I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 11


__ADS_3

Paman langsung memalingkan wajahnya yang bersemu merah, padahal ini bukan yang pertama baginya, dia sudah pernah melihatnya juga. Aku malah jadi tersenyum geli melihat tingkahnya.


"Ya Tuhan, cepat pakai bajumu!" bentak Paman.


"Paman terlalu heboh, kayak baru lihat tyetyekkyu aja. Paman berisik, tau nggak, sih!" ucapku.


"Jaga bahasamu itu Mir!" sentak Paman.


"Paman, tolong bantu aku, dong." Aku menghiraukan perkataannya, dan malah meminta tolong setelah aku memakai baju.


"Apa?"


"Tolong kesini, dulu! Bantu aku, punggungku gatal," pintaku sambil membelakangi Paman, dan mengangkat baju hingga punggungku terlihat.


Aku tersenyum senang ketika paman datang menghampiriku, lalu menggaruk punggungku, tepat di atas tali bra.


"Gimana? Apa di sini yang gatalnya?"


Aku mencoba menahan senyum, otakku sekarang lagi berpikir, bagaiman cara selanjutnya untuk menjahili paman.


"Paman, yang bilang punggungku gatal, siapa? Aku nggak nyuruh paman untuk menggaruk, tapi melepaskan tali penutup dadaku ini," ucapku sambil menunjuk dadaku


"Untuk apa?" tanya Paman.


Aku sangat yakin, wajah Paman pasti memerah saat ini.


"Lakukan saja, Paman."

__ADS_1


"I-i- iya, bentar!"


Paman sekarang melakukannya, aku bisa merasakan tangannya bergerak untuk membuka pengait b … ra ku. Aku juga bisa merasakan kalau tangan paman sedikit gemetar saat melakukannya. Sikap paman itu semakin membuatku kehilangan akal, dan semakin membuatku ingin menggodanya.


Setelah pengait terlepas, aku langsung melepaskan b … ra-ku tanpa membuka baju. "Ah… lega rasanya. B … ra-ku ini terlalu sempit Paman, dadaku jadi terasa sesak. Terima kasih ya, paman." Aku tersenyum menggoda.


Aku berbalik dan melihat paman menjadi kaku, ia hanya melongo saat aku menghadap ke arahnya. Aku tau, dengan baju tipis yang aku kenakan, pastilah terlihat jelas gambaran dua tombol kecilku.


Menyadari hal tersebut, adrenalinku semakin menjadi, dan keberanianku semakin besar untuk menggoda paman. Aku pun membuka celanaku dengan gaya slow motion. Aku tau dia sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan.


"Paman, aku ganti celana dulu, ya," ucapku dengan nada serak manja.


Paman hanya diam terpaku, aku tau tatapan matanya tertuju ke bagian bawahku yang masih tertutup celana. Ah…. Gila, suasana ini benar-benar panas. Bibir bawahku juga sudah mulai basah. Gila, sensasi ini beneran gila. 


Tingkahku mulai agresif, dengan perlahan aku mulai naik ke atas kasur untuk mengambil celana baru yang letakkan di sana, dan dengan sengaja pula menggoyangkan pinggulku yang padat. Aku sangat yakin, kalau paman bisa melihat sela-sela bibir bawahku. Sengaja aku berlama-lama di atas ranjang, masih menunggu dan berharap paman datang dan membelai dua bongkahan belakangku.


Penantian tak kunjung juga datang, aku pun menoleh, dan melihat paman masih berdiri di sana. Dengan berat hati aku memutuskan untuk turun dari tempat tidur, dan memakai celanaku. Ingin rasanya memulai semua, tapi aku masih takut melakukannya. Aku hanya bisa berharap sampai paman yang mengerti dengan setiap kode yang aku berikan.


"Paman! Bisakah aku mandi dulu sebelum makan?" bisikku dengan lembut di telinganya.


Walau aku yakin nada suaraku sudah cukup menggoda, tapi paman masih diam saja  seperti patung. Aku akhirnya menyerah untuk menggodanya.


"Sudah lah. Ayo Paman kita makan." Aku menepuk bahunya, dan berjalan keluar kamar.


DEGH….!


Sesuatu terjadi sebelum aku sampai di pintu. Ini dia yang selama ini yang aku tunggu. Ya! Paman sedang memelukku dari belakang, kedua tangannya meremas dadaku. Akhirnya paman menunjukkan respon yang positif.

__ADS_1


Remasan tangan paman telah membuatku gila, apalagi saat ia mempermainkan tombol kecil di dadaku. Ini sangat nikmat dan menghanyutkan, aku ingin lebih dari ini.


"Ahhhhh …. Paman. Ini sangat enak Paman. Terus lakukan, mainkan plintir yang kuat. Ahhhhhhhhhh….!" Aku menjerit pelan saat tangan Paman masuk ke dalam celanaku, dan mempermainkan bibirku yang dibawa yang sudah berlendir.


Paman semakin intens memberi kenikmatan padaku, ia menggigit pelan tombol kecilku yang sudah tegang.


"MIRAAAAAA!"


Eh, Apa ini? Suara paman memanggilku, tapi suara itu terdengar dari ruangan makan. Sial, ternyata aku berhalusinasi, aku sendirian saja di dalam kamar, tidak ada siapa-siapa. Ah, aku benar-benar sudah menjadi gila sepertinya,  dan sensasi ini, kenapa terasa  begitu nyata?


"Mira, apa yang kau lakukan di sana, cepat keluar!" Paman kembali berteriak memanggil.


"I--iya Paman!"


Aku pun langsung menuju ruang makan, dan melihat paman dan Anggi ada di sana sedang duduk menunggu.


"Cepat lah Mira, aku sudah lapar, nanti aku habiskan semua, loh," ucap Anggi.


Aku melihat  Paman tersenyum manis padaku. Aku menundukkan kepala, dan sadar kalau yang terjadi tadi hanyalah halusinasiku saja. Aku pun bergabung bersama mereka untuk makan malam.


®®®®®®®®®®®®®®®®


jangan lupa terus dukung ya. yang mau ngasih tips juga boleh😂


..


..

__ADS_1


..


__ADS_2