
πππππππππππππ
Sedangkan di ruang tamu, Jo yang sedang berbaring hanya mengenakan kolor, mendengar suara ketukan dari luar rumah. Pemuda itu pun langsung bangun dan melilitkan handuk di pinggang dan berjalan menuju ke depan.Β
Ketika pintu rumah ia buka, terlihat seorang pria berdiri dengan mantel hujan. Orang itu adalah penjaga rumah.
"Maaf, Pak! Terjadi pemadaman listrik di wilayah ini, karena ada konslet di tiang sana," ucap pria itu sopan, sambil menunjuk ke arah tiang yang ia maksud.
"Hmm, terus!" sahut Jo Tania ekspresi, ia tidak semangat meladeni pria tersebut.
"Mungkin ini akan membutuhkan waktu setengah jam untuk memperbaikinya. ini ada senter untuk pencahayaan sementara." Pria itu memberikan senter kepada Jo.
"Apa di sini nggak ada genset, atau mesin listrik sejenisnya?" tanya Jo sambil menerima senter dari tangan pria tersebut.
"Maaf, Pak! Mesinnya sedang rusak. Saya lupa memberitahu montirnya. Besok saya akan segera memanggil montir untuk memperbaikinya." Pria itu menjelaskan, supaya Jo tidak kecewa dengan pelayanan dari pihak yang punya rumah
"Ya sudah, kalau begitu!"
__ADS_1
"Permisi, Pak." Pria itu pun berlalu dan lenyap di kegelapan malam di bawah hujan.
Jo kembali masuk kedalam setelah mengunci pintu. Sambil berjalan ia terus mengetuk senter beberapa kali agar hidup.
"Sial! Kenapa nggak mau hidup, ya. Apa baterainya habis?" gumamnya.
Tiba-tiba Anggii muncul dan menabrak Jo. Mereka berdua sama-sama kaget, dan mengeluarkan jurus latah masing-masing.
"Kon*****oll," latahnya Anggi, bersamaan itu handuknya juga terlepas akibat gerakan refleks tangannya.Β
Hal tersebut terjadi karena ia tidak mengikat ujung handuk tersebut dengan baik, melainkan hanyaΒ memegangi ujung lipatan handuk yang berada di bagian dada. Beruntung ia masih mengenakan Brβ-a.
Setelah menyadari siapa yang ada di hadapan mereka masing-masing, Jo pun merasa lega dan berkata, "apa yang kamu lakukan disini, jantungku hampir berhenti. Kamu mengagetkanku saja."
"Aku juga takut," lirih Anggi, kemudian menyadari kalau handuk yang ia kenakan sudah tidak ada lagi. "Handukku mana?"
"Tunggu sebentar, biar aku cari," ucap Jo lalu ia jongkok untuk mengambil senter.
__ADS_1
Degh!
Detak jantung pemuda itu tidak bisa dikontrol lagi, napasnya terasa sesak. Semua itu terjadi ketika ia mengambil senter, dan cahayanya langsung mengarah ke vag-nya Anggi yang tidak tertutup selembar benang pun. Vag yang begitu bersih, tanpa sehelai bulu yang tumbuh, membuat mata pemuda itu hampir keluar dari tempatnya.Β
Sadar kalau bagian selangβkangannya menjadi santapan mata pemuda itu, Anggi pun pura-pura tidak tau, agar Jo tidak malu, lalu berkata, "apa mungkin jatuhnya di sana, ya." Ia pun melayangkan pandangan di sekitar kakinya.
Pemuda itu tersadar setelah mendengar suara Anggi, lalu mengambil handuk yang terjatuh yang tidak jauh darinya, dan memberikan kepada Anggi untuk dikenakan.Β
Walau gejolak di dada masih belum hilang akibat melihat vag Anggi yang mulus itu, Jo tetap berusaha untuk tenang, dan membuang jauh-jauh pikiran mesumnya agar kejadian sewaktu di kolam pemandian, tidak terulang lagi.
"Kenapa kamu juga memakai handuk?" tanya Anggi setelah menyadari keadaan Jo.
"Pakaianku basah, sedangkan aku tidak punya ganti," jawab Jo tanpa wajahnya menghadap Anggi, tapi ia melihat sejenak gadis itu dari sudut matanya.
Mendengar jawaban tersebut, tubuh telanjang Jo seketika melintas di benak Anggi, ia jadi penasaran apa saja yang ada di balik handuk tersebut.
"Apa mungkin Bang Jo tidak memakai apa-apa di balik handuk itu," batin Anggi.
__ADS_1
πππππππππππ