I Love You Paman

I Love You Paman
BAB 83


__ADS_3

@@@@@@@@@


Tiba-tiba Barno menghentikan aksinya, termenung sesaat lalu duduk mengatur napas. Dia begitu menggebu ketiak memijat kaki Tiara serta melihat pangkal paha wanita itu.


"Kamu napa, Bar? Kok berhenti?" tanya Tiara menatap Barno dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan.


Barno diam sesaat dengan tatapan kosong sebelum ia menoleh ke arah Tiara yang menunggu jawaban. Ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, dan ingin membicarakannya dengan wanita itu.


"Aku bingung apa aku harus jujur kepadamu tentang perasaanku," ucap Barno.


Tiara mengerutkan kening, sesaat kemudian tersenyum. Sadar dengan kenyataan kalau sebenarnya Barno tidak mencintai dirinya. Hubungan yang mereka jalani bukan berdasar cinta. Tiara tidak pernah mencintai Barno sedikitpun selain rasa kagum dan hormat.


Pers– setubuhan yang mereka lakukan saat itu, dengan alasan untuk mendapatkan feel adegan dewasa untuk novel Barno hanyalah sebuah trik Tiara.


Barno pria yang baik dan Tiara yakin kalau Barno akan menikahinya jika mereka sudah melakukan hubungan badan. Semua itu untuk menjamin kebahagiaan Mira setelah ia meninggal. Mira tidak akan kekurangan kasih sayang orang tua setelah ia pergi. Ia yakin Barno akan memenuhi itu sebagai seorang ayah.

__ADS_1


Begitu juga dengan Barno yang rela melakukannya bersama Tiara, semua itu hanya demi untuk mengikis perasaanya kepada Mira. Dengan kejadian itu, Barno bisa menjadikan hal tersebut sebagai pengingat untuk benteng hatinya. Bagaimanapun, sedikit banyaknya Mira tumbuh besar dengan tangannya, tidak layak baginya untuk mencintai gadis itu sebagai seorang pria. Namun, akhir-akhir ini Mira semkin intens memberinya kenyamanan dan kebahagian, dan itu membuatnya harus mengambil keputusan yang tepat untuk hidupnya.


"Aku juga sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Tapi, lebih baik kamu duluan yang bicara," ucap Tiara dan duduk sambil merapikan pakaiannya yang sedikit acak-acakan.


Di sebelah rumah Tiara. Perasaan Mira begitu gelisah memikirkan Barno yang belum kembali dari tempat ibunya. Dalam benaknya permainan panas antara ibunya dan sang Paman telah terjadi, hal itu membuatnya gelisah seperti cacing kepanasan, menggelinding kesana-kemari di atas tempat tidur. Sesekali ia melihat jam yang ada di ponselnya, dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Aghhh, sial. Kenapa begitu lama, sih? Apa jangan-jangan dia ketiduran setelah melakukan hubungan dengan ibu?" gumam Mira.


KLEK!


"Kamu kenapa, sih? Dari tadi aku perhatikan kamu bolak-balik terus ke kamar mandi, seperti binatang kapanasan saja," ledek Mira dan bangun dari tempat tidur menuju lemari untuk mengganti pakaiannya. Sebuah tanktop bra menjadi pilihan.


"Bukannya kamu yang kepanasan dari tadi," balas Anggi dan naik ke tempat tidur. Ia memperhatikan layar ponselnya.


Melihat Anggi yang terus memperhatikan ponsel yang ada gambarnya Jo, Mira pun mengerti apa yang terjadi dengan gadis itu.

__ADS_1


"Hmmm … Itu rupanya masalahnya. Makanya jangan terus membayangkan apa yang kamu lakukan dengannya. Yakin deh, kamu bakalan ke kamar mandi terus," ledek Mira.


"Hah! Hei, apa yang kamu pikirkan!" ujar Anggii kesal.


Mira tertawa melihat ekspresi wajah Anggi. "Singkatnya, kamu harus mengambil inisiatif, kalau rindu bilang aja, hubungi dia. Jangan terlalu berharap dan terus menunggu. Bang Jo itu punya banyak masalah dalam hidupnya…."


"Benarkah?" tahya Anggi memotong kalimat Mira.


"Bahkan ketika seorang gadis marah, merekalah yang harus mengambil inisiatif. Apa kamu kira Bang Jo akan melakukannya? Aku rasa tidak!" ucap Mira.


"Eh, tapi … aku belum mengatakan apapun. Kenapa kamu bicara panjang lebar seperti ini?"


"Hanya naluri saja," jawab Mira singkat.


@@@@@@@@@@@

__ADS_1


__ADS_2