
Setelah kejadian tadi siang. tak terlihat lagi batang hidung Daychi yang meninggalkan Whuang di Kediaman megahnya. Tentu saja Whuang menghabiskan waktu menjelajahi Mansion luas mewah ini bersama dua pelayan dan Kay yang mendampinginya.
Ia tengah berdecak kagum melihat banyak kolam disamping Mansion. Airnya berwarna kebiruan dengan patung-patung hewan buas seperti Singa, Ular dan yang paling menyita perhatian Whuang adalah Patung air pancur Naga hitam yang terlihat gagah memekarkan sayapnya ditengah kolam yang paling besar dikelilingi teratai.
"Woww! ini sangat berwibawa dan keren." puji Whuang menatap kagum pada Patung Naga tampan ini. Auranya begitu berkharisma seakan Kediaman ini dibuat tenang.
"Itu patung kesayangan Tuan kami. Nona! patung ini menjadi pion utama dari patung yang lain dan Tuan selalu merawatnya dengan sangat baik." jelas Seung wanita berwajah imut bak boneka yang lucu. Ia ditugaskan bersama Eva untuk mengawal Whuang tapi jelas jika mereka mata-mata Tuannya.
"Hm. menarik! kediamannya begitu sakral. banyak hal-hal berbau Naga. tapi berkharisma, aku suka!"
"Nona! ini sudah menginjak malam. sebaiknya anda istirahat karna luka jahitan di perut anda masih belum sembuh."
"Baiklah! aku tak mau diganggu, kalian bisa pergi!" titah Whuang melangkah stabil kembali masuk menuju pintu utama. Ia sudah menghafal segalanya walau hanya bagian penting saja yang ia ingat.
"Dia bekerja apa hingga sampai membeli bangunan dan barang-barang semewah ini?" gumam Whuang menatap Vas-Vas bunga keramik langka yang sangat khas. Kay yang ada di gendongan Whuang hanya diam menjilati punggung tangan lembut Nonanya.
Ia kembali menaiki Lift agar cepat. Ia suka dengan kemewahan hingga akan memikirkan cara mencuri barang-barang mewah ini dan melelangnya di pasar gelap.
"Andai saja aku bisa keluar. malam ini."
Whuang melamun berfikir untuk keluar bermain ke pasar gelap dan Club ilegal di wilayah hitam sana. Ia yakin banyak sekali barang-barang disini yang bisa di lelang.
"Emm. kebetulan pria itu tak ada disini! jadi,.."
Whuang terdiam menatap Kay dengan bianar cerah. Otak liarnya mulai bergelut mencari keuntungan.
"Kita jual barang-barang yang bagus. dan mahal!"
Kay hanya mengeong sampai Lift terbuka memperlihatkan seorang pria yang berdiri tepat didepan Lift. Whuang masih sibuk bicara dengan Kay yang menatap tajam pria itu.
"Jadi, nanti kita bagi keuntungannya sama rata lalu.."
Grepp...
Whuang terkejut saat tubuhnya dipeluk erat oleh seseorang hingga Kay meloncat turun dari gendongan Whuang yang terdiam.
"Aku sangat merindukanmu." suara penuh kekecewaan dan berat hati.
"Lien? kenapa dia kesini?"
Batin Whuang heran tapi ia ingat tujuan awalnya dan dengan terpaksa membalas pelukan Lien yang begitu tulus.
"Kenapa kau kesini?"
"Kau tak suka?" tanya Lien dengan intonasi sendu melepas pelukan.
"Bukan. maksudku kau tadi tak ada di pernikahanku, nyatanya kau.."
"Aku menunggumu disini. kau pasti akan dibawa kesini olehnya." jawab Lien menatap dalam manik indah keabuan Whuang. Ntahlah, ia ingin membawa wanita ini lari dengannya.
"Lien! kau yakin Ayahmu tak marah jika kau ke.."
"Ayo pergi dari sini!"
Whuang tersentak dengan ajakan Lien barusan. Ia terlihat membulatkan matanya merasa masih belum mengerti.
"Kau.."
__ADS_1
"Aku yakin Ayah tak akan membunuh-ku. kita pergi saja dari sini lalu pulang saat kau sudah hamil."
"Hamil kepalamu! kau pikir itu mudah."
Batin Whuang mengumpat. bisa-bisanya Lien berfikir begini padahal ia kira Lien akan patuh pada Ayahnya seperti anak baik selayaknya dirinya sendiri.
"Lien! aku sudah menikah dengan Kakakmu, aku tak mau membuat kau terluka."
"Whuang! aku tak bisa melihat kau bersamanya, aku tak bisa." bantah Lien terlihat benar-benar mencintai Whuang yang mulai menyeringai samar. Pria ini sangat mudah di buat tunduk tak seperti Naga jantan satu itu.
"Tapi aku tak mencintainya."
"Dia itu sangat tampan, berkharisma, punya banyak kelebihan. Kakak Day sangat mudah membuat wanita jatuh cinta dan aku takut kau akan jatuh dalam pesonanya."
Whuang berubah dingin. Semua yang diucapkan Lien tak pernah membuat definisi jijik Whuang hilang pada Daychi. Pria itu memang seperti yang di ucapkan Lien tapi tetap saja ia muak melihat tingkah kasar dan emosiannya.
"Lien! aku menyukaimu, tapi bagaimana dengan Ayahmu?"
"Kita lari!" jawab Lien tegas.
