
Manik abu itu tampak masih tak percaya akan ucapan Nyonya Qian yang menatapnya lembut. Tuan Pein mengusap sisa air mata di pipinya selayaknya seorang Ayah menggetarkan hati Whuang yang meleleh.
"Lagi pula kami senang jika kau mau bergabung, siapa yang tak mau punya anak cantik, cerewet, galak dan penuh perhatian sepertimu. hm?!" ujar Nyonya Qian mencubit pipi putih Whuang yang merasa ntah mau menjawab apa.
"Aku memintamu jadi Adikku!" timpal Zuan tersenyum kecil menepuk puncak kepala Whuang yang mengeratkan pelukannya ke tubuh Nyonya Qian merasakan jelas kehangatan wanita ini.
"Apa ini yang dinamakan pelukan seorang ibu?!"
Batin Whuang bahagia dengan senyuman yang mulai mekar menyingkirkan mendung yang tadi menyelimuti wajahnya.
"Ayolah! kalian jangan membuatku iri, Kedua orang tuaku tak ada semesra itu." kesal Fang mengusap ingusnya membuat Tuan Pein menghela nafas lega.
"Baiklah! sekarang kita makan, perutku sudah keroncongan."
"Iya, suamiku!" jawab Nyonya Qian mendudukan Whuang di kursi tepat di tengah-tengah Zuan dan Fang yang juga duduk tak sabaran.
"Makan! makanlah yang banyak, ini untukmu, Sayang!" Nyonya Qian menyerahkan piring berisi makanan pada Tuan Pein dan Zuan yang menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih, Bu!"
"Iya, Nak! makan yang banyak, kau terlihat kurus sekali."
Mereka hanya tersenyum mendengar jawaban Nyonya Qian yang duduk disamping Zuan memandangi wajah putranya dengan penuh kebahagiaan sampai Tuan Pein tak pernah melihat istrinya sebahagia ini.
Mereka makan tanpa menyadari kalau tatapan kesal seseorang yang sedari tadi melihat dari arah pintu. Netra elangnya tak beralih pada Whuang yang tengah makan dengan lahapnya tanpa memikirkan dirinya.
"Kau makan banyak tapi tubuh-mu tak gendut." umpat Fang berpacu dengan Whuang menghabiskan Stik kentang buatan Nyonya Qian yang malah terkekeh melihatnya.
"Aku punya perut cadangan. tenang saja." jawab Whuang dengan mulut penuh tapi Fang tak mau kalah sampai melahap segalanya membuat mereka berebut.
"Ehemm!"
Mereka tersentak dengan deheman itu hingga memandang kearah pintu masuk. Whuang masih tak menyadari itu. Ia masih sibuk melahap segalanya dengan Fang yang berusaha menelan dengan mulut yang penuh.
"Tak bolemm minumm. atau kaumm kalah!" dengan mulut penuh Whuang masih bicara dan dengan mudah menelan segalanya dibanding Fang yang ingin tersedak.
"Whuang, Fang! kalian jangan begitu atau..."
"Ehmm!!!" Daychi mengeraskan suaranya membuat Whuang menoleh dengan mata polos kucing cantik itu mengerijab beberapa kali menelan makananya.
"Ichi!"
"Hm. kau baru sadar sekarang?!" sinis Daychi melangkah mendekat menatap tajam Whuang yang tampak sudah belepotan hanya acuh padanya lalu kembali makan.
"Silahkan makan. Tuan!" ajak Tuan Pein berdiri menarik kursi tapi Daychi hanya berdiri didekat meja masih enggan beralih dari objek matanya.
__ADS_1
"Emm.. maaf, jika suasananya agak aneh." Nyonya Qian merasa tak enak karna ia pikir Whuang adalah bawahan Daychi.
"Whuang! disini ada Tuan Muda Yuchin, kita makan dengan acara formal saja." timpalnya lagi lembut. Whuang beralih memandang Daychi yang seakan menghakiminya.
"Begitu-ya?!"
"Iya, Nak! Tuan Muda Yuchin sangat terhormat, walau tak semua orang tahu tapi kita sangat tersanjung dapat mengetahui tentangnya." ujar Nyonya Qian tapi Whuang malah tersenyum mengejek Daychi.
"Baiklah. Tuan Muda Yuchin yang terhormat, silahkan anda duduk dan nikmati hidangannya."
"Kesini!" suara Daychi kelam membuat mereka memucat tapi Zuan hanya diam masih tetap memakan-makannya.
"Tapi..."
"Kau tuli?!"
