
Semua pelayan dan pengawal di Kediaman itu terus mencari keberadaan Kay si kucing abu kesayangan milik Nonanya. Ini sudah sore tapi sedari tadi Whuang tak membolehkan mereka berhenti sebelum Kay ditemukan.
Whuang-pun ikut mencari kesemua sudut yang biasa Kay lalui tapi sampai sekarang belum terlihat hingga membuat Whuang murung berdiri tepat di tepi kolam Naga jantan yang begitu berwibawa.
"Sampai kapan kau berdiri disini?" tanya Lien yang tadi datang ikut mencari karna Whuang tak tenang dan tak mau kemanapun.
"Kay! dimana kau sekarang?" gumam Whuang begitu resah. Dari perasaanya Kay baik-baik saja tapi ia takut jika si gembul itu tak kembali.
Tak tahan melihat kekhawatiran Whuang. Lien-pun mulai mencari akal agar bisa menemukan Kay. Apalagi ini sudah malam dan kucing itu sudah hilang sedari pagi.
"Baiklah. kalau begitu aku akan menambah personel pencarian lagi."
"Orang-orang di Kediaman ini tak kurang. tapi mereka tak juga menemukan. Kay-ku." lirih Whuang turun dari tempatnya lalu kembali memeriksa di semak-semak.
"Aku tahu kau pasti mencemaskan-nya." gumam Lien kembali ikut mencari. Mereka terlihat serius berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain hingga Mansion besar ini sudah dijelajahi dan tak ditemukan hewan itu.
Mereka tak menyadari kalau sedari ada pergerakan itu dipantau lansung dari satu ruangan yang khusus hanya bisa dimasuki oleh Tuan Kediaman dan rekannya.
Sosok licik itu tengah menegguk alkoholnya santai duduk diatas sofa dengan kedua kaki bertumpu di atas meja yang kokoh menatap layar Laptopnya.
"Sampai mati-pun. kau tak akan menemukannya." gumaman penuh seringaian.
Daychi tadi memang ingin pergi ke Markas memeriksa kondisi anggota tapi Lien sudah datang ke Kediaman dan ia tak mungkin meninggalkan Whuang si otak licik itu dengan adiknya.
Grrr.....
Daychi menoleh ke samping hingga sudut bibirnya terangkat mempesona menatap kearah kandang kecil bagi hewan cantik berbulu abu yang tengah memberontak dipenjagaan Seung yang hanya diam berdiri jauh dari Daychi.
"Tuan!" Seung sedari tadi gemetar tak sanggung seruangan dengan Daychi yang sangat tampan. Ia takut jika mata kotornya mencabiki sang majikan.
"Kau pergilah! jika mereka bertanya, katakan saja jika kau baru pulang dari rumahmu."
"Baik."
Seung langsung keluar dari ruangan itu dengan hati-hati. Tempat ini ternyata ada dibagian atas atap hingga bisa melihat jelas bagaimana banyaknya manusia berpencar mengelilingi setiap sudut.
"Nona pasti begitu khawatir. pantas jika Kay memberontak tadi." gumam Seung menggeleng tak mengerti jalan pikiran Tuannya. Tapi, Seung mulai paham jika Whuang dan Kay memiliki hati yang terikat hingga saat Whuang khawatir maka Kay akan membuat perlawanan.
Ia keluar dari atas atap menyelinap ingin ke bawah agar lebih realita. Tak ada pelayan disini dan sepertinya Tuan anehnya itu sudah menyiapkan jalan untuknya.
Setelah beberapa lama ke lantai bawah. Seung menghela nafas untuk segera bersandiwara.
"Seung!!"
Seung menoleh dan itu adalah Eva yang berlari kecil menghampirinya.
"Seung! kau memana saja?"
"Ada urusan di rumah. aku baru pulang, memangnya kenapa?" tanya Seung pura-pura tak tahu membuat Eva mulai panik.
"Kay! Kucing kesayangan Nona hilang."
"A..Apa???"
Pekik Seung sampai terdengar ke belokan kiri dimana Whuang sudah menggeledah segalanya.
"Seung!!!!"
Seung menelan ludahnya kasar melihat wajah kelam Whuang yang mendekatinya.
__ADS_1
"N..Nona!"
"Dimana Kay? biasanya dia bersamamu?" pertanyaan beruntun.
"S..Saya dari rumah. Nona! mana mungkin saya tahu Kay dimana?!"
Dengan nafas menahan emosi itu Whuang menatap menyelidik Seung yang menyelipkan anak rambut di belakang telinganya dengan tenggorokan menegguk ludah.
"Dia berbohong!"
Batin Whuang tahu itu. Ia memejamkan matanya mencoba mencari aroma Kay disekitar Seung dan seketika...
"Dimana Kay???? baunya ada padamu!!!!"
Deggg...
Mata Seung nyaris keluar mendengar bentakan keras Whuang yang begitu mengerikan. Lien yang ada dibelakangnya sampai terperanjat menelan ludah berat.
