I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 21


__ADS_3

jangan lupa dukungannya, fav, komentar, like, bunga atau kopi dan juga🌟


semoga semuanya sehat selalu dan bahagia


®®®®®®®®®®™™


Flashback ON


Bulan pertama masa kuliah.


Cuaca begitu terik di siang hari, Mira dan Anggi berdiri di depan sebuah halte yang tidak jauh dari kampus, mereka menunggu bus trans. Suasana halte begitu rame, di sisi kanan Anggi berdiri seorang pemuda.


"Kamu kenapa, Gi?" tanya Mira ketika melihat Anggi berdiri dengan gelisah.


"Mir, perutku muter," bisik Anggi kepada Mira.


Bersamaan bisikannya itu, sebuah bisikan lain keluar dari bawah. Bisikan yang berasal dari dalam perut Anggi, dan menyeruak keluar dari celah sempit


"Buset, dah. Kamu kentut, Gi? Mana bau lagi. Untung aja suara cuman siulan kecil," bisik Mira sambil menutup hidungnya.


"kedengaran, ya?" tanya Anggi dengan Sura pelan.


Aura di sekitar halte berubah gelap dan menakutkan bagi Anggi, semua mata orang mencari asal kerusuhan tersebut. Apalagi ketika Anggi melirik ke arah pemuda yang berdiri di sampingnya, dimana pemuda itu berdiri dengan cuek, tapi dengan hidung berkedut-kedut beberapa kali. Membuat jantung Anggi semakin berdetak tidak karuan.


"Kampret, siapa pula yang kentut."


"Anjay, bau ba_ng_ke."


"Hmmm … Parfum selokan muncul."


"Beta sudah tak tahan."


"Benga kali yang kentut itu. Dasar pan_tat tidak ada otak!"


Dengan sangat jelas Anggi mendengar kalimat-kalimat kekesalan dari orang-orang yang berada di halte. Perasaannya pun bercampur aduk, dan juga begitu geram dengan dirinya sendiri karena belahan pinggulnya tidak mau konsisten menjepit, sehingga angin yang berada dalam perutnya memaksakan diri untuk keluar


"Maaf Pak, Bu. Perut saya sakit. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah menyebabkan ketenangan di sini terganggu."


Terpaku Anggi melihat pria yang berdiri di sampingnya itu, begitu juga dengan Mira. Karena mereka sadar betul siapa yang sebenarnya telah buang angin. Akan tetapi, pemuda itu malah mengakui kalau dirinyalah yang telah buang angin, membuat semua mata jahat tertuju kepadanya.


Sesaat Anggi terselamatkan dari rasa malu, walau sebenarnya orang-orang tidak ada yang tau kalau dirinya yang buang angin. Tapi, Anggi yakin, kalau pemuda itu tau yang sebenarnya. Hal itu telah membuat rasa malu tersendiri bagi Anggi.


"Selamat kamu Gi. Berterima kasih sama dia, Buruan!" bisik Mira.

__ADS_1


Bus trans yang bukan jurusan rumah mereka tiba, dan pemuda itu langsung naik sebelum Anggi bisa mengucapkan rasa terimakasih.


"Yah, keburu hilang!" keluh Anggi.


"Tenang, dia mahasiswa di kampus kita juga. Besok bakalan aku cari tau siapa dia," ucap Mira sambil merangkul leher Anggi.


"Kok kamu tau?"


"Dia sering aku lihat hilir mudik di kampus kita. Sepertinya pria itu senior kita. Hmm…. Pria yang baik. Dia rela malu untuk menyelamatkan malumu," puji Mira menyikapi sifat pemuda tersebut.


Kejadian hari ini, membuat Anggi penasaran tentang siapa pemuda itu. Walau mereka tidak saling kenal, tapi pemuda itu telah menyelamatkan wajahnya dari rasa malu.


FLASHBACK END


..


..


..


..


Anggi kembali menundukkan kepalanya, tidak berani melihat langsung ke arah Jo, hanya sesekali ia curi pandang melalui lirikan tersembunyi. Sedangkan Mira hanya tersenyum melihat tingkahnya.


