah Ranjang Sersan Daychi
Ketakutan Whuang!


__ADS_3

Pagi sudah menyapa. Mentari diatas sana naik sepenggalan tangan dengan sinaran yang redup akibat terhalang awan hitam seperti biasa.


Tepat saat ini mereka masih berjaga di kamar seorang wanita yang semalaman tak sadarkan diri sama sekali. Dokter Taname dan Dokter Dige terlihat berjaga diluar ruangan dengan para suster ikut duduk memejamkan mata karna begadang semalaman.


"Apa Sersan belum pulang?" tanya Gamaru yang berjaga bersama anggota lain. Ia duduk di sofa singel didepan kamar seraya menyeduh kopi yang disiapkan para pelayan.


"Sepertinya Sersan sibuk. setelah memastikan kondisi tubuh Nona semalam. ia pergi dan sampai sekarang belum kembali." jawab anggota inti yang duduk di kepala tangga. Mereka berjaga ketat bahkan separuh anggota di Markas Daychi kerahkan untuk menjaga Kediaman.


"Bagaimana keadaan Kay? apa dia baik-baik saja?" tanya Seung yang ikut khawatir semalaman. Dokter Lizel yang ditugaskan khusus menangani Whuang-pun hanya mengulum senyum hangat.


"Kucing itu masih belum sadar. tapi, dia baik-baik saja."


"Syukurlah! aku hanya takut nanti Nona bangun dan Kay tak dalam keadaan baik."


Brakkk...


Mereka langsung terperanjat mendengar suara barang-barang berjatuhan dari kamar Whuang. Gamaru segera berdiri bersama para Team medis.


"Periksa keadaan didalam!" titah Gamaru yang diangguki Dokter Lizel untuk mendekati pintu kamar. Seung juga ikut menekan pintu kamar untuk terbuka hingga...


"Awas!!"


Dokter Lizel menarik Seung menghindar saat ada lemparan lampu tidur ke arah mereka. Para anggota langsung mendekati pintu kamar dengan wajah bingung.


"N..Nona!"


"PERGI!!!!"


Mereka bertambah syok melihat keadaan kamar sudah berantakan dengan sesosok wanita memakai Piyama tidur dengan tubuh dibaluti perban terlihat meringkuk diatas ranjang.


"Nona! anda..."


"PERGI DARI SINI!!!! teriaknya keras semakin merapat ke kepala ranjang. Rambut panjangnya berantakan terlihat mengigil takut seakan menganggap mereka ancaman.


"K..Kenapa? kenapa begini?" gumam Seung dengan suara bergetar tak menyangka Nonanya akan seperti ini.


"Kita tak bisa membiarkan Nona seperti ini."


Dokter Lizel melangkah mendekat dengan mata terus mengamati Whuang. Ia wanita paruh baya yang sudah mengerti cara menangani Pasean seperti ini tapi tak tahu jika nanti akan bertindak nekat.


"Nona! anda tenang saja, kami tak menyakiti anda sama sekali."


"P..Pergi! J..Jangan.. Jangan Dekati aku!!!" histeris Whuang mencengkram rambutnya. Di matanya semua orang membawa jarum dan rantai dengan tatapan mata seakan ingin menyiksanya.


"Nona! semuanya baik-baik saja."


"J...Jangan hiks."


Isak Whuang menggeleng takut semakin merapat ke kepala ranjang. Air matanya lolos dengan tatapan penuh ketakutan seakan mereka semua musuh yang membayang di pikirannya.


"Tak apa. kami sangat menyayangi anda dan..."


"PERGI!!!!"


Whuang melempar bantal ke wajah Dokter Lizel yang segera menangkapnya hingga keadaan semakin dramatis. Mereka tak bisa masuk karna akan memperburuk suasana.


"Nona! tenanglah, kami tak akan menyakiti anda."


"Ja...jangan...a..aku mohon." lirih Whuang menggeleng dengan keadaan miris membuat Seung tak mampu membendung tangis. Nonanya yang selalu terlihat luar biasa dengan tingkah keras kepalanya sekarang jadi seperti kehilangan keberanian.


"Nona! anda tenang saja. rileks."


"PERGI!!!"


"Nona!!!" panggil mereka terkejut saat Whuang melempar gelas berisi air disampingnya kearah Dokter Lizel yang tak sempat menghindar hingga kening wanita paruh baya itu berdarah.