Mau tak mau Whuang berdiri dengan wajah kesalnya mendekati Daychi membuat Nyonya Qian khawatir kalau Daychi memukul wanita cantik ini.
"Tuan! anda tak perlu memarahinya, ini salah saya karna tak bisa menyesuaikan acara dan..."
Degg...
Nyonya Qian tersentak saat Daychi malah menarik pinggang ramping itu merapat kearahnya dengan wajah hanya berjarak beberapa senti saja.
"K..Kalian..."
"Maaf, Ichi! aku lapar."
"Dasar!"
Daychi duduk di kursinya dengan Whuang yang mengambilkan makananya. Ia sudah biasa saat di Kediaman melayani Naga Jantannya itu siang dan malam baik di ranjang atau di meja makan.
"K..Kalian..." Tuan Pein terdiam kaku masih tak percaya tapi tak ada yang mau menjelaskan. begitu juga Zuan yang hanya fokus pada makananya.
"Dia rekanku. Ayah!" jawab Whuang tak menyebutkan statusnya karna ia hanya tahu itu.
"R..Rekan! tapi..."
"Ini bagian dari tugas." sambung Whuang meletakan piringnya ke hadapan Daychi yang menariknya untuk duduk di paha kokoh itu hingga Whuang yang sudah paham-pun hanya menurut.
Mereka hanya saling pandang bungkam tak lagi bertanya melainkan hanya menelan mentah rasa bingung itu. Daychi begitu acuh menerima suapan dari Whuang yang menyodorkan sumpitnya.
"Kalian bisa jelaskan sesuatu padaku!"
"Maksudnya? Tuan!" tanya Tuan Pein heran.
__ADS_1
"Tentang putri kandung kalian." jawab Daychi masih dengan exspresi datarnya. Ntah apa yang dipikirannya mereka-pun tak bisa menebak.
"Namanya Yu Huan Zang! dia anak yang mempunyai mata sama dengan istriku dan selalu tertarik dengan benda bulat keabuan dimalam hari."
"Yang spesial darinya?"
Tuan Pein menghela nafas mengumpulkan kekuatan untuk mengingat kembali putri kecilnya. Begitu juga Nyonya Qian yang malah memandang Whuang dalam.
"Dia memiliki kelebihan Kakeknya. proses penyembuhan lukanya sangat cepat dan tak pernah takut akan hal-hal yang selalu di temui. itu karnanya banyak orang yang mengincarnya jika sudah ada yang tahu."
"Apa ada yang tahu sebelumnya?" tanya Daychi seperti mencari tahu suatu hal. Mata tajam pria itu memandang ke arah lengan putih Whuang yang sudah mulus tanpa bekas luka parah kemaren.
"Hanya aku dan istriku beserta Kakeknya."
"Kau yakin tak ada yang lain?" tanya Daychi intens membuat Tuan Pein dan Nyonya Qian saling pandang.
"Aku rasa tidak. hanya itu yang tahu, tapi memangnya kenapa?" tanya Tuan Pein menatap rumit Daychi yang masih mengunyah makannya pelan penuh pemikiran.
"Tidak ada, hanya saja anakmu sangat berguna untuk melawan siapapun yang menyakiti keluarga kalian."
Zuan tetap diam. Ia tahu kemana arah ucapan Daychi yang pasti merencanakan sesuatu yang besar.
"Putri-mu hebat. ya, Ayah! kalau dia sangat spesial!" sambung Whuang dengan lugasnya berkata seperti itu. Daychi memandangnya dengan penjabaran yang sulit diartikan.
"Malam ini kami harus kembali!"
"A..Apa?" Tuan Pein dan Nyonya Qian tersentak menatap Daychi yang tampak serius dan begitu menekan.
"T..Tapi.."
"Kediamanku sudah sedari awal di serang. aku tak ingin ini mendua."
"I..iya, tapi..apa..apa tak bisa beberapa hari lagi?" tanya Nyonya Qian menatap tak rela Zuan dan Whuang bergantian begitu juga keduanya.
"Tidak! ada sesuatu yang harus ku urus dan dipastikan."
"Tapi, apa boleh aku ti..."
Whuang segera bungkam saat pandangan Daychi tak lagi bisa dibantah. Ia akhirnya mengangguk pasrah walau hatinya tak rela berpisah dari sini.
"Kau tak bisa berkeliaran sembarangan, jika itu memang kau, maka akan sangat menyusahkanku."
Batin Daychi menatap wajah kecewa Whuang yang tampak belum menyadari apapun.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang.
Kita menginjak detik2 yang penuh emosi... tenang aja, ada kejutan kokš¤£