I Love You Paman

I Love You Paman
BONUS 2


__ADS_3

✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️


"Kalau begitu kami pulang dulu, ya." Butet memeluk Mira.


Setelah Butet dan keluarganya pergi, kini hanya tinggal Anggi dan suaminya. Barno sekarang sedang berbincang dengan Jo. Menantu dan mertua itu terlihat sangat asik mengobrol. Anggi mendekati Mira.


"Kau belum pulang juga? apa nunggu aku usir," ujar Mira setelah Anggi duduk di sebelahnya.


"Durhaka. Baru juga menjadi ibuku, kau sudah durhaka sama anakmu." Mulut Anggi manyun, tapi hal itu membuat Mira tertawa dan memeluknya.


"Makasih, ya," ucap Mira.


"Makasih apanya?" tanya Anggi setelah Mira melepaskan pelukan.


"Makasih sudah menjadi anakku."


Anggi menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, matanya tertuju kepada Barno dan Jo, lalu beralih kembali kepada Mira.


"Tolong jaga ayahku, ya. Sayangi dia. Dan juga tolong sebagai ibuku, jangan lupa sisihkan uang jajan untukku."


Mira sesaat terakhir mendengar kata-kata Anggi, tapi kalimat terakhir yang terdengar, membuat Mira menyipitkan mata dan mengerutkan mulut.


"Anak yang sudah sebesar kingkong, dan juga punya anak. Masih minta uang harian juga. Malu tuh lubang," ujar Mira tertawa kecil, ia tau kalau perkataan Anggi hanya guyonan semata.


"Gi," Mira menggapai tangan Anggi. "Tolong segera pergi dari sini, ya. Ajak suamimu supaya jangan ganggu suamiku."

__ADS_1


"Sialan. Apa kau memang udah ngebet banget?"


"Bukan gitu, Gi. ini sudah jam sebelas malam. Aku butuh malam panjang malam ini." 


Mira merogoh kantongnya dan meremas sesuatu yang ada di dalam kantong, lalu memberikan kepada Anggi. "Nih, uang jajan buat kamu. Sekarang kamu pulang, ya," canda Mira lagi.


Sedang asik bercanda, Jo datang menghampiri mereka.


"Yuk, pulang," ajak Jo kepada Anggi.


"Akhirnya, doa kamu terkabul juga," goda Anggi yang kemudian berdiri dari duduknya.


Setelah Anggi dan suaminya pulang. Barno meikir ke arah Mira dengan senyum lebar dan kerlingan mata nakal. Mita tau apa yang ada di otak suaminya itu, dan Mira sendiri juga memikirkan hal yang sama.


Sebuah ide muncul dalam pikiran Mira.


Barno seketika melotot. "Panggilan apa itu?"


Mira yang tersadar, seketika tertawa. "Hahaha, maaf. Maaf suamiku tersayang. Keceplosan. Aku ulang, ya." Mira mendehem beberapa kali, lalu kembali menyapa Barno. "Suamiku … oh suamiku,"


Barno hanya menggeleng, lalu menarik Mira ke dalam pelukannya. Ci— uaman penuh kasih dan cinta mendarat di kepala Mira. Perasaan bahagia pun menyelimuti hati keduanya. 


Perjalan yang begitu panjang telah dilalui dalam membentuk sebuah cinta. Banyak harga diri dan ego yang telah ia pertaruhkan. Kini semua menjadi kenyataan dengan hasil yang sempurna. Mira membenarkan kepalanya di dada Barno, meraih segala kehangatan suaminya.


Barno menarik dagu Mira sehingga mereka saling tatap.

__ADS_1


"Tu–tunggu!" ujar Mira dan menjauhkan wajah ketika Barno hendak menciumnya.


"Kenapa, sayang? Bukannya ini yang kamu tunggu-tunggu, hmmm!" Barno mencolek pipi Mira.


"Iya, sih. Tapi tunggu dulu. Aku mau bermain dengan suami tercinta dulu."


"Bermain." Barno menggumam. Berpikir, permainan apa yang diinginkan istri tercintanya itu.


"Pokoknya Paman harus ngikutin permaiananku dulu."


Lagi-lagi mata Barno melotot.


"Maaf. Maksudnya suamiku."


Mira dengan cepat menc –ium bybyr Barno supaya tidak kesal lagi dengan keceplosannya itu, yang masih membaginya dengan sebutan Paman.


"Dasar." Tangan Barno yang berada di pinggang Mira, kini beralih di kedua belahan pinggul padat, dengan kuat ia mencengkramnya.


"Sayang, sabar dong. Kita bermain dulu di kamar. Sekarang lepaskan ya, sayang."


"Permainan apa? Hmm."


"Tunggu di sini dulu. Aku akan masuk ke kamar, setelah itu, nanati aku panggil, suamiku ini baru bisa masuk, ya."


Segera Mira masuk ke kamar, tidak lupa ia menutup pintu. Di dalam kamar, Mira membuka lemari pakaian dan mengambil enam kaos oblong dan dua celana training.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2