"P..Pergi!!! Pergi dari sini!!!" teriak Whuang melompat turun dari ranjang hingga tersungkur karna tubuhnya belum pulih dengan selang infus terlepas paksa. Luka-luka jahitan itu kembali berdarah membasahi perban putihnya.


"Nona! anda jangan banyak bergerak!"


"A...Aku... s..sudah berusaha, aku...aku."


Mereka heran dengan racauan Whuang yang terlihat memohon agar jangan mendekat hingga wanita itu menyembunyikan tubuhnya dibawah kolong ranjang yang tak bisa mereka capai.

__ADS_1


"Bagaimana ini? mendekati Nona sangat susah. dia selalu menyakiti diri sendiri." gumam Dokter Taname khawatir melihat darah bercecer dilantai.


"Kita harus memaksanya."


Mereka memandang Gamaru yang masuk mendahului Dokter Dige yang tak setuju tapi Gamaru sudah lebih dulu mendekati ranjang.


"Keluarlah. lukamu akan berdarah!" ucap Gamaru berjongkok menunduk menatap Whuang yang sudah merapat semakin menjauh.


"J...jangan .."


"Ayolah. aku tak akan menyakitimu, kau cantik!"


"PERGI!!!!"


Whuang menendang ranjang sampai berguncang membuat mereka panik. Jika dibiarkan seperti ini terus maka Nonanya bisa lebih parah dari sebelumnya.


Sedangkan Whuang. Ia tak bisa berfikir jernih karna bayangan malam itu selalu berkilat dipikirannya.


"Ini tak sakit. kau anak baik!!"


"S..Sakitt hiks, j..jangan." isak Whuang menekuk lututnya berbaring diatas lantai. Rasa sakit itu seakan nyata bahkan masih membekas dipikiran dan tubuhnya.


"Kenapa kau begini? cepatlah keluar!!"


"Kau jangan kasar pada. Nona!" geram Seung yang sudah berlinang air mata tapi Gamaru segera menatap tajam mereka.


"Sersan tak tahu akan pulang kapan?! dan dia tak bisa dibiarkan begini. bantu aku menariknya."


Mereka saling pandang prihatin tapi ucapan Gamaru ada benarnya juga. Jika menunggu maka mereka khawatir jika Nonanya lebih nekat lagi.


"Kepung ramjangnya sekarang!"


"J..Jangan!!! A..Aku mohon jangan!!!" histeris Whuang melihat kaki mereka mengelilingi ranjang dengan Gamaru yang menarik lengannya kearah luar.


"Maafkan kami. Nona!" ucap mereka terpaksa mengikuti cara Gamaru yang berusah menarik tangan Whuang yang memukul-mukul tangannya sampai begitu pegal.


"Menjauh dariku!!!!"


"Sss..Sia!!!"


"Ada apa?" mereka terkejut saat melihat lengan Gamaru bercucur darah dengan beling yang ditancapkan kesana. Dokter Lizel bergegas menyuruh mereka menjauh karna ini tak memungkinkan.


"Menjauh dari. Nona!"


"PERGI!!!! A..Aku sudah berusaha!!! hiks, j..jangan pukul aku!!"


Seung yang mendengarnya jadi terhenyak. Apa ada yang menyiksa Nonanya sampai seperti itu?


"N...Nona."


"Menjauh dariku!!!! a..ampuni aku!!!! hiks, ampun!"


Teriakan itu membuat mereka termenung kosong. Apa sikap kasar Sersannya selama ini yang memukul mental wanita itu? tapi kenapa separah ini.


"Sepertinya kita harus me..."


"Apa yang terjadi?"


Suara yang datang dari pintu sana membuat mata mereka menoleh bersamaan dengan wajah yang memucat. Sesosok tampan dengan aura iblis sudah berdiri dengan wajah kelam sangat kental.


"S..Sersan!" lirih Seung miris.


Daychi cukup tertegun melihat kamarnya sudah berantakan dengan pecahan barang-barang dimana tempat. Serpihan beling yang pecah tapi mata Daychi fokus pada tetesan darah dilantai dan ranjang yang kosong.


"Nona tiba-tiba mengamuk dan menghancurkan semuanya termasuk melukai lengan Gamaru. Sersan!" jelas Dokter Lizel membuat Daychi segera melangkah mendekati ranjang.