Whuang dapat menyimpulkan hal pertama jika Lien ini masih kekanak-kanakan. Berbeda dengan Daychi yang tak suka hal pengecut begini. Cih, hanya sedikit kelebihan itu pun tak menarik. pikir Whuang sinis.
"Sudahlah. besok kita bicarakan lagi! kau pulanglah dulu, aku tak mau Kakakmu mengamuk lagi."
"Tapi.."
"Ayolah. kau tak mau menurutiku?" tanya Whuang menekuk wajah cantiknya menarik senyuman di bibir Lien.
"Baiklah. besok aku datang lagi! pikirkan baik-baik ucapanku tadi." Lien ingin mencium Whuang yang menghindar mengusap pipi Lien lembut.
"Baiklah. aku janji!"
Whuang mengangguk membiarkan Lien melangkah masuk ke Lift dan memberinya senyuman yang ia balas tak kalah cantik membuat Lien meleleh hingga pintu lift memisahkan mereka.
"Emm. Terlalu mencintai itu tak baik."
Gumam Whuang kembali menggendong Kay lalu melangkah menuju kamar yang tadi ia kagumi karna sangat mewah. Whuang sudah tak sabar untuk membaringkan tubuh seksinya keatas sana dan menguasia Kediaman mewah ini.
.........
Pukulan keras pria itu langsung mengenai samsak tinju yang sudah terlihat terkikis oleh kepalan kerasnya. Ia menumpukan semua emosi dan rasa muaknya dengan melakukan olahraga keras.Keringat ulyang bercucur seakan membuktikan berapa jam ia melakukan ini.
"Wanita sialan!! sialan!!"
Daychi terus memukul terlatih dan begitu panas membuat Zuan yang sedari tadi menemani Sersannya hanya diam berdiri tak jauh dari pria itu. Fang juga ada didekatnya melihat bagaimana Pria itu melampiaskan emosinya.
"Kenapa Sersan semarah itu? apalagi luka dipunggungnya itu sangat dalam." resah Fang menyesap rokoknya.
"Kau tahu?"
"Apa?" tanya Fang serius masih belum tahu penyebabnya.
"Sersan sudah menikah!"
"Uhuk!!"
Fang terbatuk keras menyemburkan rokoknya mendengar ucapan datar Zuan yang hanya menatap biasa lalu memandang Daychi yang masih memukul samsak.
__ADS_1
"K..Kau serius?"
"Apa aku pernah bercanda?"
Fang seketika terkejut bahkan wajahnya kosong menatap kearah Daychi yang sudah terlihat meluap-luap. Rasanya seperti mimpi membayangkan Pria itu menikah.
"Z..Zuan. kau yang benar saja? Sersan itu.."
"Sersan dipaksa oleh keadaan. kau tahu sendiri betapa dia menyayangi Tuan Lien tapi yah begitulah, Tuan Lien malah membencinya."
Fang masih belum mengerti hingga berdiri sejajar dengan Zuan yang seakan tak merespon banyak.
"Jadi dipaksa. lalu kenapa Sersan semarah itu? seharusnya mudah membunuh wanita itu."
"Wanita itu yang menusuk Sersan!"
Duarrr...
Fang terkejut setengah mati bahkan ia kembali menatap Daychi yang terlihat mendidih masih mengingat wajah menyebalkan Whuang. Fang tak percaya jika Sersannya ditusuk oleh wanita.
"Shitt! apa-apaan ini?" umpat Fang mengacak rambut frustasi.
"Hm. wanita itu bukan wanita sembarangan, dia sangat pandai menyesuaikan diri. bahkan, Sersan kerap di maki habis-habisan."
Fang termenung seakan belum percaya lalu menatap Zuan yang menaikan bahu acuh masih dengan wajah datarnya.
"Aku tak percaya!"
"Terserah padamu." jawab Zuan lalu melangkah membawa handuk dan botol minum mendekati Sersannya yang sudah duduk didekat kursi olahraga. Ini tempat GYM mereka yang lengkap dan luas.
"Sersan!"
Daychi mengambil botol minum yang di berikan Zuan seraya mengelap keringat yang bersimbah. Setidaknya dengan begini ia bisa berfikir tenang kembali.
"Wanita itu memang kutukan! dia pasti merencanakan sesuatu yang besar atau dia bekerja sama dengan musuhku." geram Daychi seraya menegguk botol minumnya. Ia tampak sangat sexsi dengan rambut acak-acakan dan keringat membanjiri tubuh kekar itu sangat mempesona.
Zian diam sesaat. Ia sebenarnya ingin memberi tahu soal Whuang dimalam itu tapi emosi Sersannya belum terkendali dan bisa saja nanti dia lebih membenci Whuang.
"Aku tak pulang!"
"Sersan! Tuan Lien di Kediaman anda."
Daychi terkejut dengan ucapan Zuan yang tetap pada raut datarnya. Seketika wajah Daychi mengeras mencengkram botol minumnya kuat.
"Bocah itu memang ingin mati."
"Tuan Lien akan terus menemui Whuang. jika anda tak pulang anda tak akan tahu apa yang direncanakan wanita itu." sambung Zuan memang memiliki sifat tenang dan kalem tak seperti Daychi yang emosian, kasar tapi misterius.
"Aku harus ke Perbatasan malam ini."
"Biarkan Fang yang pergi! anda harus istirahat." tegas Zuan membuat Daychi melempar botolnya sembarangan lalu melangkah pergi. Ia yang harus membunuh malam ini dan itu adalah Whuang.
"Cih! kau harus mati sebelum fajar."
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1