
Kami terus berci uman, saling me lu- mat lidah, bibir dan bertukar liur. Sedangkan tangan paman terus bermain di bibir bawahku, bahkan sesekali ia juga mengusap gundukan kecil tempat keluarnya air urineku.
"Hmmmmm…. Hmmmmmm…. Hmmmmm…." Aku sudah tidak sanggup lagi untuk tidak men-de-sah.
Tanganku sudah melingkar di leher paman tanpa sadar. Ciu man yang cukup panjang membuat napasku mulai sesak.
"Ahhhh…. Paman. Kenapa ini sangat nikmat. Oooohhhhh…." de sahku setelah ciu man kami lepas.
Kulihat paman hanya tersenyum, lalu bergerak pindah dan duduk tepat di hadapan antar dua pahaku, perlahan Paman mulai membuka semua celanaku tanpa sisa. Aku yakin, sekarang wajahku pasti memerah, karena Paman sedang memandangi bagian bawahku yang tanpa rambut.
Ah, ternyata aku masih punya malu walau hanya satu gram. Aku pun menutupi daging kenyal yang ada diantara dua pahaku dengan kedua tangan.
"Napa Mira? Bukankah ini yang kamu harapkan, sayang?" tanya Paman, dan mencoba menyingkirkan tanganku. Nafasku sudah mulai memburu.
"Ahhhh… Paman!"
Lemat saguku langsung bergetar, ketika Paman menjilat intinya yang berukuran kecil. Urat sarafku seketika tegang dibuatnya, ini benar-benar sangat nikmat. Apalagi saat jari paman masuk ke dalam
"Paaaamaaannnn….!" jeritku.
Aku tidak peduli lagi jika Anggi terbangun. Gila! Ini benar-benar gila, aku tidak sanggup lagi menahan semua ini, darahku telah mendidih oleh gejolak yang sangat menyiksa.
__ADS_1
Apalagi ketika jari paman semakin kencang keluar masuk, dan di barengi jilatan. Aku hampir gila dilanda nikmat yang terkirakan ini. Percikan-percikan listrik mengalir dalam tubuhku.
"Ahhh Paman…. Enaaaakkkk!"
Sesuatu terasa mengalir menuju lubang ken-ci-ng-ku. Entah apa itu, yang pasti itu terasa geli dan enak, membuatku kejang-kejang dengan kepala mendongak. Ku pejamkankan mata untuk menikmati semuanya.
"Ahhhhhhhhhh…."
Air mancur satu warna terasa keluar dari lubang urineku, terasa hangat. Getaran ini tidak sanggup untuk dinetralisir lagi
Dunia lain tiba-tiba ada di hadapanku ketika membuka mata.
Lagi…. Lagi…. Dan lagi….
Ah, kenapa aku membuat kekacauan lagi, selalu saja bermimpi. Apakah aku benar-benar ingin di tusuk-tusuk oleh paman, sehingga selalu terbawa ke mimpi. Sial! Kata tusuk-tusuk ini selalu saja menghantui dan terdengar sangat kuat di telingaku.
Mimpi Ini juga terasa nyata sekali. napasku masih tidak stabil, bahkan…. Ah, celanaku juga basah semua. Apakah aku beneran mencapai titik ******* yang sebenarnya.
Aku kemudian bangun dari tempat tidur, tubuhku terasa lemas. Sejenak aku melihat Anggi yang masih tidur. Segera aku melepaskan semua celanaku yang sudah basah. Namun, saat mau keluar kamar, aku tersadar ketika melihat seprei tempat aku tidur juga basah semua.
"Mampus. Apa yang harus aku lakukan. Jika Anggi bangun, gimana? Nanti saja itu diurus, aku harus membersihkan diri terlebih dahulu."
__ADS_1
Jam di dinding kamar, menunjukkan pukul 7:13 WIB. Itu artinya Paman pasti sudah bangun. Aku harus hati-hati, karena letak kamar mandi harus melewati dapur, dan Paman pasti ada di sana sedang memasak untuk sarapan kami.
Mengendap-endap, aku berjalan menuju kamar mandi, sekarang aku tidak memakai apa-apa di bagian bawah. Jika Paman melihatnya dia pasti akan memarahiku lagi. Walaupun sebenarnya aku ingin itu terjadi, tapi tidak untuk saat ini.
Mimpi ketika Paman menciumi bagian bawahku, belum sepenuhnya nya hilang dari ingatanku. Karena itu, aku tidak mau paman melihatku seperti ini.
Dugaanku benar ketika menuju kamar mandi, Paman sedang memasak di dapur, aku harus lebih hati-hati lagi.
"Woi. Ngapain kau kayak gitu, bocah," teriak Paman.
Sialan! Aku ketahuan. Dengan cuek aku berdiri.
"Apaan sih Paman, pagi-pagi udah teriak. Lagian mana tau aku kalau Paman ada di dapur. Jadi, tolong Paman lebih sopan untuk menyapa," ucapku berlagak ketus.
"Apa kau bilang! Nggak sopan. Kau yang nggak sopan."
"Sudahlah Paman. Aku berkeringat, mau mandi dulu," ucapku dan langsung berlari menuju kamar mandi.
"Hei! Berapa kali aku bilang. Jangan bercanda terlalu vul-gar, dan sekarang kamu telanjang di sini," teriak Paman, dan aku tidak memperdulikan teriakannya itu.
Hahahahhahahahahahahaha
__ADS_1
©©©©©©©©
Terap dukung ya. Paman dan Mira