"W..Whuang!"
"Kalau sampai terjadi sesuatu padanya..."
Mata tajam keabuan itu memicing membunuh membuat mereka perlahan menjauh dari Whuang yang sudah mengepal dengan jiwa pembunuh keluar.
"KU HABISI KALIAN SEMUA!!!!"
Brakkk ....
Whuang meninju tangga kayu disampingnya hingga hancur membuat Lien langsung tercekik dengan para pelayan lain berlari meninggalkan Seung yang sudah memucat dengan mata nyaris pingsan.
"N..nona.."
"Berhenti berteriak!"
Suara datar berat khas itu membuat pandangan tajam Whuang beralih keatas tangga hingga netra keabuannya melebar dengan aura ganas menghilang.
"K..Kay!"
Whuang terkejut melihat Kay yang sudah ada di samping kaki kokoh Daychi yang berdiri tegap dengan kedua tangan masuk ke kedua sisi sakunya.
"Kayy!!!" teriak Whuang berlarih menyongsong Kay yang juga meloncat ke pelukannya hingga dua mahluk itu bertemu setelah penantian waktu berlalu.
"Kayy!! kau tak apa-kan?"
Kay menjilati pipi Whuang yang menciumi kepalanya membuat mereka tersenyum hangat. Nonanya terlihat sangat menyayangi si kucing cantik itu.
Daychi mengisyaratkan agar yang lainnya pergi hingga tinggalah Ia dan juga Lien yang masih menatap Whuang dengan pandangan masing-masing.
"Sudahku bilang. Kay akan baik-baik saja." ucap Lien mendekati Whuang membuat raut wajah Daychi mengeras.
"Hm. terimakasih sudah membantu mencari. Kay dan.."
Whuang tersentak saat rambutnya ditarik ke belakang menjahui Lien yang menatap tajam Daychi.
"Kakak!"
"Ini sudah mau malam. kau pulanglah!" tegas Daychi membuat Lien naik pitam.
"Tidak. aku masih mau disini."
__ADS_1
"Baik! kau bisa disini kapan-pun."
Daychi menarik Whuang untuk melangkah pergi membuat Lien sigap memotong jalan mereka.
"Tak bisa begini. aku masih ada urusan dengan Whuang."
Daychi segera menarik Whuang ke belakang tubuhnya hingga ia berhadapan langsung dengan Lien yang mengepal. Adik kakak itu memiliki postur tubuh yang berbeda dan lebih unggul Daychi yang sering melatih tubuhnya sendiri.
"Sepertinya kepalamu mulai gatal!"
"Kak! aku tak ingin membuat keributan." geram Lien yang tak habis pikir.
"Maka berhentilah memancing keributan."
Whuang menatap bergantian wajah adik kakak ini. Ia tak ingin ikut berdebat hingga memilih duduk di dekat anak tangga mengelus bulu lembut Kay.
"Pergilah!"
"Tidak!"
"Pergi!!!!"
Emosi Daychi naik ingin meninju Lien yang juga melayangkan kepalan tangannya.
"BERHENTI!!!!"
Suara teriakan dari arah pintu sana membuat Whuang menoleh bersamaan dengan Daychi dan Lien yang terhenyak melihat sosok itu sudah berdiri dengan tatapan membunuh dan tajam.
"A..Aunty Mey!"
Lirih Lien tak menyangka. Daychi hanya diam membiarkan wanita itu mendekat dengan pandangan penuh amarah terutama pada Whuang yang tak tahu apapun.
"Karna Wanita Murahan ini kalian bertengkar!!!"
Whuang diam tak menunduk sama sekali. Wanita dengan pakaian anggun dan rambut pirang itu terlihat begitu cantik tapi auranya tak menyukai Whuang.
Lien diam tak berani bicara karna ia masih kaku akan kedatangan sosok ini. Daychi-pun tak merespon banyak karna jelas Whuang akan dimusuhi.
"Daychi!!"
"Aku tak menerimu disini " tegas Daychi membuat wajah wanita itu mulai merah dipenuhi kemarahan.
"Wanita ini tak pantas masuk ke Keluarga kita!!!"
Whuang cukup sakit mendengar kata-kata makian ini. Semua orang hanya akan menatapnya sebagai Lacur dan Wanita penghibur. Hanya itu identitas yang diberikan Ayahnya.
"Lihat. dia sama sekali tak mampu bicara. apa kau hanya memanfaatkan tubuhmu?"
Kepalan Daychi mulai tercipta dengan sorot mata membunuh. Makian itu tak pantas keluar dari mulut orang selain darinya.
"Aku pulang karna mendengar kau sudah menikah dan ternyata kau menikahi BUNGA MALAM ini?" tanya-nya dengan murka dan wajah meradang menatap Whuang yang tersenyum miris tapi itulah dia.
"Aku memang Bunga Malam. lalu apa maumu?"
Degg...
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1