I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 31


__ADS_3

Maaf ya kalau up nya dikit dikit.


jangan lupa buat dukung terus.


®®®®®®®®®®®®®®®®


"Ayo, jangan pura-pura bodoh, deh. Ini kita lakukan demi mendapatkan feel yang bagus buat ceritamu. Jangan pikir-pikir lagi, lebih baik segera kita lakukan semua adegan yang mendukung ceritamu itu."


Merenggangkan kedua tangan dan menarik napas sejenak, Barno melangkah dan naik ke atas tubuh Tiara dengan kaku. Namun, tiba-tiba Tiara menahan tubuh Barno dengan meletakkan telapak tangannya di dada pria itu.


"Tunggu! Ada yang kelupaan," cegah Tiara. 


Walau bingung dan tidak tau apa maksud dari Tiara menghentikan gerakannya, Barno tetap turun dari atas tubuh wanita itu. Segera Tiara pun duduk dan mengambil tas, lalu mengeluarkan ponselnya. Setelah itu Kembali Tiara berbaring dan menyuruh Barno untuk segera naik kembali ke atas tubuhnya.


"Loh, loh. Kok pake kamera segala?" tanya Barno setelah ia menimpa tubuh Tiara dan melihat kamera ponsel mengarah ke arah mereka.


"Buat bahan. Mana tau kamu lupa posisi adegannya, kau bisa lihat nanti lewat foto atau vidio kita ini," jawab Tiara santai.


"Emang harus kayak gini?" tanya Barno lagi.


"Sebuah mahakarya yang bagus, pasti membutuhkan sebuah pengorbanan. Anggap saja apa yang kita lakukan adalah pengorbanan untuk mendapat karya yang bagus." Tiara menarik kerah baju Barno, sehingga tubuh mereka bersatu.


Lain halnya di kantin kampus, dimana Mira duduk termenung dengan bertopang dagu. Bosan dan jenuh membuat Mira seperti tidak punya semangat hidup. Dua hari tidak saling menyapa dengan Barno, Mira menjadi frustasi sendiri.


"Kalau memang tidak sanggup lagi, tidak ada salahnya mengalah. Tidak peduli siapa yang salah siapa yang benar, kalian harus segera berbaikan. Apalagi kau tau sendiri, Ayah itu orangnya pemaaf." Anggi yang duduk di samping Mira mengelus kepala gadis itu.

__ADS_1


Tanpa diduga Mira langsung bangkit dari duduknya, matanya menatap tajam. Sejenak menarik napas berat, lalu beranjak meninggalkan tempat duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya Anggi bingung melihat sikap Mira yang tiba-tuba berubah, dari manusia yang patah semangat, menjadi manusi yang memiliki sebuah ambisi besar.


"Rumah!" jawab Mira tegas.


"Kau mau bolos kuliah?" tanya Anggi lagi.


Sedikitpun Mira tidak menoleh ketika Anggi memanggil dirinya. Hari ini semua masalahnya dengan Barno ingin diselesaikannya. Perasaan sudah tidak bisa dikendalikan lagi, perang dingin yang dijalaninya harus segera diakhiri.


Sedangkan perang panas yang dilakoni Barno dan Tiara di dalam rumah, masih belum menemukan titik terang. Setiap adegan yang mereka lakukan, terasa kaku dan tidak memberikan titik kepuasan bagi Tiara. Semua itu karena kekakuan yang dialami Barno, apalagi ketika Tiara terus merekam adegan yang mereka lakukan, benar-benar telah membuatnya semakin demam panggung.


"Apa yang kau lakukan. Jangan terus melihat ke kamera." Tiara begitu geram karena Barno terus saja melihat ke kamera, ia terlalu pasif, sehingga feel yang mereka cari, tidak bisa didapatkan secara sempurna.


Putus asa dengan apa yang dilakukannya, Barno kembali duduk dengan wajah lesu.


Walau sudah ngoceh panjang lebar, Barno masih saja diam dalam kekakuannya. Hal itu membuat Tiara semakin jengkel, jalan satunya-satunya yang bisa dilakukan oleh Tiara, hanya melepaskan rasa malunya sejauh mungkin, agar apa yang ia cari bisa didapatkan dengan sempurna.


Setelah menekan rasa malunya, Tiara bangkit dan merangkul leher Barno, lalu naik ke pangkuan pria itu.


"Oke, selanjutnya, letakkan kedua tanganmu di p4n-t4tku. Lalu cengkram dengan kuat. Cepat lakukan." bentak Tiara, wajahnya langsung berubah galak.


Seperti terkena hipnotis, kedua tangan Barno bergerak turun meraih p4n-t4t Tiara, dan mere-mas-nya dengan kuat, membuat Tiara mendongak merasakan sensasi yang dulu pernah hilang.


"Coba ganti dengan cara lembut." Suara Tiara mulai terdengar serak.

__ADS_1


"Seperti ini?" Barno memperlembut rem-asa-n tangannya.


"Hmmm … shhh…. Lebih lembut lagi, Bar. Lebih ke arah mer484." Mata Tiara sudah mulai menyipit akibat nikmat yang tiba-tiba muncul.


Begitu juga dengan Barno, jantungnya sudah berdetak tidak karuan, napasnya juga mulai memburu ketika pin99ul Tiara bergerak kesana-kemari, dan perlahan merasakan sesuatu yang hangat bergesekan dengan batang paralonnya yang mulai membubung kaku.


"Waw, Itu punya kamu, ya? Besar juga!" Dengan wajah merona, Tiara tersenyum simpul ketika merasakan batang ubi Barno mengganjal di belahan v -nya.


Segera Tiara mengarahkan kamera ponselnya ke ping gulnya, untuk mengabadikan setiap sentuhan Barno.


"Bar, tarik rokku ke atas," pinta Tiara.


"Seperti ini?" tanya Barno sok lugu ketika tangannya sudah menarik rok Tiara, sehingga kamera ponsel yang di pegang Tiara, dengan mudah merekam kain putih segitiga bergambar patrick, yang membalut daerah sen-su-alnya itu.


"Bagus! Sekarang angkat wajahmu, biar kita bisa c1um4n," 


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2