"Gini, bang Jo. Sebenarnya kami ada acara kemping yang diadakan oleh komunitas kami. Bang Jo ikut, ya," pinta Mira 


Mira pun membalas permainan mata Anggi dengan gerakan bibir manyun-manyun, sebagai tanda agar Anggi tenang saja di boncengan, dan membiarkan dirinya untuk mengatur semuanya.


"Oh, cuman mau bilang itu aja?" tanya Jo, matanya melirik ke arah Anggi.


"Iya, Sebenarnya yang mau ngajak itu si Anggi. Aku hanya mewakilkannya saja."


Degh!


Jantung Anggi seakan berhenti berdetak. Mira tanpa kode langsung membuatnya terpojok. Walau ia sadar semua itu hanya untuk membuat dirinya bisa dekat dengan Jo, tapi cara Mira terlalu kelewatan baginya.


Melihat Anggi hanya diam, Mira kembali menendang kaki gadis tersebut. "Eh…. Iya!" jerit Anggi tanpa sadar.


"Kenapa kamu harus menyuruh orang lain?" tanya Jo kepada Anggi.


"Abaikan itu. Sekarang gimana? Apa Bang Jo mau ikut?" tanya Anggi memberanikan diri.


"Oke. Biarkan dulu aku memikirkannya. Nanti aku kabari kalian," ucap Jo dan kemudian berdiri. "Kalau gitu aku pamit dulu ya, Mir, Gi!" 

__ADS_1


Jo kemudian meninggalkan mereka berdu.


"Aduh, kau kenapa ngomong kayak gitu. Gimana sekarang, dia bakalan tau kalau kita bohong nantinya," ujar Anggi ketus, raut wajahnya tiba-tiba murung.


"Santai aja, biar aku yang ngatur semua. Kau nggak usah nggak murung gitu."


"Aku murung gara-gara itu." Anggi menunjuk ke arah pintu keluar kantin.


Menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Anggi, terlihat di sana Jo sedang mengobrol dengan seorang gadis. Perasaan Anggi begitu cemburu melihat keakraban Jo dengan gadis tersebut.


"Aku baru tau, kalau kau punya saingan," ucap Mira dengan senyum meledek.


"Liana Keizia. Awas aja kau!" Anggi menggumam geram menahan kecemburuannya ketika melihat gadis itu menggandeng tangan Jo keluar dari kantin.


"Aku tidak tau kenapa kau bisa naksir dengan Bang Jo. Ini sebenarnya sangat mengejutkanku, karena aku tau tampangnya sebenarnya bukan tipemu."


"Lupakan itu. Sekarang bagaimana rencanamu, jika Jo nanti beneran ikut? Apa yang harus aku lakukan? Kebohongan kau itu sudah membuat kepalaku sekarang sakit." Anggi memijat kepalanya yang sebenarnya tidak sakit.


"Santai aja, serahkan semua padaku. Tapi ngomong-ngomong, seleramu termasuk bagus juga."


"Apa maksudmu?" tanya Anggi cepat.


"Apa kau nggak memperhatikan jari manisnya?" Mira balik bertanya, Anggi hanya menatap bingung. "Jari manis Bang Jo sangat panjang, itu menunjukkan kalau pistol airnya juga panjang!"


Sontak Anggi menendang kaki Mira, ia tidak menyangka argumen konyol seperti itu.


"Auw! Sakit." Mira meringis.


Tindakan dan pemikiran berbeda. Itulah yang terjadi kepada Anggi, walau tidak yakin dan kesal dengan ucapan Mira, tapi ia memandangi jari-jarinya sendiri, dan kemudian memegang jari manisnya serta mengelusnya.


"Apa iya, punya Bang Jo sangat panjang," gumam Mira.


Senyum sumringah terpancar dari wajah Mira melihat tingkah Anggi yang terus mengelus jari manisnya sendiri. Mira sangat yakin, kalau gadis yang ada di hadapannya itu sekarang sedang berimajinasi.


®®®®®®®


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2