
jangan lupa dukungannya, like dan komentar apa saja.
✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️
"Mau bagaimana lagi, ini hari terakhir aku menggoda Paman. Seterusnya aku tidak tau apa kita sering bertemu atau tidak." Mira tersenyum manis, tapi matanya berkaca-kaca.
Segera Mira mengalihkan wajahnya, sebelum Barno sempat melihat matanya. Perasaannya begitu berat menanggung sesuatu yang tidak diinginkannya, tapi harus tetap dijalankan.
"Tentu saja kita sering bertemu. Rumahmu di sebelah aja, kok. Jadi tidak ada alasannya kalau kita tidak bisa bertemu."
"Maaf Paman. Setelah kepulangan Ibu. Aku akan pergi dari rumah dan tinggal di kos-kosan. Ibu juga sudah aku beri tau, walau belum ada jawaban."
Kaget mendengar pernyataan Mira. Sungguh tidak menyangka kalau hubungannya dengan Tiara, akan membuat Mira jauh darinya. Dalam hatinya ada suatu gerakan yang begitu menyakitkan. Jauh dari Mira? Membayangkannya saja sudah membuat hati Barno sesak.
"A–apa kau serius?"
"Hmm, mmmm!" Mira mengangguk pelan.
"Kalau kamu memang maunya begitu, aku hanya bisa mendukung keputusan kamu." Sejenak mereka berdua terdiam, lalu Barno beranjak. "Aku mau letakan belakang dulu."
__ADS_1
Mira hanya menatap punggung Barno yang berjalan ke arah belakang rumah. Ia pun beranjak untuk membuat secangkir kopi. Setelah itu Mira menyusul Barno ke belakang rumah.
"Kopinya, Paman!" Mira menyuguhkan kopi.
"Makasih!" ucap Barno dan mengambil kopi dari tangan Mira.
"Cuaca yang sangat bagus!" gumam Mira menatap jauh ke atas langit pagi.
Barno yang juga sedang menatap langit pagi, sejurus kemudian melirik Mira dengan tarikan napas berat.
"Kenapa? Sepertinya ada yang mengganjal di pikiran Paman?" Mira bertanya setelah melihat raut wajah Barno yang begitu suram.
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit kepikiran saja tentang kamu."
"Iya. Aku berpikir kalau di usia kamu sekarang, tidak seharusnya kamu menghabiskan waktu untuk pria sepertiku. Aku jadi merasa bersalah kepadamu." Barno kembali menarik napas dengan dalam dan menundukkan kepalanya.
"Paman!" Mira menepuk bahu Barnoo dengan pelan. "Sudah seharusnya aku melakukan itu untuk mendapatkan orang yang kucintai. Aku bukan lagi anak kecil, sudah saatnya aku kini mengambil keputusan untuk jalanku sendiri."
"Apa kamu tidak ada masalah dengan itu? Hmmm.. aku hanya takut saja jika kamu akan membenciku di masa depan, karena kamu tau sendiri, aku tidak akan bisa menjadi milikmu." Barno menatap Mira dengan dalam, perasaannya terasa mengganjal setelah memikirkan semua yang telah ia lakukan bersama Mira
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi." Mira tertawa. "Aku merasa, apa yang aku lakukan dengan Paman, sangatlah menyenangkan, dan aku menyukainya. Tidak ada penyesalan sedikitpun jika nanti Paman tidak menjadi milikku. Jadi, nggak usah khawatir tentang itu," tutur Mira sambil mengutak-atik ponselnya dan membuka sebuah aplikasi online shop.
"Syukurlah kalau begitu."
Ting tong…. Ting tong….
"Ada yang datang Paman!" ujar Mira mendengar suara bel berbunyi.
"Hmmm…. Biar aku saja yang melihat, kamu tunggu di sini" ujar Barno dan beranjak menuju ruang depan untuk membuka pintu.
Mira pun menyusul Barno selang beberapa menit, dan ketika berada di ruang tengah ia melihat Pamannya itu muncul dengan paket di tangan.
"Pasti itu kiriman buatku. Soalnya dua hari lalu, aku membeli sebuah pakaian di online shop," ucap Mira sembari menyambar paket yang ada di tangan Barno, lalu segera beranjak ke kamar sambil berkata, "jangan kemana-mana, ya!"
Walau bingung dengan ucapan Mira, tapi Barno tetap berdiri di tempatnya untuk menunggu. Beberapa saat kemudian, ia begitu terkejut ketika Mira muncul dengan memakai pakaian ala anak sekolah Jepang .
Dimatanya, keponakannya itu terlihat begitu cantik, mungil dan imut. Apalagi atasan yang dikenakan Mira sangatlah ketat, membuat payu—-daranya begitu menonjol, dan juga mempertontonkan pantulan puthhiiingnya, karena Mira tidak mengenakan B-ra di balik bajunya.
"Bagaimana? Apa aku terlihat lebih cantik?" tanya Mira sambil memutar tubuhnya layaknya seorang model.
__ADS_1
"Cantik! Tapi kenapa kamu berpakaian seperti ini, dan itu…." tunjuk Barno ke arah dada Mira. "Sangat tembus pandang. Apa kamu tidak memakai b+-ra?"
@@@@@@@