"Nona di bawah ranjang." ucap Dokter Dige menjauh.


Zuan cukup terhenyak ikut mendekati Daychi yang segera berjongkok hingga matanya terbelalak melihat wanita yang meringkuk seperti bayi di sudut gelap sana.


"Whuang!"


"A..Ampun. j..jangan pukul lagi, hiks!" isak Whuang menggeleng tak bisa menahan lagi.

__ADS_1


Wajah Daychi berubah dingin dengan gigi merapat menahan amarah. Ia sudah tahu siapa yang membuat Whuang sampai seperti dan pria itu sudah ada di luar sana.


"Tinggalkan kamar ini!"


Mereka saling pandang lalu mengangguk pergi akan titahan Sersannya. Zuan ikut keluar menutup pintu kamar membiarkan Daychi menyelesaikan urusannya sendiri.


"Kau takut?"


"A..Aku..."


"Dia tak akan melukaimu."


Whuang menggeleng semakin menjauh dengan tubuh mendingin. Yang ia tahu sekarang hanya bersembunyi dan menjauh dari siapapun.


"A..Ampuni. a..aku Ayah!"


Daychi merasa ditikam dengan suara bergetar itu. Ia tak suka Whuang seperti ini karna wanita keras kepala dan pecinta harta itu lebih baik dari pada ini.


"Keluarlah!"


"A..Ampun hiks, aku ..aku sudah berusaha. j..jangan pukul." isak Whuang menatap tangan Daychi yang mengepal. Whuang mencengkram kepalanya sengan tubuh selalu di tekuk membuat lukanya semakin terbuka.


"Keluar! kau tak bisa seperti ini." tegas Daychi mengulur tangan untuk menarik lengannya tapi Whuang segera menjauh sampai kepalanya terbentur ranjang membuat darah Daychi mendidih.


"AKU TAK SESABAR ITU!"


Daychi menerjang ranjang dengan kuat sampai tergeser menjauh diringi teriakan Whuang mulai mengigil takut yang hebat.


"Ampun!!!!"


"Kesini. kau!!"


Whuang semakin dilanda ketakutan saat lengannya sudah ditarik Daychi kasar hingga masuk dalam pelukan erat pria itu memantik kegilaan Whuang memberontak.


"L..Lepass!!! Lepaskan aku, aku...aku mohon, hiks!"


"Whuang kau .."


"S..Sakit, Aku ...j..jangan pukul lagi, A..Ayah. Jangan!" isak Whuang memukul dada Daychi agar melepasnya tapi Daychi dengan cepat menangkap kedua tangan Whuang dan menguncinya di belakang punggungnya.


"Whuang!" melemah.


"A..Aku mohon. i..ini sakit, a..aku takut ." lirih Whuang menatap mata Daychi dengan mata berkaca-kaca dan begitu menyedihkan. Terlihat beban luka dan Trauma yang jelas dari pandangan ciutnya menarik amarah Daychi merasa sangat sesak.


"Tatap aku baik-baik."


"A..Aku..."


Mata keduanya langsung bersitatap dalam dengan manik elang yang terlihat tak asing bagi Whuang yang menemukan kehangatan disana. Bibir Whuang bergetar dengan isakan lolos tak terbendung lagi.


"I...Ichi!"


"Hm? kau sangat menyusahkan." ketus Daychi mendekap erat tubuh Whuang yang langsung menumpahkan tangisannya membenamkan wajah sembab ke dada bidang itu.


"Ichi ! a..aku ..aku takut, dia ..dia memukulku. dia..."


"Suttt! dia tak akan memukul lagi, hm? tenanglah." bisik Daychi mengecup lama puncak kepala Whuang yang masih menangis dengan tubuh bergetar. Tak pernah ia melihat Whuang serapuh ini dan nyatanya tingkah menyebalkan itu hanya menutupi jejak luka di hatinya.


"Tak apa. kau bersamaku."


"D .Dia... "


"Whuang!"


Deggg...


Whuang terkejut setengah mati mendengar suara itu hingga ia langsung bersembunyi di belakang tubuh Daychi yang mengerti tetap memeluknya.


"D..Dia... Ichi dia... hiks, t..tolong, Ichi!"


......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2